Teguh Sudah Pergi


Teriakkan tekadmu

Angin pelan merayu, menemani sepi senja itu. Langit biru, bersama awan berarak di sebelah barat, dibelai sinar redup mentari jam empat. Hawa sejuk mengambang, mendekap mesra bukit mungil itu. Bukit tandus dengan ilalang dan karang yang keras, angkuh tak kenal belas kasihan. Yang beberapa sisinya runcing-runcing dikikis air hujan bertahun-tahun tanpa ampun. Sisinya yang lain halus dan datar, diranggas angin semenjak lama. Puncak bukit tandus itu buruk, tetapi tidak di matanya, di dalam mata anak muda itu, di mata Teguh.

Teguh duduk bersila di atas batu karang besar di atas puncak bukit itu. Sebuah kaca mata dengan bingkai hitam membantu penglihatannya yang telah lemah di usia semuda itu. Rambut hitamnya berkibar dipermainkan angin. Pandangannya jauh terlempar ke ujung langit yang bertemu dengan pepohonan hijau. Bukit-bukit berderet rapi, disusun serasi oleh tangan Tuhan sendiri. Rumah-rumah kecil berserakan di bawah. Jalanan aspal meliuk-liuk tak ubahnya tubuh ular yang ramping melingkar. Kendaraan-kendaraan berjalan di atasnya, mengantarkan manusia ke tempat yang mereka mau.

Angin bertiup lagi. Terkembang senyum di wajah Teguh saat menatap semua itu. Bukit itu memang buruk, tapi mata rabun Teguh mampu menangkap keindahannya. Karena bukit itulah satu-satunya temannya. Tangan kanan Teguh menggenggam sebatang pensil mekanik. Tangan kirinya menggamit sebuah buku tulis tebal bersampul putih. Dia selalu ke sana. Menikmati sore, memandang langit, menyemai sinar mentari keemasan, dan menulis di buku itu, seperti sore itu. Menulis tentang hidup, tentang nasib, tentang cita-cita, tentang segalanya. Dan bukit mungil di belakang rumah telah menjadi saksi, bahwa Teguh telah tegak berdiri. Di bukanya buku itu, dan digoreskannya pensilnya di sana, dia menulis.

Datanglah ke sini, Sayangku! Duduk bersamaku di dalam alam yang sunyi. Apakah kau lihat jalan itu? Dia terjal menanjak. Penuh kerikil runcing. Kadang karang mencuat tak kenal kasihan, dan ilalang tajam menyayat jangat berdarah-darah. Jalan itu pedih, Sayangku, menguras tenaga, menghambur keringat. Tak banyak orang sudi melaluinya, sebab kadang seribu setan datang menyesatkan. Malam turun menyelubungi. Mengambangkan ragu di dalam hati. Tapi itulah dia, itulah dia jalanku. Aku akan maju, terus maju. Aku tidak akan pernah ragu. Aku akan tetap di sini, tak akan lari. Hingga aku tiba di sana, di puncaknya.

 

Dan aku melihat bibir tipismu bergetar, lalu suaramu keluar, menanyakan sesuatu kepada selaksa alam, ‘untuk apa’? Aku ingin mulia, Sayangku, lebih mulia dari pada semua. Aku ingin berdiri lebih tinggi, kemudian kubelai langit dengan jemariku yang rapuh, tegak lebih tinggi dari siapapun. Aku ingin melihat sebuah citra yang dahulu pernah dilihat para pemberani. Aku ingin memeluk cahaya, yang hanya bisa dipeluk kaum yang menang. Hanyalah di sana, Sayangku, aku akan mendapatkannya.

Teguh menengadah, menatap lagi langit biru keunguan. Dia tutup buku tulisnya, dia masukkan pensilnya ke dalam saku celananya yang buntung sebetis, dan tegak di atas karang itu. Berbisik kepada angin tentang harapan dan cita-citanya, sebab banyak manusia sudah tidak bisa lagi dipercaya.

Teguh adalah seorang siswa di sebuah SMA negeri di sudut tanah Jawa Barat. Di sebuah kota kecil itu indah dan sejuk. Teguh duduk di kelas 3, dan lolosnya dia hingga bisa naik ke kelas 3 SMA tak lebih dari keberuntungan belaka, seolah nasibnya secara akademik selalu berada di ujung tanduk. Namun ketika itu, di pertengahan semester 1, telah datang masa-masa di mana semuanya akan berbalik dan berubah.

Udara di kelas itu meremang, tegang, sebab di depan kelas hadir sesosok monster mengerikan yang tubuhnya terpenjara dalam tubuh seorang guru Matematika. Dialah Ibu Maryati. Tubuh Ibu Maryati memang mungil, wajahnya menggemaskan dan simpatik, tapi dalam sedetik dia bisa berubah menjadi monster paling mengerikan bagi para siswa. Dia bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal kepada siswa-siswinya. Dan pagi itu adalah kengerian.

Semenjak masuk ke ambang pintu kelas itu, tampang Ibu Maryati sudah tak enak. Para siswa sudah tahu apa yang terjadi, sebab minggu lalu digelar ulangan matematika, dan hari itu akan dibagikan hasilnya.

Ibu Maryati duduk di depan kelas, menatap wajah murid-muridnya satu persatu serupa monster. Mereka semua menunduk, bahkan bernapas pun tak berani. Di atas meja guru di hadapannya telah terhampar tumpukan lembar jawaban ulangan matematika minggu kemarin. Dia menumpuk kertas itu dari nilai yang paling bagus di tumpukan paling atas, dan nilai terburuk di urutan paling bawah. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan ke tengah kelas. Matanya melirik kertas ujian di tangannya dan menggeram.

“Reska,” panggilnya, tangannya mengambil sehelai kertas ujian dari tumpukannya.

Seorang siswi yang duduk di bangku paling belakang berdiri. Sambil tersenyum tipis dia maju ke depan mengambil kertas ujiannya. Karena namanya dipanggil paling pertama artinya dialah pemilik nilai yang paling bagus. Reska melongok kertas ujiannya dan terhamparlah angka 9,8 di sana.

“Bagus, kamu rajin belajar, terus pertahankan,” kata Ibu Maryati, “Kalian semua contohlah Reska, belajar sama dia.” Reska duduk kembali di bangkunya.

“Dian,” panggilnya lagi.

Seorang gadis cantik yang duduk paling depan, di deretan kedua dari pintu kelas, berjalan menghampiri Ibu Maryati. Dian adalah gadis yang bersahaja dan cerdas. Kerudung lebar terulur sampai ke dadanya. Dia modifikasi kemeja dan rok seragamnya menjadi jilbab. Dia tidak banyak bicara, tapi sekali dia bicara kata-katanya tegas dan lugas. Suaranya merdu sekali, orang yang mendengarnya akan terpikat. Dia juga cerdas, dia selalu jadi nomor satu di kelas itu, bahkan di sekolah itu, selalu.

Dian meraih kertas ujiannya dengan hormat dan memandang ke dalamnya. Angkanya 9,75.

“Kamu agak menurun, Dian,” kata Ibu Maryati. “Tingkatkan lagi prestasimu. Kamu selalu jadi yang terbaik, jangan mau kalah.”

“Terima kasih, Bu,” sahut Dian. Dia duduk kembali di bangkunya.

“Mamat.”

Seorang siswa berbadan besar dan tampan maju. Dia mengambil kertas ujian yang disodorkan Ibu Maryati.

“Lumayan,” komentarnya. “Tingkatkan lagi, Mat.” Tanpa ekspresi.

Mamat senyam-senyum kegirangan.

Ibu Maryati terus memanggil siswanya satu persatu. Seisi kelas itu harap-harap cemas. Semakin ke bawah tumpukan, Ibu Maryati tidak lagi menyerahkan kertas ujian itu baik-baik kepada pemiliknya, tapi melemparkannya begitu saja. Dan tiba-tiba keheningan menyeruak karena di tangan Ibu Maryati tersisa sehelai kertas ujian yang terakhir. Dan seseorang gemetar di kelas itu.

“Teguh.” Mata guru matematika itu menyala merah.

Wajah teguh keringatan, napasnya tercekat. Dia duduk di bangku paling depan deretan ketiga dari pintu kelas. Teguh menunduk dan bangun pelan-pelan dari kursinya, melangkah mendekati Ibu Maryati yang galak tak tanggung-tanggung itu. Kertas ulangan itu dilemparkannya begitu saja ke hadapan Teguh, melayang pelan-pelan, dan terhempas di keramik putih tak jauh dari Teguh. Seisi kelas menahan napas.

Teguh membungkuk dan memungut kertas ulangannya. Angka 2 tertulis di sana. Dia berbalik menghadap Ibu Maryati, terus menunduk.

“Terima kasih, Bu,” dan berjalan kembali ke kursinya.

“Siapa yang suruh duduk?” Wajah Ibu Maryati makin tak enak dilihat.

“Maaf, Bu,” Teguh berdiri lagi dan berjalan mendekati gurunya itu. Tangannya gemetar dengan kertas ulangannya.

Ibu Maryati mendelik kepada Teguh. “Pasti kamu lagi, semua orang di sini juga sudah tahu. Setiap ulangan pasti kamu yang nilainya paling jelek. Ngapain aja di rumah? Tidur? Sudah duduk paling depan nilai begini-begini terus.”

Teguh terus menekur, lututnya goyah, kaca matanya berembun, matanya telah berkaca-kaca menahan kepahitan di hatinya. Tiba-tiba Ibu Maryati merampas kertas ulangan di tangan Teguh dan menyobek-nyobeknya di depan hidung Teguh, lalu menghambur-hamburkan sobekan-sobekannya. Serpihan kertas beterbangan di mana-mana.

“Maaf, Bu,” suara Teguh gemetar. “Hanya segitu yang saya bisa. Saya jujur, Bu.”

“Huh,” Ibu Maryati mencibir. “Dasar idiot.”

Dan tombak kata-kata itu menancap dalam di hati Teguh.

“Berdiri di depan sampai selesai pelajaran saya, dan nanti jam istirahat tidak boleh ke kantin. Kalian semua awasi dia, kalau jam istirahat dia keluar dari kelas ini, kalian semua akan kebagian hadiah dari saya.”

Dengan menahan malu yang perih, Teguh berjalan ke sudut depan kelas dan terus berdiri di sana sepanjang jam pelajaran matematika. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya menggenggam kuat menahan perasaan. Dia terus menekur menatap garis-garis lantai.

Bel berdering, jam istirahat sudah tiba. Ibu Maryati mengakhiri penjelasannya dan kembali memperingatkan.

“Kalau dia keluar kelas,” dia menunjuk kepada Teguh, “semua akan dapat bagian. Saya tidak main-main.”

Lalu pergi begitu saja.

Kelas itu segera ribut ingin segera menuntaskan rasa penat di kantin. Satu persatu siswa keluar kelas. Mamat dan gengnya bergerombol menuju pintu kelas. Teguh berdiri di sudut ruangan dekat pintu itu.

“Orang idiot nggak boleh istirahat, huahahaha…” Mamat tertawa terpingkal-pingkal bersama teman-temannya. Berisik sekali. Teguh menunduk, lalu menatap Mamat dan teman-temannya dari balik kaca matanya. Diam, tak bicara apa-apa.

“Udaaahh, bubar, bubar, berisik amat sih,” Riski, sang ketua kelas, membubarkan olok-olok itu. Dia mendorong Mamat dan geng-nya, dan berhadapan dengan Teguh. Mereka terus tertawa sambil meninggalkan kelas itu.

Riski tersenyum menatap Teguh dan menepuk bahunya. Dia siswa yang lumayan pintar dan punya jiwa kepemimpinan yang bagus, karena itu dia dipilih jadi ketua kelas. “Tenang aja, Bro! Bu Mar kan emang gitu. Nggak usah ditanggepin. Si Mamat juga nilai dapet nyontek aja belagu banget.”

“Iya, makasih ya, Ris,” Teguh memaksakan senyum.

“Oia, mau jajan nggak? Nitip aja, ntar ogut beliin. Mau pesen apa?”

“Nggak, Ris, makasih, saya puasa.”

“Oh puasa ya? Rajin banget. Sori yah, yaudah ogut jajan dulu. Nyantai-nyantai aja, Bu Mar emang jelek adatnya.”

Riski pun berlalu. Teguh mengusap keringat di wajahnya, dia bersandar ke dinding, dari tadi berdiri kakinya pegal. Datanglah Dian menghampiri Teguh. Dia berdiri tegak di hadapan Teguh dan menyodorkan senyumnya yang manis. Beberapa detik Teguh menatap mata cokelat Dian yang memesona, lalu menunduk dalam-dalam.

“Sabar ya,” kata Dian. Hanya segitu, dan dia berjalan keluar kelas itu.

Teguh hanya terpaku. Dia tak kuasa berkata apa-apa. Kalau sudah berhadapan dengan Dian dia malu setengah mati, sebab melihat siapalah dirinya. Dia berjalan perlahan menuju kursinya, meluruskan kakinya yang pegal, memijit-mijit lututnya. Dan hatinya sakit, sakit sekali.

Usai jam istirahat, jam pelajaran fisika dimulailah. Dibagikan pula hasil ulangan minggu lalu, kembali Teguh mendapat malu, karena nilainya hanya 3,5. Dan jadilah hari itu sebagai hari yang pahit baginya. Hampir semua kertas ulangan miliknya angkanya buruk. Siang menjalar, menemani remuknya hati yang belum akan berhenti sampai di sini.

000

“Assalamu’alaikum,” Teguh mengucap salam dan mengetuk pintu sebuah rumah mungil. Rumah itu terletak di sebuah kampung di pinggiran kota. Rumah yang sederhana peninggalan kakek dan neneknya. Dinding rumah itu dari bilik bambu. Bagian atapnya telah lapuk, dan kalau tak segera diperbaiki bisa-bisa dapurnya rubuh. Teguh hanya membuat tiang-tiang penyangga tambahan dari bambu, sebab tidak ada uang untuk renovasi rumah. Kampung itu masih rimbun dan teduh. Penduduknya ramah dan bersahabat. Di belakang kampung itu ada sebuah bukit yang berjajar ke selatan, seolah-oleh penjaga yang setia melindungi penghuninya dari marabahaya. Teguh tinggal bersama ibunya. Ayahnya jarang sekali di rumah, dia hanya pulang sekali-sekali saja dan mungkin lebih baik begitu, sebab hidup akan lebih tenteram tanpa laki-laki itu.

Akhirnya pintu rumah itu pun terbuka. Terlihatlah ibunya di ambang pintu menyambutnya. Teguh mencium tangan ibunya lalu masuk ke dalam. Dia duduk di sofa butut ruang tamu. Menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa. Sementara ibunya terus ke dapur mengambilkan segelas air putih.

“Minum dulu,” kata ibunya. Senyumnya merekah, dia duduk di sisi puteranya.

Teguh meneguk air minum di gelas itu sampai habis, dan meletakkan gelasnya di meja.

“Udah baikan, Bu?” Tanya Teguh. Dia tersenyum getir kepada ibunya sambil menaikkan kaca matanya yang melorot.

“Uhuk… Uhuk…” Wajah perempuan setengah baya itu pucat kalau terbatuk. Lehernya dililit kain syal lusuh warna hitam. “Nggak apa-apa, besok juga sembuh. Insya Allah besok udah bisa kerja lagi.”

“Kalo belum sehat, Ibu nggak usah maksain. Nyuci kan berat, Bu. Kalo Teguh nggak sekolah, Teguh bisa bantu Ibu.”

“Jangan ngomong begitu. Teguh harus tetep sekolah. Kalo nggak sekolah Teguh mau jadi apa?”

“Maafin, Teguh, Bu.” Teguh mengambil tas sekolahnya, membuka ritsletingnya dan meraih sesuatu. Dia menyerahkan seluruh hasil ulangannya kepada ibunya. Dia tak akan bisa merahasiakan sesuatu dari ibunya.

Tangan ibunya gemetar menatap kertas-kertas hasil ulangan itu. Dia membolak-baliknya, lalu terbatuk lagi. Teguh hanya bisa menunduk melawan sesal di hatinya.

“Maafin Teguh, Bu,” mata Teguh mulai berkaca-kaca, napasnya naik ke tenggorokan, dadanya sesak. Bergelimanglah air suci dari kedua bola matanya. “Teguh udah kecewain Ibu. Kenapa Teguh bodoh, Bu? Kenapa? Padahal Teguh rajin belajar, nggak pernah bolos. Tapi kenapa Teguh tetep aja bodoh? Kenapa, Bu? Teguh salah apa?”

Dia terisak dalam lara. Air mata ibunya turut jatuh berlinang. Dia peluk puteranya, membagikan sedikit ketabahan.

“Jangan bilang begitu, Teguh nggak bodoh, kalau cuma dapet segitu ya nggak apa-apa. Yang penting Teguh jujur, jangan bohong, jangan nyontek. Segitu juga Ibu udah bangga sama Teguh. Nggak apa-apa. Yang penting Teguh udah berusaha.”

“Kenapa Teguh begini? Teguh selalu belajar, tapi kenapa Teguh nggak bisa pinter? Allah nggak adil sama Teguh.”

“Teguh nggak boleh bilang gitu, nggak boleh. Allah sayang sama Teguh, dan di balik semua ini Allah udah nyiapin yang terbaik. Teguh harus sabar, nggak boleh nyerah. Nggak boleh putus asa.”

“Maafin Teguh, Bu. Udah capek-capek kerja buat sekolah Teguh, tapi cuman nilai jelek yang bisa Teguh kasih liat.”

“Nggak apa-apa… Ibu bangga, buat apa dapet bagus tapi bohong.”

Berderailah air mata di hidup yang biru. Dan udara yang mengendap menjadi haru.

Tiba-tiba pintu rumah terbanting membuka. Berdirilah monster itu di depan pintu. Teguh dan ibunya tersentak kaget. Saat mereka tahu siapa yang datang tenggelamlah mereka dalam kengerian.

Pria itu melangkah masuk. Kesadarannya hanya setengah, dia mabuk. Badannya tinggi besar, wajahnya brewokan berantakan. Matanya merah. Napasnya busuk. Sudah berbulan-bulan dia tidak pulang, dan sekalinya pulang hanya membuat keonaran dengan meminta uang, kemudian pergi lagi entah ke mana. Pria itu adalah ayah Teguh. Dia berjalan sempoyongan, lalu duduk di sofa, terkadang dia cekukan.

“Bagi duit,” bentaknya.

“Nggak ada duit, Kang. Saya nggak masuk kerja,” sahut ibunya Teguh.

“Bagi duit,” dia menggebrak meja. Tumpukan kertas ujian Teguh terusik. Perhatian pria itu teralih kepada kertas ujian itu. Dia mengambilnya. Begitu mengetahui berapa angka di dalamnya, mata merahnya yang menyala dengan kemarahan menatap Teguh. Teguh hanya menunduk.

“DASAR ANAK IDIOT,” telunjuknya teracung lurus kepada Teguh. Tangannya menyambar sapu ijuk yang bersandar dekat sofa dan berlari menerjang Teguh sambil mengacungkan gagangnya. Dia pukuli putera satu-satunya itu.

“Ampun paaakk,” Teguh mengiba. Dia melindungi kepalanya dengan tangannya. Meringkuk di atas sofa, menerima serangan gagang sapu yang bertubi-tubi itu, tak bisa melawan.

Tubuh Teguh segera dipeluk ibunya. Tubuh rapuh perempuan itu pun jadi sasaran keganasan suaminya. Dan gagang sapu terus melayang tanpa ampun. Wajah Teguh menegang menahan sakit. Pelipisnya bengkak, dahinya membiru, dia melihat ibunya yang juga dipukuli.

Tiba-tiba Teguh melompat dan menyerang ayahnya. Tangannya yang lebam-lebam menangkap gagang sapu itu, didorongnya ayahnya sekuat tenaga hingga terjerembab di luar. Cepat-cepat dia menutup pintu dan menguncinya, napasnya tersengal-sengal, dia merosot duduk di belakang pintu itu, air matanya mengalir melawan kesakitan.

Dari luar pria itu menggedor-gedor sambil berteriak dan mengumpat. Tetangga-tetangga yang terusik segera meringkus pria itu lantas membawanya ke kantor lurah. Mereka sudah bosan dengan kelakuan beringas pria itu.

Teguh meringis menahan sakit, sekujur badannya memar. Ibunya menangis di sofa. Teguh berdiri dan menghampiri ibunya.

“Ibu nggak apa-apa? Ayo, Bu, istirahat di kamar.” Teguh menuntun tangan ibunya dan membawanya ke kamar. Dibaringkannya ibunya di atas ranjang. Dengan mengabaikan rasa sakitnya sendiri, Teguh merawat luka-luka ibunya. Air matanya terus berlinang di atas dunia yang tidak adil.

000

Napas Teguh memburu ketika sampai di gerbang luar sekolah yang sudah sepi. Dia berlari menyusuri jalan yang membentang tiga puluh meter antara gerbang dalam dan gerbang luar sekolah. Di depan gerbang dalam beberapa orang siswa pun bergegas masuk sebab upacara bendera beberapa detik lagi akan dilaksanakan. Terlihat para siswa telah berbaris rapi di lapangan serbaguna.

Teguh berlari sekencang-kencangnya agar tidak terlambat. Tapi ketika jaraknya tinggal beberapa meter lagi dari gerbang dalam, Ibu Maryati tiba-tiba muncul dan menutup gerbang itu sambil menyeringai kepada Teguh. Wajah Teguh pucat kehilangan harapan, sebab dialah satu-satunya siswa yang masih di luar. Ibu Maryati berkacak pinggang dan melotot kepada Teguh dari balik pagar teralis gerbang dalam. Dia heran dengan lebam-lebam di sekujur tubuh Teguh.

“Maaf, Bu, ibu saya sakit, jadi saya harus rawat ibu saya dulu,” Teguh memohon sambil mencengkeram pagar teralis gerbang dalam.

“Kamu lagi, apa kamu nggak bisa berhenti bikin onar? Udahlah prestasi jeblok, sekarang terlambat lagi,” Ibu Maryati menyembur.

“Ibu saya sakit, Bu.”

“Nggak ada cerita,” Ibu Maryati menuding Teguh. “Kamu boleh masuk kalau upacara udah selesai.” Lalu ngeloyor pergi.

Tinggallah Teguh sendirian di hadapan gerbang sekolah itu. Dia berjalan gontai dan menyandarkan tubuhnya di dinding sisi gerbang itu. Luka memar di sekujur badannya masih kembang-kempis, warna birunya belum mau hilang. Dari dalam sekolah sayup-sayup terdengar komandan upacara sedang menyiapkan barisan, lalu suara kepala sekolah yang berceramah. Semuanya seakan-akan pisau yang menambah sakit di jantungnya.

Setengah jam berlalu, upacara selesai, pintu gerbang dibuka oleh Ibu Maryati.

“Masuk,” hardiknya.

Teguh menurut, dia berjalan mengikuti Ibu Maryati. Terlihat barisan belum dibubarkan padahal upacara sudah selesai. Teguh ingin berjalan belok masuk ke koridor menuju kelasnya, tapi Ibu Maryati menahannya.

“Mau ke mana?” Melotot lagi.

Ibu Maryati menggiring Teguh sambil memegangi lengannya. Membawanya ke hadapan barisan siswa-siswa sekolah itu. Suara-suara dengungan mulai menyeruak dari sana. Para siswa berceloteh dan berbisik melihat Teguh yang jadi pesakitan di hadapan mereka. Ibu Maryati mendekati mikrofon di tengah.

“Kalian semua sengaja ditahan dulu di sini untuk mengambil pelajaran dari teman kalian ini,” suaranya menggelegar. “Teman di depan kalian ini sama sekali tidak patut dicontoh. Prestasi akademiknya jeblok, hampir semua nilainya jelek, dia malas belajar dan sekarang terlambat masuk. Kalian jangan pernah mau jadi seperti dia.”

“Huuuu…huuuu,” seisi sekolah itu menyoraki Teguh. Di barisan belakang malah lebih ribut lagi. Teguh menunduk, bibirnya terkatup menahan malu. Tangannya terkepal gemetar.  Napasnya tak beraturan. Keringat dingin mengucur dari pori-porinya. Matanya berair. Kata-kata Ibu Maryati mengiang pengang di lubang telingannya. Jangan jadi seperti dia… Jangan jadi seperti dia… Jangan jadi seperti… seperti dia.

Namun tidak semua siswa menyoraki Teguh. Seseorang malah mengucurkan air matanya. Akhirnya barisan pun dibubarkan. Seluruh siswa melangkah ke kelas masing-masing. Lapangan serbaguna berangsur-angsur sepi. Ibu Maryati mendekati Teguh.

“Pergi ke kelas, masih untung kamu nggak disuruh pulang.” Berkacak pinggang dan melotot lalu pergi.

Warna biru lebam di sekujur tubuh Teguh seolah-olah makin membiru sebab hatinya sakit sekali. Semua orang menghinanya, menginjak-injak harga dirinya yang murah, padahal dia tak pernah bersalah apa-apa kepada mereka. Dia terus bertanya kenapa pahit ini tak mau berhenti dikecap hatinya? Dan pertanyaan itu tak pernah terjawab. Tuhan tidak pernah mau bicara kepadanya. Dia melangkah lesu, terus menunduk, tidak kuat menatap wajah orang-orang di sekitarnya. Kakinya terus melangkah, tapi tidak menuju kelasnya. Dia berjalan menyeberangi aula, melintasi kantin, ke bagian belakang sekolah. Dia mendaki undakan tangga naik ke gedung laboratorium IPA sekolah yang saat itu sepi, tak ada seorang pun. Teguh menyusuri terus gedung itu, berjalan ke bagian belakangnya. Di belakang gedung itu tumbuhlah sebatang pohon mangga yang cukup besar dan tinggi. Teguh menatap pohon besar itu lalu tersenyum tipis, dia mendekati pohon itu. Tangannya bergerak ke pinggangnya, lalu ke perutnya. Melepas ikat pinggang yang dipakainya. Di dekat pohon itu ada sebuah kursi yang sandarannya sudah lepas. Diraihnya kursi itu dan diletakkannya di depan batang kokoh pohon mangga. Dia menatap sebuah dahan yang cukup rendah, dan bisa diraihnya kalau dia naik ke kursi rusak itu. Senyum tipis terkembang lagi di bibir Teguh.

Apa yang akan dia lakukan? Gantung diri! Ya, lebih baik disudahi saja hidup yang memalukan dan pahit ini. Setan terus membisiki di telinga kirinya. Biar saja arwahnya gentayangan di sekolah ini, meneror semua penghuninya. Mencekik mereka sampai mati. Dia naik ke kursi rusak itu, ikat pinggang di tangannya disangkutkannya ke dahan. Matanya telah dibutakan setan.

Semua persiapan telah selesai. Dia akan segera mengeksekusi dirinya sendiri. Kedua tangannya terangkat meraih ikat pinggang yang telah jadi tali gantungan. Dia akan masukkan kepalanya ke dalam tali gantungan itu. Tapi tiba-tiba…

“TEGUUUHH JANGAAAAANNN…” Terdengar suara jeritan. Teguh menoleh ke belakang. Dian berlari sekencang-kencangnya lantas mendorong Teguh sampai jatuh dari kursi rusak itu. Teguh terhempas membentur batang pohon mangga lalu terguling di tanah.

“Kamu mau apa? Kamu mau ngapain, Teguh?” Dian menutup wajahnya yang cantik dengan kedua belah tangannya. Air matanya tumpah ruah. Bahunya berguncang. Pipinya yang putih kemerahan basah. Dia menangis tersedu-sedu.

Teguh duduk bersimpuh, wajahnya menekur ke tanah. Dia pun menangis, air matanya membanjiri kaca matanya. Mereka berdua menangis tersedu-sedu.

Beberapa menit lamanya hujan air mata menimpa bumi. Tercurah dari awan mendung kegetiran. Ternyata sejak upacara bubar tadi Dian terus memperhatikan gerak-gerik Teguh. Dia heran kenapa Teguh tidak berjalan ke kelas, dan dia putuskan untuk mengikuti Teguh. Dia khawatir terjadi hal yang mengerikan, dan benar saja.

Dian terguncang. Dia terisak berat, perlahan-lahan dia membuka wajahnya, matanya nanar menatap Teguh yang berlutut lima meter di hadapannya.

“Kenapa kamu jadi begini? Kamu mau bunuh diri?” Ratapnya. “Itu dosa besar. Jangan lakuin itu.”

Teguh tak kuasa menatap wajah Dian, dia malu tak terkira, dan lebih dari semua itu, dia malu kepada Allah.

“Saya tahu, hati kamu sakit… Hati saya pun sakit… Tapi bukan begini caranya, bukan begini… Di balik kelemahan kamu, Allah udah siapin kekuatan besar. Allah udah siapin kebaikan yang banyak dari semua ini kalo kamu mau bersabar. Saya yakin itu… Saya yakin.”

Jantung Dian berguncang lagi. Dia berlari meninggalkan Teguh sambil menangis, tak kuat menahan perasaan. Tinggallah Teguh sendirian. Di bawah pohon mangga yang rimbun itu dia pikirkan kata-kata Dian. Allah sudah siapkan kekuatan besar… Allah siapkan kebaikan yang banyak… Asalkan dia mau bersabar. Kenapa dia jadi sebodoh itu, sampai mau mengakhiri hidupnya? Kenapa dia kalah dari godaan setan? Secercah kebahagiaan terkembang di hatinya, sebab ternyata ada seorang gadis yang sangat baik, yang sudi mencurahkan air mata suci demi dirinya. Dan memberinya nasihat yang lebih berharga dari bumi dan seisinya. Dan di sanalah titik nadir itu dia lewati. Lututnya yang lemah menopangnya untuk berdiri lebih tegak dan bangkit dari reruntuhan hatinya yang hancur dihantam cerca dan hinaan. Ingin dia bangun dan kuatkan lagi untuk menantang semua manusia yang silau oleh kesombongan, hingga merasa berhak menghina orang lain.

Teguh memungut tasnya yang tergeletak di tanah. Perlahan dia bangkit, betapa lelahnya menahan perasaan. Dia tarik napasnya dalam-dalam, kesegaran mengalir bersama-sama darahnya.

“Kamu bisa meyakini orang seperti saya, kenapa saya sendiri nggak yakin?” Bisiknya. “Terima kasih, Dian.”

Langkah kaki yang getir itu terjejak pasti di tanah. Pandangan baur karena air mata telah pergi, diganti dengan kebahagiaan memandang hidup. Bahwa semuanya harus dihadapi dengan gagah berani. Teguh berjalan meninggalkan pohon mangga itu, tempat dia melewati titik nadirnya. Dia menuju masjid sekolah, mengambil wudhu dan ditunaikannya solat dua rakaat. Dia menangis di hadapan Tuhan, memanjatkan taubat. Hampir saja setan berhasil memperdayanya untuk menghadap dalam angkara, dan dia bertaubat. Sebab telah salah sangka kepadaNya. Dia berzikir di masjid, menenangkan diri, membiarkan saja terlewat beberapa jam pelajaran, sebab saat seperti itu sangat penting dijalaninya. Selepas jam istirahat dia akan masuk lagi ke kelas. Dia berdoa memohon kekuatan dan kesabaran, sebab hidup begini kejam.

000

Siang mulai menjelang. Bel pun berbunyi, tanda seluruh jam pelajaran hari itu telah selesai. Ibu Sadiah, guru bahasa Indonesia, menutup penjelasannya dengan sebuah tugas yang harus dikumpulkan para siswa minggu depan. Dia merapikan buku-buku referensi yang dibawanya dan berdiri di depan kelas.

“Ibu berpesan, belajar yang rajin. Agar prestasi kalian terus menanjak.” Kata Ibu Sadiah. Dia menatap Teguh yang duduk di hadapannya. “Teguh, habis solat zuhur, datang ke meja Ibu di kantor, ada yang mau Ibu bicarakan sama kamu.”

“Baik, Bu,” sahut Teguh, ada tanda tanya menggelantung di kepalanya. Apa yang diinginkan Ibu Sadiah darinya? Ibu Sadiah meninggalkan kelas itu, semua siswa merapikan buku-buku mereka.

Ketika Teguh sedang merapikan buku-bukunya, dia melihat sesuatu di meja Dian yang persis ada di sebelah kanan mejanya. Ada sebuah majalah yang judulnya menangkap perhatiannya. Meluruskan Sejarah Indonesia, bunyi judul itu.

“Dian, boleh pinjem majalahnya?” Tanya Teguh.

Dian menatap majalah yang ditunjuk Teguh dan tersenyum manis. “Boleh, semoga berguna ya.”

“Terima kasih,” Teguh langsung asyik membolak-balik halaman majalah itu.

“Saya duluan, assalamu’alaikum.” Dian tersenyum lagi.

“Wa’alaikumussalam,” sahut Teguh.

Tapi ketika sampai di ambang pintu kelas, Dian berbalik dan kembali menghampiri Teguh. Wajahnya tiba-tiba redup. “Jangan coba-coba lakuin yang kaya tadi lagi.”

“Nggak akan lagi. Terima kasih ya.” Teguh tersenyum, baru kali itulah senyum paling tulus mengembang sepanjang riwayatnya belajar di sekolah itu. Dian membalas senyum itu, tak kalah indah, tulus dan ikhlas.

Teguh berlari dan menyandang tas punggungnya, setelah semua bukunya rapi di dalam tas. Dia melangkah dengan hati yang lebih ringan, keluar darikelas itu menuju masjid sekolah. Usai solat dan berdoa dia memakai sepatunya lagi dan berjalan ke ruang guru. Dari ambang pintu ruang guru, Teguh melongok ke dalam dan melihat Ibu Sadiah sudah menunggunya.

Ibu Sadiah duduk di belakang mejanya dan melambai kepada Teguh. Teguh segera masuk, melintasi meja-meja guru yang berderet-deret. Melewati guru-guru yang sedang asyik mengobrol satu sama lain. Ibu Sadiah menyodorkan kursi ketika Taguh telah hadir di hadapannya, dan mempersilakannya duduk.

“Maaf, Bu! Saya ada salah apa?” Wajah Teguh menunduk. Rasa bersalah langsung mendekap hatinya.

Ibu Sadiah tersenyum kecil mendengar kata-kata Teguh. “Kamu nggak salah apa-apa, Teguh.”

Teguh memperhatikan kata-kata Ibu Sadiah, dia keheranan. “Malah Ibu mau menawarkan sesuatu yang sangat menarik sama kamu.”

“Menawarkan sesuatu sama saya?”

“Iya.”

“Apa itu, Bu,” Teguh penasaran.

“Jangan buru-buru, gimana kalau kita bicarakan di rumah ibu?”

“Saya ikut ke rumah Ibu?”

“Iya, kamu ikut dulu ke rumah ibu, nanti kita ngobrol-ngobrol di sana,” Ibu Sadiah tersenyum, “kamu mau?”

“Iya, Bu.”

“Oke ayo,” Ibu Sadiah menyandang tasnya di bahunya. Guru dan murid itu berjalan beriringan keluar dari  sekolah melewati gerbang dalam, terus melangkah menuju gerbang luar. Sesampainya di pinggir jalan mereka menaiki kendaraan umum yang bersahaja.

“Kamu nggak usah kuatir, nanti pulangnya ibu ongkosin. Rumah kamu kan lumayan jauh.”

“Terima kasih, Bu.” Sahut Teguh.

Setelah dua kali menyambung naik kendaraan umum, sampailah Teguh dan Ibu Sadiah di depan sebuah rumah di dalam sebuah kompleks perumahan. Mereka masuki gerbang depannya dan berdiri di depan pintu rumah yang terkunci. Ibu Sadiah merogoh saku pakaiannya, mengambil kunci dan membuka pintunya.

“Mari masuk, jangan tegang ya, santai aja.” Ibu Sadiah ramah. Mereka tiba di ruang tamu. Ibu Sadiah mempersilakan Teguh duduk di sofa. “Sebentar Ibu masuk dulu.”

Tidak lama Teguh menunggu, Ibu Sadiah datang lagi dengan membawa dua gelas sirup orange dingin di atas nampan. “Ayo diminum dulu.”

“Terima kasih, Bu,” Teguh menyambar sirup orange itu, membaca basmalah dan minum sampai isi gelas tersisa setengah. Dia tersenyum kepada Ibu Sadiah.

“ Terima kasih ya kamu mau berkunjung ke rumah ibu,” Ibu Sadiah tersenyum. Dia adalah seorang perempuan setengah baya yang baik sekali. Tubuhnya gemuk berisi. Dia tak pernah lepas memotivasi para siswanya untuk rajin membaca dan menulis. Ibu Sadiah selalu tampil dengan kerudungnya yang ringan dan jilbabnya yang serasi.

Teguh terus menunduk, wajahnya keras membatu tanpa ekspresi. Kaca matanya seolah-olah memberatkan hidungnya.

“Teguh nggak usah tegang, santai aja, Ibu nggak akan makan Teguh kok, Ibu udah jinak.”

“Iya, Bu,” ketegangan Teguh berangsur-angsur reda, dicairkan canda Ibu Sadiah. “Nggak ada siapa-siapa ya, Bu? Kok rumahnya sepi?”

“Ibu tinggal sendirian di sini,” sahut Ibu Sadiah.

“Keluarga Ibu kemana?” Keakraban mulai bangkit.

“Udah nggak ada.”

“Udah nggak ada?”

“Iya!”

“Maksud Ibu, udah meninggal?” Teguh merasa penasaran dengan Ibu Sadiah.

“Beberapa tahun yang lalu, keluarga meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Ibu sendirian di sini, keluarga yang lain semua di Kalimantan.”

“Maaf ya, Bu,” Teguh menyesal menanyakan hal itu.

“Ah, nggak apa-apa kok,” Ibu Sadiah tersenyum, mengusir lara yang dahulu pernah merajai hidupnya. “Itu semua kehendak Allah. Kita hanya bisa menerimanya. Kalau kita bersabar, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Insya Allah.”

Ibu Sadiah meminum sirup orange di hadapannya dan kembali bicara.

“Maksud Ibu mengundang kamu ke sini adalah untuk menawarkan sebuah lomba. Ibu harap kamu mau mengikuti lomba itu.”

“Lomba apa, Bu?”

“Sebuah penerbit besar di Bandung, namanya Mizan, mengadakan lomba mengarang novel untuk untuk siswa-siswi SMA sederajat di seluruh Indonesia. Batas akhir pengiriman naskahnya bulan Mei menjelang UN, jadi masih ada sekitar delapan bulan kalau dihitung dari hari ini. Nah Ibu mau kamu ikut lomba itu. Kamu mau?”

Teguh menunduk sedih mendengar kata-kata Ibu Sadiah. “Maaf, Bu, saya ini orang bodoh.”

Lagi-lagi Ibu Sadiah tersenyum tipis. “Teguuuhh, Teguh, mana ada manusia normal yang bodoh. Kalo ada manusia yang bodoh tandanya dia nggak normal. Manusia normal pasti cerdas. Teguh kan normal, artinya Teguh pasti cerdas.”

“Orang bodoh itu ada, Bu, sayalah orangnya. Buktinya saya terus kerja keras belajar, tapi nilai-nilai saya tetep aja jelek. Saya sendiri nggak tahu apa yang salah sama saya. Saya tetep sulit menangkap pelajaran. Saya udah berusaha memahaminya, terus latihan, tapi tetep aja saat ulangan nilai-nilai saya jelek. Saya akui saya memang bodoh. Saya idiot, mungkin seharusnya saya masuk SLB.”

“Kamu salah! Setiap manusia normal itu pasti pintar, termasuk kamu. Di samping itu semua manusia juga terbatas. Mungkin aja kamu terbatas dalam pelajaran-pelajaran yang nilainya jelek itu, di sanalah Allah menentukan letak keterbatasan kamu. Tapi Allah Maha Adil, dia juga pasti udah menentukan keunggulan-keunggulan seseorang, termasuk kamu. Pasti kamu punya keunggulan yang mungkin aja itu hanya milik kamu, dan orang lain nggak bisa menyaingi kamu dalam hal itu. Tugas kamu kemudian adalah bekerja keras untuk menemukannya, setelah itu asah dan kembangkan. Dan semua orang nggak akan bisa mengalahkan kamu.”

Teguh diam saja, dia memperhatikan kata-kata Ibu Sadiah benar-benar, seolah-olah harta karun yang dicarinya selama ini terletak pada untaian kalimat-kalimat Ibu Sadiah.

“Kamu tahu, ada seorang pengusaha besar yang namanya Lukman Arif?” Lanjut Ibu Sadiah. “Dia cuman lulusan SD, nggak pernah sama sekali merasakan duduk di bangku kuliah. Kalau disodorkan soal ujian SMA Ibu yakin dia nggak bisa menyelesaikannya. Di situlah keterbatasan dia. Tapi Allah Maha Adil, Dia memberikan kehebatan mengelola keuangan dan berbisnis kepada Lukman Arif sampai dia bisa membangun perusahaan besar yang mempekerjakan banyak sarjana di dalamnya. Nggak ada manusia yang bodoh, Teguh, yang ada adalah orang-orang yang unggul di suatu bidang, dan terbatas di bidang-bidang yang lain. Sekarang apakah kita mampu menemukan keunggulan-keunggulan kita itu, dan memilih serta terus mengasahnya? Sebenarnya kamu cerdas, cerdas sekali.”

Senyum merekah di bibir dan hati Teguh. Betapa hari itu menjadi hari yang bersejarah baginya. Ternyata masih ada orang yang sudi menghargainya. Memandang bahwa dia memiliki nilai dan tidak merendahkannya. Secercah cahaya terbit menyinari tubuhnya yang lebam-lebam dan membiru.

“Terima kasih, Bu, tapi apakah ini nggak terlalu berlebihan?” Katanya. Tanda tanya masih memecut punggungnya.

“Ibu juga nggak sembarangan menawarkan lomba ini sama kamu. Ibu sebenarnya terus memantau perkembangan kamu dan siswa-siswa yang lain dari ulangan-ulangan dan tugas-tugas yang Ibu kasih. Sebenarnya yang Ibu mau bukan tugas asal selesai dikerjakan saja. Tapi dikerjakan dengan hati yang tulus, maksimal, dan serius. Nilai kamu di pelajaran Ibu juga lumayan, dan kamulah yang ibu pilih untuk mengikuti lomba ini. Hadiahnya juga lumayan lho. Juara satu dapet dua puluh juta dan novelnya akan diterbitkan oleh Mizan dengan royalti yang tinggi. Juara dua dapet lima juta, dan juara tiga dapet satu juta. Lumayan kan, kamu bisa lanjutkan kuliah dari hadiah itu. Selain itu…” Ibu Sadiah tiba-tiba tersenyum.

“Selain itu apa, Bu?”

“Sebenernya kemampuan menulis itu didapat dari sebuah perjalanan yang cukup panjang. Perlu kesabaran dan kesungguhan. Ibu tahu, kamu pasti rajin menulis, iya kan?? Ibu bisa tahu dari tulisan-tulisan kamu yang Ibu jadikan tugas. Tulisan kamu berbeda dengan tulisan-tulisan siswa-siswa lain. Tulisan kamu seolah-olah hidup, dan setiap orang yang membacanya akan menangkap makna yang dalam yang kamu sampaikan, dan pemilihan juga perangkaian kata kamu bagus sekali.”

Teguh tersipu malu dengan penjelasan Ibu Sadiah yang panjang lebar. Dia sudah terbang jauh ke angkasa.

“Ibu harap kamu mau mengikuti lomba ini. Ibu harap kamu nggak berhenti menulis. Karena Ibu melihat ada jiwa seorang sastrawan besar dalam diri kamu, dan kalau kamu berhenti menulis, umat manusia akan kehilangan seorang sastrawan besar itu.”

Kini Teguh tersenyum puas. Dia merentangkan sayapnya lebar-lebar. Sayap indah yang telah dirajut oleh Ibu Sadiah. Dia bermain-main di langit biru, mengejar cita-cita yang kini telah dimilikinya. Baru kali ini ada orang yang sudi percaya kepadanya.

“Terima kasih, Bu, saya mau,” kata Teguh dengan mantap.

“Bagus, segeralah cari ide cerita untuk novel kamu. Curahkan semua emosi, pikiran, kreatifitas, dalam karya kamu yang pertama ini. Buatlah novel yang penuh makna dan pelajaran hidup di dalamnya. Kamu memiliki itu semua, Ibu percaya itu. Dan Ibu siap mendukung apapun. Kalau kamu perlu uang, kamu tinggal bilang saja sama Ibu.”

Teguh mengangguk dengan semangat. Dia terus tersenyum. “Terima kasih sekali, Bu.”

“Iya, sama-sama. Raih prestasi tertinggi. Jangan pernah menyerah. Maju terus pantang mundur.”

“Pasti, Bu. Saya mau pamit pulang dulu, Bu.”

“Oh, iya. Sebentar, jangan ke mana-mana ya.”  Ibu Sadiah masuk ke dalam kamarnya, beberapa detik kemudian dia keluar lagi dengan menenteng sepucuk amplop putih dan menyodorkannya kepada Teguh. “Ini buat ongkos dan jajan.”

Teguh bengong saja menatap amplop itu.

“Ayo, ambil.”

“Iya, terima kasih, Bu,” tangan Teguh terangkat ragu-ragu hendak meraih amplop itu.

“Udah ambil aja,” Ibu Sadiah menjejalkan amplop itu ke dalam tangan Teguh.

Hari itu berubah menjadi hari yang paling membahagiakan. Teguh menyadari sesuatu di dalam hatinya, benarlah apa yang telah dian katakan, ada rencana Allah yang paling indah, selama kita mau bersabar.

000

Angin pelan merayu. Teguh berdiri tegak di atas batu karang halus, tempat dia selalu datang. Bukit di belakang rumah itu bisu, tapi jadi saksi yang setia. Seragam putih abu-abunya berkibar diusap angin. Rambutnya bergoyang pelan menikmati langit biru keunguan. Perjalanan hidup penuh rahasia, dan kesabaran adalah anak kuncinya. Senyum yang terkembang itu tak mau hilang, kebahagiaan melayang-layang.

Teguh berdiri di batu karang, menatap jauh ke ujung langit, ke tempat pertemuan udara dan pepohonan. Di bawah kendaraan ramai. Rumah-rumah kecil berserakan tak beraturan.  Bukit berjajar dari utara ke selatan. Dan jemarinya yang rapuh hendak menyentuh awan. Angin pelan merayu.

Teguh merentangkan tangannya lebar-lebar. Angin bertiup makin damai. Ilalang tersibak menyaksikan, debu melayang menghanyutkan. Teguh menarik napasnya dalam-dalam dan berteriak kuat-kuat.

“SAYA AKAN JADI PENULIS BESAAAAARRRR.”

Menghirup napas lagi.

“SAYA BERSUMPAH AKAN TERUS MENULIS SAMPAI SAYA TIDAK BISA MENULIS LAGI….”

“AAAAARRRRGGGHHH…”

Tertancaplah sudah. Cita-cita itu tertancap di puncak bukit. Menerobos sampai ke dasar bumi. Alam semesta mendengarnya. Lalu angin menerbangkan helai cita-cita itu. Tinggi, tinggi, tinggi, makin tinggi, hingga tiba di ‘Arasy, di hadirat Ilahi Robbi.

Rasa syukur di hati Teguh menguap. Dipersembahkannya dalam keindahan kepada Tuhan. Baru dia sadari Allah begitu baik. Semua yang dianugerahiNya adalah keindahan, walaupun pahit dan menyakitkan. Sebab selalu ada kebaikan yang dia persiapkan. Dia adil. Ya, Dia Maha Adil. Detik itu juga dia berjanji, tidak akan merasa kecewa atas apapun pemberianNya. Hanya rasa syukur saja yang akan dia naikkan kepada Allah.

Teguh duduk bersila, dia buka ritsleting tasnya, mengambil buku catatan hariannya yang bersampul putih. Diraihnya pula pensil mekaniknya, lalu menulis. Dia ceritakan apa yang terjadi hari itu. Dia masukkan lagi catatan harian itu ke dalam tasnya, dan perhatiannya terusik. Dia melihat majalah yang dipinjamnya dari Dian. Dia bolak-balik halamannya, hingga agak ke tengah dia baca sebuah judul yang sebenarnya biasa, tapi dia tertarik untuk membacanya, judul artikel itu, Prang Atjeh.

Di tengah-tengah artikel itu dia temukan sebuah syair. Namanya syair dododaidi. Sebuah syair penuh pesona yang menggambarkan kegigihan dan keteguhan ibu-ibu Aceh, yang rela melepas putera-puterinya berangkat berperang membela negeri dan agama. Ketika dia membaca syair itu, Tuhan membukakan pintu petunjuk seluas-luasnya. Langsung terhampar di hadapan matanya sebuah ide cerita.

Senyum terkembang lagi. Dia rapikan semua bukunya ke dalam tas, lalu berlari pulang menuruni bukit itu sambil memekik keras-keras kegirangan. Dia terus berlari, terus berlari. Tak dipikirkannya lagi tanah yang landai, dia telah terbiasa naik turun bukit itu. Hari itu tombak tujuannya telah ditancap dalam-dalam. Sumpah suci sudah diikrarkan.

000

Sejak di depan pintu rumah Teguh sudah tak sabar mengetuk pintu. Jantungnya berdebar-debar, napasnya cepat tak karuan. Dia terus tersenyum, sebenarnya menahan agar tidak tertawa keras-keras. Dia gembira tak terkira.

“Assalamualaikum, Ibu, Buuu, Ibu… ke mana sih?” Teguh terus memanggil. Dia tak sabaran. Tangannya terus mengetuk.

Akhirnya pintu pun terbuka, Teguh langsung mencium tangan ibunya dan melompat-lompat kegirangan. Dia genggam kedua belah tangan ibunya seolah-olah berdansa, dan masuk ke rumah bersama-sama.

“Teguh jadi penulis, Buuu… Teguh akan jadi penulis. Jadi penulis…”

“Teguh apa-apaan sih?? Kamu kenapa??” Ibunya penasaran tapi tak kalah bahagia.

Mereka duduk di sofa ruang tamu.

“Teguh mau jadi penulis, Bu, Teguh mau nulis novel.”

“Penulis??”

“Iya, Bu,” mata Teguh berbinar-binar. Dia menceritakan semuanya seolah-olah kata-kata tak muat lagi di mulutnya. “Guru Teguh bilang Teguh bisa jadi penulis besar. Teguh hebat dalam menulis, Bu. Kata guru Teguh ada lomba nulis cerpen untuk anak SMA seluruh Indonesia. Teguh disuruh ikut lomba itu. Teguh harus nulis novel untuk lomba itu.”

“Alhamdulillah, Teguh harus bersyukur. Semuanya pemberian Allah.”

“Teguh akan jadi penulis besar. Karya Teguh akan dibaca semua orang. Teguh minta doa restu dari Ibu.”

“Ibu selalu doain Teguh, semoga cita-cita Teguh tercapai. Ibu bangga sama Teguh apapun adanya Teguh.”

“Terima kasih, Bu,” dan kebahagiaan itu bertambah-tambah. Rahmat Tuhan menyeruak dari rumah sederhana itu. Tuhan maha adil, maha mengetahui.

“Oh iya, ini buat Ibu,” Teguh teringat sesuatu. Dirogohnya saku celananya, mengambil amplop yang tadi diberikan Ibu Sadiah. Diserahkannya amplop itu kepada ibunya.

“Apaan ini?” Ibunya Teguh terpana, seolah-olah amplop itu berisi nyawanya. “Apaan ini, Nak?”

“Ambil aja, Bu.”

Tangan ringkih yang biru lebam itu mengambil amplop putih di tangan Teguh dan membukanya. Amplop itu ternyata berisi uang seratus ribu Rupiah tiga lembar. Tangan perempuan itu gemetar saat memegang uang itu. Mata Teguh melotot, dia pun tak percaya.

“Kok uanganya banyak?? Teguh dapet dari mana??”

“Tadi Ibu Sadiah yang ngasih. Sekarang Teguh kasih aja ke Ibu, buat belanja.”

“Alhamdulillah,” katanya. Didekapnya uang itu di dadanya, menguapkan syukur kepada Allah.

“Yaudah, Bu, Teguh mau siapin tulisan dulu ya. Teguh jadi penulis besar nih, Bu,” dia tersenyum lebar kepada Ibunya.

000

Jam sekolah telah usai. Semua siswa di kelas itu membubarkan diri. Mereka asyik dengan dunia mereka sendiri-sendiri. Teguh berjalan di koridor kelasnya, langkahnya agak cepat, karena dia mengejar seseorang.

“Dian, tunggu,” panggilnya. Ternyata dia mengejar Dian. Gadis itu menoleh dan tersenyum kepadanya. “Saya mau ngembaliin majalah kamu.”

Teguh menyerahkan majalah yang kemarin dipinjamnya kepada Dian. “Terima kasih ya, sekarang saya lagi nulis sebuah novel untuk ikut lomba nulis novel di Bandung. Saya dapet inspirasi dari majalah kamu. Mohon doa ya.”

Gadis pendiam itu hanya tersenyum dan mengangguk, padahal bergolak banyak hal di hatinya. Pipinya merona merah. Teguh membalas senyum manis gadis itu.

“Terima kasih, assalamu’alaikum,” Teguh berbalik dan pergi. Dia tak kuat bertahan berhadapan lama-lama dengan gadis yang dikaguminya itu. Dia malu.

Teguh menyusuri koridor lagi, menuju ruang guru. Dia hendak menemui Ibu Sadiah.

“Saya sudah dapet ide cerita, Bu,” kata Teguh saat berhadapan dengan Ibu Sadiah.

“Wah, Ibu nggak nyangka, cepat sekali,” Ibu Sadiah berseri-seri. “Apa ide ceritanya.”

“Saya akan buat novel tentang Perang Sabil di Aceh abad 19. saya dapet inspirasi tentang cerita itu dari majalah punya Dian. Saya baca artikel tentang Perang Aceh. Perang itu adalah perang besar antara Kesultanan Aceh melawan Belanda. Saya ingin menggambarkan bagaimana gigihnya perjuangan orang Aceh pada masa itu dalam membela agama dan negerinya. Saya juga berencana untuk memasukkan kisah-kisah cinta di dalamnya.”

Ibu Sadiah tersenyum lebar. “Wah kamu mau nulis fiksi sejarah ya. Kalau menurut Ibu, fiksi sejarah itu adalah salah satu genre fiksi yang cukup sulit untuk digarap, karena kita harus menyesuaikan alur cerita dengan peristiwa-peristiwa sejarah. Wah kamu hebat.”

“Secara global saya udah tahu bagaimana langkah-langkah saya menggarap novel ini. Seolah-olah kemarin itu semuanya langsung terpampang di hadapan saya. Pertama-tama saya akan mencari sumber-sumber sejarah yang menceritakan Perang Aceh agar saya mendapatkan gambaran yang lebih detil. Saya akan cari di perpustakaan dan sumber-sumber di internet.”

“Ibu bangga sama kamu, Ibu percaya novel kamu pasti luar biasa. Terus udah nemu judulnya?”

“Judulnya Sabil, Bu.”

“Sabil? Sabil…Sabil… wah bagus sekali. Pasti sukses, insya Allah.” Ibu Sadiah menyemangati.

“Terima kasih banyak, Bu,” kata Teguh tulus. “Ibu udah membantu saya menemukan sesuatu yang berharga dalam diri saya. Sebelum ini saya hanya merasa saya adalah orang bodoh yang nggak berguna.”

Ibu Sadiah tersenyum bijak. “Allah itu Maha Adil, Teguh. Kita harus bersyukur atas apapun yang Dia berikan kepada kita. Karena pasti di dalamnya mengandung kebaikan yang melimpah ruah.”

Teguh mengangguk memahami. “Saya berangkat dulu, Bu, saya mau ke perpustakaan.” Dia mohon diri.

“Tunggu dulu,” Ibu Sadiah menahan Teguh. Dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah tas hitam tipis berbentuk persegi. “Ini buat kamu, pasti kamu perlu.”

“Apa ini, Bu?”

“Buka aja.”

Dia menggeser ritsleting tas itu dan tersembullah sebuah laptop hitam berkilauan di dalamnya. Teguh melotot dan menganga tak percaya. “Ini laptop Bu??”

“Iya, memang laptop, itu Ibu hadiahkan buat kamu. Kan sebentar lagi kamu akan jadi penulis besar. Penulis ya pasti butuh laptop dong.” Ibu Sadiah tersenyum lebar.

“Terima kasih banyak, Bu, terima kasih.” Teguh meraih tangan Ibu Sadiah dan menyentuhkannya ke dahinya dengan khidmat. Bersyukur kepada Allah sebab telah menganugerahinya malaikat-malaikat bertubuh manusia.

000

Matahari berganti bulan. Siang ditukar malam. Waktu mengalir. Jarum jam berdetak. Teguh menulis novelnya dengan penuh minat. Dia hampir-hampir tak pernah berhenti menulis novelnya setiap hari. Kalau pensil mekaniknya sudah digenggam, kata-kata sudah diukirkannya, sebagian jiwanya tumpah di atas kertas. Dia gambarkan perang aceh dengan begitu dahsyat dan mempesona. Bagaimana jahat dan bengisnya penjajahan, kegigihan para pejuang, derita para pengungsi, dan kokohnya keyakinan. Dia tebarkan berjuta kebaikan dalam tiap jengkal kalimatnya yang panjang. Dia luruskan hatinya, dia kokohkan niatnya, bahwa dia menulis adalah untuk jadi orang yang lebih baik lagi, serta agar dia bisa berbagi kebaikan lebih banyak lagi dengan semua orang yang membaca tulisannya. Dia ingin membuat ibunya bangga memiliki anak seperti dirinya, sebab dia malu setiap hari hanya menimpakan aib dan cela. Kalau Tuhan telah memberinya sedikit kelebihan dalam merangkai kata-kata, maka dia akan jadikan hal itu sebagai cita-citanya. Dia akan bertekad untuk terus kokoh berdiri di atas jalan itu sampai kematian menjemputnya. Dia akan bela cita-citanya habis-habisan.

Setiap kali menulis, emosi Teguh seolah diaduk-aduk ombak lautan. Kalau peperangan yang dia ceritakan, semangatnya memuncak ke ubun-ubun. Kalau kepedihan yang dia tuliskan, air matanya berurai menangisi apa yang dia tulis. Dia tidak terlalu peduli lagi pada yang lain, kecuali menulis. Fokus dan konsentrasinya tak terkalahkan. Kehidupan jadi lebih ringan dia jalani. Tuduhan, makian, dan hinaan orang dia hadapi dengan senyuman. Dia tidak lagi terlalu menyeriusi pelajaran-pelajaran di sekolahnya. Dia hanya belajar ala kadarnya dan mengerjakan PR-PR saja. Sebab dia tahu semua itu bukan jalannya, dan dia hanya ingin berkhidmat di atas jalannya, dia sudah serahkan hidup dan segala miliknya untuk jalan cita-citanya itu, menjadi penulis.

Ketika masa-masa Ujian Nasional semakin dekat, aktivitasnya menulis bukan semakin kendur, tapi malah semakin kuat. Dia tak terlalu memperhatikan ujian itu, yang dia tahu hanya menulis. Yang ada di kepalanya hanya satu hal sederhana, dia ingin menjadi penulis, maka yang harus dia lakukan adalah menulis sebanyak-banyaknya dan membuat karya besar.

Hari itu seperti biasa, Ibu Maryati berdiri di depan kelas, membagikan hasil nilai ulangan matematika. Dan seperti biasa, yang paling akhir dipanggil untuk menerima hasil ulangan itu adalah Teguh. Kalau dulu wajahnya tertunduk lesu dan mentalnya hancur berantakan, sekarang dia tersenyum manis pada Ibu Maryati yang berwajah masam itu. Ibu Maryati berjengit keheranan melihat Teguh.

“Ngapain kamu cengar-cengir kaya gitu?” Semburnya. “Ulangan dapet 2,5 aja cengar-cengir. Nggak tahu malu amat. Dasar idiot.”

“Nggak apa-apa, Bu, saya cuman seneng aja,” Teguh menaikkan kaca matanya dengan telunjuknya, tetap tersenyum.

“Cuman dapet 2,5 kok seneng,” Ibu Maryati tertawa terbahak-bahak, memicu ledakan tawa di kelas itu, kecuali Dian. Malah gadis itu yang merasa sakit hati dengan perlakuan yang diterima Teguh.

“Sekarang mendingan kamu belajar di luar. Anak idiot nggak mungkin belajar matematika.”

“Terima kasih, Bu.” Teguh berjalan keluar menerima nasibnya. Tapi ketika dia sampai di ambang pintu dia berhenti dan berbalik menghampiri mejanya. “Maaf, Bu, saya kelupaan sesuatu.”

Teguh membuka tasnya dan mengambil sebuah kantung foto kopi berisi tumpukan kertas. Semua orang melongo melihat Teguh, termasuk Ibu Maryati. Dengan menenteng kertas-kertas itu Teguh berjalan keluar kelas. Duduk bersila di koridor depan kelasnya, menggelar sehelai kertas dan menulis.

Ibu Maryati terusik dengan apa yang dilakukan Teguh, dia melangkah keluar kelas dan berdiri di hadapan Teguh sambil berkacak pinggang. Dia rampas kertas yang sedang ditulisi Teguh lantas dia remas-remas dengan kedua belah tangannya. Bibirnya berkedut tanda kesal. Disambarnya pula kantung kertas milik Teguh. Dia mendekati tempat sampah di koridor itu dan dia hempaskan kertas-kertas itu di sana sambil menepuk-nepuk tangannya. Semua siswa di kelas itu melongok dari jendela, ingin mengetahui lebih jelas apa yang terjadi.

Ibu Maryati hendak memasuki kelas lagi, tapi ketika dia akan melewati ambang pintu, Teguh telah berdiri di sana menghalangi jalannya. Tangan Teguh terkepal gemetar. Alisnya melengkung. Dahinya berkerut kelas. Matanya menatap tajam pada mata Ibu Maryati. Guru dan murid itu berdiri berhadap-hadapan.

“Saya akui saya memang bodoh, saya terima itu. Tapi saya tidak bisa menerima ada seorang manusia menghina manusia lain. Dan anda tidak pantas menjadi guru saya, karena anda tidak mampu mengajari diri anda sendiri.” Suara Teguh tegas dan lancar.

“Saya nggak mau lagi diajar sama Ibu,” tiba-tiba Dian sudah berdiri di samping Teguh. Dia menatap Ibu Maryati dengan sorot mata penuh kekecewaan.

“Saya juga tidak mau diajar lagi sama Ibu,” sekarang Risky sang ketua kelas angkat bicara. Dia berdiri di sebelah Dian.

Sedetik kemudian semua siswa keluar dari kelas itu dan mengelilingi Ibu Maryati, mereka semua menyatakan tidak mau lagi diajari Ibu Maryati. Tatapan penuh kekecewaan puluhan pasang mata seolah menikam sekujur tubuhnya. Ekspresi wajah Ibu Maryati berubah drastis, penuh penyesalan dan rasa bersalah. Dihantam rasa malu, dia kabur dari kelas itu menuju ruang guru.

Tiba-tiba sorak-sorai menyeruak, seluruh siswa di kelas itu mengelu-elukan Teguh. Mereka menepuk-nepuk bahu Teguh sambil mengacungkan kepalan mereka. Dia dianggap sebagai pembebas kelas itu dari teror monster yang berwujud guru matematika. Dari jendela kelas-kelas yang lain menyembul kepala para siswa, ingin mengetahui apa yang terjadi. Sehari kemudian kepala sekolah memecat Ibu Maryati atas tuntutan Teguh dan teman-teman sekelasnya. Itulah balasan yang setimpal.

000

Masa-masa Ujian Nasional pun hampir tiba. Teguh hampir-hampir tidak pernah belajar untuk mempersiapkan ujian itu. Yang ada di dalam benaknya hanyalah menulis dan terus menulis. Bagaimana agar dia bisa menyelesaikan novelnya yang telah jadi fenomena di alam pikirannya. Entah kenapa dia tidak takut. Tak pernah dia merasa setenang dan sebahagia itu di dalam hidupnya. Semuanya datang setelah dia temukan cita-cita dan tujuan hidupnya. Dia terus menulis, bahkan hampir tak pernah berhenti. Kadang-kadang jari manisnya bengkak dan telapak tangannya kembang-kempis, baru dia berhenti. Besoknya semua itu diulanginya lagi, dari waktu ke waktu. Hingga jemarinya berubah mengeras dan tak pernah bengkak-bengkak lagi. Dia melaporkan setiap perkembangan tulisannya kepada Ibu Sadiah yang akan dengan senang hati dan bangga menilai serta mengomentarinya.

“Ternyata saya kalau menulis nggak bisa langsung mengetik di laptop, Bu. Saya harus tulis dulu pakai tangan, baru keluar semua ide cerita, habis itu baru saya ketik pakai laptop.” Kata Teguh pada suatu ketika di rumah Ibu Sadiah. “Mungkin akan makan waktu lama ya, Bu?”

“Setiap penulis memang punya gayanya masing-masing dalam menulis. Mungkin gaya kamu seperti itu. Nikmatilah gaya kamu sendiri. Jangan terlalu banyak berpikir yang lain. Karena nanti semua itu hanya akan menghambat langkah kamu. Dengan gaya menulis seperti kamu itu Ibu rasa nggak masalah. Jangan pikirkan cepat atau lambatnya, yang terpenting adalah kamu rajin mengerjakannya. Harus serius, dengan penuh minat dan semangat, dan nanti tulisan kamu akan memiliki hidup, seolah-olah ada roh di dalamnya. Dan Ibu lihat tulisan-tulisan kamu seperti itu.

“Terima kasih ya, Bu,” mata Teguh berbinar-binar. “Saya beruntung.”

“Iya, begitulah seharusnya kita memandang hidup kita, penuh dengan rasa syukur atas apapun yang diberikan Allah kepada kita.”

Ibu Sadiah menatap Teguh seolah menatap puteranya sendiri. Dia sudah bertekad untuk menolong anak itu semampunya karena tanpa sepengetahuan siapa pun, Dian telah menceritakan semua yang terjadi pada Teguh kepadanya.

“Terima kasih, Bu.”

“Waduh, kamu kok bilang terima kasih terus?”

“Sebelum ini…” Teguh menunduk. “Tidak ada yang menghargai saya, kecuali Ibu saya. Ibu mau menghargai saya, mau membantu saya. Saya bersyukur sekali.”

“Begitulah seharusnya kita hidup, saling menghargai dan menghormati. Sebenarnya nggak ada seorang pun yang berhak menghina orang lain, karena kadang-kadang apa yang dihinakan orang terhadap kita adalah hal-hal yang nggak bisa kita pilih. Kita menghina seseorang karena dia sumbing bibirnya, misalnya. Apakah orang itu mau bibirnya sumbing? Dia nggak bisa memilih bibirnya sumbing atau nggak. Begitu juga dengan orang yang cantik atau tampan. Apakah mereka memilih untuk jadi cantik atau tampan? Lantas kenapa mereka bisa menghina orang hanya karena itu? Makanya orang yang suka menghina orang lain itu sebenernya orang bodoh. Memprihatikan sekali orang-orang kaya gitu.”

“Iya, Bu, saya mengerti.”

“Setiap kita punya kelemahan yang dianugerahi Allah, dan kita harus bersabar atas kelemahan-kelemahan itu, terus membuatnya jadi lebih baik. Terus bekerja keras.”

Hidup terus mengalir bersama-sama nasihat, teduh dan segar buat jiwa-jiwa yang kehausan.

000

Subuh dihamparkan Tuhan bersama langit yang biru tua, dan awan kelabu berat. Sinar datang tak lama lagi, hari baru akan digelar bumi. Jemari Teguh gemetar di meja tulis bututnya, menulis satu kata: tamat, pada novelnya. Dia duduk terpaku menatap tumpukan naskah yang telah dia tulis, hasil kerja kerasnya berbulan-bulan kini telah terhampar di hadapannya. Dalam waktu hanya tujuh bulan dia berhasil menulis kurang lebih dua juta karakter dengan tangan dan tenaganya sendiri. Dan kini dipandanginya hasil kerjanya itu. Dia telah menjadi penulis. Ya, dia telah menjadi penulis. Tiba-tiba air matanya berlinang. Dia benar-benar tak menyangka bisa menyelesaikan karya agungnya itu. Dia bangkit dari kursinya, dan bersujud kepada Allah, bersyukur sebab Dia telah memberi kekuatan tak terhingga. Dia rapikan semua naskah dan laptopnya, bergegas mandi untuk berangkat sekolah. Dia harus selalu berangkat lebih pagi, sebab dia harus jalan kaki ke sekolah. Ibunya sudah berangkat berdagang keliling, berdagang kue. Dia belum sempat mengatakan kepada ibunya bahwa novelnya telah selesai. Hari itu juga akan dia serahkan novelnya itu kepada Ibu Sadiah. Dia bergegas mempersiapkan diri.

Hari itu seharusnya Ibu Sadiah masuk mengajar pada jam pertama, tapi dia tak masuk karena sakit. Ada kekhawatiran bangkit di hati Teguh, dia berdoa untuk kesehatan Ibu Sadiah dan memutuskan untuk menengok gurunya itu sambil menyerahkan hasil kerjanya.

“Dian, terima kasih banyak ya,” Teguh sedang berhadapan dengan Dian di koridor depan kelas sepulang sekolah. “Novel saya udah selesai dan terima kasih buat semua kebaikan Dian.”

Gadis manis itu hanya menunduk dan tersenyum, pipinya merah merona. Dia hanya mengangguk, tak keluar sepatah kata pun dari sela-sela bibir tipisnya yang jarang bicara.

“Saya duluan, assalamu’alaikum,” Teguh berbalik dan pergi. Seperti biasa, dia tak kuat berhadapan lama-lama dengan Dian.

“Teguh tunggu,” tiba-tiba Dian menghentikan langkah Teguh. Dia menoleh. “Saya bangga sama kamu.”

“Terima kasih, kamulah yang membuat saya mampu menyelesaikan semua ini,” Teguh pun pergi.

“Wa’alaikumussalam,” bisik Dian.

Setengah jam kemudian sampailah Teguh di rumah Ibu Sadiah. Ibu Sadiah membukakan pintu dan tanda-tanda bahwa guru yang baik itu sedang sakit langsung jelas terlihat. Wajahnya pucat, dia memakai baju hangat, dan ada dua helai plester hangat yang tertempel di pelipisnya. Senyum langsung terpampang di wajah Ibu Sadiah.

“Nggak usah repot-repot, Bu,” kata Teguh saat dia sudah duduk di ruang tamu. Ibu Sadiah muncul dari belakang dengan membawa sirup orange di atas nampan.

“Ah, nggak apa-apa, nggak repot kok,” Ibu Sadiah duduk di sofa berhadapan dengan Teguh.

“Ibu sakit apa? Udah berobat?”

“Nggak parah kok, Ibu Cuma punya darah rendah aja, jadi suka agak pusing, kalau jalan takut jatuh. Tapi udah minum obat, besok juga sembuh.”

“Iya, semoga cepet sembuh ya, Bu,” Teguh berdoa.

“Terima kasih, ya,” sahut Ibu Sadiah, “Kamu jangan kuatir.”

“Selain mau menengok Ibu, saya punya kabar gembira, novel saya udah selesai, Bu.” Teguh tersenyum lebar.

“Kamu serius? Udah selesai?” Wajah Ibu Sadiah yang pucat mendadak merona merah. Seakan-akan pembuluh darahnya yang tadi tersumbat lancarlah sudah. Matanya yang sayu berbinar-binar.

“Iya, Bu, alhamdulillah, berkat bantuan dan bimbingan Ibu.”

“Alhamdulillah ya Allah…”

“Semuanya ada 30 bab dan 600 halaman.”

“Wah tebal sekali, Ibu nggak nyangka, Ibu percaya pasti novel kamu bagus sekali. Dari perkembangan yang kamu laporkan selama ini Ibu bisa melihat hal itu.”

“Terima kasih, Bu,” dan kata-kata itu tak berhenti terucap dari mulutnya.

000

Teguh melangkah di sebuah jalan yang sepi, malam sudah menjelang. Seharian dia merawat Ibu Sadiah, mengantarkan ke dokter, membuat obat, menyiapkan makanan, dan jadilah Ibu Sadiah seolah-olah ibunya sendiri. Dia terus berjalan, jalan yang selalu dia lewati kalau hendak pulang. Rumah-rumah di sekitarnya sudah sepi, dan lampu pijar yang menggelantung di hadapannya menerangi redup malam yang menyimpan rahasia. Selalu menyimpan rahasia.

Beberapa meter di depan adalah perbatasan kampung. Jalan di sana sepi dan rumah-rumah mulai jarang. Baru akan ditemukan lagi rumah kalau sudah berjalan 100 meter di depan. Teguh sudah biasa melewati jalan itu, hampir semua orang di sana mengenalnya. Kakinya cepat membawa dirinya, dan di dalam keremangan cahaya lampu di depan, matanya menangkap suatu ketidakberesan.

Ada sebatang pohon yang di dahannya tertempel sebuah lampu lima watt. Di bawah sinar lampu itu seorang perempuan sedang dianiaya dua orang pria. Perempuan itu memakai kerudung panjang dan seragam SMA dalam cahaya remang-remang. Dua orang pria itu berusaha menaklukkan sang perempuan yang berusaha memberontak. Laki-laki yang satu mencengkeram dari belakang. Laki-laki yang lain menggerayangi dari depan. Mereka membekap mulut perempuan itu. Dia berjuang sekuat tenaga mempertahankan kehormatannya.

“WOOOYYY… BERHENTI.” Teriak Teguh sambil mengacungkan telunjuknya. Dia berlari sekencang-kencangnya ingin menyelamatkan perempuan itu. Ketika jaraknya semakin dekat, tahulah dia bahwa perempuan itu adalah, Dian.

Bola mata Dian basah karena air mata. Mulutnya dibekap dari belakang. Alisnya mengerut mengiba. Dia menatap Teguh, memohon pertolongan dalam sunyi. Teguh merenggut bahu laki-laki yang ada di depan Dian dan menghantam wajahnya dengan kepalannya. Lelaki itu terjengkang dirumput. Lelaki di belakang Dian menghempaskan tubuh Dian ke semak-semak lantas menabrakkan tubuhnya kepada Teguh. Mereka berdua terhempas bertindihan. Teguh melompat bangun dan menarik leher baju lelaki itu dan meninjunya. Tubuh lelaki itu terpental, mereka melarikan diri.

Napas Teguh tersengal-sengal, dia mendekati Dian yang bersandar di batang pohon itu sambil menangis. Dia memegangi lengannya yang kesakitan karena ditarik dari belakang. Dia menunduk meratapi nasibnya.

Tiba-tiba Teguh merasa lelah sekali, tubuhnya mendadak lemah kehilangan tenaga. Rasa sakit menjalar dengan cepat dari perutnya. Ketika Dian menengadah menatap Teguh yang berdiri di hadapannya, dia mendekap dadanya yang sesak, air mata berurai makin deras, sebab dia melihat sebilah pisau tertancap di perut Teguh. Darah merembes, menetes di pakaian seragam yang dikenakannya. Lingkaran merah di kain seragam itu makin lama makin lebar, beberapa tetes darahnya jatuh di bilah pisau yang tak kenal belas kasihan itu. Mata Teguh menatap pisau itu, bibirnya terkatup menahan sakit. Tenaganya dirampas, dia tumbang seperti batang pohon yang akhirnya rebah ditebang. Dian menangkap tubuh Teguh sebelum jatuh terhempas di tanah. Teguh terbaring di pangukuan Dian.

Bulir suci air mata Dian jatuh di wajah Teguh. Gadis itu menangis tersedu-sedu, tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Pandangannya melompat-lompat dari wajah Teguh, lalu kepada pisau yang menancap di perutnya. Tangannya terangkat hendak mencabut pisau itu, tapi dia tak sanggup.

Wajah Teguh mengejang menahan sakit, napasnya perlahan-lahan dan pelan, ada setetes darah mengalir dari sela-sela bibirnya. Matanya menatap wajah Dian, gadis yang telah begitu baik kepadanya, sudi mengalirkan air matanya yang suci demi dia, mau melindunginya dari angkara celaka, bersedia menghargainya saat semua orang menghina, dan dia bahagia sebab bisa turut melindungi kehormatan gadis itu. Senyum tipis terbit di bibir Teguh, ditentang setetes darah.

“Terima…kasih,” bisiknya. Dan air mata Dian tumpah ruah.

“Teguh, jangan bicara… kita ke rumah sakit… kamu pasti sembuh, jangan bicara,” namun suara Dian tercekat di tenggorokannya sebab apa yang dia lihat.

Cahaya mata Teguh makin redup, makin redup. Kelopak matanya menutup perlahan, dan menutup untuk selamanya. Senyumnya membeku, abadi, sebab nyawanya telah melayang pergi. Takkan kembali. Darahnya meleleh ke pangkuan Dian, memerahkan pakaiannya.

Bibir Dian gemetar menahan lara. Hatinya menggelora nestapa, tenggelam dalam malam yang menyembunyikan rahasia. Diusap-usap cahaya lampu yang kuning remang-remang. Dian menangis sejadi-jadinya.

“Teguh, Teguh,” panggilnya. Dia mengguncangkan tubuh Teguh yang diam saja, dan sadarlah dia, Teguh telah tiada demi melindungi kehormatannya. Dipeluknya tubuh Teguh erat-erat. Air matanya terus berurai bercampur darah. Dan malam tetap penuh rahasia… [The End] (Sayf Muhammad Isa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s