Dikibulin Demokrasi


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. teacher: what’s democracy? | student: the freedom to choose your own dictators!
2. mereka bicara tentang “bebas memilih” | sebenarnya anda hanya bebas memilih apa yang sudah mereka tentukan, paham? 🙂
3. jadi “bebas memilih” saat ini adl bebas memilih yang sudah mereka paksa untuk anda pilih, dan anda tak punya pilihan selain itu 🙂

Poin-poin di atas adalah beberapa tweet dari senior saya, mas Felix Siauw, seorang inspirator muslim, pendakwah yang tegas, pengusaha sukses, penulis best seller, sekaligus sosok yang saya kenal sangat tawadhu. Setiap kalimat di dalam tweet dan status-statusnya sarat dengan hikmah dan kebijaksanaan. Selalu memacu kita semua untuk menjadi lebih baik lagi. Ia selalu menjaga dirinya dari kata-kata yang tidak berguna. Saya rasa, beliaulah salah satu sosok pemuda (usianya masih kepala 2 walaupun anaknya sudah 3, hehe) pada masa kita sekarang ini yang mesti diteladani. Tapi marilah kita hentikan memuji Mas Felix karena pastinya beliau tidak suka dipuji-puji. Sekarang mari kita ngobrol tentang tweet Mas Felix yang berbicara tentang demokrasi di atas.

Ada banyak penipuan dan permainan kata di dalam demokrasi. Di antaranya adalah “demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Dari jaman fir’aun masih bujangan (peribahasa, maksudnya jaman dulu banget) demokrasi nggak pernah ada buat rakyat. Lihat aja, di dalam demokrasi, koruptor malah dapet remisi. Di dalam demokrasi pula pencurian harta kekayaan rakyat menjadi amat sangat leluasa.

Permainan kata yang lainnya adalah “bebas bertanggungjawab.” Istilah ini pernah dipropagandakan oleh guru PPKN saya semasa saya sekolah dulu. Dan saya jadi penentangnya yang utama (saya sampai berdiskusi dengan guru saya tentang isu ini). Istilah bebas bertanggungjawab ini sebenarnya adalah kumpulan dari dua hal yang sangat bertolakbelakang. Bebas tidak akan mungkin bisa disatukan dengan tanggungjawab. Orang yang bebas tidak akan mungkin bertanggungjawab, namanya juga bebas ya pastilah bertindak seenak udelnya sendiri. Orang yang bertanggungjawab pun tidak akan mungkin hidup bebas, sebab setiap tindakannya harus disesuaikan dengan standar tertentu yang mengharuskan dia memertanggungjawabkan tindakannya itu. Tapi di dalam demokrasi, kedua istilah ini dikawinkan, yaudah talak tilu sakalian.

Propaganda demokrasi yang menipu lainnya adalah apa yang disampaikan Mas Felix dalam tweet-nya di atas, “bebas memilih”. Lha di sebelah mana bebas memilih kalau pilihannya sudah ditentukan? Kalau emang bener-bener mau bebas memilih, nggak usah ada calonn presiden. Biarin aja rakyat bebas memilih presidennya sendiri! Kalau saya sih maunya bapak saya yang jadi presiden, biar keluarga saya pada makmur semua. Kalau kawan saya pengen bapaknya yang jadi presiden, yaudah biarin aja, namanya juga “bebas memilih”. Tapi ternyata kan nggak. Katanya bebas memilih, tapi pilihannya udah dibatasi duluan, cuman bisa milih nomor urut 1, atau 2, atau 3, atau 4. Di luar itu nggak boleh. Lha kalo kaya’ gitu ya nggak bebas memilih dong namanya. Hmph… dasar demokrasi, KADAL semua…!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s