Amerika Nomor Satu?


Ada suasana yang aneh ketika nama “Amerika” disebut. Seakan-akan segala bentuk kehebatan ada di sana. Terbayang betapa sejahtera dan majunya Amerika. Pendidikannya unggul, berbagai universitas top dunia ada di sana. Teknologinya maju, semua serba praktis dan nyaman. Militer dan kepolisiannya memiliki supremasi yang tinggi dan disegani, sehingga betapa aman dan nyamannya ada di sana, mereka pun seolah-olah berhak menentukan nasib dunia. Amerika punya Hollywood yang jadi kiblat perfilman dunia. Ada juga Massachusets Instute of Technology (MIT) yang jadi rujukan pendidikan teknologi. Ada juga Harvad University yang telah mencetak politisi kelas dunia. Perekonomian Amerika jadi standar perekonomian dunia. Amerika seolah-olah negeri impian.

Semua gemerlap itu kemudian membuat kita menjadi ciut. Kita merasa kecil dan lemah, sehingga apapun yang mereka inginkan dari kita, dengan tanpa ada pilihan lain, kita berikan. Berbagai sumber daya alam kita yang melimpah, kita berikan. Saat mereka ingin merenovasi gedung kedutaan dengan luas yang fantastis, kita juga membiarkannya. Padahal bisa jadi, setelah kedutaan mereka selesai direnovasi, angkatan perang mereka nongkrong di jantung negeri ini. Apapun yang mereka inginkan, kita berikan. Sehingga, sekadar berkata ‘tidak’ saja, kita tak sanggup. Kita telah merendahkan diri kita sendiri, dan memandang Amerika dengan begitu agungnya.

Padahal berbagai fakta membeberkan kepada kita bahwa Amerika tidaklah sehebat yang kita kira. Bulan Juni lalu, Pentagon mengeluarkan laporan yang dikutip situs independen icasualties.org, jumlah tentara Amerika yang tewas di Afghanistan sejak pertama kali mereka menyerang ke sana berjumlah 2000 personil. Angka ini cukup besar, mengingat lawan mereka hanyalah gerilyawan muslim dengan persenjataan ‘kuno’. Sebagian besar gerilyawan itupun hanyalah milisi yang tidak punya latar belakang militer. Mereka turun berperang hanya dengan bekal dorongan keimanan di dalam dada untuk melawan kezaliman Amerika. Karena utang yang sedemikian menumpuk, pemerintah Amerika harus menaikkan pajak untuk orang kaya. Hal ini mesti dilakukan karena pemasukan negara jauh lebih kecil daripada pengeluarannya. Data terakhir yang dikaporkan, posisi utang Amerika saat ini mencapai sekitar 14,3 triliun Dollar. Karena krisis ekonomi yang melanda Amerika, angka pengangguran penduduk usia kerja di negara adidaya itu mencapai 100 juta jiwa. Penelitian para profesor dari MIT pun menunjukkan data yang mencengangkan. Hampir 1 dari 2 warga Amerika atau sebanyak 46% meninggal dunia tanpa memiliki aset keuangan. Kalau pun punya, tidak lebih dari 10 ribu dollar AS. Survey lengkap yang dilakukan pemerintah Amerika mengungkapkan bahwa 20% perempuan Amerika mengaku telah diperkosa dan mengalami kekerasan seksual. Dengan demikian perempuan manapun yang hidup di Amerika akan selalu dihantui oleh pemerkosaan. Dengan demikian pemerintah Amerika telah gagal menciptakan rasa aman di tengah-tengah warga negaranya sendiri. Selain itu kepemilikan senjata api yang sangat mudah menjadi hal lain yang memperparah semua ini. Michael Moore dalam film dokumenternya, Bowling for Columbine, mengungkapkan bahwa berbagai jenis peluru dijual bebas di banyak minimarket yang tersebar di Amerika. Kalau sudah begini, tidak aneh jika banyak terjadi kasus penembakan. Lantas manusia macam mana yang bisa hidup nyaman di tengah-tengah kondisi seperti ini?

Jika semua borok Amerika diungkap, mungkin yang akan terjadi adalah keruntuhan Amerika itu sendiri. Dengan demikian janganlah memandang rendah diri kita sendiri. Kita adalah sebaik-baik umat, karena kita muslim. [Sayf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s