The Crusade: Never Ending War


Crusade

Pendahuluan

Tema ini saya pilih untuk memberikan gambaran dan menyegarkan kembali ingatan kita tentang kejadian pahit di tubuh kaum muslimin, yang telah membuat ribuan nyawa kaum muslim melayang di tanah suci Jerusalem, sebagai korban Perang Salib (The Crusade). Rangkaian perang ini kemudian terus tercatat dalam sejarah untuk rentang waktu yang sangat panjang, dan spiritnya terus terasa sampai sekarang. Spirit perang ini masih digunakan oleh orang-orang kafir untuk memerangi Islam, walaupun hegemoni institusi gereja telah lama direduksi. Walaupun sudah tidak ada lagi institusi gereja yang menyerukan perang salib sebagaimana dahulu, spirit perang salib masih tetap bersemayam di hati orang-orang kafir, dan tatkala ia diperlukan, ia akan disuarakan lagi. Ketika kaum muslim memiliki jihad sebagai spirit dan landasan ideologis untuk bertahan dan menyerang, maka kaum kafir memiliki spirit perang salib ini. Dan tulisan ini berusaha menelusuri jejak perang salib yang telah banyak mengorbankan nyawa kaum muslimin dari dulu sampai sekarang, semoga ketika Khilafah tegak dalam waktu yang Insyaallah sudah dekat ini, kaum muslim bisa mewaspadai spirit perang salib yang kejam dan biadab itu.

 

Sejarah: Favorit Para Khalifah

Sebelum masuk ke dalam penelusuran jejak berdarah perang salib, saya ingin sedikit memberikan penekanan tentang betapa pentingnya sejarah untuk dipahami kaum muslim, mengingat betapa memprihatinkannya minat generasi Islam tentang sejarah Islam ini, padahal beberapa bagian dari Al-Quran adalah sejarah, dan memahami sejarah adalah perintah langsung dari Allah SWT. Di dalam Al-Quran Allah berfirman: “Dan Sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka Apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu; bahkan adalah mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan.” (QS. Al-Furqan: 40). Dalam ayat ini Allah mempertanyakan sikap kaum Quraisy Makkah yang tidak mau memperhatikan dan mengambil pelajaran dari sejarah bangsa Sadum yang telah dihancur-leburkan dengan hujan batu, padahal mereka melalui tempat terjadinya azab itu.

Tidak ada dongeng di dalam Al-Quran, semuanya adalah kenyataan sejarah, mulai dari sejarah para nabi dan orang-orang soleh, sampai sejarah manusia paling biadab (misalnya sejarah kaum homo pertama). Ini adalah sebuah indikasi kuat  bahwa Al-Quran sangat memperhatikan sejarah, dan sayangnya minat Al-Quran yang sedemikian kuatnya terhadap sejarah ini tidak diimbangi dengan kuatnya minat kaum muslim terhadap bidang yang sama.

Sejarah memang bukan sumber hukum, namun sejarah menyimpan informasi yang sangat berharga. Informasi dari sejarah itulah yang akan bisa kita jadikan pijakan untuk mengambil langkah ke depan. Allah SWT. berfirman, “Dan perhatikanlah sejarahmu, untuk hari esokmu.” (QS. ).

Karena sedemikian pentingnya sejarah, para Khalifah kaum muslim diwajibkan mempelajari sejarah bersama dengan ilmu syariah dan ilmu bahasa, sebelum mempelajari berbagai bidang ilmu yang lain (Felix Siauw, dalam Muqaddimah MAF 1453). Karena memahami betapa pentingnya sejarah inilah Soekarno membuat idiom Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Berbagai upaya mesti dilakukan agar generasi Islam terdongkrak minatnya untuk memperhatikan sejarah.

 

Perang Salib: Perang Tiada Akhir

Tidak berlebihan kalau dalam tulisan ini saya sebut bahwa perang salib adalah perang tiada akhir. Sebab Allah SWT. sendiri berfirman di dalam Al-Quran, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120). Dalam ayat ini Allah menggunakan huruf lam yang bermakna tidak akan pernah selamanya. Dengan kata lain kaum kafir pasti akan selalu menyerukan perang salib kepada kaum muslim karena mereka membenci kaum muslim sampai ke ubun-ubun. Apa sebab kebencian mereka? Kalau kita telusuri lagi kalimat selanjutnya, akan kita ketahui bahwa mereka membenci kita karena agama, dengan kata lain kebencian mereka akan hilang, kalau kita sudah berpindah agama.

Di sisi lain, Allah SWT. berfirman melalui lisan para malaikat, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: ‘Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30). Allah memang menciptakan dunia ini sebagai tempat pertempuran dan pertumpahan darah antara yang haq dan yang batil, antara keimanan dan kekufuran. Dengan kata lain, akan selalu terjadi perang antara kaum muslim dengan kaum kafir sampai hari kiamat nanti, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW., “Jihad tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat.”

Dengan kata lain seruan perdamaian (seperti apa yang diserukan oleh, misalnya, Generasi Bunga) adalah seruan yang batil, yang tidak boleh diserukan oleh kaum muslimin. Sebab Islam memiliki hukum-hukum tentang perang yang wajib dilaksanakan. Namun walaupun Islam menyetujui peperangan, perang dalam Islam adalah perang yang terikat dengan aturan Allah, perang yang santun dan memanusiakan, dan hal ini selalu terjadi dalam sejarah peperangan Islam. Bukan seperti kaum kafir yang selalu mempropagandakan HAM dan berbagai konvensi tentang perang, padahal merekalah yang melanggarnya sendiri, menghancurkan kemanusiaan dan melakukan pembantaian. Kaum kafir sudah begitu dari dulu. Tulisan ini akan menelusuri jejaknya.

 

Crusade VS Jihad

Crusade berasal dari kata Prancis croix, yang berarti “salib” (cross). Istilah ini sebenarnya tidak lazim digunakan untuk menggambarkan kaum Kristen yang bertempur demi tanah suci hingga periode terakhir dari perang tersebut, para tentara salib biasanya menyebut diri mereka sendiri “kaum peziarah” (“pilgrims”). Namun orang-orang mengaitkan mereka dengan perang salib karena mereka menjahitkan tanda salib ke pakaian-pakaian mereka (Karen Armstrong, dalam Catatan Penulis buku Perang Suci).

Sejak masa Khalifah Umar bin Khathab (abad ke-7 Masehi), Jerusalem telah dikuasai oleh kaum muslim di bawah naungan Khilafah Islam. Penguasaan itu terus berlanjut hingga abad ke-9 Masehi, walaupun para Khalifah silih berganti. Selama berada di bawah penguasaan kaum muslim, Jerusalem menjadi kota suci tiga agama yang aman dan damai. Kaum muslim, Kristen, dan Yahudi, bisa beribadah di tempat-tempat suci mereka masing-masing tanpa saling mengusik. Hingga pada suatu ketika di abad ke-9 Masehi itu, kaum Kristen mengadakan berbagai parade misa sambil menenteng senjata, dan kerap kali menimbulkan kerusuhan. Untuk mengamankan kota, maka penguasa dari Bani Saljuk (Turki), membubarkan misa-misa tersebut, dan melarang kaum Kristen membawa senjata (Abu Fatah Grania, dalam Panglima Surga). Hal ini kemudian menjadi fitnah, dan dari sinilah berbagai bencana perang salib berasal.

Pada tanggal 25 November 1095, pada Konsili Clermont di Prancis, Paus Urban II (nama aslinya Odo de Lagery), menyerukan perang salib yang pertama. Di hadapan para bangsawan, pendeta, kesatria, dan para petani, Paus Urban membakar semangat dan kafanatikan mereka. Kerumunan orang Kristen itu meledak dalam antusiasme dan berteriak deus le volt (“tuhan menghendaki”). Urban mengatakan bahwa orang-orang Turki Saljuk itu adalah “ras yang terkutuk, ras yang sungguh-sungguh jauh dari tuhan, orang-orang yang hatinya sungguh tidak mendapatkan petunjuk, dan jiwanya tidak diurus tuhan.” Membunuh  para monster tak  bertuhan ini merupakan tindakan suci, dan orang Kristen wajib “memusnahkan ras keji ini dari negeri kita.” Orang-orang Turki Saljuk, kata Paus Urban, adalah ras barbar dari Asia Tengah yang baru saja menjadi muslim, yang telah menyerbu hingga Anatolia di Asia Kecil dan mencaplok negeri-negeri di sana dari Kerajaan Bizantium Kristen. Paus Urban mendesak para kesatria Eropa untuk berhenti berkelahi sesama mereka sendiri dan membulatkan niat bersama untuk memerangi musuh-musuh tuhan ini.

Pidato Paus Urban mendapatkan sambutan luar biasa, dan para musim semi tahun 1096, berangkatlah 5 pasukan yang terdiri dari 60.000 tentara. Misi pasukan salib itu sangat jelas: menyerbu Asia Kecil dan membebaskan negeri itu dari najis-najis kaum muslim, setelah itu mereka akan berbaris menuju Jerusalem dan membebaskan kota suci itu dari tangan para kafir. “Sungguh memalukan  bahwa makam Kristus berada di genggaman kaum muslim”. Namun pasukan-pasukan yang berangkat pada perang salib pertama ini banyak yang berakhir dengan bencana. Karena terlalu bersemangat mereka berangkat sebelum panen tiba, membawa bekal yang minim, dan akhirnya menderita kekurangan pangan. Karena keadaan ini mereka bergantung pada belas kasihan dari penduduk negeri-negeri yang mereka lewati, dan ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka menjarah dan merampok negeri-negeri itu.

Paus Urban masih menyerukan perang salib kepada Eropa ketika pasukan yang dipimpin ketika Peter the Hermit berangkat dengan sekitar 10.000 bangsawan, ksatria, dan prajurit pejalan kaki. Pada waktu yang sama Walter Sansavoir berangkat dengan pasukan yang seluruhnya pejalan kaki. Emich berangkat dengan 20.000 tentara. Dua pasukan yang lain lagi dipimpin oleh Folkmar dan Gottschalk.

Tentara Folkmar dihancurkan di Nitra, Hongaria, oleh tentara Hongaria yang marah. Tak lama kemudian, tentara Gottschalk pun dipaksa menyerah oleh tentara Hongaria di Pannonhalma. Orang Hongaria begitu marah pada tentara salib dan tidak mengijinkan tentara Emich memasuki negeri mereka. Tentara Emich memaksa masuk dan mengepung kota Weisenberg selama 6 minggu, tapi mereka gagal dan mereka terpaksa membubarkan diri dalam kehinaan. Pasukan Peter the Hermit berhasil maju lebih jauh tetapi porak-poranda dalam perjalanan. Tentaranya berhasil mencapai Konstantinopel setelah perang di pasar, kemudian mereka menyeberang ke Anatolia hanya untuk dihancurkan pasukan Turki.

Mengambil banyak pelajaran dari ekspedisi yang telah lalu, pasukan perang salib dikirim lagi. Beberapa bangsawan yang memimpinnya adalah Bohemond dan Tancred dari Taranto, Godrfrey dan Baldwin dari Bouillon, Stephen dari Blois, Robert dari Flanders, Raymond dari Aguiles, dll. Pada sekitar tahun 1097, pasukan salib berhasil diseberangkan di selat Bosphorus oleh Kaisar Bizantium, Alexius Comnenus, dengan beberapa perjanjian.  Kemudian mereka menyerbu ibukota Turki, Nicea. Sultan Turki, Kilij Arslan, tidak mampu berbuat apa-apa. Pada tahun 1097 mereka menyerbu Suriah dan berhasil merebutnya. Kemudian mereka merebut Tarsus, Adana, dan Misis. Pada sekitar Februari 1098, Baldwin berhasil menguasai Edessa. Pada tanggal 2 Juni 1098, mereka berhasil menguasai Antiokhia atas pengkhianatan seorang komandan muslim yang bernama Firouz.

Pengepungan di kota Arqa dihentikan karena tersendat dan mereka melanjutkan perjalanan menuju Jerusalem. Pada tanggal 7 Juni 1099, pasukan sampai di benteng kota Jerusalem. Ketika mereka menatap kota Jerusalem, mereka tenggelam dalam histeria massa yang meledak tiba-tiba. Penderitaan mereka selama perjalanan menuju Jerusalem seolah-oleh terbayarkan. Setelah menggelar pengepungan, pada tanggal 15 Juli 1099, tentara salib mendesak masuk ke kota Jerusalem dan menaklukkkannya. Selama 2 hari mereka melakukan pembantaian kepada kaum muslim. Bukan hanya kaum muslim, mereka pun membantai kaum Yahudi dan sesama Kristen yang tinggal di kota suci itu. Raymond dari Aguiles mencatat, “sejumlah pemandangan indah mesti disaksikan. Beberapa tentara kami (dan yang ini sudah termasuk bermurah hati) memenggal kepala para musuh mereka. Yang lain memanah mereka sehingga mereka jatuh dari menara-menara. Yang lain menyiksa mereka lebih lama dengan membakar mereka. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki, dapat dilihat di jalan-jalan kota. Sampai-sampai seseorang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar langkah kakinya tidak menginjak lelaki dan kuda. Tapi semua itu tidak berarti dengan apa yang terjadi di Kuil Sulaiman, tempat biasanya dilaksanakan berbagai upacara keagamaan. Apa yang  terjadi di sana? Jika kukatakan yang sebenarnya, pasti akan melampaui kemampuan kalian untuk memercayainya. Jadi cukuplah kukatakan bahwa, paling tidak, di Kuil Sulaiman dan berandanya, pasukan kami menunggangi kuda yang bergerak di dalam genangan darah setinggi lutut dan tali kekang kuda mereka. Benarlah itu sesuatu yang adil dan bagus dari tuhan, sehingga tempat ini dipenuhi oleh darah kaum tak beriman, karena tempat ini telah menderita begitu lama karena pelecehan mereka.”

Padahal perang salib tidaklah sesuai dengan agama Kristen, sebab Yesus memerintahkan pengikut-pengikutnya untuk mencintai musuh-musuh mereka, dan bukannya memusnahkan mereka (Karen Armstrong, dalam Perang Suci). Di Jerusalem ketika itu, pasukan salib telah membantai sekitar 40.000 kaum muslim hanya dalam 2 hari.

Pasca penaklukan yang bergelimang darah itu berdirilah sebuah kerajaan Kristen dengan Godfrey dari Bouillon sebagai rajanya yang pertama. Pada pengujung tahun 1099, dia meninggal karena penyakit, dan digantikan oleh adiknya, Baldwin.

Pada masa-masa kelam di dunia muslim itu, sekitar 70 tahun kemudian muncullah seorang seorang lelaki hebat, Shalahuddin al Ayubi. Dialah orang yang meiliki visi jihad untuk membebaskan Jerusalem dari tangan pasukan salib. Shalahuddin adalah seorang yang saleh, hidup sederhana walaupun berada di tengah-tengah kemewahan istana. Di akhir hayatnya, dia hanya meninggalkan harta sebanyak 47 dirham. Dia mencintai kaum miskin, dan selalu dekat dengan ulama. Dia berkata, “ketika Tuhan memberiku negeri Mesir, aku yakin Dia juga akan memberiku Palestina.”

Bahaudin menulis tentang Shalahuddin, “ia bicara hanya tentang hal itu (jihad), hanya berpikir mengenai peralatan tempur, hanya tertarik pada mereka yang telah angkat senjata, dan hanya punya sedikit simpati bagi setiap orang yang berbicara tentang  hal lain atau mendorongnya untuk menjalani hal lain.”

Shalahuddin membangun angkatan perang yang kuat, yang ia persiapkan untuk misi pembebasan Jerusalem. Di dalam pasukannya, menyelenggarakan pendidikan agama, hadis-hadis dan ayat-ayat Quran dibacakan kembali kepada para prajurit ketika hendak bertempur. Diskusi-diskusi keislaman dilakukan dengan massif. Shalahuddin menggerakkan pasukannya untuk membebaskan kota-kota di sekitar Jerusalem. Ia bergerak menuju Damaskus, dan gerbang kota Damaskus dibuka secara sukarela untuk menerima kehadirannya. Kemudian dia bergerak untuk menaklukan Homs dan Hama di Suriah. Kemudian ia bergerak menaklukkan Aleppo dan Mosul. Untuk pertama kalinya, kerajaan Kristen di Jerusalem dikelilingi oleh wilayah-wilayah kaum muslim yang besar, yang memiliki satu niat untuk membebaskan kembali Jerusalem dari tangan bangsa Kristen Frank.

Pada tahun 1174, diangkatlah seorang raja baru di Jerusalem, Baldwin IV. Dia adalah seorang pemuda yang kuat hati namun sayangnya sedang sekarat karena mederita lepra. Akhirnya dia harus mewakilkan kepemimpinannya kepada seorang wali. Raja lepra ini mengikat perjanjian gencatan senjata dengan Shalahuddin selama 10 tahun, walaupun sebenarnya Shalahuddin sangat ingin segera membebaskan Jerusalem. Namun ia bersabar dan menggunakan masa gencatan senjata ini sebagai kesempatan untuk mempersiapkan pasukannya.

Tersebutlah bangsawan komandan pasukan perang salib bernama Reynald dari Chatillon. Dia adalah seorang Kristen ekstrem yang keras kepala, jahat, menyebalkan, dan tidak mau mengalah. Pada musim panas tahun 1181, dia menyerang karavan dagang dan haji kaum muslim yang sedang bergerak menuju Makkah, pambantaian dan terjadi lagi. Sikap kurang ajar Reynald tidak berhenti sampai di situ, dia juga mempersiapkan pasukan untuk menyerbut Makkah dan Madinah. Dia ingin menyeret Nabi, yang dia sebut sebagai “pengendara unta yang terkutuk”, dari makamnya dan terus maju menuju Makkah dan membumihanguskan Ka’bah. Reynald membangun sebuah armada yang terdiri atas kapal-kapal yang bisa dibongkar pasang, mencobanya di laut mati, membonkar dan membawa kapal itu sejauh 130 mil melalui Nejef ke Pelabuhan Eliat di Teluk Aqaba. Kemudian para bajak laut pimpinan Reynald ini berlayar ke laut merah, menjarah dan membuat kerusuhan di berbagai pelabuhan Arabia, hingga mereka mencapai Pelabuhan Rabiqh dekat Makkah. Untungnya saudara Shalahuddin, Sayfuddin al Adil, bergegas dari Mesir untuk menyelamatkan keadaan. Ia menglahkan angkatan laut Kristen itu dan membawa para tahanan ke Madinah dalam keadaan terikat di belakang unta. Kaum kafir itu dieksekusi mati. Sayangnya Reynald berhasil lolos. Shalahuddin bersumpah untuk memenggal Reynald dengan tangannya sendiri ketika ia mengetahui peristiwa itu. Insiden ini telah memecah perjanjian gencatan senjata antara Shalahuddin dengan Baldwin.

Bulan Maret 1185, Baldwin IV akhirnya meninggal karena penyakit lepranya. Baldwin V, yang baru berumur 7 tahun naik tahta dengan Raymond sebagai wali. Diikat lagi gencatan senjata dengan Shalahuddin selama 4 tahun. Namun pada bulan Agustus 1186, Baldwin V meninggal di Acre. Naiklah Guy de Lusignant dan Sybilla sebagai raja dan ratu Jerusalem lewat jalan kudeta.

Pada saat itulah Reynald kembali berulah. Dia menyerang lagi karavan dagang dan jamaah haji yang akan berangkat ke Makkah. Parahnya, di dalam rombongan itu ada adik perempuan Shalahuddin. Dia membantai semua lelaki bersenjata dan menggiring semua tawanan ke penjara di kastilnya. Salah seorang tawanan mengingatkannya pada perjanjian dengan Shalahuddin, dia malah menjawab, “biar Muhammad kalian datang dan menolong kalian.” Shalahuddin masih menunjukkan kebaikan hatinya, kalau Reynald mau mengembalikan semua jarahannya dan membebaskan para tawanan, ia akan menghormati perjanjian gencatan senjata. Reynald tentu saja menolak, dan untuk kedua kalinya, Shalahuddin bersumpah akan memenggal Reynald dengan tangannya sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “The Crusade: Never Ending War”

  1. Asalamu’alaikum Ustad…..
    Ana mau tanya sedikit tentang profilnya John Hunyadi, saya baca di bukunya Draculesti karya Antum, John Hunyadi itu adalah jendral Hongaria yang berperang melawan Sultan Beyazid dalam pertempuran di Nicopolis tahun 1396, tapi di beberapa literatur yang ada di internet saya menemukan kalo John Hunyadi itu adalah Raja Hongaria yang memerintah pada kurun waktu 1446 – 1453 dan lahir tahun 1407.
    Apakah kedua orang ini sosok yang sama? sementara dari kurun waktunya tidak sesuai, Syukron Ustad

    Abu Zidan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s