Mendaki Tebing Karya


Seorang penulis baru bisa disebut sebagai penulis secara utuh, jika dia sudah memiliki karya. Semakin banyak dan semakin berkualitas karyanya, maka ia akan semakin diakui. Karya yang dimaksud di sini –bagi seorang penulis- adalah dalam bentuk tulisan, baik itu berupa buku, artikel, cerpen, puisi, dan berbagai bentuk tulisan lainnya. Karya pun bukanlah tulisan yang hanya dijadikan konsumsi pribadi, tapi juga harus dipublikasikan sehingga bisa dibaca semua orang. Dengan demikian, jika ada seseorang yang telah sedemikian banyaknya membuat tulisan, namun tulisannya itu hanya mengendap di dalam harddisk laptop atau di dalam buku catatannya saja, maka –tanpa mengurangi rasa hormat- dia belumlah bisa disebut sebagai penulis (mungkin baru setengah penulis). Seorang penulis mestilah membuat karya yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga harus bisa dibaca orang lain, dengan kata lain, karyanya itu mesti dipublikasikan.

Membuat karya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Seorang penulis seolah-oleh harus mendaki sebuah tebing yang tinggi sampai ke puncak tatkala membuat sebuah karya. Maksudnya begini, ketika membuat sebuah karya, seorang penulis pastilah mengawalinya dengan memunculkan sebuah ide. Kemudian ide itu ia kembangkan menjadi kerangka-kerangka, barulah ia menggarapnya menjadi naskah yang utuh, sampai selesai. Di tengah-tengah penggarapan karya itu pastilah akan ditemui berbagai kesulitan, persis seperti mendaki sebuah tebing. Dan ketika ia telah berhasil menyelesaikan karya itu, maka telah tibalah ia di puncak tebing dengan perasaan lega.

Menggarap sebuah karya membutuhkan kesabaran, konsentrasi, dan konsistensi yang tinggi, tidak boleh angin-anginan. Kalau angin-anginan, yang terjadi adalah naskah itu lambat selesainya, atau malah tidak akan pernah selesai sama sekali. Yang sering kali terjadi adalah, seorang penulis punya banyak ide brilian di kepalanya, kemudian ia mulai menggarap idenya itu dengan penuh semangat, tapi di tengah-tengah semuanya berantakan karena ada banyak hal yang mengalihkannya dari karyanya. Seorang penulis hebat bukanlah dia yang hanya punya ide brillian, tapi juga harus bisa memulai penggarapan idenya itu kemudian menyelesaikannya.

Ide-ide Islam dan perjuangan penegakan syariah Islam serta Khilafah Islamiyah sangat membutuhkan penulis-penulis tangguh yang pandai meliukkan pena dan mengguratkan makna. Jangan sampai tulisan-tulisan dan kisah-kisah tentang perjuangan Islam tenggelam oleh air bah karya-karya sekular-liberal yang menyesatkan. Keep on writing. [sayf]

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s