Merenungkan Demokrasi


Image

Di dalam bukunya yang berjudul Demokrasi La Roiba Fih, Emha Ainun Nadjib menggambarkan demokrasi sebagai berikut: “Al Quran boleh bilang bahwa dirinya la roiba fih, tak ada keraguan padanya. Tetapi menurut undang-undang di negeriku orang boleh meragukan Al Quran, tidak melanggar hukum jika meninggalkannya, bahkan terdapat kecenderungan psikologis empirik untuk menganjurkan secara implisit sebaiknya orang menolak dan membencinya. Tetapi tidak boleh bersikap demikian kepada demokrasi. Demokrasi-lah la roiba fih yang sejati. Di dalam praktik konstitusi negeriku demokrasi lebih tinggi dari Tuhan. Tuhan berposisi dalam lingkup hak pribadi setiap orang, sedangkan demokrasi terletak pada kewajiban bersama, dan itu berarti juga kewajiban pribadi. Orang tidak ditangkap karena mengkhianati Tuhan, tetapi berhadapan dengan aparat hukum kalau menolak demokrasi.”

Cuplikan tulisan Emha Ainun Nadjib di atas menggambarkan realitas demokrasi yang ada di negeri kita saat ini. Bahwa memang benar demokrasi telah sedemikian diagung-agungkan. Tak ada yang meragukan demokrasi sedikit pun. Jutaan, milyaran, bahkan trilyunan Rupiah uang rakyat telah dikorbankan untuk menjalankan roda demokrasi. Berbagai model demokrasi pun telah diujicobakan, sudah puluhan tahun dihabiskan oleh penduduk negeri ini untuk hidup di dalam alam demokrasi, namun semuanya hanya menghasilkan tanda tanya besar: Mengapa sudah bertahun-tahun demokrasi dijalankan dengan konsisten, dan telah trilyunan uang rakyat habis untuk menjalankannya, tapi rakyat belum juga merasakan kesejahteraan??

Benar sekali, umur penerapan demokrasi di negeri ini sudah hampir sama tuanya dengan umur republik ini. Sejak Indonesia merdeka hingga detik ini, entah sudah berapa banyak uang rakyat yang dihabiskan untuk menerapkan demokrasi. Tapi tetap saja rakyat belum kunjung merasakan kesejahteraan yang merata. Mengapa dengan menerapkan demokrasi justru jumlah orang miskin tetap saja banyak? Jika kita gunakan standar World Bank dengan pendapatan minimal 2 USD sehari, jumlah penduduk miskin sudah separuh dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Mengapa kasus-kasus busung lapar dan gizi buruk selalu terjadi? Di bagian timur Indonesia khususnya di NTT dan NTB busung lapar (kelaparan) bahkan sudah sampai merenggut nyawa. Jumlah siswa putus sekolah dan sekolah yang hampir rubuh pun masih tinggi. Di dalam alam demokrasi pun kasus-kasus korupsi sedemikian parah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kerap kali terjadi perdagangan pasal di DPR, suap-menyuap, sogok-menyogok, dan berbagai kelicikan lainnya telah menjadi hal yang sangat biasa. Kasus-kasus besar seperti Century Gate sampai hari ini belum juga jelas ke mana akhirnya. Partai politik juga begitu, masyarakat telah berkurang kepercayaannya kepada parpol.

Mungkin akan ada orang yang bergumam, kenapa hanya keburukan demokrasi saja yang dilirik? Di antara kelemahan-kelemahannya, pastilah demokrasi memiliki kekuatan. Jawaban untuk pertanyaan ini sebenarnya sederhana saja, kenapa dengan diterapkannya demokrasi kemiskinan masih saja menggurita? Kenapa kesejahteraan belum juga menyapa rakyat Indonesia padahal sudah lebih dari setengah abad negeri ini menerapkan demokrasi? Perlu berapa lama lagi? Kenapa pemerintahan yang terbentuk dari proses demokrasi selalu saja pemerintahan yang menyengsarakan rakyat? Mengapa korupsi hampir tidak pernah bisa diberantas?

Jelas, ada sebuah kesalahan besar di dalam demokrasi yang tidak bisa ditolerir lagi, menyerahkan kedaulatan kepada manusia, padahal manusia itu lemah. Sudah saatnya demokrasi diganti dengan Islam. Dengan sistem Islam-lah Khalifah Umar bin Abdul Aziz mensejahterakan seluruh rakyatnya hanya dalam waktu dua tahun, hingga tak ada lagi orang yang layak menerima zakat. [sayf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s