“Buat Makan”


Suatu kali saya solat di sebuah masjid jami’ yang cukup besar di Medan. Ketika saya berjalan ke shaf depan saya melihat ada seorang lelaki (masih cukup muda) yang sedang duduk bersila kemudian memanggil saya. Dia meminta uang kepada saya sambil mengayunkan tangannya ke mulutnya. “Buat makan,” katanya. Waktu itu kawan saya yang memberi uang kepada orang itu.

Pada hari yang lain saya solat lagi di sebuah masjid (masih di Medan), lagi-lagi saya bertemu dengan orang yang meminta uang seperti cerita saya tadi. Bedanya, orang ini bilang bahwa uangnya untuk beli semir sepatu, sebab dia bekerja menyemir sepatu ke masjid-masjid. Alhamdulillah saat itu saya ada uang lebih, yang saya langsung serahkan kepada orang itu (yang langsung saja disambar oleh orang itu).

Pada kesempatan yang lain saya solat di mushola perpustakaan sebuah universitas negeri favorit di Medan. Ketika saya sedang asyik duduk melepas lelah di mushola itu, seseorang menghampiri saya. Dia bilang dompetnya ketinggalan, dan dia perlu uang untuk ongkos pulang. Saya rogoh kocek, ada uang lima ripu rupiah dan tanpa pikir panjang saya berikan kepada orang itu. Beberapa hari kemudian saya solat lagi di mushola yang sama, saat saya ngadem di masjid itu ternyata orang yang sama menghampiri saya lagi, dia minta uang pada saya dengan alasan yang sama dengan yang kemarin-kemarin, dompet ketinggalan, perlu ongkos pulang. Saya nyengir lebar di dalam hati, orang ini jangan-jangan setiap hari dompetnya ketinggalan lalu minta uang kepada orang-orang buat ongkos pulang. Saya katakan padanya, “Bang kalo nggak salah kemaren udah saya kasih buat ongkos pulang.” Tanpa berkata apa-apa orang itu pergi begitu saja.

Miris sekali saat melihat kondisi seperti ini. Mungkin saking bingungnya bagaimana cara mencari uang, cara apapun kemudian digunakan. Hal ini sangat jelas disebabkan oleh kondisi yang sangat berat seperti sekarang ini. Harga-harga kebutuhan pokok, barang dan jasa, semuanya telah terdongkrak naik akibat berbagai kebijakan zhalim pemerintah. Jumlah gelandangan dan pengemis meningkat pesat. Orang-orang setengah miskin akan jatuh menjadi miskin, dan yang sudah miskin akan jatuh menjadi lebih terpuruk. Dalam pidatonya di hadapan kader-kader Partai Demokrat, Presiden SBY mengatakan bahwa dirinya merasa tak aman pasca rencana penaikan harga BBM akan segera diwujudkan. ”Sekarang ini yang dijadikan sasaran tembak saya, SBY. Hari-hari saya, coba tolong dicek ke Ibu Negara yang menerima SMS-nya begitu. Di samping ada yang mendoakan baik-baik, ada yang memberikan selamat, bahkan ada yang mengancam keselamatan saya dan akan menjatuhkan saya di jalan,” ujar SBY. Padahal kurang aman apa? Pengamanan Paspampres berbaris-baris. Kalau kita mau jujur pada hati nurani, yang sebenarnya tidak aman adalah rakyat dengan adanya berbagai bijakan zhalim ini. Rakyat akan selalu terancam kemiskinan, kelaparan, kriminalitas, pelecehan, dan berbagai bentuk keburukan lainnya. Terlebih lagi dengan sikap pemerintah yang buta dan tuli terhadap kesengsaraan rakyat, dan demokrasi sudah tidak bisa diharapkan lagi. Survei LSI jelas-jelas membuktikan bahwa lebih dari 80% rakyat Indonesia tidak menyetujui kenaikan harga BBM, namun pemerintah tidak peduli. Perubahan harus segera dilakukan ke arah Islam, dengan menerapkan seluruh syariat Islam secara kaffah. Setelah sistem hasil buah pikiran manusia ini tidak lagi sanggup mensejahterakan manusia itu sendiri, kita wajib beralih pada sistem yang dituntunkan oleh petunjuk dari Allah, Tuhan seru sekalian, hanya Islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s