FIGHT FOR FREEDOM


Kemerdekaan (freedom) yang saya maksud dalam tulisan ini bukanlah hidup bebas sebebas-bebasnya dengan mengikuti kehendak sendiri. Kemerdekaan juga tidak saya maksudkan sebagai kebebasan untuk memutuskan nasib sendiri. Kemerdekaan menurut saya adalah bebas dari penjajahan (isti’mar). Untuk memaknai apa itu penjajahan, saya mengikuti definisi dari Imam Taqiyuddin. Penjajahan adalah setiap bentuk penguasaan dari suatu kalangan terhadap kalangan lain untuk diserap berbagai sumber daya yang mereka miliki. Sangat jelas terlihat bahwa penjajahan dasarnya adalah hawa nafsu. Perampokan besar-besaran atas satu bangsa terhadap bangsa lain. Dan penjajahan adalah saudara kembar dari kekejaman.

Setiap penjajahan pastilah kejam. Di sepanjang sejarah penjajahan itu telah sekian banyak darah tertumpah dan nyawa melayang hanya untuk nafsu. Terlebih lagi kaum muslim, dengan melemahnya dan kemudian runtuhnya Khilafah Islamiyah, kaum muslim selalu saja menjadi korban penjajahan. Nasib tragis itu selalu berulang, selalu terjadi, hingga hari ini.

Ketika Khilafah Islamiyah sudah mulai melemah, pada paruh kedua abad ke-19 M, tepatnya bulan Maret 1873, Belanda mengirimkan utusannya yang bernama Niuwenhujzen ke Aceh. Niuwenhujzen membawa sebuah surat yang amat mengerikan, ultimatum perang. Berbagai alasan mereka lontarkan untuk menutupi niat mereka yang sesungguhnya, menguasai Aceh. Belanda benar-benar tergiur pada Aceh yang tak ubahnya seperti berlian di ujung Sumatera. Aceh unggul hampir dalam segala, letak geografisnya, sumber daya alamnya, perdagangannya, dan banyak lagi. Hampir seluruh bagian pulau Sumatera telah mereka kuasai, yang belum hanya Aceh. Karena sultan Aceh, ketika itu Sultan Alaiddin Mahmud Syah yang didukung oleh para uleebalang dan ulama, menolak menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada awal bulan April 1873 datanglah angkatan perang Belanda yang sebanyak sekitar 3000 personil yang dipimpin oleh JHR Kohler.

Itulah awal dari penjajahan kejam yang dibentangkan Belanda terhadap muslim Aceh. Dan kekejaman itu tak terperi. Jika Belanda mencurigai ada pejuang yang bersembunyi di salah satu kampung, dan penduduk kampung itu tidak mau menyerahkan sang pejuang (tak peduli pejuang itu benar-benar ada atau tidak) maka seluruh kampung akan dibakar sampai habis, penduduknya dibunuhi tanpa pandang bulu. Pria, wanita, anak-anak, orang tua, disikat semua. Belanda juga tidak tanggung-tanggung dalam melakukan pengeboman dengan meriam.

Ketika pasukan Marsose merajalela di Aceh, ada seorang komandannya yang bernama Christoffel. Pasukan yang dipimpin oleh Christoffel ini dijuluki “kolone macan” karena keganasannya. Christoffel sendiri mendapatkan julukan yang kurang sedap, “tuan kulek”, sebab dia suka memerintah orang-orang kampung untuk ber-kulek, memiringkan sedikit kepala, kemudian dia memancungnya dengan pedang.

Pada pernyerbuan Van Heutsz ke Tangse pada tahun 1898, semua kampung dipandang sebagai garis pertahanan musuh, sehingga harus dihancurkan sampai rata dengan tanah. Snouck Hurgronje bahkan menyebutkan bahwa pasukan yang menyerbu Pidie pada bulan Juni 1898 sampai September 1898 memiliki hobi membakar dan merampok dan mereka gembira melakukan itu semua karena van Heutsz menyukainya.

Para prajurit juga memaksa penduduk untuk menjual ayam-ayam kepada mereka dengan harga seenak udel sendiri. Karena perbuatan itu yang susah pemerintah Belanda sendiri, pasokan ayam untuk Kutaraja (nama ini adalah nama yang diberikan Belanda untuk Banda Aceh setelah mereka menaklukkan kota itu pada Januari 1874) merosot drastis.

Untuk menahan para pejuang dan orang-orang kampung yang mereka curigai, prajurit Belanda menggunakan apa yang mereka sebut “kooi”. Alat ini berbentuk kotak dengan panjang 4 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 1 meter. Bisa dibayangkan bagaimana sempitnya kotak itu, parahnya lagi, di sekelilingnya dipasangi kawat berduri, dasarnya cuma dialasi pelupuh. Orang-orang yang dimasukkan ke dalamnya pastilah akan tergores kawat berduri, dan tertusuk-tusuk badannya. Apalagi Belanda sering kali memasukkan orang-orang ke dalam kooi dengan berdesak-desakan.

Dilaporkan pula terjadi apa yang disebut sebagai lichtvaardige menschenafmakerij (kebiasaan gampang membunuh manusia). Pernah terjadi, seorang civil gezaghebber (penguasa sipil) membunuhi penduduk kampung yang tidak berdosa, sebagai hukuman atas kerusakan sambungan telepon di sekitar kampung itu. suatu malam seorang letnan pengecut mengepung sebuah rumah yang diketahuinya berisi seorang perempuan yang baru saja melahirkan, bersama bayinya, dan dua orang bidan. Apa yang terjadi? Semua ditembak mati olehnya. Pada kali yang lain, sebuah patroli mengepung sebuah rumah yang mereka curigai terdapat para pejuang di dalamnya. Mereka berhasil membunuh pejuang itu, bersama dengan dua orang perempuan dan seorang anak perempuan tanggung. Anak perempuan tanggung ini ketika mendapat luka tembak berusaha melarikan diri keluar rumah. Sayangnya, komandan patroli itu menangkapnya dan melemparnya keluar (rumah Aceh biasanya rumah panggung). Saat anak itu terhempas di tanah, prajurit yang lain menembakinya.

Pada serangan Hendricus Colijn ke Gayo tanggal 21 Agustus 1902, telah terjadi keganasan di luar batas. Dia mengakui bahwa memang pada saat itu pasukannya mengganas, serdadu-serdadunya memenggal musuh yang sudah terluka dan tidak sanggup melawan. Dia juga mengakui telah terjadi pembunuhan terhadap pejuang yang sudah tertawan.

Seorang bekas perwira laut Belanda bernama Bosch mengirimkan surat kepada seorang anggota parlemen Belanda, surat itu kemudian disalin dan dikirimkan kepada Menteri Jajahan Belanda, di sana disebutkan bahwa militer Belanda telah melakukan kannibaal praktijken (praktik memakan orang).

Di mana pun penjajahan terjadi, polanya sama saja: kesewenang-wenangan, pembunuhan, pembantaian massal, pemerkosaan, perampasan, dan hal-hal yang semacam itu. Apa yang dilakukan Inggris di India dan di wilayah jajahannya yang lain juga begitu. Apa yang dilakukan Amerika di Afghanistan dan Irak juga begitu. Israel juga melakukan semua itu di Palestina.

Pada abad-abad belakangan ini berkembang pula penjajahan gaya baru (neo imperialisme). Tak ada lagi angkatan bersenjata, tak ada lagi senapan, tak ada lagi kekerasan, tak ada lagi orang asing yang menginjak-injak negeri kita, semuanya telah berganti. Persis seperti apa yang disebutkan imam Taqiyuddin dalam definisinya tentang penjajahan, bahwa penjajahan adalah setiap ‘penguasaan’ untuk dikeruk segala kepunyaan pihak terjajah. Saat ini kita dikuasai secara ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, dan undang-undang oleh kaum penjajah. Semua penguasaan itu kemudian membuat mereka dengan nyamannya mengeruk semua harta benda yang terkandung di negeri kita.

Orang-orang Aceh dahulu melakukan perlawanan besar-besaran terhadap kafir Belanda dengan apa yang mereka sebut sebagai Prang Sabil. Para mujahidin Afganistan dan Irak tak pernah berhenti berjihad melawan penjajahan kaum kafir. Begitu juga semua muslim di negeri-negeri yang lain. Mereka melakukan perlawanan dalam berbagai  bentuk, sebab penjajahan wajib dilawan.

Manusia hidup pasti melawan jika dijajah. Mereka yang diam berarti telah mati, walaupun mereka masih hidup!!! [sayf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s