NASAKOM


soekarno
Bapak Bangsa

Saya pengen mencoba. Saya selalu pengen mencoba. Maka di hari yg berbahagia ini saya mau mencoba untuk memberikan hadiah yg mudah2an oke punya. Mudah2an percobaan saya  berhasil dan mudah2an kawan-kawan suka sama hadiah saya ini.

Hadiahnya adalah sebuah kritik yg sangat manis. Kritik ini saya tujukan untuk Soekarno sang founding father negara kita. Kritik saya ini berkaitan dengan sebuah konsep yg selalu diperjuangkan dan terus berusaha diterapkan oleh Soekarno. Yaitu Nasakom. Kependekan dari Nasionalis, Agama, Komunis. Mungkin kawan2 pernah mendengarnya? Kritik saya ini akan saya dasarkan pada tulisan Soekarno yg berjudul: Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Tulisan ini bisa kawan2 baca di buku “Di Bawah Bendera Revolusi” jilid satu terbitan tahun 1965. Sebuah buku yg isinya tulisan2 berupa artikel dan surat2 Soekarno. Saya pinjem buku lama itu dari seorang temen yg sangat baik sekali. Buku itu tebel banget dan kertasnya juga udah pada kuning. Kalo dipake untuk ngelempar muka bisa2 acak2an tuh muka. Okelah ini dia kritiknya.

Artikel yg berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme itu (menurut saya) adalah sebuah gambaran tentang ide Nasakom yg ada di benak Soekarno. Maka untuk memahami seperti apa sebenarnya ide Nasakom dan menghancurkan ide batil hasil kreatifitas Soekarno itu maka saya akan mengorek dan menghancurkan setiap argumentasi di dalam tulisan itu dengan ideologi Islam (karena saya seorang muslim).

Paragraf2 awal tulisan Soekarno itu menggambarkan bagaimana kondisi jaman itu, terutama kondisi riil wilayah2 di Asia yg masih terjajah oleh negara2 kolonialis Eropa Barat. “…zaman jang rakjat-rakjat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnja. Tak senang dengan nasib ekonominja, tak senang dengan nasib politiknja, tak senang dengan segala nasib jang lain-lainja. Zaman ‘senang dengan apa adanja’, sudahlah lalu”. Soekarno menyadari bahwa sebab kolonisasi bangsa2 kolonialis Eropa adalah “…asalnja kolonisasi jalah teristimewa soal rezeki…Kekurangan rezeki, itulah jang mendjadi sebab rakjat-rakjat Eropah mentjari rezeki di negeri lain!…berwindu-windu rakjat-rakjat Eropah itu mempertuankan negeri-negeri Asia. Berwindu-windu rezeki Asia masuk ke negerinya. Teristimewa Eropa Baratlah yang bukan main tambah kekayaannya.”

Mulia sekali motivasi yg bangkit ini. Hal ini adalah sebuah kesadaran seorang pemikir dan kesadaran seorang intelektualis akan kondisi alam yg ada di sekitarnya tempat di mana dia berada. Kondisi rakyatnya dan semuanya. Kesadaran kondisi dan realitas yg menyelimuti rakyat Asia itu kemudian menular ke Indonesia. “Roch Asia masih hidup sebagai api jang tiada padamnja! Keinsjafan akan tragik inilah pula jang sekarang mendjadi njawa pergerakan rakjat di Indonesia kita,…”. Menurut Soekarno, pergerakan rakyat Indonesia menuju dekolonisasi memiliki tiga sifat, “…jang walaupun dalam maksudnja sama, ada mempunjai tiga sifat: NASIONALISTIS, ISLAMISTIS, dan MARXISTIS-lah adanja”.

Apa yg kemudian diinginkan Soekarno dengan sebuah realitas bahwa perjuangan rakyat Indonesia memiliki tiga sifat ini? Ternyata dengan terlalu menggampangkan masalah dan –menurut saya- serampangan, Soekarno menginginkan “persatuan” di antara sifat2 yg bertentangan itu. “Mempeladjari, mentjahari hubungan antara ketiga sifat itu, membuktikan, bahwa tiga haluan ini dalam suatu negeri djadjahan tak guna berseteru satu sama lain, membuktikan pula bahwa ketiga gelombang ini bisa bekerdja bersama-sama mendjadi satu gelombang  jang maha besar dan maha kuat, satu ombak taufan jang tak dapat ditahan terdjangnja, itulah kewadjiban jang kita semua wadjib memikulnja”. Karena Soekarno meyakini bahwa, “…persatuanlah jang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terkabulnja impian kita: Indonesia-merdeka!”. Tetapi kemudian Soekarno sendiri mengakui sesuatu yg sangat penting, “Entah bagaimana tertjapainja persatuan itu; entah pula bagaimana rupanja persatuan itu.”. Apakah sebenarnya tiga sifat itu bisa disatukan? Padahal tiga sifat itu saling bertentangan satu sama lain (sesuatu yg diakui juga oleh Soekarno). Tapi, Soekarno menyatakan, “Dengan ketetapan hati kita mendjawab: Bisa!”.

Nasionalisme, Islam (saya nggak mau menyebut Islamisme), dan Marxisme adalah ide2 yg saling bertentangan. Upaya2 untuk menyatukannya tentu akan berujung pada sebuah upaya kompromistis dan pemutilasian konsep2 dari ideologi2 tersebut. Maksudnya adalah, ideologi2 yg ada itu diterapkan tidak secara utuh alias setengah2. Islam sebagai sebuah ideologi yg utuh tidak akan pernah bisa disatukan dengan nasionalisme dan atau marxisme (komunisme). Karena memang konsep2 Islam menghendaki hancurnya idelogi2 lain selain Islam. Artinya Islam yg sesungguhnya menginginkan musnahnya Marxisme dan nasionalisme.

Konsep2 nasionalisme bertentangan dengan Islam karena Islam tidak mengakui adanya ikatan2 lain selain ikatan akidah Islam. Islam menganggap bahwa ikatan kebangsaan adalah ikatan yg rendah dan tidak boleh ada di tengah2 umat manusia. Dalam rentang sejarah Islam yg panjang pun ternyata nasionalisme-lah  yg telah sukses membuat kesatuan umat Islam  terpecah-pecah. Adanya nation-state modern (negara-bangsa) seperti yg ada di peta sekarang ini adalah wujud dari keberhasilan nasionalisme menghancurkan kesatuan Islam. Padahal dahulu negara2 yg tercantum di peta itu nggak pernah ada. Di negeri2 Islam dulu hanya ada satu negara yaitu negara Khilafah Islamiyah. Lantas bagaimana mungkin Islam bisa disatukan dengan nasionalisme? Kalaupun bisa disatukan, Islam seperti apakah yg bisa disatukan itu? Tentu Islam yg konsep2nya sudah dipangkas, dimutilasi sedemikian rupa, dan dikompromikan agar bisa “bersahabat” dengan nasionalisme. Soekarno berargumen: “Tidak adalah halangannja nasionalis itu dalam geraknja bekerdja bersama-sama dengan kaum islamis dan marxis. Lihatlah kekalnja perhubungan antara Nasionalis Gandhi dengan pan-islamis Maulana Mohammad Ali, dengan pan islamis Sjaukat Ali, jang waktu pergerakan non-cooperation  India sedang menghaibat, hampir tiada pisahnja satu sama lainja”. Menurut saya kedekatan antara tokoh2 Islam seperti yg disebutkan Soekarno, dengan tokoh2 nasionalis India itu nggak ada hubungannya sama sekali dengan akan harmonisnya hubungan antara konsep2 Islam dan nasionalisme. Kalau tokoh2 Islam dan tokoh Kristen berdekatan –misalnya- kan bukan berarti Islam dan Kristen bisa disatukan. Ya nggak sih?? Sayyid Qutbh pernah menyatakan bahwa Islam itu adalah sesuatu, dan muslim itu adalah sesuatu yg lain. Artinya, Islam dan muslim itu adalah sesuatu yang berlainan. Islam itu adalah suatu konsep yg benar, sedang muslim adalah orang2 Islam yang bisa saja salah dalam menerapkan Islam. Contohnya saja jika ada seorang muslim melakukan pncurian kan bukan berarti Islam mengajarkan untuk mencuri! Makanya dari konsep2 Islam itulah seharusnya kita mengenali seperti apa sebenarnya Islam. Bukan dari bagaimana kelakuan umat Islam. Karena bisa saja umat Islam salah menerapkan Islam. Lha wong namanya juga manusia.

Begitu juga dengan Marxisme. Konsep2 Islam sangat bertentangan dengan konsep2 Marxisme. Marxisme tidak terlalu mempedulikan Tuhan. Sementara Islam memandang Tuhan adalah segala-galanya. Tak tergantikan dengan apapun. Di dalam artikelnya itu Soekarno menulis “Berlainan dengan sosialis-sosialis lain, jang mengira bahwa tjita-tjita mereka itu dapat tertjapai dengan djalan persahabatan antara buruh dan madjikan, berlainan dengan umpamanja: Ferdinand Lasalle, jang teriaknja itu ada suatu teriak perdamaian, maka Karl Marx, jang dalam tulisan-tulisanja tidak satu kali mempersoalkan kata asih atau kata tjinta, membeberkan pula faham pertentangan golongan; faham Klassenstridj, dan mengadjarkan pula bahwa lepasnja kaum buruh dari nasibnja itu, jalah oleh perlawanan zonder (tanpa) damai terhadap pada kaum “bursuasi” (maksudnya borjuasi), satu perlawanan jang tidak boleh tidak, musti terdjadi oleh karena peraturan jang kapitalistis itu adanja.”. Menurut Marxisme, tak ada jalan lain untuk menyelamatkan nasib buruh selain membenturkan antara kaum buruh (proletar) dengan kaum majikan (borjuis/konglomerat). Kedua kelas ini harus dipertentangkan. Harus dibenturkan. Tidak boleh ada kata cinta atau damai. Kelas proletar harus melawan kelas borjuis dalam sebuah revolusi proletariat. Itulah metode satu2nya yg dikenal oleh Marxisme untuk mengadakan sebuah perubahan sosial. Dalam konsep Islam, majikan dan buruh harus bekerja sama. Karena Islam mengaggap buruh dan majikan saling membutuhkan satu sama lain. Sebuah kerja sama yg fair yg diatur oleh konsep2 Islam berdasarkan keridhoan buruh dan majikan itu dalam bekerja dan mengupah. Tidak boleh ada dominasi antara satu dengan yg lain. Majikan dengan kekuatan modalnya tidak boleh mendominasi buruh. Dan konsep2 Islam telah mengatur dengan lengkap bagaimana agar tidak terjadi dominasi seperti itu dan semuanya berjalan dengan adil. Islam juga tidak mengakui bentuk negara diktator proletariat seperti yg diajarkan marxisme (komunisme / sosialisme) itu. Islam hanya mengajarkan bentuk negara Khilafah Islamiyah. Nah kalau Islam dan Marxisme itu disatukan apa yg akan terjadi? Keduanya akan saling berlawanan, nggak bakal pernah akur. Kalau pun bisa disatukan, akan terjadi pemangkasa2 pada konsep2 Islam. Paling2 konsep Islam yg diambil hanya ritual2 saja, nggak semuanya.

Sejarah telah mencatat ternyata konsep Nasakom-nya Soekarno nggak membuat rakyat Indonesia sejahtera. Rakyat Indonesia tetap saja miskin, kecuali beberapa gelintir elit politik yg seharusnya “ditembak mati di lapangan banteng” (meminjam kalimatnya Soe Hok Gie). Yang menjadi masalah sekarang adalah konsep apa yg paling baik yang bisa membuat kesejahteraan merata pada rakyat. Sejarah mencatat Islam-lah yg mampu membuat kesejahteraan yg merata hanya dalam waktu yg relatif singkat. Dengan menerapkan sistem Islam, Umar bin Abdul Aziz hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua tahun saja untuk membuat seluruh rakyatnya tidak perlu lagi menerima harta zakat. Luar biasa. Enak nggak dikritikin??

Advertisements

One thought on “NASAKOM”

  1. Nasakom itu adalah ide yang membahayakan, seperti seorang yang membuat minuman dengan tiga campuran. susu + racun + air yang mengandung bakteri e coli, tapi dikatakan bahwa minuman ini adalah minuman yang menyehatkan. kritikan yang bagus bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s