Berbagai Kepayahan


A friend in need is a friend indeed, pepatah barat itu mungkin ada benarnya. Pasti akan ada banyak sekali orang yang mau berteman dengan kita ketika kita tertawa dan senang. Namun ketika kesulitan dan kepayahan yang murung datang, biasanya satu persatu teman meninggalkan kita. Dan teman yang baik adalah dia yang mau terus berteman dengan kita apapun keadaannya. Saat senang saling berbagi, saat sulit saling membantu. Dan Islam mengajarkan seperti itu.

Dan dalam tulisan sederhana ini saya ingin sekali berbagi sedikit kepayahan. Ketika seseorang telah menegakkan suatu cita-cita di dalam hatinya, Allah swt akan mendatangkan ujian yang berat akan cita-citanya itu. Hal itu pulalah yang saya rasakan. Ketika saya menegakkan cita-cita untuk penjadi penulis dan berjanji untuk terus menulis, Allah menguji saya dengan berbagai kepayahan.

Dwilogi SABIL saya tulis dalam keadaan seperti itu. Ekonomi keluarga berantakan. Label media yang saya bangun dengan kawan-kawan harus kolaps. Saya harus kenyang dengan hinaan. Putus kuliah. Dan berbagai macam kepayahan yang lain. Hingga pada suatu saat sampailah saya pada satu titik yang paling gelap, saya sudah tak tahu lagi apa yang mesti saya lakukan dalam hidup. Seolah-olah nasib memenjara saya, dan tak akan pernah lagi saya temukan jalan keluar. Buntu!

Waktu itu apa yang ada di kepala saya adalah, saya ingin sekali naik ke bukit, walau saya tak tahu apa tujuannya (bukan buat bunuh diri lho). Hanya dengan dua kali naik angkot, sampailah saya di bukit itu, bersama seorang kawan dekat saya. Baru beberapa kali saja saya ke sana, namun saya langsung menyukai tempat itu. Di puncak bukit itu ada batu karang yang bertumpuk-tumpuk, membentuk sebuah gua. Saya naik ke gua itu, awan dan langit tak bersudut di depan mata saya. Saat itulah saya berteriak sekuat-kuatnya. Saya hanya ingin menulis. Saya hanya akan terus menulis. Saya akan menulis sampai saya tak bisa menulis lagi. Tangan saya teracung tinggi-tinggi. Setelah saya berteriak, semua rasa sesak di hati saya menguap entah ke mana. Perjalanan menuju bukit itu menjadi pelajaran berharga buat saya.

Esok paginya, usai solat subuh, saya baca majalah pinjaman dari seorang kawan. Ada kisah perang sabil Aceh dalam majalah itu. Ketika itulah saluruh langkah menulis Sabil seolah-olah dihamparkan Allah di depan hidung saya. Seluruh langkahnya dari awal sampai akhir, tak ada yang tertinggal. Padahal sebelumnya belum pernah ada seorang pun yang mengajari saya menulis novel. Saya bahagia sekali mendapatkan petunjuk itu. Saya ikuti terus langkah-langkah itu dengan sabar, walau kepayahan masih terus mendera hidup saya. Saya garap Sabil dengan semangat menggebu. Saya menulis Sabil dengan tulisan tangan, semua naskahnya saya garap dengan tulisan tangan. Hampir setiap hari selama tujuh bulan saya menulis. Mulainya habis subuh, baru berhenti habis isya, hampir nonstop. Jari saya sampai bengkak dan kembang-kempis. Setelah selesai saya langsung mengirimkan naskahnya ke Mizan, hanya dengan pertolongan Allah, Mizan langsung menerimanya untuk diterbitkan. Saat ini saya sedang menunggu terbitnya seri kedua Sabil.

Dan saya semakin mengerti, bahwa kepayahan yang mendera saya, datang sambil berkata, “seberapa kuat kau bertahan di atas jalan cita-cita itu?” Dengan memohon pertolongan hanya kepada Allah, saya akan teriakkan bahwa saya akan tetap bertahan di sana.[sayf]

Advertisements

One response to “Berbagai Kepayahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s