ASBUN


Wajah asli Pocong Rider

Tanggal 13 Juli kemarin ada pameran drawing kecil-kecilan di jalan Curie nomor 1 Bandung. Yang pamer  adalah Komunitas 08,5. Dia adalah komunitas kecil dan tertutup, berisi orang-orang kota yang kampungan, yang imajinasinya brutal tanpa kendali. Jauh dari kata serius, dan tak ada kata yang tepat untuk menjelaskan mereka. Serius! Kebetulan saya salah satu dari mereka sekaligus kurator pameran tersebut.

Asbun adalah judul pamerannya. Komunitas 08,5 menampilkan betapa menggelikannya karya-karya kampring (kampungan) dan kenangan kenangan konyol zaman kita SD. Gambar yang—yah antara bagus dan jelek tapi begitu melekat dan menjadi memori visual. Anda sebagai pembaca mungkin bingung seperti apa pameran tersebut. Namanya seni rupa ya memang harus dilihat, bukan dibaca. Saya sendiri bukan mau menceritakan bagaimana pameran itu berlangsung, tapi saya akan ceritakan fenomena apa yang mendorong pameran itu muncul.

Setidaknya dalam dua tahun terakhir, saya dan teman-teman  Seni Rupa UPI yang sedang  beranjak dewasa mulai merindukan masa kecil, sekitar 20 tahun yang lalu. Kita sering ngobrol tentang film zaman baheula seperti Keluarga Cemara, Wiro Sablon, Jin dan Jun, Makibao, dll. Opening songnya  keras-keras kami nyanyikan di kampus. Dalam konteks kesenirupaan, kita juga melirik fenomena gambar di bak truk. Gambar yang saya yakin menjadi memori visual yang kuat juga bagi anda yang pernah melihatnya. Anda pasti ingat gimana seonggok gadis seksi terlukis dibelakang bak truk. Pudar, peyang warna catnya, anatomi tubuhnya menyon. Belum lagi tipografi proto-alay seperti “1000 ligir”, “kutunggu jandamu”, “doa ibu”, “g4ul”, dan banyak lagi. Anda boleh saja tambah kalau punya memori visual yang sama. Karya-karya serupa saat ini masih sering tampil di belakang truk, mobil pick-up, bus, atau angkot.

Sebagai “perupa muda”, komunitas 08,5 sudah banyak memperhatikan ribuan karya seniman terkenal, baik kota maupun internasional. Perbandingannya sangat jauh. Terutama betapa teori dan pengalaman estetis sangat berperan dalam menentukan hasil karya. Namun ternyata baik seniman “kampring” maupun seniman beneran punya kecenderungan berkarya menjadikan perempuan sebagai objek. Saya tidak sedang membicarakan aurat atau eksploitasi wanita, anda semua pasti sudah paham bagaimana wanita dieksploitasi dalam banyak hal. Hanya saja kami tak habis pikir, kenapa wanita –dengan segala keseksiannya- harus tampil di belakang truk. Apakah syahwat memang berkorelasi secara positif dengan etos kerja? Atau apakah “kutunggu jandamu” adalah sebuah kata mutiara yang begitu inspiratif sehingga harus dibaca oleh khalayak umum? Dalam hal ini kami menemukan kejanggalan selera yang sama seperti 4L@y. Emha Ainun Nadjib punya istilah “Gundul Pacul”, persetan kata orang, biar jelek yang penting tampil!

Masih bernostalgia, kami juga ingat waktu SD kami sudah bermain lotere. Masih ingat dengan puluhan makanan dan berbagai hadiah menarik, masing-masing diikat dengan benang kasur dan ujung lainnya bergabung dengan benang-benang kosong? Aturan mainnya kita tarik salah satu benangnya, kalau kosong kita dapat permen, kalau beruntung kita boleh ambil hadiah yang kita dapat yang harganya diatas nominal uang yang kita berikan pada si “Bandar”. Ada juga melempar bola kedalam gelas, kalau bolanya masuk kita boleh pilih hadiah sesuka hati. Pedagang yang curang juga hadir. Ada sabuk yang digulung sedemikian rupa sehingga didalam gulungan ada dua lubang. Pilih lubangnya dan masukin tusuk cilok kesitu. Meskipun kemungkinannya 50-50, si pedagang punya trik membuka gulungan dan berapa kalipun kamu coba kamu enggak akan pernah menang!!! Dulu dengan begonya saya ikut aja judi kayak gitu. Di Sukabumi kampung halaman saya, dulu permainan setan ini juga hadir di alun-alun Cisaat dan lapang Merdeka di bulan Ramadhan. Memang ironis. Dan yang lebih mengerikan adalah kita selaku bocah-bocah lugu (lucu dan guoblok) telah dicekoki permainan haram. Orang tua jelas melarang, tapi permainan ini tetap hadir leluasa, yang dengan kejamnya merusak moral dan uang jajan kita. Maafkan aku mama, maafkan aku ya Allah, dulu ikut-ikutan judi…

Anda ingat bagaimana beragam pengrusakan itu hadir menghantam masa kecil anda dan masih terus merusak anak-anak kecil saat ini. Ingat bagaimana pedagang-pedagang kecil dan bodoh juga ikut-ikutan merusak generasi seperti halnya orang-orang pintar merusak moral kita? Dimana-mana, di sekolah, ditempat umum, bahkan di angkot dan di bak sebuah truk sekalipun! Jika kita cukup kritis kita tentu khawatir dengan fenomena ini. Saya pikir hal ini lebih dekat dengan kita daripada segala keruwetan politik. Memang seharusnya mudah saja pemerintah bertindak memberantas perjudian semacam ini dan menyaring berbagai gambar yang muncul di tempat umum seperti halnya polisi merazia sepeda motor. Masalahnya pemerintah dengan sekulerismenya tidak serius menangani pendidikan generasi mudanya. Jangan bahas sistem dan biaya pendidikan yang menggila, judi kecil seperti itu saja mungkin dianggap tidak ada, sementara atas nama kreatifitas dan freedom of expression, definisi pornografi saja rancu. Padahal dalam Islam sendiri sudah jelas porno itu membuka aurat. Keadaan yang diinginkan Islam memang bukan seperti itu, dan Islam pasti akan membuat kondisi yang kondusif, menjauhkan segala hal yang merusak, baik itu judi besar atau kecil, porno besar atau porno kecil. Sayangnya pedagang dan seniman kampring sudah asbun, asal bunyi, asal untung, asal tampil. Begitu pula pemerintah dengan hukum sekulernya. Asbun! [by. Pocong Rider]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s