My Idiot


idiot inside

I am an idiot

Saat SMA dulu saya tidak pandai berhitung. Saya termasuk anak bodoh. Makanya saya memilih jurusan sosial untuk menghindari monster menyeramkan yang bernama matematika, kimia, dan fisika, dari jurusan sains. Tapi ternyata berhitung tak mau pergi dari hidup saya. Seakan-akan setiap sudut bumi ini adalah perhitungan. Dia terus mengikuti di mana pun saya berada. Di sosial pun ternyata ada ekonometri –yang ternyata matematika-matematika juga. Juga ada pelajaran akuntansi dengan derajat yang lebih memusingkan.

Saya memang bodoh. Tapi saya terus hidup dalam kebodohan saya itu. Karena saya bodoh, saya melakukan sesuatu dengan tanpa perhitungan dan pertimbangan (sekali lagi, saya tak pandai menghitung dan menimbang). Saya lakukan saja apa yang mau saya lakukan (selama halal).

Karena saya bodoh, saya jadi nggak tau diri. Dalam kebodohan dan ke-nggaktaudirian itu, hati saya berbisik: Saya ingin jadi penulis. Saya ingin berjuang melalui tulisan-tulisan saya. Saya ingin hidup darinya. Saya ingin memiliki label media saya sendiri, yang saya kelola dengan kawan-kawan saya. Saya ingin memiliki sebuah perusahaan yang bisa menampung semua kreatifitas kami. Karena kami hanya suka melakukan hal-hal yang kami sukai. Dari karya-karya itulah kami akan hidup. Begitulah bisik hati saya. Lantas kenapa hati saya berbisik seperti itu? Karena saya bodoh. Karena saya tidak pandai berbicara dan bergaul dengan orang lain, maka saya hanya bisa berjuang lewat tulisan. Kenapa saya menginginkan hal itu? Padahal saya tidak pandai menulis. Tulisan-tulisan saya jelek. Apa yang saya punya, sampai-sampai saya berani bercita-cita ingin memiliki label media saya sendiri, ingin memiliki perusahaan saya sendiri, ingin mengelola semuanya sendiri bersama teman-teman? Padahal saya tidak punya latar belakang jurnalistik. Tak pernah sekolah manajemen perusahaan. Tak tau apa-apa soal keuangan. Saya tak punya apa-apa!! Tapi karena saya bodoh, saya terus mempertahankan semuanya itu semenjak lama. Sejak bertahun-tahun yang lalu. Karena saya bodoh, saya tak mau membuang semua keinginan saya itu. Saya terus hidup dalam kebodohan saya itu.

Tidak pandai saya menulis. Tapi kebodohan saya itu menghalangi saya untuk menyadari realitas diri saya. Saya terus menulis dan menulis. Tak peduli betapa jeleknya tulisan saya. Sampai saat SMA dulu, saya mengikuti sebuah lomba karya tulis ilmiah yang diadakan oleh fakultas ekonomi sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung. Tulisan saya pun lolos menjadi finalis dari sekian banyak siswa cerdik-pandai seseantero Jawa Barat. Dengan kebodohan dan ketidakteraturan retorika serta gaya berbicara saya, saya mempertahankan karya tulis ilmiah saya itu di hadapan civitas akademika perguruan tinggi ternama itu. Dan di akhir, mereka menempatkan saya sebagai salah satu orang yang terbaik sebagai juara lomba karya tulis ilmiah (hanya tingkat Jawa Barat). Sementara saya tak habis menyangka kebodohan saya.

Saya terus terhanyut! Hingga dalam kebodohan, ketidaktaudirian, kekurangan pertimbangan, dan kekurangan perhitungan itu lahirlah D’RISE corporation. Dengan terbitnya produk pertamanya: D’RISEzine # 1. Hanya bermodal utangan 30 rebu perak kepada seorang teman (yang sampai sekarang pun belum dibayar). Saya makin hanyut dalam deras arus air kebodohan. Saya semakin gila.!! Saya sebut cita-cita itu kepada Tuhan. Saya ceritakan cita-cita itu kepada semua orang. Meminta mereka semua mendoakan saya.

Melompat-lompat dari satu kebodohan ke kebodohan yang lain, begitulah saya. Betapa tak ingin saya lepas dan jauh dari cita-cita itu, maka saya terus menerus melakukan kebodohan. Pada suatu hari bertemulah saya dengan salah seorang guru saya yang dahulu pernah mengajari saya dengan baik di sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris. Ternyata salah satu lembaga pelatihan dan konsultansi bahasa Inggris yang telah besar di Sukabumi dan di kota-kota besar di Indonesia itu adalah miliknya. Training-training lembaganya berstandar internasional dan trainer-trainernya pun berstandar internasional.

Saat bertemu, beliau mengajak saya makan di restoran Padang (saya comot makanan kesukaan saya, mumpung ada kesempatan). Beliau langsung menghajar saya dengan bahasa Inggris. Saya pun menangkisnya dengan bahasa Inggris. Seisi ruangan rumah makan Padang itu melongo melihat kami bertarung dengan bahasa Inggris.

Guru saya itu mengajak saya bergabung di dalam perusahaannya mengingat potensi saya yang cukup bagus –menurut beliau- dalam berbahasa Inggris. Beliau menawari saya untuk menjadi trainer di perusahaannya. Beliau akan langsung melatih saya dengan standar internasional dan kemudian tentu saja menggaji saya.

Tapi, betapa bodohnya saya.!! Saya MENOLAKNYA!!! Di depan hidung saya ada uang, jabatan, status sosial, privilej, fasilitas, semuanya yang begitu banyak diharapkan orang, tapi semuanya itu saya buang jauh-jauh hanya karena saya ingat pada cita-cita saya. Saya tak ingin lari darinya. Tak ingin mengkhianatinya. Tak ingin memberikan waktu sisa kepadanya. Betapa saya menyayanginya. Saya cuma ingin cita-cita itu, tak ingin yang lain. Betapa bodohnya saya karena mempertaruhkan sesuatu yang pasti dengan sebuah cita-cita yang nggak jelas kapan dan di dunia sebelah mana bakal kesampaian.!! Dan bertambah panjanglah daftar kebodohan saya semenjak bertahun-tahun yang lama. Saya hanya ingin bekerja keras demi cita-cita itu. Mencurahkan energi dan potensi saya untuk meraihnya. Saya tak ingin yang lain. Saya tak sadar kebodohan saya karena saya bodoh.

Penyakit bodoh saya semakin parah. Sangat parah! Saking bodohnya saya, hanya dengan bermodalkan cita-cita dan harapan itu saya melamar seorang perempuan (gubraks!!). Serius nih?? Ya serius dooong (bukan serius laaah)!!! Menurut kawan-kawan apa yang terjadi?? Eh, tau ajah lagi!! Bener, saya ditolak!! Sebenernya itu nggak aneh dong!! Lha wong yang saya punya cuman cita-cita dan harapan doang, kok brani-braninya ngelamar cewek. Emangnya kenyang makan harapan dan cita-cita? Makan nasi baru kenyang!! Semuanya itu saya lakukan karena saya bodoh, nggak pandai menghitung, nggak pandai menimbang, dan saya hanya ingin melaksanakan itu, maka saya berusaha saja melaksanakannya. Berhasil atau tidak bukan urusan saya. Saya hanya punya cita-cita, maka saya hanya akan mengatakan cita-cita saya itu. Nggak mau mengatakan yg lain.

Saya bahagia, Tuhan telah menciptakan saya sebagai orang bodoh. Hidup orang bodoh jauh dari kekhawatiran dan ketakutan. Yang orang bodoh tau hanyalah melaksanakan segala keinginannya, bekerja keras untuk meraih cita-citanya tak peduli realitas dirinya. Dan saya ingin jadi orang bodoh selama-lamanya untuk membela cita-cita dan harapan itu, tak peduli seperti apa diri saya!!!.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s