FUTUH RUUM (Episode 3)


ImageWajah pria itu menunduk di hadapan salib besar, yang di sana Yesus Kristus meregang nyawa, yang menurut keyakinannya, untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Altar suci itu diterangi lilin-lilin tinggi. Cahayanya berpendar menerangi redup segala sisi. Pria itu kemudian menyentuhkan tangannya ke dahi, kemudian dadanya, membentuk tanda salib. Pria itu bertubuh gemuk, berkepala botak, jas hitamnya yang rapi menunjukkan bahwa dia orang penting. Dan memang dia benar-benar orang penting, dia adalah Presiden Republik Italia, Silvio Berlusconi.

Kegundahan yang aneh merambat di hati Berlusconi. Dia menengadah, menatap wajah patung Yesus Kristus yang berlumuran darah. Hatinya mengharapkan jawaban atas kekhawatirannya itu. Hembusan napas kekecewaan dilepaskan lubang hidungnya, jawaban belum dia temukan. Dia berdoa sekuat-kuatnya kepada tuhannya di kota suci Vatikan, tempat bersemayamnya para martir dan para pahlawan. Tempat di mana doa-doa dikabulkan. Tiba-tiba dia terkesiap, ada seseorang yang hadir di sisinya.

“Bapa Suci,” kata Berlusconi agak terkejut.

Ternyata yang hadir adalah Paus Benediktus XIII. Mahkota Kepausan bertengger anggun di kepalanya. Tongkatnya dia genggam, seolah-olah berat sekali. Jubah kebesarannya memang benar-benar kebesaran, sampai menyeret-nyeret di lantai. Tubuhnya ringkih sekali, berjalan saja sulit. Dia selalu ditemani uskup Ferdinand.

Altar itu sepi begitu juga Vatikan, Berlusconi memang berkunjung ke Vatikan pada saat-saat yang tidak biasa.

“Anda sedang berdoa, Presiden?” sapa Paus.

Berlusconi mengangguk saja.

“Anda jarang datang kemari, namun hari ini anda datang, mungkin ada masalah yang belum anda pecahkan??”

Berlusconi merengut, ia sadar kata-kata Paus adalah sindiran baginya. Saat ada masalah besar dia baru mengingat tuhan. Dia mengangguk, namun tak berkata apa-apa. Rupanya kegundahan telah menguasai hatinya.

“Ada yang bisa kubantu?” Paus menunduk kepada patung Yesus Kristus.

Berlusconi tersenyum tipis, “Cuma mencari sedikit ketenangan.”

“Anda datang ke tempat yang tepat. Tapi selain kepada tuhan, anda juga bisa menyampaikan masalah anda kepadaku, sebab kurasa masalah anda pastilah masalah yang berat. Karena itulah kulihat anda di sini sekarang.”

Berlusconi tersindir lagi, dia semakin malu. “Memang ada masalah, Bapa, tapi masalah ini belum terjadi. Mungkin ini cuma ketakutanku saja.”

“Masalah apakah itu?”

“Mungkin kau memikirkannya juga, Bapa, tentang Khilafah.”

Paus memaksakan senyum di wajahnya, sebuah senyum yang berat. Dia juga merasakan kekhawatiran di hati Presiden Italia itu. “Ada apa dengan Khilafah?”

“Jangan pura-pura tak tahu, Bapa. Tegaknya Khilafah adalah guncangan hebat bagi kita semua. Aku benar-benar tak menyangka, padahal dinas intelijen dahulu telah kutugaskan untuk menghancurkan setiap gerak orang-orang Islam yang bertujuan menegakkan Khilafah, sudah banyak orang yang dibunuh untuk menghentikan semua itu, tapi ternyata semuanya telah terlanjur berjalan dan akhirnya Khilafah itu pun tegak. Kalau dia sudah tegak, sulit sekali untuk menghancurkannya lagi. Aku tahu siapa mereka, Bapa, mereka tak akan diam. Mereka pasti akan datang ke sini, menginjak-injak ruangan ini, entah kapan. Dan dalam perjalanan mereka ke sini, mereka pasti akan menghancurkan Italia.” Akhirnya isi hati Berlusconi tertumpah sudah pada Paus Benedictus.

“Aku tahu,” sahut Paus. “Mungkin kekhawatiranku tentang hal itu lebih dalam lagi daripada anda. Aku tahu, setelah Khilafah tegak, hari-hari penuh duka itu akan datang juga. Tapi aku akan tetap berada di sini, apapun yang terjadi. Walau pun mungkin kota ini akan jatuh juga ke tangan mereka. Aku akan selalu berdoa, kalau memang tuhan menghendaki kota ini jatuh ke tangan mereka, mungkin itulah yang terbaik.”

“Tidak, Bapa,” Berlusconi menggeleng pelan. “Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kalau mereka memang datang ke sini, kita harus melawannya. Akan aku kerahkan semua kekuatan kita. Akan aku serukan semua orang Kristen di dunia ini agar turut memerangi mereka. Kalau memang perang suci seperti dulu harus berkobar, maka akan aku kobarkan dia.”

Tangan kisut Paus Benedictus terangkat, dia menepuk bahu Berlusconi yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya. “Aku merestui anda, dan tuhan pun merestui hambanya yang dengan segenap tenaga membelanya. Lakukanlah segala daya upaya untuk menghentikan langkah Khilafah.”

Berlusconi mengangguk dengan teguh.

 

000

 

Sinar emas matahari menaungi daratan Thrace, di kota Istanbul. Beberapa tahun yang lalu ketika Khilafah Islamiyah belum tegak, kota itu termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik Turki. Ketika Khilafah tegak, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak untuk taat pada Khalifah dan menolak untuk menggabungkan wilayah itu ke dalam naungan Khilafah Islamiyah. Akhirnya dikirimkanlah angkatan bersenjata Khilafah untuk membubarkan pemerintahan kufur Erdogan. Kaum muslim yang tinggal di Turki sendiri sebenarnya menunggu-nunggu datangnya pasukan Khilafah itu, untuk membebaskan mereka dari cengkeraman hukum-hukum kufur dan zhalim demokrasi yang diterapkan Erdogan beserta antek-anteknya. Erdogan sendiri mendapatkan hukuman diasingkan ke pulau Nusa Kambangan.

Di Istanbul, sejak dua tahun yang lalu telah dibangun pangkalan militer Khilafah Islamiyah yang dinamai Pangkalan Militer Mehmed al Fatih. Sebanyak tiga puluh ribu prajurit angkatan darat Khilafah islamiyah menempati kompleks pangkalan militer yang luas itu. Beratus-ratus tank dijajarkan di sana, belum lagi berbagai alat perang lainnya. Tak jauh dari sana membentanglah lapangan terbang Angkatan Udara Khilafah Islamiyah. Pesawat-pesawat tempur dibariskan memanjang. Seluruh kendaraan perang dan peralatan tempur itu dibuat di dalam negeri, oleh Pabrik industri alat-alat perang yang bernama Darul Harb.

Pagi itu, para prajurit telah berbaris rapi dalam sebuah apel akbar. Seragam loreng telah terpasang di tubuh para prajurit, dengan baret hijau. Senapan otomatis dipanggul di bahu mereka, dan mereka diam seperti patung. Di depan barisan mereka ada sebatang tiang bendera. Sehelai bendera militer Khilafah yang besar berkibar megah. Bendera itu warna hitam, dengan tulisan syahadat warna putih. Di sisi tiang bendera itu ada sebuah panggung, ada dua orang yang tegak di atas panggung itu. Mereka adalah Khalifah Muhammad Hasanuddin sebagai Panglima Besar angkatan bersenjata Khilafah Islamiyah, dan Jenderal Sayf Ali Khan sebagai Panglima Tinggi angkatan bersenjata Khilafah Islamiyah.

Komadan apel yang berdiri tegak seorang diri persis di depan panggung itu kemudian memekik.

“TAKBIIIRRR!!!”

“ALLAAAAHU AKBAR!”

Dengan serempak seluruh prajurit Khilafah itu bertakbir dengan membusungkan dada, dalam posisi tetap tegak dan memanggul senjata. Setelah takbir membahana mendadak sunyi datang kembali.

Khalifah maju selangkah, mendekati corong mikrofon yang ada di hadapannya. Jenderal Sayf Ali Khan setia menyertainya. Seperti biasa, Khalifah hanya mengenakan jas hitam sederhana dan sehalai sorban yang membungkus kepalanya. Ia selalu berpenampilan seperti itu sebab memang hanya jas hitam itulah yang ia punya. Hidupnya sangatlah sederhana hanya dengan santunan dari Khilafah. Matanya yang tajam menyapu seluruh barisan prajurit Khilafah Islamiyah, otaknya tak henti bekerja. Setelah memuji Allah dan bersolawat kepada Rasulullah Saw. junjungan alam, ia memulai pidatonya.

“Yaaa… ayyuhal juyuuusy… Teruslah persiapkan diri, sebab jihad bisa saja terjadi besok hari ketika matahari belum lagi tinggi. Kalian tidak akan pernah tahu, kemana kalian akan diberangkatkan berjihad. Namun, kemana pun kalian berangkat, di sanalah kasih sayang Allah dan surga. Teruslah persiapkan diri, teruslah bersiaga, sebab mungkin tak lama lagi aku akan turun berjihad bersama kalian…”

Khalifah tak panjang berkata-kata, ia segera mengakhiri pembicaraannya. Ketika ia akan menuruni panggung itu, ia menghampiri Jenderal Ali Khan dan berbisik.

“Persiapkan terus pasukan. Istandul akan jadi salah satu titik penyerangan ke Roma.”

“Perintah dilaksanakan.” Jenderal Ali Khan berdiri tegak dan menatap tajam pada Khalifah.

 

000

Advertisements

2 thoughts on “FUTUH RUUM (Episode 3)”

  1. yang bikin novel orang hti makanya benci banget sama erdogan yang ikhwanul muslimin, orang hti merasa mereka yang lebih layak jadi khalifah ha.ha.ha

    1. erdogan adalah pengkhianat kaum muslim, dia lebih enjoy menerapkan demokrasi kafir daripada syariat Islam. Itu sudah banyak buktinya, Erdogan menangkapi aktivis Islam yang kritis pada pemerintahannya. umat Islam di wilayah Arab spring pun sudah menyadari bahwa ikhwanul muslimin pun sebenarnya hanya tumor bagi revolusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s