‘IZZAH KARIM


Mesir

Malam hitam kelam. Pekat menakutkan. Namun apabila malam semakin kelam, apabila gelap semakin hitam, tandanya cahaya akan segera datang. Begitulah takdir Tuhan.
Langit malam itu menggelantung di bumi Mesir, memayungi kediaman Jenderal Besar Angkatan Bersenjata Republik Mesir, Syaddad Moustafa. Segala masalah padat sesak di kepalanya. Sepuluh jarinya berlarian di atas tuts laptop. Kaca matanya membayangkan layar yang bercahaya itu. Seragam dan balok pangkat bintang empat yang berat karena tanggung jawab sedang tidak dikenakannya, diganti sehelai kemeja ringan lengan pendek warna putih. Jenderal Syaddad nasionalis sejati, bertanggung jawab, dan keras pada keadilan. Kata-katanya lugas dan tanpa kompromi. Kalau dia sudah mengambil keputusan akan sulit mengubahnya lagi. Di tangannyalah kekuasaan angkatan bersenjata Mesir terletak, pengaruh dan kharismanya besar. Dagu kerasnya kokoh, dihiasi janggut pendek yang tumbuh sampai pipi dan lehernya. Sebagian telah memutih namun tak mengurangi kewibawaannya.
Tiba-tiba pintu kamar kerjanya diketuk, suara salam terdengar. Ia jawab salam itu dan menyahut.
“Masuk saja, tidak dikunci,” tanpa mengalihkan pandangan sekejap pun dari laptopnya.
Masuklah ke ruangan itu, seorang perempuan muda, cantik dan mulia. Sebab tubuhnya terbalut pakaian takwa. Ia melangkah pelan ke hadapan Jenderal Syaddad di seberang meja. Sang Jenderal menatap perempuan itu, wajahnya tegang saja, padahal perempuan itu adalah puterinya sendiri, namanya Nouha.
“Ayah harap kita bicarakan hal penting kali ini,” kata Jenderal Syaddad. “Tidak perlu lagi memicarakan hal yang sudah selesai.”
Nouha tersenyum manis kepada ayahnya. Bagi Jenderal Syaddad semua urusan militer dan politik akan selesai di tangannya dengan baik. Ia setia, Ia ada di garda terdepan dalam menghancurkan semua musuh negara, memerintahkan pembunuhan lawan politik sudah biasa baginya, Ia patuh kepada rezim dan negaranya, tapi urusannya dengan Nouha tak pernah selesai. Urusan yang dibawa Nouha tiap malam ke meja kerjanya menambah-nambah berat beban pikiran di kepalanya yang sudah padat sesak.
Sejak isterinya meninggal, Jenderal Syaddad sangat mencintai puterinya itu. Ia penuhi semua kemauan Nouha, semuanya, kecuali satu hal.
Nouha masih tersenyum, “Urusan ini tak akan selesai, Ayah, tak akan pernah selesai, sampai Allah azza wa jalla memenangkan agama ini. Tiap malam aku akan memohon pertolongan kepada Ayah. Karena Ayah memiliki semuanya. Ayah memiliki kekuatan itu, ayah memiliki kekuasaan itu, dan aku akan terus meminta. Tolonglah para pengemban dakwah, beri perlindungan kepada mereka, dukung mereka, limpahkan kekuasaan pada mereka. Pada tangan ayah-lah sesungguhnya kekuasaan nyata itu berada, karena itu lindungilah mereka dengan kekuasaan itu agar mereka bisa menegakkan Islam dengan sempurna, dan menolong saudara kita yang sedang dijajah.”
“Tak mungkin, Tak mungkin, Nouha,” Jenderal Syaddad berdiri dan menggebrak meja, Nouha tersentak kaget, laptop terbanting, “Kau mau ayah mengkhianati negara? Mengkhianati kontitusi kita? Kau mau ayah jadi pengkhianat?”
“Tak ada gunanya taat pada negara ini. Ayah hanya akan menambah dosa dan kemaksiatan. Jangan ayah bela penguasa antek penjajah, ayah akan mengkhianati Allah dan RasulNya. Demi Allah, aku takut ayah merugi dunia dan akhirat karena membela thagut.”
“Jauh-jauh ayah menyekolahkanmu ke Inggris malah jadi pembangkang seperti ini. Ayah kecewa padamu, KECEWA.” Nada suara Jenderal Syaddad terus meninggi.
“Inilah yang benar. Quran dan sunnah yang harus kita taati,” suara Nouha tetap lemah lembut. “Tolonglah pengemban dakwah, dengan dukungan ayah syariat pasti tegak, Khilafah pasti berdiri, kekuatan kita akan kembali, dengan itu kita pasti bisa mengusir penjajah, menolong saudara kita yang dibunuhi tiap hari, me…”
“DIAM,” potong Jenderal Syaddad. Ia melangkah mendekati Nouha yang tak mau berhenti bicara.
“Jangan setia kepada pemimpin munafik yang membiarkan saja saudaranya mati dibantai penjajah, malah mereka membantu penjajah membantai saudara kita dengan membangun pagar besi. Mereka menginjak-injak Quran dan Sunnah. Mereka itu biadab. Tolonglah kaum muslim, Ayah, tolong ka…”
Plakk…! Jenderal Syaddad kehilangan kesabarannya dan menampar Nouha sampai jatuh terjengkang di lantai. Tak pernah sekali pun ia melakukan hal itu pada puteri kesayangannya, namun malam itu Nouha sudah kelewat batas.
“JANGAN BICARA LAGI,” hardik Jenderal Syaddad sambil menunjuk Nouha.
Nouha menutup wajahnya yang telah memerah, ia menangis.
Menatap puterinya itu Jenderal Syaddad luluh juga. Ia berlutut di sebelah puterinya dan memeluknya, merasakan bahu Nouha yang berguncang di dadanya.
“Nouha, tolong jangan pancing ayah lagi, tak mungkin ayah memenuhi permintaanmu. Kau tahu posisi ayah? Kau tahu siapa ayah?”
Suara tangisan suci memecah malam. Nouha terisak air mata, dan rasa nyeri tamparan itu menerjang hatinya. Tapi ia berusaha kuat. Ia hapus air matanya, perlahan ia lepaskan pelukan tangan ayahnya. Jenderal Syaddad lamat-lamat menyadari sesuatu yang tak enak. Nouha bangkit pelan-pelan.
“Ayah mencintaimu, tak ingin kehilanganmu, hanya dirimu yang ayah punya, kalau kau bicara begini terus kau bisa celaka,” nada suara Jenderal Syaddad mulai menurun, ada sesal di hatinya sebab telah menampar Nouha. “Ayah pun bisa celaka.”
“Kecelakaan mana yang paling besar kalau bukan murka Allah? Mengapa aku meminta semua ini setiap malam? Karena aku mencintai ayah. Karena aku tak ingin ayah mendapat azab yang pedih di akhirat kelak. Aku ingin keluarga kita berkumpul kembali di sorga,” Nouha menunduk, tak kuasa menatap wajah ayahnya.
Jenderal Syaddad diam saja, air mukanya keruh, rasa hatinya tak karuan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Nouha berbalik dan melangkah gontai keluar ruangan itu sambil membisikkan ratapan hatinya yang kelak berubah menjadi doa.
Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa ahlikil kafirota wal musyrikin…
Dan Jenderal Syaddad tenggelam ditelan malam sendirian.

Kamp X-Ray
Teluk Guantanamo

Malam masih kelam menakutkan. Kadang-kadang suara jeritan terngiang nyaring di penjara itu, X-Ray. Tempat Amerika menyempurnakan penjajahannya kepada orang-orang Islam. Terali-teralinya kokoh, lampu tembak menyala terang. Serdadu-serdadu berbaju loreng mondar-mandir melaksanakan tugasnya.
Pada salah satu ruang interogasi di fasilitas penjara itu duduklah seorang pemuda, sendirian. Wajahnya ditumbuhi janggut dan kumis, makin menyempurnakan tampang arabnya. Di ruangan itu hanya ada kursi tempatnya duduk, tak ada benda lain lagi. Dinding-dinding dari besi menyelimuti sekelilingnya, dan membuat tanda tanya demikian menyiksa. Pakaian seragam oranye khas tahanan Kamp X-Ray terpasang longgar di badannya.
Di sebelah ruangan itu terletak sebuah ruangan lagi yang penuh dengan monitor dan panel-panel. Ada tuas dan tombol-tombol. Beberapa tentara duduk di hadapan panel-panel itu mengawasi para pesakitan. Dan seorang pria berbadan besar, bertampang sangar, dengan lagak superior memuakkan berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Nama pria itu Burke, pangkatnya sersan. Di sisi Burke hadir pula anak buahnya, namanya Evan.
“Bagaimana dengan tahanan yang ini, Sersan?” Evan menunjuk pada sebuah monitor yang menampilkan gambar pemuda bertampang arab itu.
“Dia, akan kita interogasi, kita suruh mengaku,” sahut Burke dengan ketus.
“Memangnya siapa dia?” Evan mengusap dagunya.
“Cuma orang asing yang kita tangkap dari jalanan Peshawar. Akan kita paksa dia mengaku bahwa dia teroris anak buah bin Laden.”
Evan mengangguk setuju seolah perbuatan itu sudah seharusnya terjadi. Tangan raksasa Burke menepuk bahu Evan, mengajaknya keluar ruangan itu.selanjutnya…
Ruangan berdinding besi itu merawankan jiwa sang pemuda, hatinya terus bertanya apa sebabnya semua ini harus menimpanya. Padahal ia tidak bersalah apa-apa. Tiba-tiba ia terlonjak kaget, pintu besi ruangan itu terbuka, menimbulkan suara berisik logam yang berdentang. Masuklah ke ruangan itu lima orang tentara tegap-tegap. Burke dan Evan ada di dalamnya. Mereka berjalan cepat mendekati pemuda di tengah-tengah ruangan itu, dan mengelilinginya.
“Kau adalah teroris anak buah bin Laden, mengakulah.” Burke bertolak pinggang di hadapan pemuda itu.
“Aku bukan teroris, aku tidak bersalah,” sergah pemuda itu. Ia berusaha melawan ketidakadilan yang ditimpakan kepadanya.
Tangan Burke melayang cepat dan menampar pipi pemuda itu. Saat ia hendak menyerang Burke, tentara-tentara yang lain langsung mencengkeram tangan dan bahunya, pemuda itu tak bisa berbuat apa-apa lagi. Burke menghantam perut pemuda itu dengan kepalannya. Wajah pemuda itu dihajar habis-habisan, hidungnya patah, bibirnya pecah berdarah-darah, matanya biru lebam, raut mukanya sudah tak karuan. Napasnya tersengal-sengal.
“Lucuti dia,” perintah Burke.
Tentara-tentara itu merenggut pakaian pemuda itu dengan paksa, sampai ia tidak mengenakan sehelai benang pun. Ia dihempaskan ke lantai besi ruangan itu. Pemuda itu terkulai lemah dan meringkuk, berusaha menutup auratnya, berusaha menjaga kehormatannya. Tanpa ampun Burke dan anak buahnya menendangi pemuda itu, darah terpuncrat dari hidung dan mulutnya. Ia sudah tak kuat.
Burke berjongkok di hadapannya, menjambak rambutnya agar kepalanya tegak.
“Ayo mengaku, kau adalah teroris anak buah bin Laden.”
Pemuda itu tak kuat bicara, tapi kemudian ia mengumpulkan tenaga, berusaha berkata.
“Apa… salahku?”
Burke tersenyum mengejek, perlahan dia dekatkan mulutnya ke telinga pemuda itu dan berbisik.
“Kesalahanmu cuma satu, kau orang Islam.”
Tangan Burke merogoh kantung celananya, dia mengeluarkan Quran kecil berwarna hitam dan memperlihatkannya kepada pemuda itu. Quran itu adalah Quran yang selalu ia bawa di saku kemejanya. Burke berdiri dan membanting Quran itu di hadapan sang pemuda. Dia membuka ritsleting celananya, lantas mengencingi Quran dan pemuda itu. Anak buahnya tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk. Evan mengikuti apa yang dilakukan Burke, dan akhirnya semua tentara Amerika itu mengencingi pemuda itu beramai-ramai.
Dari kelopak mata lebam pemuda itu mengalirlah air mata suci. Ia ingin melawan semua penjajahan yang menimpanya, ingin menegakkan kehormatan Islam yang dilecehkan, tapi ia tidak berdaya. Nyeri terasa di sekujur badannya, kemuliaannya dianiaya, hatinya dihantam nestapa, dan air mata hangat itu menguap menuju langit malam, mengabarkan pada semesta bahwa seorang pemuda telah melawan kezaliman walau dalam ketidakberdayaan, menjaga segala miliknya yang berharga walau hanya dengan air mata.
Tawa gembira tak mau reda, menemani tegaknya kesombongan. Selesai kencing sembarangan, Burke dan anak buahnya meludahi pemuda itu lalu keluar dari ruangan. Pintu berdentang menutup memekakkan telinga, tinggallah pemuda itu sendirian. Tangannya yang remuk digerakkannya, berusaha meraih Quran-nya. Pandangannya nanar, matanya tak bisa melihat jelas karena pelipisnya bengkak dan memar. Kelopak matanya menggelembung berat. Ia menggenggam lemah Quran itu dan memeluknya di dadanya. Air matanya berlinang demi Quran mulia, Quran yang akan tetap mulia meski dibalur najis sepenuh dunia. Dalam pedih, bibirnya berbisik lirih.
Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa ahlikil kafirota wal musyrikin…
Allah…
Allah…

Rafah

Sebongkah batu besar menggelantung di bukit pasir, menghadiahkan kesejukan dalam bayang-bayang di tanah. Rumput kecil tumbuh sejumput, tapi tanpa ampun kerikil meranggasnya. Ia menyesal menatap apa yang terjadi di hadapannya. Tembok baja membentang jauh, perlambang setan yang bisu, yang diam saja tatkala saudara dalam agama meregang nyawa diterjang peluru.
Pada bayang-bayang batu besar itu dua orang tentara Israel tersenyum kegirangan penuh hasrat. Sebab di hadapan mereka tegak seorang perempuan cantik yang berkerudung dan berjilbab hitam, berdiri ketakutan sambil menggenggam tangan di depan dadanya. Ia tak bisa lari ke mana-mana karena batu besar menghalangi di belakangnya, sementara tentara-tentara Israel itu berdiri di hadapannya, ingin merenggut segala yang berharga dari dirinya. Lutut perempuan itu lemas, ia terhempas dan terduduk di batu besar itu, bersandar padanya.
“Jangan…,” ratapnya. Air matanya mulai berlinang. Ia merapatkan kerudung dan jilbabnya ke tubuhnya. Berusaha menjaga kehormatannya.
Dua orang tentara Israel itu menarik kerudung perempuan itu dan menghempaskannya ke pasir. Mereka mencengkeram tubuhnya dari depan dan belakang. Mereka merobek-robek jilbab perempuan itu hingga auratnya tampak, menghempaskannya telentang dan memerkosanya bergiliran.
Perempuan itu meronta sekuat tenaga, hendak melawan kezaliman, tapi apalah dayanya? Tenaganya sudah tak lagi bersisa. Wajahnya basah digelinangi air mata, dadanya sesak pekat lara, matanya sayu kehilangan cahaya. Napasnya tercekat karena berat beban yang menindihnya. Dalam selimut rantai nestapa, bibir mungilnya hanya lirih menyebut nama Tuhannya.
Puas memangsa buruannya, dua tentara Israel itu tertawa kesetanan. Mereka merapikan lagi seragam loreng mereka, mengaitkan lagi kancing celana dan bajunya, mencabut pistol dan membidikannya kepada perempuan itu.
Perempuan itu meringkuk, tangannya bergerak lemah berusaha melindungi auratnya. Kehormatannya telah dicabik paksa. Air matanya terus berlinang diiringi bisikan lirih bibirnya.
Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa ahlikil kafirota wal musyrikin…
Dan pistol meletus, roh suci itu melayang ke hadirat Tuhan bersama dengan doanya.

Mesir

Hari beranjak malam lagi berkali-kali. Tak jauh dari biasa Jenderal Syaddad bekerja di ruang kerjanya, menyelesaikan banyak hal. Laptopnya menyala, jam dinding berdetik pelan-pelan, dan waktu merambat tak mau diam. Jemari Jenderal Syaddad menekan tombol-tombol huruf di laptopnya dengan cepat, tapi tiba-tiba ia berhenti. Ada sesuatu yang aneh dirasakannya malam itu: sampai lewat tengah malam Nouha tidak datang juga ke kamar kerjanya.
Pandangan mata Jenderal Syaddad menerawang, lalu ia berdiri dan keluar dari ruang kerjanya. Ia berjalan melewati koridor menuju kamar Nouha. Setelah sampai di hadapan pintunya ia mengucap salam dan mengetuk, tapi tidak ada jawaban. Kesunyian menghadang, ia mengucap salam dan mengetuk lagi. Tetap sepi. Diraihnya gagang pintu kamar itu, ternyata tak terkunci.
“Nouha,” ia memanggil pelan dan masuk ke dalam.
Kamar itu bersih dan rapi. Perabotannya tertata apik dan serasi. Pandangan Jenderal Syaddad menyapu seisi kamar itu, tidak ada siapa-siapa, kosong.
“Nouha,” panggilnya lagi. Ia melangkah mendekati meja tulis di kamar itu. Di sana berdirilah sebuah bingkai foto kecil dengan gambar dirinya, isterinya, dan Nouha yang sedang bercengkerama. Diraihnya bingkai foto itu. Senyum kecil tersembul indah dan nostalgia menyeruak dari udara. Ketika ia letakkan kembali bingkai foto itu di atas meja, ia sadari ada sehelai kertas terhampar di sana, dengan tulisan terukir di dalamnya. Jenderal Syaddad mengambil kertas itu dan membaca.

Assalamu’alaikum,

Mohon maafkan aku! Bukan maksudku menyakiti ayah setiap malam. Yang aku mau adalah keselamatan keluarga kita dan kaum muslim di dunia dan akhirat. Kalau ayah tidak mau menolong kaum muslim, aku yang akan pergi menolong mereka. Mohon maafkan anakmu ini. Semoga Allah mensejahterakan ayah. Amin.

Wassalamu’alaikum.
Nouha.

Gemetar tangan Jenderal Syaddad saat memegang surat itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, wajahnya berubah keruh. Kertas itu dihempaskannya begitu saja dan berlari keluar.
“Malek… MALLEEEKK,” ia memanggil ajudannya.
Seorang tentara tak berseragam berlari cepat mendekati jenderal Syaddad, menghormat gaya militer, dan tegak di hadapannya.
“Nouha pergi dari rumah, lakukan apapun yang kau bisa untuk temukan dia, laksanakan.” Perintahnya.
“Siap, Pak.”
Malek menghormat lagi dan meninggalkan atasannya. Kerisauan mengancam jiwa Jenderal Syaddad. Hatinya bertanya-tanya ke mana puterinya pergi?

Sehari berlalu, sore telah menjelang. Jenderal Syaddad memarkir mobilnya di pekarangan rumahnya dalam risau setelah melaksanakan tugasnya seharian. Sebab sampai detik itu Nouha belum ditemukan juga. Ia melangkah menuju pintu depan rumahnya. Ketika ia hendak meraih daun pintunya ia mendengar langkah cepat di belakangnya. Saat ia menoleh, hadirlah Malek dengan napas tersengal dan raut muka yang tegang.
“Lapor, Pak,” katanya sambil menghormat.
“Bagaimana?”
“Maaf, Pak…” Malek berjalan mendekati atasannya dan membisikkan sesuatu. “Di Rafah, Pak, Dokter Nazrey yang menemukannya, dan langsung menghubungiku meminta segera memberi tahu anda.”
“APAAA?” Jenderal Syaddad membelalak kaget. “Kau tahu perbatasan Rafah hari ini diserbu?” Ia ingat tadi pagi Menteri Pertahanan Israel menemuinya meminta nasehat dan rekomendasi untuk menyerbu kamp pengungsi di perbatasan Rafah demi menghabisi apa yang mereka sebut sebagai teroris yang dicurigai bersembunyi di sana.
Jenderal Syaddad mendorong Malek dan berlari menuju mobilnya. Ia melarikan mobil itu keluar pekarangan rumahnya. Ia bergegas menuju sebuah rumah sakit di Rafah. Sesampainya di sana ia berlari ke ruang gawat darurat.
Rumah sakit itu terlihat tidak begitu sibuk, padahal tidak jauh dari sana, tadi siang, Israel menyerbu kamp pengungsi di Rafah mencari-cari teroris yang entah siapa. Kamp pengungsi itu ditembaki dan diluluhlantakkan dengan peledak-peledak massal. Pasti korban banyak berjatuhan, tapi tidak ada yang dirawat di rumah sakit itu.
Di ambang pintu ruang gawat darurat berdirilah Dokter Nazrey, wajahnya menanggung beban emosi. Saat ia melihat kedatangan Jenderal Syaddad, ia segera membawanya ke dalam ruang gawat darurat itu. Di sudut ruangan, di atas sebuah ranjang beroda beralas putih, terbaringlah Nouha dengan wajah yang penuh luka serpihan bahan peledak. Slang oksigen tersambung ke masker plastik yang terpasang di wajahnya. Slang darah merasuk ke nadinya. Wajahnya pucat dengan luka-luka yang merah. Matanya tertutup rapat.
“Aku yang menemukannya di perbatasan Rafah dan membawanya ke sini, aku tidak tahu sedang apa Nouha di sana,” kata Dokter Nazrey.
Jenderal Syaddad membatu menatap puterinya, pandangan matanya tak mau pindah dari wajah Nouha. Alat pendeteksi detak jantung berdengung putus-putus di sisi lain ranjang. Ia tak kuasa berkata apa-apa.
Tiba-tiba ia melihat Nouha bergerak lemah, matanya membuka perlahan-lahan penuh kesakitan.
“Nouha,” panggilnya.
Mata Nouha bergerak kepada sumber suara itu, dan dalam kabut berbayang-bayang terlihatlah wajah ayahnya yang remang-remang. Selimut warna putih menutup tubuhnya sampai ke leher. Masker plastik di wajahnya berkabut karena napasnya.
“Nouha,” Jenderal Syaddad tegak di sisi ranjang Nouha dan membelai rambutnya.
Mata Nouha berkedip lemah. Ia kumpulkan tenaganya yang tersisa untuk mempersembahkan senyum yang paling menawan untuk ayahnya. Senyum yang penuh dengan keikhlasan. Senyum yang penuh dengan perlawanan kepada penjajahan. Senyum yang terakhir. Matanya menutup perlahan, senyumnya abadi. Alat pendeteksi jantung berdengung tak putus-putus. Garis gelombang di layarnya tidak lagi bergerak naik turun, tapi telah membentuk garis lurus, datar tak putus-putus. Roh suci itu melayang ke hadirat Tuhan.
Terpakulah Jenderal Syaddad di tempatnya berdiri. Bibirnya gemetar menahan guncangan kematian di hatinya. Jiwanya pedih, ia tidak ingin menangis, tapi air matanya telah menggenang. Kini sadarlah ia, penjajahan kaum kafir telah merenggut Nouha dari sisinya. Sebuah penjajahan nyata yang sudah lama ia biarkan, bahkan ia izinkan. Kini ia bisa merasakan perih seperti perih yang dirasakan orang-orang di balik pagar besi. Orang-orang yang sesungguhnya adalah saudaranya, walau tanpa tali darah. Kini ia tahu mengapa Nouha begitu gigih memperjuangkan permintaannya itu setiap malam. Kini ia tahu betapa tegaknya Islam dan berdirinya Khilafah tidak bisa ditunda-tunda lagi. Kini ia hanya ingin setia kepada Allah dan RasulNya. Sebab ia ingin berkumpul kembali bersama keluarganya kelak di negeri sorga. Dan dari bibirnya yang gemetar, ia berbisik lirih.
Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa ahlikil kafirota wal musyrikin…
Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa ahlikil kafirota wal musyrikin…
Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa ahlikil kafirota wal musyrikin…

Dan hiduplah ia demi ‘Izzah Karim

Advertisements

One response to “‘IZZAH KARIM

  1. no glory without islam
    no islam witout shariah
    no shariah without khilafah

    stay to try see that eyes can’t see
    being trustworty guardian of Islam
    no anything else

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s