Menulis Sampai Mati


The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket

Perkenalan saya dengan Edgar Allan Poe terjadi belum lama ini. Saya dapatkan beberapa naskahnya, kemudian saya telusuri siapa dia. Dari sekelumit kisah yang saya dapatkan, saya berkesimpulan, Edgar Allan Poe bukanlah penulis sembarangan. Mari kita ngobrol sejenak tentang penulis yang satu ini.

Sebagai pembuka obrolan, saya akan mengisahkan sebuah cerita tentang Allan Poe, dan kisah ini –saya percaya- akan memperlihatkan betapa hitamnya tulisan dan hidup Allan Poe.

Satu-satunya novel yang berhasil diselesaikan oleh Allan Poe sepanjang masa hidupnya berjudul The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket. Novel ini mengisahkan petualangan seorang pemuda bernama Arthur Gordon Pym dari Nantucket, mengarungi samudera bersama sebuah kapal pemburu paus bernama Grampus. Awalnya Pym hanyalah pendatang haram di Grampus. Dia diselundupkan ke kapal itu oleh seorang temannya yang bernama Augustus. Selama beberapa waktu, Pym berdiam di sebuah tempat persembunyian yang telah dipersiapkan oleh Augustus. Tanpa mereka perkirakan, terjadilah sebuah pemberontakan di atas kapal Grampus. Sebagian awak kapal melawan kapten kapal dan orang-orang yang mendukungnya, terjadilah huru-hara. Sebagian awak kapal dibunuh, sebagian lagi dibuang ke laut. Sementara kapten kapal dan beberapa awak kapal yang lain dilepas ke laut dengan sekoci. Augustus sendiri selamat karena dia berteman dengan seorang anggota pemberontak yang bernama Dirk Peters.

Kemudian bertemanlah Pym dengan Augustus dan Peters. Mereka bertiga merencanakan sebuah pemberontakan yang baru untuk mengambil alih Grampus. Pym harus berpura-pura memakai pakaian para pemberontak yang telah mati agar disangka hantu, untuk memuluskan rencana mereka. Pemberontakan pun berhasil, awak kapal yang tersisa dibunuh atau dibuang ke laut, kecuali seorang pemuda berusia 17 tahun, bernama Richard Parker (kalau Peter Parker itu Spiderman). Mereka menyisakan Richard Parker untuk membantu melayarkan Grampus.

Tiba-tiba badai besar datang. Gelombang mematahkan tiang kapal, menyobek layar, dan membanjiri geladak. Mereka berempat mengikatkan tubuh mereka ke badan kapal agar tidak terlempar ke laut. Mereka semua selamat, namun badai yang ganas itu hanya menyisakan sebuah kapal yang telah rusak, walaupun masih tetap bisa mengapung. Bencana belum berakhir, mereka dihantui bayang-bayang kelaparan dan kehausan karena bahan makanan telah habis tersapu badai atau membusuk. Sementara itu tak ada tanda-tanda mereka sedang mendekati daratan atau ada kapal yang lewat.

Suatu hari mereka melihat sebuah kapal berbendera Belanda mendekati Grampus yang sudah hancur-hancuran itu. Awak kapal Belanda itu bertopi merah, bersandar pada tepian kapal dan menyeringai lebar. Mereka bersorak kegirangan, seakan-akan dewa penolong telah datang. Saat kapal Belanda itu mendekat, lenyaplah semua harapan yang indah itu. Ternyata tak ada orang hidup di atas kapal belanda itu. Awak kapal bertopi merah yang menyeringai itu ternyata sudah mati. Seringainya adalah daging wajah yang membusuk.

Semua harapan seolah telah pupus. Richard Parker mengusulkan bahwa salah seorang di antara mereka harus mengorbankan dirinya untuk dimakan oleh yang lain. Usul itu disetujui oleh semua, undian pun dilakukan dengan sedotan. Nama yang keluar adalah Richard Parker sendiri. Parker harus menanggung nasibnya yang malang, menjadi santapan teman-temannya. Kanibalisme yang suram terjadi di atas Grampus. Pada akhirnya yang tersisa hanya Pym dan Peters. Mereka diangkut oleh sebuah kapal yang lewat, yang bernama Jane Guy. Augustus tewas karena luka yang didapatnya saat pemberontakan merebut Grampus. Petualangan Pym berlanjut sampai ke Kutub Selatan.

Kisah petualangan Pym adalah sebuah fiksi hasil imajinasi Allan Poe, walaupun dia sediri pernah menyatakan bahwa novel ini diinspirasi oleh kisah nyata. Namun fakta yang terjadi hampir setengah abad setelah diterbitkannya novel ini dan setelah kematian Allan Poe, berkata lain. Dan ini cukup membuat saya tercengang sekaligus bertanya-tanya, apa yang terjadi.

Pada tanggal 19 Mei 1884, sebuah kapal bernama Mignonette berlayar dari Southampton menuju Sydney.  Kapal itu diawaki oleh 4 orang: Tom Dudley sebagai kapten, serta tiga orang awak kapal bernama Edwin Stephens, Edmund Brooks, dan seorang lagi yang paling muda di antara mereka, berusia 17 tahun.

Sesampainya di barat laut Tanjung Harapan, Dudley memerintahkan awak kapal untuk memelankan laju kapal, agar kapal berlayar dengan santai sehingga setiap awak bisa beristirahat dan tidur nyenyak. Tak ada tanda-tanda akan terjadi badai, namun tiba-tiba sebuah gelombang besar menghantam Mignonette. Gelombang itu memporak-porandakan kapal, Dudley menyadari bahwa kapal tak bisa lagi dipertahankan, dia memerintahkan seluruh awak kapal menyelamatkan diri dengan sekoci. Dalam lima menit Mignonette karam, namun Dudley dan seluruh awak kapal selamat di dalam sekoci.

Bencana ternyata belum berakhir, mereka semua harus menghadapi ancaman kelaparan, sebab yang tersisa pada mereka hanya dua kaleng lobak. Mereka harus melewati berhari-hari tanpa kepastian, terombang-ambing di tengah laut. Ketika persediaan lobak habis, mereka makan apa saja yang mereka temukan (termasuk penyu yang lewat yang mereka makan hingga tulangnya, darahnya mereka minum). Mereka sangat menghindari minum air laut, karena dipercaya akan fatal akibatnya, sehigga mereka minum air kencing mereka sendiri.

Karena situasi semakin kritis, akhirnya terpaksa mereka minum air laut. Brooks dan awak kapal yang termuda itu minum air laut, yang membuat kondisi mereka semakin parah. Terlebih lagi awak yang termuda ini, dia sampai tak sadarkan diri karena minum air laut.

Dudley kemudian mengusulkan bahwa ada salah satu di antara mereka yang harus mengorbankan dirinya demi keselamatan yang lain. Namun Brooks menolak. Dudley melirik kepada awak kapal yang tidak sadarkan diri itu dan mengusulkan agar dia dibunuh saja. Sementara dia, Brooks, dan Stephens punya anak istri, siapa yang akan menangisi jomblo berusia 17 tahun yang mati di tengah laut, jadi baiknya dia saja yang dikorbankan. Lagipula kalau dia mati dengan cara dibunuh, darahnya masih segar untuk diminum, lain halnya kalau dia mati dengan sendirinya, darahnya sudah beku. Akhirnya keputusan dibuat, pemuda yang tak sadarkan diri itu akan dibunuh. Brooks tetap abstain. Dudley memanjatkan doa sambil mencabut pisau lipatnya, sementara Stephens memegangi kaki pemuda itu, takut kalau-kalau dia meronta. Dudley menikamkan pisau lipatnya ke jantung pemuda itu yang langsung tersentak bangun. “What me?” Rintihnya.

Mereka makan daging pemuda itu dan minum darahnya. Walaupun abstain, ternyata Brooks makan banyak dan lahap. Dudley juga makan banyak, sementara Stephens makan sedikit sekali. Ternyata manusia bisa sebegitu jahat dan kejamnya, kalau sudah urusan perut. Terbayang sekali betapa menjijikkannya minum darah dan daging mentah. Daging manusia lagi.

Tak lama kemudian datanglah sebuah kapal bernama SS Montezuma. Mereka semua diselamatkan oleh awak kapal itu. Sesampainya di darat mereka dijatuhi hukuman. Tom Dudley sendiri mendapat julukan yang tidak sedap, cannibal Tom.

Satu hal yang mencengangkan saya adalah, pemuda berusia 17 tahun yang tewas dibunuh kemudian dimakan itu bernama Richard Parker. Dan sampai di sini saya benar-benar tidak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi?

 

Edgar Allan Poe dilahirkan pada tanggal 19 Januari 1809 di Boston, Massachusets, Amerika Serikat. Dia terkenal dengan puisi dan prosanya yang misteri dan macabre (menggambarkan suasana suram dan murung, serta mengeksploitasi simbol-simbol kematian). Dialah penulis Amerika yang pertama kali menjadi praktisi cerita pendek, dan dianggap sebagai penemu genre fiksi-detektif. Dialah penulis Amerika pertama yang berusaha bertahan hidup hanya dari hasil menulis, walaupun kemudian menghasilkan kehidupan finansial dan karir yang sulit.

Karir menulisnya dimulai dari bawah sekali dengan pertama kali menerbitkan kumpulan puisi bertajuk Tamerlanes and Other Poems (1827) yang hanya dicetak 50 eksemplar, dan karya ini sama sekali tidak diperhatikan. Dia kemudian beralih fokus kepada prosa, dia juga bekerja di beberapa media sebagai kritikus naskah dan asisten editor. Pilihan hidupnya ini memaksanya untuk berpindah-pindah ke beberapa kota, di antaranya Baltimore, Philadelphia, dan New York.

Di Baltimore, pada tahun 1835, Allan Poe menikah dengan Virginia Clemm, sepupunya yang berusia 13 tahun. Pada bulan Januari 1835 dia menerbitkan puisinya yang terkenal, “The Raven”. Istrinya kemudian meninggal karena TBC dua tahun setelah penerbitan The Raven. Pilihan menjadi penulis pada masa Allan Poe sebenarnya adalah sebuah pilihan hidup yang berat. Pada masa itu hukum hak cipta belumlah sebaik sekarang, negara juga kurang memperhatikan nasib para penulis (tidak seperti di Khilafah Islam, yang walaupun tidak meratifikasi hukum hak cipta namun pemerintahannya sangat menghargai para penulis). Para penerbit lebih suka membajak hasil karya penulis-penulis Inggris, daripada membayar karya-karya baru dari penulis-penulis Amerika. Perekonomian pun diguncang oleh fenomena Panic 1837 (semaca krisis ekonomi di Amerika yang terjadi pada tahun 1837), yang membuat penerbit kerap kali mengabaikan pembayaran honor para penulis. Puisi The Raven yang dimuat di koran Evening Mirror dan berhasil melambungkan nama Allan Poe hanya dibayar $9 untuk penerbitannya.

Berbagai karya fiksi Allan Poe mengambil tema Gothic Horor dan banyak berkutat tentang peristiwa-peristiwa dan pertanyaan tentang kematian, juga tanda-tanda fisik tentangnya. Dia juga banyak membahas tentang efek pembusukan yang berhubungan dengan penguburan dan pembentukan kembali orang-orang mati. Selain horor, Allan Poe juga banyak menulis satire, humor, dan hoax.

Sebagai seorang kritikus literatur, Allan Poe kerap kali mengeluarkan lontaran-lontaran pedas terhadap penulis naskah-naskah yang dikrikitnya. Salah seorang penulis yang kebagian kritik pedasnya adalah Henry Wadsworth Longfellow. Allan Poe mempermalukan Longfellow secara terbuka dengan menyatakan “the heresy of the didactic” (bid’ah dalam didaktik), menulis puisi seperti menulis khotbah, dan secara tematis seorang plagiat. Allan Poe dengan tepat memprediksi bahwa reputasi Longfellow dan gaya sastranya akan akan dilupakan. Allan Poe juga dikenal sebagai penulis Amerika di abad ke-19 yang lebih populer di Eropa daripada di Amerika sendiri. Kisah detektif Allan Poe yang pertama menampilkan tokoh C. Auguste Dupin, yang kemudian tokoh ini menjadi landasan inspirasi kisah-kisah detektif di masa setelahnya. Sir Arthur Conan Doyle (penulis Sherlock Holmes) berkomentar: “Each [of Poe’s detective stories] is a root from which a whole literature has developed…. Where was the detective story until Poe breathed the breath of life into it?

Sayangnya, Edgar Allan Poe suka sekali mabuk. Dia pernah dipecat dari posisinya sebagai asisten editor di Souther Literary Messenger di Richmond karena ketahuan mabuk. Ketika istrinya meninggal pun dia mencari pelarian dengan mabuk-mabukan. Pada tanggal 3 Oktober 1849, dia ditemukan di sebuah jalan di Baltimore dalam keadaan mengigau. Rambutnya berantakan, matanya kuyu, tubuhnya lemah, wajahnya kotor, dan pakaiannya kumal. Beberapa sumber menyatakan bahwa pakaiannya itu bukanlah miliknya, karena kelihatan tidak muat. Dia diangkut ke Washington College Hospital di mana pada akhirnya dia meninggal pada hari Minggu, tanggal 7 Oktober 1849, jam 5 pagi. Selama beberapa hari menjelang kematiannya itu, Allan Poe tidak pernah berhasil menjelaskan kenapa dia bisa berada pada kondisi yang sangat aneh dan memprihatinkan itu. Disebutkan pula pada malam sebelum kematiannya, dia mengigaukan nama “Reynolds” berkali-kali. Sampai hari ini, siapakah Reynolds yang dia maksud tetaplah spekulasi. Beberapa sumber mengatakan bahwa kata-kata terakhir Allan Poe menjelang kematiannya adalah: “Lord help my poor soul.” Seluruh catatan medis hingga sertifikat kematiannya hilang. Berbagai spekulasi muncul di seputar sebab kematiannya. Ada yang menyebut karena alkohol, gagal jantung, ayan, sipilis, kolera, rabies, dll.

Misteri apa yang ada di balik naskah-naskah dan jalan hidup Edgar Allan Poe, hanya Allah-lah yang tahu. Hanya saja, marilah kita lihat tekadnya yang bulat untuk tetap menulis, dan jadi penulis. Seolah-olah dia ingin mengatakan pada dunia, “mau jadi miskin kek, mau dihina orang kek, apapun yang terjadi, gue bakal tetep jadi penulis.” Sebagai seorang muslim, kita punya sesuatu yang lebih berharga daripada Edgar Allan Poe, yaitu perjuangan menegakkan ideologi Islam. Tuangkan dia ke dalam tulisan, dan tetap teguhlah di sana, sehingga kelak akan menginspirasi serta menarik gerbong sebuah perubahan. Keep on writing!

Advertisements

One thought on “Menulis Sampai Mati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s