Tyrant of The World


menara babel

ilustrasi menara babel yang dibangun raja nimrod

Inilah kisah seorang raja bengis bernama Namrud (dalam Injil: Nimrod). Dia adalah seorang raja pendiri kekaisaran pertama setelah banjir besar Nabi Nuh. Dia adalah anak dari Kush, cucu dari Ham, dan cicit dari nabi Nuh. Namrud emang keturunan Nabi, tapi sayang dia kurang ajar.

Wilayah kekuasaannya meliputi Mesopotamia, Uruk, Akkad, Calneh, dll. Walaupun tak secara jelas dicantumkan di dalam Injil, Namrud telah lama diasosiasikan sebagai pembangun Menara Babel. Semenjak kekuasaannya meliputi Sinear (Shinar), dipercaya bahwa pembangunan menara itu dimulai. Menurut sebuah kitab Arab kuno berjudul Kitab al-Magall (kitab gulungan2), Namrud membangun kota2 seperti Hadaniun, Ellasar, Seleucia, Ctesiphon, Ruhin, Atrapatene, Telalon, dll. Dia memerintah selama 69 tahun. Kitab ini menambahkan lebih jauh bahwa Namrud “melihat di langit secarik kain hitam dan sebuah mahkota. Dia memanggil Sasan si Penenun untuk hadir di hadapannya, dan memerintahkan Sasan untuk membuat mahkota seperti yg dilihatnya. Namrud menaruh perhiasan di mahkota itu dan memakainya. Rakyat yg tidak mengetahuinya mengatakan bahwa mahkota itu turun kepadanya dari sorga.” Kemudian buku itu menyebutkan bagaimana Namrud mempelopori penyembahan kepada api dan pemujaan berhala. Di dalam kitab berjudul Nabi2 dan Raja2 karangan seorang sejarawan muslim yg bernama al-Tabari (dari abad ke-9), disebutkan bahwa Namrud memiliki menara yg dibangun di Babil, dan Allah menghancurkannya, dan  bahasa manusia yg dulunya bahasa Syriac, terpecah menjadi 72 bahasa. Salah satu tradisi yg tidak diketahui sumbernya menyebutkan bahwa Namrud terbunuh oleh binatang buas saat dia berburu (artinya “Namrud” adalah “Pemburu yg Perkasa”). Sementara sumber lain menyebutkan bahwa Shem (nama orang) membunuhnya karena dia telah memimpin rakyatnya menyembah Baal. Shem memutilasinya menjadi beberapa bagian sebagai peringatan agar jangan menyembah tuhan yg salah. Kemudian Ibu / istrinya, Shemiramis, mengumpulkan potongan2 tubuhnya dan menyusunnya lagi, lantas mengklaim bahwa Namrud masih hidup, dan telah berubah menjadi tuhan. Mirip dengan cerita Isis dan Osiris. Namrud pulalah yg memulai budaya sesat yaitu incest (nikah dengan sesama anggota keluarga). Makanya di sana D’RISE menulis “ibu” garis miring “istri”. Karena memang Shemiramis adalah ibu sekaligus istrinya Namrud. Namrud menikahi ibunya sendiri karena kabarnya ibunya itu cantik setengah mati, dan ibunya itu sangat menyukai keperkasaan Namrud. Bahkan untuk memuluskan perbuatan sesatnya itu, Shemiramis mengatakan bahwa Namrud tidak lahir dari rahimnya, tapi lahir secara ajaib (nggak ngerti ajaibnya gimana).

Injil tidak menyebutkan pertemuan apapun antara Namrud dan Ibrahim (dalam Injil “Abraham”). Ada jarak 7 generasi di antara mereka (Genesis 10, 11). Walaupun begitu tradisi Yahudi membawa keduanya ke dalam sebuah benturan besar sebagai pertentangan antara yang baik dan yang jahat (good and evil). Secara spesifik, sebagai pertempuran antara monoteisme (tauhid), melawan politeisme (syirik), dan penyembahan berhala. Di dalam beberapa versi seperti di dalam kitab Josephus, disebutkan bahwa Namrud adalah seorang raja yg menentang kehendak Tuhan. Bahkan dia mengakui dirinya sebagai tuhan dan minta disembah.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa telah nampak oleh Namrud dan ahli nujumnya sebuah tanda di langit tentang akan lahirnya seorang bayi yg akan mengakhiri kesesatan berhala dan pengkultusan dirinya. Namrud kemudian memerintahkan untuk membunuh semua bayi yang baru lahir (parno!). Namun ternyata ibunda Ibrahim berhasil menyelamatkan anaknya. Sebuah sumber menyatakan bahwa ibunda Ibrahim melahirkannya di sebuah celah. Ibrahim tumbuh dewasa dan menemukan Tuhan yg sebenarnya dengan intelektualitasnya dan pengamatannya terhadap alam, lantas mulai menyembahnya. Al-Quran menyebutkan bahwa saat melihat bintang, dia menyebut bahwa itulah tuhannya. Tapi saat bintang tenggelam dia berpikir nggak mungkin dong tuhan tenggelam. Begitu juga saat dia melihat bulan dan matahari. Akhirnya Ibrahim  berkesimpulan untuk menyembah Tuhan yg telah menciptakan semuanya. Menciptakan bulan, matahari dan bintang2 serta mengatur semuanya.

Di dalam Quran disebutkan bahwa Namrud berdebat dengan Ibrahim soal ketuhanan. Ibrahim berkata bahwa Tuhannya menghidupkan dan mematikan. Maka Namrud memanggil dua orang budak lantas membunuh salah satunya dan membiarkan hidup salah satunya lagi. Utk membuktikan bahwa dia pun bisa menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata bahwa Tuhannya menerbitkan matahari dari timur, dan meminta Namrud untuk menerbitkan matahari dari barat. Namrud mati kutu dan marah besar. Versi berikut ini pun bercerita tentang pertentangan antara Namrud dan Ibrahim yang muncul di dalam Midrash Raba (sebuah kompilasi naskah kuno Yahudi), “Ibrahim berhadapan dengan Namrud. Namrud berkata kepadanya, sembahlah api. Ibrahim berkata: haruskah aku menyembah air karena air dapat mematikan api? Namrud berkata: Maka sembahlah air. Ibrahim berkata: Kalau begitu haruskah ku sembah awan karena awan membawa air? Namrud berkata: sembahlah awan. Ibrahim berkata: Kalau begitu, haruskah aku menyembah angin karena angin mancerai-beraikan awan? Namrud berkata: Sembahlah awan. Ibrahim berkata: Kalau begitu haruskah aku menyembah manusia yg bisa memanfaatkan angin? Namrud berkata: Kau menumpuk kata2 dengan kata2. Aku hanya akan bersujud kepada api. Dan haruskah aku melemparkanmu ke dalam api dan melihat Tuhan yang kau sembah datang dan menyelamatkanmu?”. Namrud menangkap Ibrahim dan memerintahkan untuk membakarnya. Dalam beberapa versi, Namrud memerintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan kayu bakar selama 4 tahun penuh sehingga membentuk sebuah tumpukan menara kayu api tertinggi yang pernah dilihat manusia. Kemudian Ibrahim pun dibakar, namun ajaibnya dia keluar dari kobaran api sangat besar itu tanpa kurang suatu apapun. Tuhan kemudian menyelematkan Ibrahim dan membawanya ke sebuah negeri lain yang lebih aman sentosa.

Namrud sang raja gila itu makin terobsesi untuk mengalahkan Tuhannya Ibrahim (Tuhannya Ibrahim siapa? Tentu saja Allah Swt.). Beberapa sumber menyebutkan bahwa dia membangun Menara Babel adalah untuk mencapai langit tempat di mana Tuhannya Ibrahim berada. Gagal dengan cara ini Namrud membuat semacam kendaraan yg ditarik oleh burung2 yang dipancing dengan makanan di depan paruhnya agar mereka terbang dan membawa Namrud ke langit, tempat di mana Tuhannya Ibrahim berada (maju terus pantang mundur). Tentu saja cara ini gagal (burungnya ngosngosan). Namrud tidak menyerah. Dia menyiapkan pasukan yg sangat besar dan membawa pasukannya itu keluar kerajaannya. Lantas dia menantang Tuhannya Ibrahim di sebuah padang, untuk berperang dengannya. Namrud berteriak-teriak menantang Tuhannya Ibrahim. Apa yg terjadi??  Tuhan juga mengirimkan pasukan, tapi bukan orang. Tuhan mengirimkan nyamuk. Nyamuk yg sangat banyak sampai seperti sebuah bayangan hitam yg sangat besar. Pasukan nyamuk itu menggerogoti pasukan Namrud sampai mati semuanya. Yang tersisa hanyalah  Namrud sendirian. Lantas seekor nyamuk masuk ke dalam hidungnya dan menggerogoti otaknya sampai dia mati. Sungguh hina. Hanya oleh seekor nyamuk. Seperti itulah akhir dari kesombongan.!! Hanya kengerianlah akhir dari setiap kesombongan.!! [from many source]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s