Goodbye Days


Ini hanyalah cerita. Sebuah cerita biasa. Namun jika kau memandang dari balik awan, maka akan kau temukan segalanya yang luar biasa. Di antara langit yang biru. Di balik hidup yang haru.

Nama anak muda belia itu: Raditya Hadrian Voyght. Semua orang biasa memanggilnya Radit. Di antara semua orang yang beruntung di dunia, mungkin dialah salah satu di dalamnya. Dia sempurna. Usianya baru 17 tahun, duduk di kelas 11 SMA Elit. Wajahnya tampan dengan hidung mancung dan mata biru serupa anak2 indo. Karena memang dia keturunan campuran Belanda-Indonesia. Ayahnya adalah orang Belanda, seorang CEO sebuah perusahaan industri terkemuka di Indonesia, yang masuk islam saat akan menikahi ibunya. Ibunya seorang dokter sekaligus direktris sebuah rumah sakit yang juga terkemuka. Dia masih salah satu keturunan raja2 Jawa yang masih tersisa. Satu hal yang dirasakan Radit yang jarang dirasakan anak2 orang kaya elit lainnya adalah keluarganya sangat harmonis. Orang tuanya tidak pernah terlihat bertengkar di hadapannya. Mereka selalu rukun. Mereka selalu berusaha untuk tidak menunjukkan perselisihan yang ada di antara mereka di depan anak semata wayangnya itu. Tubuh Radit sehat dan atletis, hasil dari aktifnya di ekskul renang dan taekwondo. Dengan tinggi 170 senti, dia digilai anak2 cewek di sekolahnya. Uang jajannya sangat banyak, bahkan sangat tidak masuk akal untuk ukuran anak sekolah. Dia tinggal di perumahan elit yang hobi penghuninya adalah beternak dan berganti-ganti mobil. Dia pun punya hobi yang sama. Tapi…ya, dan akan selalu ada banyak “tetapi” di dalam hidup yang melelahkan ini…Tetapi…

 

“Man, pulang skul gue tunggu di base camp.” Radit merapatkan HP nya ke lobang telinganya. “Lu kasih tau temen2 yang laen!.”

“Mau ngapain nih, kok mendadak!,” tanya Riza.

“Udah lu kerjain aja!,” perintah Radit. “Gue mau ngomong!.”

“OK.”

Radit dan teman2 seangkatannya mengkolektivkan diri dalam sebuah geng bernama Bronx. Geng ini benar2 elit, dengan makna, uang benar2 beterbangan di dalamnya karena seluruh anggota geng ini adalah anak2 dari keluarga2 terkaya. Walaupun tanpa deklarasi, secara emosional geng ini berkuasa pada seluruh siswa di SMA Elit. Tak ada yang berani mengusik mereka, bahkan kakak kelas pun tidak berani membuat masalah.

Bel pun berbunyi tanda seluruh jam pelajaran telah berakhir. Radit berjalan keluar dari sekolahnya. Dengan sedan merah Ferrari-nya dia meluncur ke tempat yang tadi disebutnya base camp. Sebuah wartel yang terletak di sebuah gang. Anak2 Bronx memarkir mobil2 mereka di ujung gang itu, membuatnya jadi seperti show room mobil, karena seluruh anak Bronx bawa mobil ke sekolah. Di dalam wartel yang lumayan luas itu mereka nongkrong sambil menghisap rokok yang harganya lebih mahal dari sebungkus nasi padang dengan menu rendang istimewa. Atau menikmati sedikit anggur yang hangat, dan minuman keras lainnya.

“Bentar lagi kita ujian, berati bentar lagi kita liburan,” kata Radit. “Gue mau ngajak lu semua liburan ke villa bokap gue di Bali! Gimana?.”

“Oke juga!,” kata Riza. “Gimana temen2?.”

Karena anak2 Bronx suka bersenang-senang maka mereka tidak usah berpikir terlalu panjang untuk urusan begituan. Mereka semua bilang oke.

“Tapi cewek2 kita gimana?,” tanya Riza.

“Terserah lu deh!,” kata Radit. “Cewek bikin repot doang.”

“Ah lu sih emang frigid,” ledek Riza. “Tak bisa merasakan cinta. Suatu hari nanti engkau juga akan merasakan bagaimana indah dan nikmatnya bercinta.”

“Bodo’ ah, yang penting lu bawa cewek lu empanin sendiri!.” Radit sangat selektif memilih cewek. Dia belum pernah pacaran, walau pun banyak cewek yang ngantri untuk dikencaninya. Sebuah keanehan untuk prototipe anak muda seperti dia. Buat urusan cewek dia punya prinsip: tidak mau asal-asalan.

Dan suasana hari itu larut dalam kegembiraan dalam impian mereka.

 

“Pak, pak, tunggu pak!,” Riza belum mematikan mesin mobilnya ketika Pak Tatang –guru paling killer di SMA Elit- akan menutup gerbang sekolah. Riza cepat2 turun dari mobilnya.

“Tau sendiri peraturannya.!!,” Pak Tatang tidak peduli. Dia terus mengunci gerbang sekolah dibantu Pak Satpam.

“Tadi macet, Pak. Ada yang kecelakaan!,” Riza beralasan. “Lagian baru juga 10 menit!.”

“Peraturan tetep peraturan,” kata Pak tatang ketus dari balik gerbang. Selesai mengunci gerbang Pak Tatang ngeloyor pergi meninggalkan Riza sendirian.

“Sialan!!,” serapah Riza. “Mana gue ada ulangan lagi.”

Riza mengambil HP di saku celananya, memencet nomor HP Radit.

“Dit, gue masih di luar nih,” kata Riza. “Si Tatang ngunciin gue.”

“Emang kenapa?,” tanya Radit, dia sedang duduk di kelasnya menunggu jam pelajaran pertama dimulai. “Lu telat?.”

“10 menit masa’ telat? Lagian macet emang mau gue?.”

“Tu orang satu emang parno bener sama peraturan!,” Radit mendukung.

“Poko’nya gue mau dia diprivat!,” pinta Riza. “Biar nyaho’.”

“Ntar gue telpon bang Jambrong! Udah dulu Bu Susi masuk!,” kemudian putus.

Jam pelajaran sekolah telah selesai hari itu. Pak Tatang menunggangi motor bebeknya meninggalkan sekolah. Polusi siang itu mengkabuti jalan. Pak Tatang terus memacu motornya dengan santai, tanpa tahu dia sedang dikuntit orang.

Pak Tatang berbelok di sebuh gang sepi menuju rumahnya. Tiba2 dari belakang dia dipepet oleh 3 buah sepeda motor dengan pengendara berjaket hitam dan bertopeng helm full face. Salah satu dari mereka menendang motor Pak Tatang sampai jatuh. Pak Tatang terguling di semak2 sisi gang itu. Tiga orang tak dikenal itu menyeret Pak Tatang ke semak2, dan menghajar Pak Tatang habis2an. Mereka memukuli dan menendangnya dengan cepat. Pak Tatang tidak bisa mengenali mereka karena seluruh wajah mereka tertutup helm. Dia babak belur. Pelipis, hidung dan mulutnya berdarah. Ketiga orang itu meninggalkannya begitu saja.

 

Bel baru saja berbunyi tanda jam istirahat dimulai. Bu Endah –guru Biologi- baru saja keluar dari kelas Radit. Saat siswa di kelas itu baru saja akan bangkit dari kursinya untuk jajan di kantin, Radit berlari ke depan kelas.

“Temen2 sebentar!!,” Radit menghentikan teman2nya sambil cengar-cengir. “Tunggu bentar, semuanya jangan ke mana2 dulu. Gue mau nunjukin sesuatu!.”

Tak disangka-sangka Radit berlari ke luar kelasnya. Satu menit berselang dia kembali lagi, tapi tak sendirian. Dia menuntun tangan seorang gadis yang manis sekali. Gadis itu terus saja menunduk malu, dan hal itu makin menambah kecantikannya.

“Gue mau ngenalin dia sama lu semua!,” Radit bahagia. “Namanya Rossa. Sekarang dia pacar gue.” Gadis itu menunduk makin dalam. Dia memang cantik. Sangat cantik. Wajahnya setipe dengan perempuan uzbek yang cantik2. Matanya hijau bening. Rambutnya bersemu coklat panjang sepunggung. Tak heran akhirnya Radit melepas status jomblonya kepada anak baru adik kelasnya itu.

Tak disangka-sangka oleh seisi kelas itu, Radit menggenggam lembut pipi mungil Rossa yang putih kemerahan itu dan mencium bibirnya yang tipis. Seisi kelas itu hening, semua mulut menganga tak percaya, setiap mata melotot tak mengira. Radit sudah gila!!! Sedetik kemudian seisi kelas itu ribut seperti baru saja terjadi gempa hebat. Mereka bersorak dan bertepuk tangan melihat Radit dan Rossa. Mereka semua sama gilanya. Mereka maju mengerumini pasangan yang berbahagia itu, bertepuk tangan dan menyalami mereka.

“Buat ngerayain hari jadian gue, temen2 semua gue traktir makan mi ayam di kantin,” Radit mengumumkan. “Terserah lu semua mau nambah berapa mangkok juga.” Kelas itu makin ribut.

Tiba2 perasaan penuh kebencian menyeruak dari sudut kelas itu. Seorang siswa mengerutkan keningnya melihat apa yang dilakukan Radit. Dia adalah Ruston, ketua Rohis SMA Elit. Teman sekelas Radit. Dengan gusar cowok jangkung kurus itu mengejar Radit yang baru saja akan pergi ke kantin bersama dengan rombongan teman2nya. Saking gusarnya dia melompati dan menginjak-injak meja dan kursi di kelasnya yang menghalangi langkahnya. Dari atas meja dia melompat ke hadapan Radit, menghambur ke arahnya dan langsung mencengkeram kerah kemeja seragam Radit.

“Dit, lu kelewatan!!!??,” serapah Ruston. Emosinya di ubun2. “Lu bangga bikin dosa kaya’ gitu? Celaka lu!!!.”

Tanpa bicara, Radit melayangkan kepalan tangannya ke hidung Ruston. Dia jatuh terjengkang, punggungnya membentur meja dan kursi di dekatnya. Darah mengalir dari hidung  dan sela2 bibirnya membasahi lantai keramik kelas yang putih itu. Radit melangkah untuk memberi hadiah tambahan bagi Ruston, tapi teman2 yang lain menghalanginya.

“Kalo lu ulangin lagi yang kaya’ gitu, gue habisin lu sekalian sama Rohis lu yang menyedihkan itu!!.” Telunjuk Radit menuding-nuding Ruston. Rossa menggenggam tangan Radit mencoba menenangkannya. Dengan kesal Radit meninggalkan kelas itu bersama dengan rombongan temannya2.

 

Ruston melangkah keluar dari angkot, rasa sakit di hidungnya masih terasa nyutnyutan. Dia melewati proyek pelebaran jalan dan penggalian2 yang membuat jalan semakin berdebu dan menyesakkan. Dia berbelok di sebuah jalan setapak yang di sisinya berbatasan dengan sebuah proyek pembangunan sebuah mall. Lamat2 dia menyadari bahwa dia sedang dibuntuti oleh 3 orang berpakaian hitam. Mereka semua memakai topi yang menyembunyikan wajah mereka dengan efek bayangan cahaya matahari. Yang aneh adalah ketiga orang itu memakai masker mirip ninja yang biasa dipakai pengendara motor.

Tiba2 3 orang itu berlari mengejarnya. Ruston pun lari menyelamatkan diri, karena dia sudah menyadari bahwa dia sedang diikuti. Namun Ruston kalah cepat. 3 orang itu langsung mencengkeram bahunya, dan menyeretnya ke tempat yang sepi. Di sana Ruston dipukuli habis2an. Matanya bengkak, mulut dan hidungnya berdarah. Seharian itu puas dia merasakan bogem mentah banyak orang. Puas memukuli Ruston ketiga orang itu pun pergi meninggalkannya. Dia tergeletak lemah di tempat itu.

 

Radit sedang menonton sebuah film di kamarnya sore itu ketika tiba2 ibunya memanggilnya dari bawah tangga. Radit bergegas menghampirinya.

“Papimu mau berangkat ke Amerika sore ini langsung dari kantornya.,” kata Ibunya. “Doakan biar selamat.”

“Oke, Mi!” Jawab Radit. “Udah dulu ya Mi, filmnya lagi seru nih!.”

“Kamu itu belajar to, kan mau ujian!!!.”

“Oke lagi, Mi.!,” Radit bergegas naik ke kamarnya untuk melanjutkan hobi nontonnya itu.

Malam hari pun beranjak datang, dan esok hari akan selalu jadi misteri hingga matahari sudi mengungkapkan rahasianya.

 

Pagi baru saja tiba. Jam beker di sisi tempat tidur Radit berbunyi resah membangunkannya. Jam setengah 6 pagi. Mata Radit nanar, dia duduk di atas tempat tidurnya. Dia bangkit ke kamar mandi di salah satu sisi kamarnya dengan malas. Menggosok gigi lantas mandi, jangan sampai terlambat karena kalau terlambat hukumannya adalah pulang. Jam pertama dimulai tepat jam 7 pagi. Begitulah peraturan di SMA Elit. Setelah siap dengan tas dan seragamnya dia turun ke meja makan, di sana sarapan telah dihidangkan oleh si Bibi, pembantu di rumahnya.

Ada yang aneh hari itu. Biasanya Ibunya telah duduk di meja makan untuk sarapan bersama, lengkap dengan pakaian dokternya siap berangkat ke tempatnya bertugas. Ayahnya pun begitu. Orang tuanya itu disiplin sekali. Dia tahu Ayahnya ke Amerika kemarin sore, tapi ke mana Ibunya? Tidak biasanya sudah sesiang ini meja makan masih sepi. Radit duduk di salah satu sisi meja makan, mengoleskan roti dengan selai coklat kesukaannya. Dia mengacuhkan nasi goreng yang terhidang. Hari itu dia tak berselera.

“Mami ke mana, Bi?,” tanya Radit pada pembantunya.

“Tadi Bibi panggil ke kamarnya tapi nggak ada jawaban. Mungkin masih tidur!.”

“Ah…nggak mungkin. Aneh,” kata Radit. “Aku yang bangunin deh, Bi.”

Radit berjalan ke kamar orang tuanya di sebelah ruang makan. Dia mengetuk pintunya.

“Sarapan dulu, Mi!! Udah siang! Kok nggak biasanya?.”

“Mami nggak ke rumah sakit?,” Radit mengetuk pintu kamar itu. Tak mendapatkan jawaban dia menempelkan telinganya di pintu kamar itu. Hanya ada suara pembaca berita di TV.

“Bibi liat Mami keluar nggak?,” tanya Radit.

“Bibi udah bangun dari sebelum subuh, Mas. Bibi nggak liat siapa2 keluar.”

Radit bergegas keluar ke jendela kamar orang tuanya itu. Tapi hordeng jendela itu masih tertutup, dan jendela itu tak mungkin dimasuki karena berteralis. Radit pun kembali ke pintu kamar itu.

“Mami bukain, dong!!.” Dia terus mengetuk dan kemudian berubah jadi menggedor-gedor. Tapi nihil.

Radit berusaha mendobrak pintu kayu tebal itu tapi tak berhasil. Lantas dia menggunakan segala macam alat untuk membuka pintu kamar yang terkunci itu. Akhirnya terbukalah sudah dan pintu itu mengungkap semua rahasia.

Mata Radit terbuka lebar saat melihat isi kamar itu. Di dalam kamar itu dia lihat Ibunya tergantung tak bernyawa di hadapannya dalam pakaian tidurnya. Matanya membelalak karena malaikat kematian mencabut nyawanya dengan menyakitkan dan lidahnya terjulur karena tercekik. Ibunya telah bunuh diri. Lutut Radit lemas, dia jatuh terduduk di ambang pintu kamar orang tuanya itu. Gagang telepon terbanting di sisi tempat tidur orang tuanya. Siaran berita di TV di kamar itu memberitakan bahwa telah terjadi sebuah kecelakaan pesawat yang menuju ke Amerika tadi malam. Tanpa diketahui sebabnya pesawat itu meledak dan hilang di lautan. Tak ada korban yang selamat, dan salah satu dari korban itu adalah Hadrian Voyght, CEO sebuah perusahaan industri ternama di Indonesia. Ayah Radit!

Radit bersandar di sisi ambang pintu kamar itu. Dia tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Keperkasaannya sirna di hadapan setan bernama realita. Dia diam saja, dia tak bisa bicara. Bibirnya bergetar. Tanpa sadar air mata sunyi mengalir membasahi pipinya. Di belakangnya, si Bibi menangis begitu dia datang melihat apa yang dilihatnya.

Dan hanya dalam beberapa jam saja, hidup seseorang berubah, mengikuti suatu garis yang sudah terpahat di langit pagi itu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa melawannya. Hari itu akan selalu penuh dengan rahasia, sampai matahari sudi mengungkapkan semuanya.[]

 

Sesak dada Radit saat dia harus menghirup anyir hawa tragedi. Hidup adalah dari tragedi menuju tragedi, dan semua tragedi akan hanyut pada air sungai yang pada muara laut-lah semuanya akan berakhir. Muara lautan bernama sabar! Selama matahari beredar, selamanya tragedi akan digelar.

Jam sekolah sudah selesai dua hari kemudian. Besok ujian. Dan suasana ujian akan sama lesu dan dinginnya dengan perasaan Radit. Seluruh siswa dan penghuni SMA Elit berduka atas apa yang terjadi kepada Radit. Setiap guru yang masuk ke kelas Radit mengucapkan bela sungkawa yang se-dalam2nya, dan menyesal bahwa mereka tidak turut dalam prosesi penguburan Ibunda Radit. Segala peristiwa terjadi begitu cepat secepat air beredar di udara.

Seisi ruangan distro tempat nongkrong anak2 Bronx itu ramai, tapi sunyi. Udara pun tak bersuara. Mereka duduk di lantai keramik distro yang setiap hari di-pel itu. Beberapa orang duduk di kursi. Radit tenggelam di sudut ruangan menggamit lututnya. Pandangannya kosong. Di sisinya Rossa menggenggam tangannya. Segala empati dan simpati tercurah kepadanya.

“Dit, gue ngewakilin semua temen2 sekali lagi ikut berduka cita sama musibah yang udah terjadi sama lu kemaren!,” kata Riza. Anak2 Bronx yang lain hening tak hendak bicara. Radit memandang kosong ke dinding, tak tahu apa yang ada di benaknya.

“Kita semua bakal selalu siap ngelakuin apapun buat lu buat bangkit dari semua ini,” Riza bicara panjang lebar. “Gue udah nyiapin bir buat kita semua. Biar lu juga bisa ngelupain semua kejadian ini!.”

Kening Radit mengerut. Alisnya bertemu membentuk mimik kekesalan. “Kira2 kalo ini semua terjadi sama lu, bisa lu lupain nggak? Nggak ada minuman atau apapun itu yang bisa bikin gue lupa sama ini semua!.”

Dengan kesal Radit beranjak dari base camp meninggalkan anak2 Bronx. Saat itu dia sensitif sekali dan mudah tersinggung. Rossa mengikutinya. Radit berjalan menuju sisi jalan tempat di mana mobilnya diparkir. Rossa terus menggenggam tangan Radit.

“Makasih ya, Cha!,” kata Radit. “Kaya’nya kamu sekarang pulang aja!.”

“Tapi, Kak!!,” Radit mencengkeramkan tangannya dengan lembut pada tangan Rossa, memberinya tanda agar jangan bicara.

“Aku mau sendirian dulu!,” kata Radit. “Sekarang aku anter kamu pulang ya!.”

Sepasang pencinta itu memasuki mobil mewah sedan Ferrari berwarna merah, mobil milik Radit. Suara mesin pun menderu.

“Aku takut Kakak bunuh diri juga!,” Rossa menunduk, air matanya hampir keluar.

“Ya nggak lah, Cha.!,” Radit tersenyum tipis. “Aku masih pengen hidup.”

[[]]

Radit mengendarai mobilnya pulang siang itu. Dia tersenyum sendiri melihat ketakutan Rossa yang menyangka bahwa dia juga akan bunuh diri. Setan di kepalanya mengipasi, kenapa tidak dicoba saja? Biar hilang semua derita! Tapi bagaimanakah rasanya mati? Semua pikiran tak karuan itu berusaha diusirnya.

Akhirnya sampailah Radit di depan gerbang rumah mewahnya yang tinggi itu. Anehnya ada sesuatu tergantung di situ. Sebuah papan bertuliskan “Rumah Ini Disita.” Radit bergegas keluar dari mobilnya.

“Apa2an nih??,” Radit merenggut papan itu dan menghempaskannya ke tong sampah. Dia membuka gerbang itu dan masuk dengan mobilnya.

“Bi…Bi…!,” Radit masuk dengan gusar ke dalam rumah dan memanggil si Bibi. Sekarang hanya tinggal mereka berdualah penghuni rumah megah itu. Si Bibi menghampiri Radit sambil menangis. Di tangannya ada sehelai kertas. “Ada apaan sih, Bi?.”

“Ini, Mas!,” Si Bibi menyerahkan kertas itu, ternyata surat perintah penyitaan. Radit membacanya. “Tadi pagi ada orang dari Bank, katanya mereka mau sita rumah ini. Kita dikasih waktu tiga hari, Mas!.”

“Apaan lagi sih ini?,” Radit menyesalkan. Dia meremas surat itu.

“Gimana, Mas?,” tanya si Bibi. Radit diam, dia merasakan sebuah kebingungan yang seakan hendak membunuhnya. Apalagi yang terjadi? Dia akan segera kehilangan rumah tempat dia berteduh semenjak kecil. Ada apa sebenarnya? Kenapa se-akan2 seisi bumi membencinya?

“Aku nggak tau, Bi!,” Radit hampir2 menangis, tapi ditahannya. “Kita udah nggak punya harapan lagi. Mungkin lebih baik Bibi pulang kampung aja, ntar gaji dan pesangon Bibi dari Aku!.”

“Kenapa semua jadi begini, Mas?,” si Bibi menangis sesenggukan. Radit diam saja. “Duh, Gusti!.”

[[]]

Keesokan harinya masa2 ulangan pun dimulai. Radit benar2 tidak konsentrasi. Dia mengepak pakaiannya dalam sebuah koper dan menjejalkannya ke dalam jok belakang mobilnya. Membawa barang2nya seperlunya, dan tak lupa buku tabungan simpanannya. Dia akan berangkat ke sekolah. Dia akan pergi dari rumah itu tanpa menunggu habisnya waktu tiga hari. Ke mana? Dia sendiri tak tahu. Kenapa rumah itu harus disita? Dia sendiri tak tahu. Kenapa semua terjadi? Tak ada jawaban. Setelah semuanya siap dia menemui si Bibi.

“Bi, Aku berangkat duluan!,” kata Radit. “Makasih ya, Bi.”

“Mas Radit mau tinggal di mana?,” tanya si Bibi.

“Ya di mana aja deh, Bi. Kalo kepaksa amat ya di mobil aja!.”

Setelah pamit Radit bergegas ke sekolah, memacu mobilnya dengan waktu. Menuju satu hidup yang baru, yang penuh dengan ketidaktahuan. Dia sendiri tidak tahu kenapa masih kuat menjalani hidup seperti itu. Kenapa dia tak bunuh diri saja persis seperti yang dilakukan Ibunya? Bayang2 mengerikan tentang Ibunya masih terus menghantuinya. Kematian benar2 menyakitkan.

[[]]

Radit tidak konsentrasi saat mengerjakan soal. Isi pikirannya tak jelas. Segala peristiwa melompat ber-ganti2, membuat pandangannya kabur. Belajar pun dia tak sempat, karena segala memori peristiwa itu begitu menumpuk dan berat. Menyontek pun dia tak ingat. Dia mengerjakan semua soal itu sekenanya hingga ujian hari itu berakhir.

Dengan lesu Radit keluar dari kelasnya. Dia duduk di salah satu sisi aula sekolah sendirian. Aula itu teduh dan sejuk. Membuatnya selalu merasa nyaman berada di sana. Siswa-siswi SMA Elit ramai di sekitarnya, tapi dia seperti berada di suatu dunia yang lain. Tiba2 Riza menepuk punggungnya, meminta maaf atas ucapannya kemarin dan mengajaknya segera meluncur ke base camp.

“Lu duluan deh!,” kata Radit. “Gue pengen di sini dulu.”

“Nggak baik lama2 dalam kesedihan, Dit!,” Riza mengingatkan.

“Iya. Gue cuman lagi pengen sendirian aja! Gue harap lu ngerti!.”

Riza prihatin, tapi dia memenuhi permintaan Radit. Dia pergi meninggalkan Radit.

Dari kerumunan siswa-siswi SMA Elit terlihat Rossa ber-lari2 kecil menghampiri Radit. Dia tersenyum pada Radit. Radit pun membalas senyumnya. Rossa duduk di sisi Radit. Kehadiran Rossa tak sanggup mengusir bayangan tragedi kematian orang tuanya itu.

“Sabar ya, Kak?,” kata Rossa.

Radit memaksakan senyumnya. “Kamu nggak usah khawatir!.”

“Maafin aku ya, Kak?,” kata Rossa.

“Kenapa?”

“Aku nggak selalu ada di deket Kakak, waktu Kakak butuh sama aku!,” Rossa menahan air matanya. “Apalagi di waktu yang berat kaya’ sekarang. Aku bener2 nggak nyangka keluarga Kakak….,” Rossa tak bisa meneruskan kalimatnya. Dia menangis.!!

“Makasih ya!,” Radit tersenyum. Dia menggenggam tangan Rossa. “Kamu baik banget! Jangan khawatirin aku.”

“Mendingan kamu pulang!,” perintah Radit. “Kan sekarang lagi ujian!.”

“Nggak!! Aku mau di sini temenin Kakak!,” Rossa menolak.

“Aku nggak apa2!,” kata Radit. Dia menerawang memandang bayangan. “Nggak tau kenapa, sekarang aku cuman pengen sendiri.”

“Pokoknya aku nggak mau. Aku mau temenin Kakak di sini!,” Rossa bersikeras dengan pendiriannya.

“Kalo boleh aku memohon,” Radit tersenyum melihat kekasihnya begitu memperhatikannya. “Aku mohon sekarang kamu pulang. Aku cuma pengen sendirian. Kamu ngerti kan? Aku sayang banget sama kamu!.”

Rossa tersenyum. Dihapusnya air matanya. “Kalo ada apa2 telpon aku ya, Kak! Jangan nggak! Aku sayang banget sama Kakak!.” Dia pergi meninggalkan Radit.

[[]]

Pandangannya kosong. Radit masih duduk di aula sekolah. Sekolah itu sepi karena hari sudah beranjak sore. Siswa-siswi SMA Elit sudah pulang semua. Pak Aang si kuncen sekolah sedang menyapu lantai aula di hadapan Radit.

“Belum pulang?,” tanya Pak Aang.

“Saya nggak punya, Pak!,” jawab Radit, tanpa mengalihkan pandangan kosongnya dari lantai Aula.

“Nggak punya apaan?,” Pak Aang bingung.

“Tempat pulang!.”

“Maksudnya??,” alis Pak Aang berkerut.

“Yah gitu deh, Pak,” Radit tak mau memperpanjang.

Pak Aang tersenyum. “Apapun yang udah terjadi, Allah bersama dengan orang2 yang sabar. Nggak usah takut.”

Halilintar sepenuh bumi seperti menyambar tubuh Radit. Dia tak tahu kapan terakhir kali kosakata2 religius itu ada di dalam tempurung kepalanya. Dia terus hanyut dengan kehidupan yang dia pikir menyenangkan bersama dengan teman2nya. Apa yang dikatakan Pak Aang terdengar seperti suara2 yang pernah dikenalnya, tapi suara itu jauh sekali. Dan apa yang dikatakan Pak Aang seperti membangkitkan semuanya.

Radit menoleh ke sebelah kanannya. Dia memandang masjid SMA Elit yang mungil namun tertata rapi dan elegan itu. Tempat suci itu seperti me-manggil2nya, menawarkan sesuatu yang sudah sekian lama hilang. Menyediakan sesuatu yang sudah sekian lama seharusnya dicarinya sampai dapat. Radit bangkit dan melangkah ke sana. Pelan namun pasti! Di ambang pintunya dia berdiri. Ada setitik keraguan di hatinya yang dikipasi setan. Untuk apa datang ke tempat membosankan seperti itu? Tapi tak tahu kenapa, dia sendirilah yang mengusir keraguan itu dari hatinya. Dilepasnya sepatunya, dia masuk ke sana. Masjid itu sepi, tak ada seorang pun di sana. Radit mengedarkan pandangannya seperti orang udik yang memasuki istana megah. Suatu tempat yang dia sendiri sudah lupa kapan terakhir kali memasukinya. Radit berdiri menghadap kiblat. Di hadapannya ukiran lafaz “Allah.” Dia telah lupa. Ya, dia telah lama lupa!

Tiba2 matanya gelap. Pandangannya tak karuan. Dia memegangi kepalanya. Sebuah efek traumatis terjadi padanya. Di hadapannya hanya ada sebuah ruangan suram. Gagang telepon terbanting di sisi tempat tidur. Televisi memberitakan sebuah kecelakaan maut. Di langit2 tergantung tak bernyawa seorang wanita yang paling dicintai yang rohnya telah direnggut malaikat kematian dengan kejam dan menyakitkan. Radit jatuh berlutut, dan menangis. Tak pernah dia takut kepada kematian setakut saat itu. Dia menangis! Benar2 menangis. Dicengkeramnya dadanya, terasa sesak!! Wajahnya yang rupawan basah karena air mata, dia sesenggukan. Dia berlutut di hadapan singgasana Tuhan memohon belas kasihan, setelah sekian lama dia ditipu oleh kesombongan.

Seorang laki2 yang telah lama tersesat, kini telah pulang. Melangkah memasuki gerbang bertabur cahaya di atas harumnya karpet keridhoan yang digelarkan Tuhan sendiri, bagi mereka orang2 yang telah kembali dan berubah. Sejuta malaikat menyambutnya, menyanyi penuh gembira. Dosa sepenuh langit, sedalam bumi, sirnalah sudah, dibayar tetesan air mata. Seluruh alam menyambut penyesalan yang suci, bersih, tak tercela!! []

 

Raditya Hadrian Voyght belutut di hadapan langit, setelah bumi membenamkannya dalam2. Dia menangis. Nyeri di hatinya tak mau hilang. Isi kepalanya melompat-lompat seperti rekaman yang diputar ke belakang. Di hadapan matanya terhampar segala dosa yang pernah dilakukannya dahulu. Segala perbuatan yang tak pernah dianggapnya serius. Segala perbuatan yang sudah biasa dan jadi tuntutan zaman yang kelewatan. Namun nampaknya baru mengerti dia sekarang bahwa apa yang dilakukannya itu adalah dosa tak tertanggungkan. Baru sekarang di tempat suci itu matanya melihat yang sebenarnya. Dia ketakutan setengah mati. Seakan-akan dia melihat malaikat maut bertampang galak dan berpakaian hitam memancung kepalanya dengan kejam.

Radit menangis dan terus menangis. Seakan-akan tangisannya tidak akan pernah berhenti. Dia menyesal atas segalanya. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Namun selama nafas masih berhembus dan garis matahari masih terentang, selamanya penyesalan tidak akan pernah terlambat. Betapa sakit rasanya ketika belati penyesalan itu menusuk jantungnya. Tapi tak lama luka itu akan rapat juga dan segala nyeri akan reda. Melahirkan satu sosok baru yang lebih indah dari sebelumnya.

Tiba2 bahu Radit menggelenyar. Sentuhan yang hangat dirasakannya. Apakah ada makhluk lain di tempat ini selain dia? Ataukah malaikat maut benar2 akan menjemputnya? Radit tak peduli pada sentuhan di bahunya itu. Kalau benar malaikat maut akan mengambilnya maka dia pasrah. Baru kali ini dia merasakan kepasrahan begitu rupa. Tapi sentuhan itu bukan milik siapa2, tapi milik Ruston.

“Saya mohon maaf,” kata Ruston. “Waktu kamu kesulitan saya nggak bisa berbuat apa2. Saya ikut berduka cita.” Ruston duduk bersila di sisi Radit dan menopang bahu Radit dengan lengannya.

Radit diam saja, dia tak bisa bicara karena tenggelam dalam kesedihan. Dia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Sebenarnya Ruston agak terkejut saat melihat Radit ada di dalam masjid sedang menangis sendirian seperti itu. Dia berpikir Tuhan benar2 telah menampar Radit dengan keras. Dan itu semua telah membuat Radit tersadar dan membelalak. Ruston terdiam, dia kebingungan harus mengatakan apa.

Perlahan-lahan Radit dapat menguasai dirinya. Diletakkannya tangannya di lantai untuk menopang tubuhnya yang kelelahan karena emosi. Dia menunduk kepada bumi.

“Gue takut, Ton,” kata Radit di sela2 tangisannya. “Gue takut mati. Takut banget!!.” Gambaran Ibunya yang mati bunuh diri terhampar lagi di hadapannya.

“Kematian emang selalu bikin kita ngeri,” kata Ruston. “Tapi sebenernya bukan mati itu sendiri yang ngeri. Tapi apa yang bakal kita hadapi setelah kita mati.”

Ruston merasa agak aneh dengan apa yang dilihatnya. Pemandangan Radit yang sesenggukan seperti itu belum pernah dilihatnya sama sekali. Bahkan seisi sekolah itu pun belum pernah melihatnya.

“Mati itu sangat menyenangkan buat orang2 yang beriman dan bawa banyak amalan baik semasa hidupnya. Kematian buat orang2 kaya’ gitu nggak menyakitkan dan nggak menakutkan,” Ruston menjelaskan. “Apalagi kematian waktu memperjuangkan Islam. Saya pengen banget mati dalam keadaan kaya’ gitu.”

“Kalo gitu kematian gue pasti ngeri banget,” Suara Radit tercekat. “Lu tau sendiri kan gue orang kaya’ apa?.”

“Nggak ada yang tau,” Ruston menolak. “Nggak ada yang tau kematian seseorang itu kaya’ gimana. Bisa jadi kamu lebih dicintai Allah dan mati dalam perjuangan Islam! Kan nggak ada yang tau. Semua orang berpeluang untuk mati dengan bahagia seperti itu, termasuk kamu.”

“Tapi itu nggak mungkin! Gue kotor! Banyak dosa. Allah benci sama gue.”

“Allah Maha pengampun,” Ruston memotivasi Radit. “Allah mengampuni dosa, nggak peduli apakah dosa itu sepenuh langit atau seluas bumi. Dia udah janji. Dia nggak bakal mungkir.”

“Apa bener Allah mau maafin Gue?.”

“Dia cuman mau kasih ampunan buat orang2 yang meminta ampunan itu dan berjuang keras untuk mendapatkannya,” kata Ruston. “Selama orang2 itu mau bertobat dan memperbaiki kesalahan2nya. Orang yang baik itu bukan orang yang nggak punya dosa, tapi orang yang kalo berdosa, maka dia bertobat dan memperbaiki kesalahannya.”

Radit tidak berkata apa2 lagi. Dia ragu pada dirinya sendiri. Apakah Tuhan akan mengampuninya? Apakah semua kesalahannya yang dulu bisa ditebusnya?

“Saya yakin kamu mau sekali ampunan Allah itu. Kamu mau sekali berubah!,” Ruston meyakinkan Radit. “Kalo kamu nggak mau semuanya itu, sekarang kenapa kamu ada di sini? Di dalam RumahNya?.”

“Kenapa lu percaya sama gue?.”

“Karena kamu yang bikin saya percaya sama kamu.”

“Gue juga nggak tau kenapa sekarang gue ada di sini,” kata Radit. “Gue begitu aja ada di sini.”

“Banyak orang yang pernah tersesat, tapi banyak juga yang pulang ke tempat yang sebenernya. Banyak yang akhirnya menyadari siapa dirinya yang sebenernya. Yaitu hamba Allah. Dan saya percaya, sekarang kamu udah menemukan itu semua!.”

“Gue mau tanya satu hal!,” Radit bersuara agak tegas kali ini. Rupa2nya dia telah berhasil melawan kesedihannya. “Waktu di kelas kemaren kenapa sikap lu kaya’ gitu sama gue?.” Rupa2nya Radit menanyakan kembali soal sikap tegas Ruston tentang apa yang dilakukannya dengan Rossa di kelas tempo hari.

“Pertama: karena kita saudara!,” kata Ruston. “Saya nggak mau diem aja ngeliat saudara saya berbuat dosa di depan mata saya. Saya nggak mau saudara saya itu menderita dunia akhirat. Kedua: Kerena saya pun orang yang banyak berdosa. Dengan ngelakuin itu saya bisa menebus dosa2 saya!.”

Tiba2 Firman, aktivis Rohis dari jurusan IPS, memasuki ambang pintu masjid. Dia terkejut dan berdiri terpaku di pintu masjid saat melihat siapa yang ada di dalam sana.

“Woi, jangan melotot kaya’ gitu!,” Ruston tersenyum, dia menepuk bahu Radit. “Kita sambut Radit.”

[[]]

Dua hari kemudian Radit benar2 telah jadi orang yang berbeda. Dengan alasan segala musibah yang menimpanya, dia diizinkan sekolah untuk tinggal di masjid sekolah, turut membantu Mang Aang merawat tempat ibadah itu. Hal itu ternyata sangat menyenangkan baginya. Dia merasa bisa lebih khusyuk beribadah dan hidup dengan tenang. Dia menempati ruangan sekretariat Rohis di salah satu sudut masjid. Mobil Ferrari merahnya dijual untuk menutupi kebutuhan sekolah dan kebutuhan hidupnya se-hari2. Mulai dua hari yang lalu dia belajar Islam setiap hari dibimbing oleh Ruston. Dia pun mengakui semua kesalahannya yang telah memerintahkan preman untuk menyeroyoknya. Ruston tak mempersoalkan lagi masalah itu. Tak lupa dia pun mendatangi Pak Tatang untuk memohon maaf. Tapi dia tak mengatakan tentang keterlibatan Riza, walaupun aksi pengeroyokan kemarin itu karena diminta oleh Riza. Agar Riza tidak terlibat masalah lebih jauh. Ternyata Pak Tatang adalah orang yang pemaaf, sangat bertentangan dengan sikap killer-nya selama ini. Asalkan ada perubahan yang positif yang ditunjukkan Radit, begitu kata Pak Tatang.  Hingga hari itu belum ada siswa yang mengetahui bahwa Radit telah kehilangan segala hartanya bahkan tempat tinggalnya. Kecuali anak2 Rohis yang sekarang telah menjadi teman akrabnya. Radit pun lebih terlihat ceria dan tabah dalam menjalani takdirnya.

Jam istirahat pun tiba. Radit keluar dari kelasnya menuju masjid untuk menunaikan solat dhuha. Ruston akan ke kantin dulu mengisi perutnya, baru menyusul ke masjid untuk sama2 solat dhuha. Radit memasuki Aula sekolah. Tiba2 Rossa memanggilnya dari belakang.

“Kak Radit!,” Rossa hendak meraih tangan Radit, tapi Radit buru2 menghindar. Rossa menyadari suatu keanehan. “Kakak kenapa? Sakit ya?.”

“Oh nggak. Aku nggak apa2!,” kata Radit. Rossa jadi benar2 menyadari bahwa ada sesuatu  yang berubah di dalam diri kekasihnya itu. “Sebenernya kemarin aku mau bicara sama kamu, tapi nggak sempat. Kalo gitu sekarang aja ya mumpung ketemu.”

“Emang kenapa, Kak? Kaya’nya penting banget.”

“Pacaran itu dilarang oleh Islam,” Radit memulai dengan tenang. “Jadi mulai sekarang kita putus ya!.”

Ekspresi wajah Rossa berubah membentuk ekspresi kebingungan dan kekesalan.

“Aku nggak mau!,” Rossa membelalak pada Radit. “Kakak udah nggak sayang sama aku, udah bosan, trus mau buang aku gitu aja?”

Radit menghadapinya dengan tenang. “Kalo kamu jadi pacarku, justru itu tanda bahwa aku nggak sayang sama kamu. Karena aku udah ngebiarin kita berdua berdosa. Apakah ada sayang dalam dosa? Apa ada cinta?  Yang ada cuma cinta dan sayang yang semu, karena semua itu cuma bakal bikin kita berdua sengsara di dunia dan akhirat!.”

Akhirnya Rossa benar2 menangis. Air matanya mengalir di antara pipinya yang merah. Radit kasihan melihatnya, tapi apa boleh buat? Walaupun pahit, kebenaran harus dikatakan.

“Tapi aku sayang sama Kakak!,” Rossa menahan isaknya. “Sayang sekali! Aku nggak bohong!.”

“Islam punya cara untuk saling menyayangi!,” Radit tersenyum. “Dengan menikah. Hanya itu. Bukan pacaran. Sekarang kita sama2 mulai perbaiki diri dengan belajar Islam dan hidup dengan menaati aturannya. Aku mau ngajak kamu ke sana. Kalau kita panjang umur dan berjodoh, akan ada waktunya kita nyatuin cinta itu! Sekarang aku mau ngajak kamu untuk berubah seperti aku.”

Rossa terdiam dan terus sesenggukan. Berat rasanya menuruti keputusan Radit itu. Tapi dia menghapus air matanya dan tersenyum. “Tunjukin jalanku, Kak!”

Baru kali ini Radit merasa, Rossa telah berubah menjadi bidadarinya. Hanya miliknya. Anugerah Tuhan yang tidak akan habis dimakan usia.

[[]]

Radit sedang duduk bersila di dalam masjid sekolah selepas zuhur. Mentoringnya dengan Ruston baru saja akan dimulai. Tiba2 dari ambang pintu masjid masuklah Firman dengan ter-gesa2.

“Assalamu’alaikum,” kata Firman. “Afwan, di luar orang2 Bronx nyariin Radit!.”

Ruston memandang Radit. Pandangannya penuh curiga. “Mau ngapain mereka?.”

“Nggak apa2 kok,” kata Radit. “Saya selesaian urusan sama mereka dulu ya?,” Radit keluar dari masjid. Agak jauh dari pintu masjid, seluruh anak Bronx berdiri menunggu Radit.

“Kemana aja lu?,” kata Riza. “Ayo ke base camp.” Mereka langsung merangkul Radit dan menggiringnya. Radit mengikuti mereka seakan tak terjadi apa2.

“Kebetulan banget gue diajak ke sini.,” Radit memulai pembicaraan, ketika sampai di sana! “Ada yang mau gue omongin penting banget!.”

“Ngomong apaan sih.”

“Gue mau ngajak lu semua buat belajar Islam. Kita tinggalin hidup kita yang dulu. Kita mulai hidup baru yang lebih baik.”

Tak diduga seisi distro itu tertawa terbahak2 mencemooh Radit. Bahkan salah satu anak Bronx ada yang tertawa sampai ter-bungkuk2. Radit tersenyum dengan tenang.

“Lu sejak kapan ngelamar jadi ustat?,” Riza tertawa.

“Dia trauma gara2 kejadian kemaren,” kata yang lain.

“Kok lu berubah gini?.”

“Lu kenapa sih?.”

Segala pertanyaan itu berseliweran di sekitar Radit. Dia tetap tenang. Setelah segala tawa itu mereda baru dia bicara.

“Semua yang kita lakuin di Bronx ini dosa. Maksiat sama Allah. Ayo kita berenti dari semuanya ini. Kita berubah. Jangan sampe lu semua ngerasain peringatan kaya’ yang gue rasain. Sakit banget rasanya. Jangan sampe kita sengsara dunia akhirat. Ayo bareng2 sama gue belajar Islam, gue juga baru belajar.” Dengan semangat Radit berdakwah kepada anak2 Bronx.

“Stop stop,” Riza menghentikan Radit. “Udah deh lu jangan ceramah di sini. Gue nggak ngerti setan apaan yang nyurup sama lu.”

“Gue sadar kerjaan kita di Bronx cuman foya2 doang. Makanya sekarang jangan urusin Bronx lagi. Ada yang lebih penting yang kudu kita kejar. Yaitu belajar Islam dan berjuang buat Islam.

“Lu bikin gue kesel kalo gini,” Riza emosi. “Emangnya lu mau buang Bronx gitu aja dari hidup lu? Kita udah sahabatan sekian lama, sekarang lu mau ngelupain kita gitu aja? Siapa orangnya yang udah bikin lu kaya’ gini?.”

“Bokap gue mati, nggak jelas di mana mayatnya. Nyokap gue mati bunuh diri. Sekarang gue juga udah nggak punya rumah. Harta gue abis. Gue tinggal di masjid sekolah, Gue jadi marbot di sana. Karena gue nganggap lu semua sahabat gue, makanya gue nggak mau lu dapet hukuman kaya’ gue dari Tuhan cuman gara2 maksiat yang selalu kita lakuin!,” tegangan Radit pun meninggi. “Dan gue begini karena kemauan gue!.”

“Gue nggak percaya lu jadi kaya’ gini,” kata Riza. “Gue nggak percaya lu jadi pengkhianat!.”

“Lebih baik daripada gue berkhianat sama Allah!,” kata Radit. “Bronx udah nggak perlu lagi kita pertahankan. Gue minta maaf. Gue duluan. Gue udah terlambat mentoring,” Radit pergi dari base camp Bronx.

Di base camp Riza mengepalkan tangannya. “Pengkhianat harus lenyap!.”

[[]]

Tak tahu kenapa hari itu hujan lebat sekali semenjak pagi. Hingga jam sekolah berakhir hujan tak mau berhenti. Karena hujan itu, masih banyak siswa yang terjebak di sekolah menunggu hujan berhenti. Rossa keluar dari kelasnya dengan gembira. Dia telah berubah. Sekarang dia menutup auratnya rapat2 dengan kerudung dan jilbab. Kemarin Radit mengantarkannya kepada personil Rohis putri yang dengan senang hati langsung “menangani” Rossa. Teman2nya terkejut dengan itu semua, tapi Rossa yakin dengan apa yang dilakukannya. Di siang yang kelabu itu dia ingin bertemu dengan Radit untuk berterima kasih.

Rossa memasuki aula sekolah, hujan masih lebat. Di hadapannya terlihat Riza sedang menelepon seseorang, dan nampaknya serius sekali. Rossa terus melangkah menuju masjid, dan melewati tempat Riza berdiri. Dengan tak sengaja, dia mendengar pembicaraan Riza dengan seseorang di ujung telepon.

“Bang, dia itu pengkhianat,” bisik Riza kepada orang di ujung telepon. “Pengkhianat harus dihabisi!.”

Saat mendengar itu jantung Rossa mencelos. Tiba2 Rossa menghambur ke arah Riza.

“Kak Riza mau apain Kak Radit?,” Rossa meneriaki Riza. “Dasar penjahat!!!.”

“Diem lu, perempuan jalang!!!,” Riza mendorong Rossa sampai terjatuh dan pergi begitu saja.

Dada Rossa bergemuruh. Dia mengkhawatirkan Radit. Dia berpikir dia harus memberitahu Radit apa yang sudah didengarnya. Dia segera bangkit dan berlari ke masjid.

“Kak Ruston, liat Kak Radit nggak?,” Rossa bertanya pada Ruston di ambang pintu masjid.

“Baru aja Radit keluar! Katanya mau ke base camp. Mau ngajakin temen2nya ngaji.”

Rossa terkejut mendengar jawaban Ruston. Kak Radit akan dicelakai, pikir Rossa. Rossa berlari keluar sekolah. Dia sudah tidak peduli dengan hujan yang mengguyur bumi. Air membasahi pakaian sucinya. Dia terus berlari menuju gerbang sekolah. Jalan raya di depan gerbang sekolah sepi sekali. Hanya satu-dua mobil saja yang lewat. Hujan benar2 lebat. Di gerbang sekolah, Rossa menoleh kanan-kiri mencari Radit. Di sepanjang trotoar pandangan Rossa mengembara, hingga di jarak yang tidak begitu jauh dia menemukan Radit sedang berjalan menjauhinya. Dia memakai payung hitam.

“Kak Radit,” teriak Rossa. Dia berlari mengejar Radit.

Radit menoleh ke belakang. “Itu kan Rossa!,” dia tersenyum. “Sekarang dia pakai jilbab! Tapi kok dia ujan2an?,” gumamnya pada dirinya sendiri.

Rossa mengejar Radit. Radit berbalik ke arah Rossa. Tiba2 lewatlah sebuah sepeda motor di jalan di sisi Rossa. Motor itu dikendarai oleh dua orang. Sepeda motor itu melaju mendahului Rossa, menentang air hujan. Samar2 Rossa melihat pengendara motor yang duduk di belakang mengeluarkan sebilah pisau. Mereka memakai helm full face sebagai topeng dan mereka terus mendekati Radit dengan cepat.

“Kak Radit awaasss!!!” Rossa menunjuk sepeda motor yang bergerak deras ke arah Radit itu. Namun terlambat, sedetik kemudian, tanpa Radit sadari, sepeda motor itu menyerempet tubuhnya dan orang yang duduk di jok belakang dengan cepat menikamkan pisau itu dalam2 ke pinggangnya dan langsung mencabutnya lagi, lantas mereka tancap gas melarikan diri. Tubuh Radit terkulai dan jatuh tertelungkup di atas trotoar. Darah dari lukanya larut dalam air hujan dan hanyut bersamanya. Payung hitamnya melayang entah ke mana.

Rossa berlari menghampiri Radit yang tertelungkup tak sadarkan diri itu. Rossa berdiri di sisinya, air matanya jatuh bersama hujan hari itu. Rossa mendekap erat bibirnya yang gemetar. Dia berlutut di sisi Radit. Dia mengangkat tubuh Radit ke atas pengkuannya dengan susah payah, dan menimang tubuh kekasihnya itu. Memeluknya! Melindunginya! Rupa2nya tak bisa dia menyatukan cintanya dengan Radit di dunia ini. Air matanya tecurah tak henti. Tapi bukanlah mereka yang mati itu benar2 mati, melainkan mereka hidup di sisi Tuhannya, dengan mendapatkan rezeki.

Seorang lelaki tegap rupawan melangkah dalam pandangan Radit. Menggenggam tangannya, membimbingnya. Tak pernah dia merasakan kehangatan serupa itu di antara jarum-jarum air hujan yang dingin dan keras. Lelaki itu tersenyum dan membawanya pergi, jauh sekali! Alam begitu lengang. Seluruh makhluk diam! Mengantarkan perginya seseorang yang jalan hidupnya akan selalu jadi tamsil ibarat. Perubahan memang sulit dan berat. Terkadang menyakitkan. Tapi Tuhan sudah menjanjikan sesuatu bagi mereka orang2 yang mau berubah: keabadian!! [djenderal4arwah]

The End

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s