FUTUH RUUM (Episode 1)


ImageRibuan kaum muslim telah berkumpul di Raudhotul Islam, sebuah landmark dari Khilafah Islamiyah yang luas. Khilafah Islamiyah adalah sebuah negara global bagi kaum muslimin. Khilafah Islamiyah adalah rumah bagi seluruh kaum muslimin di dunia.

Walaupun orang ramai berdesak-desakan di taman yang megah itu, Raudhotul Islam, semuanya tertib dan kerumunan laki-laki tetap terpisah dari kerumunan perempuan. Mereka berdiri menghadap ke satu titik, kepada sebuah panggung yang ada di tengah-tengah taman itu. jantung mereka berdebar-debar, mereka sedang menunggu pelantikan Khalifah yang baru, Khalifah yang kedua.

Setelah puluhan tahun menderita karena ketiadaan Khilafah Islamiyah, pada akhirnya kaum muslim berhasil menegakkannya kembali, mereka mengangkat seorang Khalifah untuk mewakili mereka melaksanakan syariat Islam secara kaffah, Khalifah yang pertama itu bernama Ahmad, ia seorang ulama. Setelah lima tahun memimpin dengan penuh dedikasi dan pengorbanan, Khalifah Ahmad wafat dalam damai. Ia telah berhasil mempersatukan negeri-negeri Islam yang lain yang masih berada di bawah pemerintahan kufur; membangun dan mengonsolidasi kekuatan Khilafah dan semua aparaturnya; berhasil membubarkan semua pangkalan militer negara-negara kafir dari wilayah kaum muslim; dan berhasil mengambil kembali semua sumber daya alam yang dahulu –ketika Khilafah Islamiyah belum tegak- dikeruk habis-habisan oleh kaum kapitalis barat melalui perusahaan multinasional dan penguasa-penguasa muslim yang melacurkan diri menjadi antek penjajah; ia juga berhasil mengerahkan jihad akbar kaum muslim untuk menahan serangan Uni Eropa ke wilayah Khilafah Islamiyah.

Amirul Mukminin itu kini telah wafat, dan kewajiban kaum muslim adalah mengangkat seorang pemimpin yang baru menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Selama tiga hari, tokoh-tokoh umat yang menjadi ahlul halli wal ‘aqdi memilih Khalifah yang baru, dan hari ini, seluruh kaum muslim di dunia sedang menanti pelantikan pemimpin mereka.

Raudhotul Islam sudah penuh sesak. Taman yang keindahannya tak terperi itu menjadi kebanggaan kaum muslim, sekaligus menjadi salah satu landmark Khilafah Islamiyah. Taman itu meniru keindahan taman-taman surga, luasnya 5000 hektar, ia menjadi tempat bertamasya kaum muslim. Pepohonan tumbuh subur menyejukkan, ada kebun-kebun bunga beraneka warna. Sungai-sungai buatan mengalir jernih di dalamnya, ikan-ikan berenang bebas. Ada juga taman bermain untuk anak-anak. Masjid al Khilafah yang megah pun terletak di kompleks taman Raudhotul Islam. Sebatang tiang bendera yang tinggi tegak di sisi panggung. Bendera besar warna putih bertuliskan syahadat warna hitam berkibar megah di langit pagi. Tiap kali ada peristiwa penting, taman itu pasti ramai.

Seluruh rakyat semakin berdebar, hari ini pemimpin mereka dilantik untuk meneruskan penegakan syariat Islam dan penyebaran Islam kepada seluruh alam. Panggung yang ada di tengah-tengah taman itu telah tenggelam oleh lautan manusia di sekelilingnya. Para syurthoh yang berseragam putih berdiri tegak mengelilingi panggung sekaligus mengendalikan keadaan. Kerumunan massa yang berjumlah ribuan orang itu sangat tertib, sebab mereka semua tahu ketertiban adalah perintah Allah.

Tiba-tiba semua kepala menoleh ke langit, sebuah helikopter warna putih dengan tulisan syahadat di kedua sisinya melayang mendekati taman. Helai-helai angin berhamburan, rerumputah bergoyang kencang. Helikopter itu melayang memasuki taman, mengapung tepat di atas panggung di tengah-tengah taman. Semua orang menengadah sambil memicingkan mata sebab angin bertiup kencang dari baling-baling helikopter yang besar itu. Semua lensa kamera disorotkan kepada helikopter itu, para reporter melaporkan apa yang sedang terjadi, gambarnya dikirimkan ke seluruh dunia lewat udara.

Sebuah pintu di sisi kanan helikopter itu kemudian membuka, sebuah tangga tali diulurkan ke bawah hingga ujungnya mendarat tepat di atas panggung. Seorang demi seorang menuruni tangga tali itu hingga tiba di panggung. Empat orang laki-laki yang tegap dan gagah sudah berdiri tegak di atas panggung. Tangga tali kemudian ditarik kembali masuk ke dalam helikopter yang kemudian melayang pergi.

Sebatang mikrofon telah tegak di sana, seorang pria yang memakai jas hitam sederhana kemudian menghampirinya. Empat orang lelaki di atas panggng itu semuanya memakai jas hitam. Lelaki itu orang arab, janggut yang kokoh menghiasi wajahnya, matanya yang tajam berwarna cokelat bening. Ia menatap kepada kerumunan kaum muslim itu.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…” suara salamnya diperkeras berkali-kali lipat. Layar-layar besar yang menampilkan wajahnya yang tampan dipasang di berbagai sudut Raudhotul Islam.

Tiba-tiba suara salam mengguntur dari mulut ribuan kaum muslim. Lelaki itu tersenyum tipis.

“Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala atas segala barokah dan karunianya. Dialah yang telah memberikan rahmat kepada kita semua. Solawat dan salam akan selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad saw., keluarga, dan sahabatnya. Semoga kemenangan dan keselamatan akan selalu terlimpah kepada kaum Muslim dan Khilafah Islamiyah. Amin.”

Yaa ma’syarol muslimin rahimakumullah, perkenalkan, aku adalah Hasan Shalih, panitia pemilihan Khalifah pada ahlul halli wal ‘aqdi, alhamdulillah dengan kemudahan dari Allah swt., telah berhasil dipilih seorang Khalifah yang baru untuk kaum muslim di seluruh dunia, untuk melaksanakan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam kepada segenap penjuru alam. Dan hari ini, kita semua akan menyaksikan pelantikan Khalifah kita yang baru, Khalifah Muhammad Hasanuddin. ALLAAAAHU AKBAR.!!!” Hasan Shalih menoleh ke belakang, menatap kepada satu-satunya lelaki muda bersorban di panggung itu. Ia memakai jas hitam sederhana dengan kemeja putih tanpa dasi di bagian dalamnya. Hasan Shalih membuka tangannya dan mempersilakan sang Khalifah maju.

Di bawah gemuruh takbir yang riuhrendah, Khalifah Hasanuddin melangkah mendekati mikrofon. Usianya masih muda, baru tiga puluh lima tahun, namun usianya itu tidaklah menghalanginya untuk memimpin seluruh kaum muslim di dunia.

Khalifah mengucap salam, dan kaum muslimin menyambut salam itu dengan gelombang suara salam yang pantul memantul di udara. Setelah memuji Allah dan berselawat kepada Rasulullah ia mulai pidatonya.

“Wahai kaum muslim, amatlah berat amanah yang kutanggung di pundakku ini. Apakah yang akan aku katakan di hadapan Allah pada pengadilan di hari kiamat nanti? Ada milyaran kaum muslim di muka bumi ini dan semua urusannya ada di atas pundakku. Sungguh aku takut kepada Allah, takut kalau-kalau aku lalai dalam mengemban amanah ini. Tolong luruskan aku jika aku keliru. Bersama-sama, akan kita wujudkan kemenangan bagi Islam dan kaum muslim.”

“ALLAAAAAAAHU AKBAR…”

Pekik takbir meledak lagi. Pelantikan itu disaksikan seluruh dunia, kata-kata Khalifah yang singkat itu didengar oleh semua. Begitulah Khalifah kaum muslim, tak banyak berkata-kata, tak banyak mengumbar janji, yang dia tahu hanyalah mengerahkan segala daya upaya untuk memperhatikan dan mengurusi kaum muslimin di seluruh dunia. Wahai Allah, Tuhan seru sekalian alam, limpahkan ridhoMu untuk Khalifah kaum muslim. Beri dia kekuatan untuk mewujudkan janjiMu, untuk mewujudkan cita-cita itu… amin.! (Bersambung). (Sayf)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s