FUTUH RUUM (Episode 4)


Pangkalan militer pusat Khilafah Islamiyah di Hejaz baru saja memulai aktifitasnya pada sebuah pagi yang cerah. Jenderal Sayf Ali Khan mengenakan seragam hijaunya dengan balok pangkat bintang empat bertengger wibawa di kedua belah bahunya. Ia melangkah di koridor utama Markas Besar Angkatan Bersenjata Khilafah Islamiyah, menuju kantornya. Sepatu pantovelnya berdetak cepat di lantai yang dingin, menandakan bahwa ia sedang terburu-buru, sebab ia sedang ditunggu.

Jenderal Ali Khan berbelok di sudut, menuju ujung ruangan yang tertutup pintu ganda yang di sana tergantung namanya. Ia menghampiri pintu itu dan membukanya. Di dalam, telah hadir lima orang pria yang menunggunya. Begitu melihat sang pemimpin militer telah masuk, kelima pria itu serentak berdiri dan menghormat dengan gaya militer yang kaku. Jenderal Ali Khan mengangguk saja dengan senyum tipis, kemudian mempersilakan mereka duduk di sofa ruang tamu. Ia pun turut mengambil tempat di sofa itu.

Ruangan kantor perwira tinggi Khilafah Islamiyah itu cukup luas. Namun ruangan itu hanya dibagi dua bagian saja, ruang tamu di bagian depan, dan ruang kerja persis di sebelah ruang tamu.

“Kehadiran saudara sekalian sesuai dengan jadwal,” kata Ali Khan, ia menatap tajam pada tamu-tamunya. “Kuharap operasi intelijen  Futuh Ruum pun berhasil dengan baik.”

Empat dari lima orang tamu Jenderal Ali Khan memakai kaos oblong dan celana jins longgar saja. Cuma seorang yang mengenakan pakaian resmi berupa jas dan celana panjang hitam, juga kemeja putih dengan dasi, cukup perlente. Orang yang rapi jali itu adalah Kepala Badan Intelijen Khilafah Islamiyah, Izzatuddin Malik. Empat orang sisanya adalah agen-agen intelijen Khilafah Islamiyah.

“Kehadiran kami di sini untuk mengiformasikan bahwa operasi Futuh Ruum  telah berhasil dilaksanakan dengan sangat gemilang,” kata Izzatuddin Malik. Ia mengedarkan pandangannya kepada keempat orang anak buahnya. “Seluruh pemimpin tim sengaja kuhadirkan di sini untuk melaporkan secara langsung kepada anda, Jenderal.”

Masing-masing pemimpin tim intelijen itu mengeluarkan sebuah wadah pipih yang berisi piringan DVD dari saku celana mereka. Kemudian mereka meletakkan kepingan DVD itu di atas meja di hadapan Ali Khan.

“Operasi Futuh Ruum oleh Tim Umar berhasil dengan baik,” kata salah satu dari empat komandan tim itu, yang memakai kaos oblong bertuliskan “Khilafah Islamiyah”. Ia biasa dikenal sebagai Agen 1. “Kami berhasil menyusup ke basis militer Inggris, dan inisiasi bisa dilakukan kapan saja. Insyaallah jika Inggris ikut campur dalam Futuh Ruum, mereka tak akan pernah bisa bergerak lagi. Seluruh laporan jalannya Operasi Futuh Ruum ke Inggris termuat di dalam DVD ini.”

“Dengan pertolongan Allah pun Tim Khalid berhasil menjalankan misi,” kata orang kedua. Ia duduk persis di sebelah Agen 1. Ia memakai kaos oblong putih polos dan celana jins. Dialah Agen 2. “Insyaallah Rusia takkan bisa bergerak lagi.”

“Bagus! Alhamdulillah,” sahut Ali Khan. Ia menoleh kepada orang ketiga, dialah agen 3.

“Teknologi inisiator baru kita memang sebuah terobosan, dan telah melumpuhkan semua detektor musuh. Tim Ali berhasil menjalankan misi. Posisi Prancis telah diamankan.”

“Bagus sekali! Selanjutnya.”

Agen terakhir, Agen 4, tersenyum lebar. “Laporanku tak jauh beda dengan kawan-kawan. Jerman telah berhasil dilumpuhkan tanpa mereka sadari.”

“Luar biasa sekali! Kuucapkan selamat kepada tim intelijen,” dengan pandangan mata yang tajam Ali Khan menatap seluruh anak buahnya. “Akan kutekankan sekali lagi bahwa posisi intelijen dalam Futuh Ruum sangatlah penting. Tetaplah seperti ini, laksanakanlah tugas-tugas selanjutnya dengan tanpa cela. Keberhasilan misi saudara sekalian akan sangat menentukan suksesnya Futuh Ruum. Tim Intelijen Khilafah Islamiyah adalah tim intelijen terbaik, sebab berhasil mewujudkan bisyarah Rasulullah, Futuh Ruum.

 

000

 

Khalifah Muhammad Hasanuddin berdiri tegak kepala. Ia menawarkan senyum tipis yang ramah dan menatap lurus kepada Herman van Rompuy, Presiden Dewan Eropa. Pagi yang indah di Brussel, Belgia, akan menjadi pagi yang bersejarah. Di hadapan puluhan kilatan lampu blitz kamera mereka bertukar senyum dan berjabat tangan. Ruang konferensi pers di gedung Uni Eropa itu telah didekor sedemikian rupa untuk acara penandatanganan perjanjian hubungan bilateral dan perdamaian selama 10 tahun. Baru kali itu, seorang muslim bisa berdiri sama tegak dan begitu dihormati di tengah-tengah komunitas Uni Eropa, dialah pemimpin seluruh kaum muslim, Muhammad Hasanuddin.

Dua orang yang dihormati itu telah duduk di belakang meja. Mereka menghadapi beberapa helai kertas yang telah tersusun rapi di dalam sebuah map yang indah. Kertas-kertas itulah yang harus mereka tandatangani.

Khalifah mengambil pena yang telah tersedia, ia menandatangani helai kertas pertama dengan tenang. Mengapa ia bisa setenang itu sebab draft peranjian itu disusun oleh Khilafah Islamiyah dan diterima Uni Eropa hampir tanpa reserve. Saat ia hendak menandatangani lembar kedua, ia melirik pada van Rompuy.

Lelaki tua yang kepalanya telah hampir botak semua itu terlihat ragu-ragu. Lembar pertama pun belum selesai ia tandatangani. Tangannya agak gemetar. Ia menatap tulisan-tulisan di atas kertas itu dengan nanar. Walaupun seluruh poin perjanjian itu sangat menguntungkan kedua belah pihak, ia masih khawatir dengan hal-hal yang tidak diketahuinya.

Is there any problem, Mr. President?” Khalifah menoleh pelan pada van Rompuy. Khalifah kaum muslim itu mahir menggunakan tujuh bahasa: Inggris, Arab, Prancis, Jerman, Ibrani, Yunani, dan Belanda.

No… No… This is a good agreement,” sahut van Rompuy dengan agak gagap.

I believe it gives benefits to us all,” sambut Khalifah dengan senyuman. “But, why do you look so hard to sign it?

Van Rompuy tersenyum getir, ia menoleh pada Khalifah dan melontarkan pertanyaan yang menggelikan. “What exactly do you want behind this, Caliph?

Khalifah menatap mata van Rompuy dalam-dalam dan tersenyum lagi. “I want glorious victory, for Islam and Muslims.”

I know…” van Rompuy membubuhkan tanda tangannya di helaian-helaian kertas itu. Perjanjian itu telah disepakati. (bersambung)

Advertisements

2 thoughts on “FUTUH RUUM (Episode 4)”

  1. Dalam banyak2 hal .. saya paling suka hal nie…
    terima kasih kerana bangkitkan kenangan silam dengan post nih…
    setiap penulisan ada ceritanya.. tahniah awak.. 🙂

    1. Terima kasih kembali. semoga kisah ini bisa sedikit memberikan gambaran tentang betapa agungnya Khilafah Islamiyah ketika ia tegak kembali tak lama lagi. alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s