HAM Di Manakah Kau berada?


Manis, sungguh manis sekali apa yang tertuang dalam Universal Declaration of Human Rights (UDHR) PBB. Deklarasi inilah yang secara global diakui oleh siapapun untuk menghormati segala hal yang berkaitan dengan hak-hak manusia yang paling mendasar. Di dalam pernyataan umum inilah termaktub 18 hak dasar manusia yang mesti diakui dan dihormati oleh siapapun. Wikipedia bahkan menyatakan bahwa hak-hak dasar ini dimimiliki oleh siapa saja sepanjang ia disebut sebagai makhluk bernama ‘manusia’.

Beberapa poin penting yang tercantum di dalam pernyataan umum ini adalah hak hidup, hak kemerdekaan dan keamanan badan, hak diakui kepribadiannya, hak mendapatkan perlindungan, hak mendapatkan kebangsaan, mendapatkan hak milik atas benda, dan hak bebas untuk mengutarakan pikiran dan perasaan, serta hak untuk memeluk agama.

Banyak pihak memuji UDHR ini, sebab ia akan bisa melindungi umat manusia secara global. Pada tanggal 5 Oktober 1995, Paus Yohanes Paulus II menyebut UDHR sebagai “salah satu ekspresi dari hati nurani manusia yang tertinggi.” Tanggal 10 Desember 2003, Marcello Spatafora yang mewakili Uni Eropa menyatakan bahwa UDHR adalah dokumen yang sangat berpengaruh dalam sejarah. Dokumen ini penuh dengan idealisme dan juga kebulatan tekad untuk belajar dari masa lalu dan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan Eleanor Roosevelt, pada tanggal 9 Desember 1948, mewakili negara adidaya Amerika serikat menyatakan bahwa dokumen ini adalah dokumen yang sangat bagus, dokumen yang hebat, dan diusulkan untuk memberikan dukungan penuh. UDHR ini akan menjadi Magna Charta Internasional seluruh manusia di mana pun.

Sayangnya, dokumen yang disebut-sebut sebagai dokumen yang paling berpengaruh dan paling hebat itu kini sudah tidak berharga lagi. Negara-negara yang dahulu menyepakatinya, merekalah yang paling sering menginjak-injaknya. Lihat saja, sudah berapa juta orang yang dirampas hak hidupnya oleh Amerika. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, kaum wanita, dan orang tua. Sudah berapa juta orang yang dirampas kesejahteraannya, karena perusahaan multinasional Amerika menguasai berbagai sumber daya alam di berbagai belahan dunia. Ke mana perginya itu hak asasi manusia?

Sudah ribuan orang tewas dibantai di Suriah, oleh rezim brutal Bashar al Assad, mana suara para pejuang HAM? Mana suara negara-negara kampiun HAM? Ribuan orang muslim Rohingya pun tewas dibantai oleh orang-orang Buddha di Myanmar, mengapa LSM-LSM HAM diam seribu bahasa? Kenapa negara-negara kampiun HAM tidak melakukan apa-apa? Tapi coba lihat ketika orang Kristen memalsukan tanda tangan untuk membangun gereja di Yasmin Bogor, kemudian mereka membawa isu itu ke dunia internasional, para pembela HAM langsung bersuara, kaum muslim dituduh tidak toleran. Kalau orang nonmuslim dicolek sedikit saja, para pejuang HAM langsung ribut. Gejala apa ini? Dulu Amerika membombardir Iraq alasannya karena HAM. Ketika mereka membumihanguskan Afghanistan salah satu alasannya juga HAM. Sadarlah kita sekarang, siapa gerangan makhluk bernama HAM itu. Dia cuma jadi alat legitimasi negara-negara besar untuk berbuat seenak perutnya sendiri. Dengan HAM itu mereka seolah  berlagak menjadi polisi dunia, dan berhak menggebuk siapa saja yang mereka kehendaki. Sudah saatnya kaum muslim membuka mata lebar-lebar dari tipudaya HAM. Hanyalah Islam yang wajib diperjuangkan, dan tegaknya Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah kelak yang akan mengembalikan hak seluruh kaum muslim dan umat manusia. [sayf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s