FUTUH RUUM episode 2


Bendera putih berukir kalimat syahadat warna hitam berkibar di cakrawala biru. Kemegahannya tak terperi, sebab ia akan menguasai dunia sebentar lagi. Tiang bendera setinggi dua puluh meter tertancap tegak, mengawal Khilafah Islamiyah tumbuh dan bergerak. Di hadapan tiang bendera itu berdirilah Baytul Khilafah, sebuah istana megah yang jadi pusat pemerintahan Khilafah Islamiyah. Baytul Khilafah bukanlah istana Khalifah. Rumah dinas Khalifah yang sederhana terletak tak jauh di belakang Baytul Khilafah. Gedung pusat pemerintahan Khilafah Islamiyah itu berarsitektur gaya Arab. Ada sepuluh kubah warna emas di puncaknya, tiang-tiangnya kokoh berukir ayat-ayat Allah. Berbagai ruangan di dalamnya menjadi kantor bagi bawahan Khalifah mengurus segala perkara, pada kompleks gedung itu pulalah terdapat Baytul Mal. Setiap hari selalu ada aktivitas di sana, Baytul Khilafah hampir tak pernah tidur. Jika rakyat memiliki kesusahan, mereka tinggal datang ke Baytul Khilafah, dan mereka pasti pulang dengan terpecahkannya kesusahan itu. Di dalam gedung itulah Khalifah kaum muslim mengatur berbagai strategi dan langkah untuk meluaskan kekuasaan Khilafah hingga penjuru dunia. Pada lantai paling tinggi di kompleks Baytul Khilafah itu, sebuah rapat sangat penting sedang berjalan. Rapat itu dihadiri oleh Khalifah Muhammad Hasanuddin, dua orang Mu’awin (pembantu) Khalifah; Mahmoud Shaleh dan Zahir Abbas, Amirul Jihad; Jenderal Sayf Ali Khan, dan Kepala Badan intelijen Khilafah Islamiyah; Izzatuddin Malik. Ruangan rapat itu berukuran sedang. Keputusan-keputusan penting kerap kali lahir di ruangan itu. Di dalamnya tersusun meja-meja melingkar, ada papan tulis dan proyektor, ada layar dan peta. Kursi-kursi yang sederhana mengelilingi meja. Tak ada kursi-kursi empuk, yang tersedia hanya kursi-kursi kayu sederhana yang diduduki para pelayan umat itu. Bahkan Khalifah kaum muslim tidak duduk di kursi empuk, ia duduk di kursi kayu, sama dengan pejabat-pejabat yang lain. Di seluruh dindingnya terpasang rak-rak buku yang dipenuhi oleh buku. Berbagai dokumen penting pun tersusun rapi dengan urutan tertentu, sehingga Khalifah bisa mengambil berkas-berkas tersebut dengan mudah. Dan ketika itu pembicaraan penting sedang berlangsung. Khalifah Hasanuddin duduk di salah satu ujung meja, pada layar yang ada di belakangnya tersorot peta dunia besar dari proyektor. Di atas meja, di hadapan Khalifah, sebuah laptop menyala, cahaya dari monitornya terpancar ke wajah Khalifah. Ia bertopang dagu menatap monitor di laptop itu. “Perkembangan yang kita raih Alhamdulillah cukup baik,” Khalifah sepintas menatap bawahan-bawahannya yang serius memerhatikan kata-katanya. Seperti biasa, ia tampil dengan jas hitam sederhana tanpa dasi, sebuah sorban warna putih bertengger sederhana di kepalanya. Ia masih muda, namun kebijaksanaannya mengalahkan orang tua. Ia seorang yang faqih fiddin, wara’, sekaligus visioner. “Amerika telah hancur-hancuran setelah kita menggempur pangkalan militer mereka di berbagai wilayah kaum muslim, sekaligus mengusir mereka. Operasi intelijen kita pun berhasil meledakkan beberapa reaktor nuklir mereka. Angkatan bersenjata mereka telah kalah. Perjanjian pun telah diikat oleh Khalifah Ahmad Rahimahullah selama sepuluh tahun. Palestina telah berhasil kita bebaskan, Israel telah hilang dari peta dunia dan kaum Yahudi telah direlokasi dari sana. Yang masih tertinggal adalah, Roma.” Khalifah bangkit dari kursinya, ia menggerakkan jemarinya kepada keyboard di laptopnya, di layar terpampang peta Eropa, wilayah Italia dan Vatikan berwarna merah. Mata Khalifah menatap kepada bawahan-bawahannya. “Kota kedua setelah konstantinopel yang akan ditaklukkan oleh kaum muslimin. Dahulu Sultan al Fatih tidak sempat bergerak menaklukkan Roma, saat ini kita mesti melanjutkan perjuangannya.” 000 Istana Kremlin di Moscow seolah akan rubuh karena kegalauan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev. Dia melangkah dengan gusar menyusuri koridor-koridor panjang istana itu bersama dengan Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin. Langkah dua lelaki berambut pirang itu menggema di lantai koridor, mereka terlibat pembicaraan serius. “Apa yang kubilang menjadi kenyataan, kalau orang-orang Islam sudah memiliki Khilafah semuanya tak akan sama lagi seperti dulu,” Medvedev mengembuskan napasnya. “Semuanya salah Amerika, si bodoh Obama terlalu lembek, sekarang mereka yang hancur-hancuran,” sahut Putin. “Salah kita juga, tidak segera merebut wilayah-wilayah strategis dari tangan adidaya yang sudah bangkrut seperti Amerika. Sekarang orang-orang Islam terlanjur berhasil mendirikan imperium mereka, dan semuanya jadi kacau.” “Yang penting sekarang kita mempersiapkan diri, Khilafah tak akan diam saja, kalau melihat sejarah Islam, mungkin tak lama lagi mereka akan datang menginjak-injak negara kita. Untungnya sultan mereka yang baru hanya seorang pria biasa yang tidak cakap memimpin. Dia Cuma seorang mantan guru.” Medvedev menghentikan langkahnya, dia pun menahan langkah Putin. Dia menatap mata Perdana Menteri Rusia itu dalam-dalam. “Jangan sekali-kali meremehkan musuh, atau kita akan celaka. Kalau bukan karena orang-orang Islam itu luar biasa, Islam tak akan pernah jadi agama yang paling banyak dianut manusia di dunia. Yang penting sekarang kita harus menggalang kekuatan.” Dengan kepala penuh mereka memasuki sebuah ruangan rapat di istana Kremlin, Moscow, seluruh anggota kabinet telah menunggu di sana. 000 “Lima tahun yang lalu kita sudah kecolongan,” suara Paus Benediktus ke-13 serak dan lemah. Dia melangkah bersama seorang pembantunya, Uskup Ferdinand, di Basilika Santo Petrus, berdua saja. Tak ada pengawalan, tak ada parade, kota Vatikan sepi sekali malam itu, langitnya digelantungi awan mendung. Paus hanya mengenakan jubah sederhana yang di bagian dalamnya dilapisi baju hangat. Uskup Ferdinand mengenakan pakaian yang tak jauh berbeda. “Orang-orang Islam telah berhasil mendirikan negara Khilafah mereka, kau tahu apa artinya itu?” “Aku memohon petunjuk dari Bapa Suci,” sahut Uskup Ferdinand sambil menekur. “Tahta suci mungkin akan hilang,” Paus menggerakkan tangannya, ke dada dan dahinya, membentuk tanda salib. “Seburuk itukah yang akan terjadi, Bapa Suci??” Uskup Ferdinand menatap wajah Paus yang sayu dan muram. “Dulu, bencana itu hampir saja terjadi, namun tuhan menyelamatkan kita dengan mencabut nyawa Elang yang perkasa itu.” “Siapakah Elang yang perkasa itu, Bapa Suci??” “Dia sultan Mehmed al Fatih, dari Turki,” Paus menggenggam tangan Uskup Ferdinand dengan gemetar, dia terbatuk. “Dan Khilafah adalah induk elang, yang akan menelurkan ribuan elang yang tak kalah tangguh seperti sultan Mehmed al Fatih. Mungkin tak lama lagi, sultan akan berdiri di hadapan kita, kemudian menaklukkan kota ini, seperti janji Nabi mereka.” Bersambung. [Sayf Muhammad Isa]. 000

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s