Upcoming The Chronicles of Draculesti [The Birth]


Episode 11

ELANG DAN SERIGALA

[Sekadar cuplikan untuk kawan-kawan]

Langit malam terhampar luas, menaungi bumi, menjadi selimut bagi orang-orang yang lelah. Lazuardi cerah tak berawan, kerlip bintang mendamaikan. Bulan yang terang sempurna mengawang-awang di lautan kelam, menjadi penerang yang menyejukkan. Hingga hari ini impian Usman menjadi bunga tidur seluruh sultan Usmani. Selalu dikenang dalam setiap desah napas, dan diperjuangkan dengan gigih, menaklukkan Konstantinopel.

Malam itu akan segera menelan Edirne, kota yang ditaklukkan sultan Bayazid sebagai batu tapal untuk menundukkan Konstantinopel. Ketenangan merambat di seluruh kota, anugerah Allah azza wa jalla. Namun ada satu orang di kota itu yang sedang gundah, Sultan Murad[1].

Dengan langkah yang gusar, sultan Murad mondar-mandir di depan pintu sebuah ruangan. Bagaimana mungkin ia tak gundah, sebab ia sedang menunggu istrinya, Valide Sultan Huma Hatun, melahirkan. Karena gejolak hatinya itu, ia hampir tak pernah duduk. Para pengawal tak berani berkata apa-apa, mereka hanya memerhatikan sultan mondar-mandir.

Malam itu, delapan tahun setelah pengepungan Konstantinopel yang dipimpinnya gagal, anaknya akan segera lahir ke dunia. Namun, kekhawatiran itu tak mau lepas dari hatinya. Kenapa yang ini lama sekali, gumamnya pelan.

Serban dan pakaian putih-putih yang dikenakan sultan Murad menambah keteduhan dirinya. Pada sebuah teras di depan ruangan persalinan itu ia menggelar sajadah. Karpet-karpet dan bantal-bantal empuk tersandar di sana. Ada sebuah lampu hias yang indah tergantung di langit-langit, cahaya lilin menerangi seluruh ruangan.

Sultan Murad mengetahui, hanya kepada Allah sajalah ia adukan semua kegundahan hatinya. Ia mendoakan keselamatan dan kelancaran untuk istrinya yang sedang melahirkan. Ia berdiri, ruku’, dan sujud kepada Allah. Ia menekur ke lantai, membaca ayat-ayat Allah yang suci. Proses kelahiran kali ini terasa lama sekali. Namun ia pasrahkan semua kepada Allah, sebab semuanya milik Allah dan semuanya akan kembali kepada Allah. Ketenangan telah menyelubungi hatinya, sebab kepasrahan itu adalah obat bagi jiwa. Apalah daya upaya manusia, dibandingkan dengan kuasa Allah azza wa jalla.

Ketika solatnya telah selesai, sultan Murad membaca Al-Quran. Entah mengapa, malam itu ia ingin membaca surat Al-Fath. Sultan Murad adalah seorang pemimpin yang mencintai ilmu. Ia telah menerjemahkan berbagai tafsir Al-Quran ke dalam bahasa Turki. Ia tahu persis apa makna dan kandungan surat Al-Fath itu. Berbagai janji Allah tentang kemenangan-kemenangan yang akan diraih kaum muslim termaktub di dalamnya.

Kitab Al-Quran yang mulia itu terbuka di pangkuan sultan Murad, ia membalik halamannya mencari-cari surat Al-Fath. Ketika ia temukan, ia tarik napasnya dalam-dalam, dan suaranya menggema di seluruh ruangan itu. Ia membaca ta’awudz, basmallah, lalu surah Al-Fatihah.

Dengan suaranya yang merdu, sultan Murad memulai bacaannya. Ayat pertama surat Al-Fath kabar dari Allah tentang kemenangan bagi kaum muslim. Innaa fatahna laka fathan mubina. Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Suara Sultan Murad terus mengalir, mendayu-dayu membuaikan asa kepada kemenangan. Tak ada siapapun yang menjadi sumber kemenangan dan keagungan, kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Doa-doa di hatinya dipanjatkan, sementara istrinya, Huma Hatun, sedang berjuang mempertaruhkan nyawa melahirkan anaknya. Sultan Murad terus membaca dengan syahdu. Ketika ia sampai pada ayat wa ukhro lam taqdiru ‘alayha qod ahathallahu biha. Wa kanallahu ‘ala kulli syay’in qodiiirrr, lamat-lamat suara tangis bayi terdengar di telinganya. Sultan Murad tertegun. Ia ulangi bacaannya pada ayat itu, dan dipahaminya maknanya. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Hati sultan Murad bertasbih, suara tangis bayi terdengar semakin nyaring. Anaknya lahir ketika bacaannya tiba pada janji Allah yang akan memberikan kemenangan dan penaklukan pada negeri-negeri yang lain. Sultan Murad mengakhiri bacaannya.

Dengan gembira sultan Murad bangkit berdiri, ia segera menghampiri kamar bersalin, dan menunggu di depan pintunya. Tak lama kemudian pintu itu perlahan membuka, keluarlah seorang wanita tua yang menggendong seorang bayi.

“Bayinya laki-laki, Sultan,” katanya sambil tersenyum bahagia. Ia menyerahkan bayi itu kepada sultan.

“Bagaimana istriku?” Tanya sultan.

“Alhamdulillah beliau sehat.”

“Alhamdulillah.”

Bayi yang dibalut dengan kain yang hangat itu tidur nyenyak dalam pelukan sultan Murad. Wajahnya yang masih merah menyiratkan kesucian. Sultan Murad tersenyum menatap putranya.

“Kunamai dia, Mehmed, agar dia menjadi orang yang terpuji di langit dan di bumi.”


[1] Sultan Murad yang ini adalah Sultan Murad II, ayahanda Sultan Mehmed al Fatih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s