Tips dan Trik Menulis Fiksi-Sejarah


Sebelum memulai tulisan tentang tips dan trik menulis fiksi sejarah ini perlu saya informasikan bahwa saya tidak pernah mendapat pendidikan menulis secara formal. Saya juga jarang membaca buku seputar ilmu menulis. Jadi jika mungkin nanti terdapat kontradiksi antara isi tulisan ini dengan berbagai kaidah ilmu menulis yang telah baku, harap dimaklumi. Sebab saya memang tidak pernah belajar menulis secara formal. Apa yang saya tahu tentang menulis murni saya dapat hanya dari pengalaman saya saja.

Pertama-tama saya ingin berbagi tentang apa itu FIKSI SEJARAH yang ada di benak saya. FIKSI SEJARAH adalah kisah-kisah fiksi (rekaan atau khayalan) yang diinspirasi dari sejarah. Kalau dari dunia film, saya bisa menyebut bahwa film-film seperti Braveheart, Kingdom of Heaven, dan Fetih 1453, termasuk ke dalam genre fiksi sejarah ini. Begitu juga novel-novel yang berkisah tentang sejarah seperti Gadjah Mada, Putroe Neng, Impian terindah (karya Pak Salman Iskandar, salah seorang penulis Islam ideologis senior), dan Sabil (karya saya) termasuk ke dalam fiksi sejarah. karya-karya yang saya sebut di atas adalah karya-karya yang plot, alur, adegan, dialog, dan penokohannya, terinspirasi oleh sejarah. Dengan demikian akan sangat terlihat sekali bedanya, mana yang naskah sejarah dan mana yang naskah fiksi sejarah. Saya akan coba berikan sedikit contoh.

Pada adegan akhir dari film Braveheart, saat William Wallace (yang diperankan Mel Gibson) sedang disiksa, dia meneriakkan Freedom dengan tenaganya yang penghabisan. Padahal dalam sejarah William Wallace tidak pernah ditemukan bahwa dia meneriakkan freedom ketika disiksa. Dengan demikian adegan berteriak itu murni imajinasi dari pembuat film untuk mendramatisasi kematian William Wallace. Dalam sejarah aslinya, William Wallace memang mati disiksa, bahkan badannya dipotong-potong oleh Inggris.

Contoh lain adalah apa yang saya buat di dalam novel saya, Sabil. Di dalam sejarah disebutkan bahwa Teungku Cik Pante Kulu menulis karya agungnya, Hikayat Prang Sabil, dalam perjalanan pulang ke Aceh dari Makkah. Nah, dengan inspirasi dari catatan sejarah itu saya buat seperti ini.

Sejauh mata memandang hanya ada lautan. Beriak tenang, naik turun riang. Memukul-mukul mesra lambung kapal yang bergaris rapat. Bergoyang perlahan, berjalan dan menimbulkan ayunan ringan. Layar kapal menggelembung besar ditiup angin, mengantarkannya menuju persinggahan manusia di dunia. Semuanya kecil di tengah-tengah halaman samudra. Manusia hanya sehamparan zarah di tengah-tengah alam raya.

Nama-nama Allah yang suci terus berhamburan keluar. Menyerbu langit dari mulut pencinta-Nya, Teungku Cik Pante Kulu. Seluruh rangkaian ibadah haji telah dilaksanakannya. Harapannya melayang mengangkasa, meminta agar haji yang telah dilaksanakannya digelari mabrur di dalam pandangan Allah. Bukan di dalam pandangan manusia. Sebab, pandangan manusia tak berharga apa-apa.

Teungku Kulu sedang membungkukkan tubuhnya, bersandar pada tepian pagar kapal. Membiarkan angin memainkan selendang serbannya, dan menikmati tiupannya yang halus dan ramah. Nama-nama Tuhan terus menyeruak dari tenggorokannya. Dalam bisik-bisik halus yang menandakan bahwa ia cinta! Cinta yang sangat kepada Tuhannya. Senyum tipis tiba-tiba muncul di bibirnya ketika ia melihat lautan, matanya menerawang menyusuri alam. Sesekali tertuju pada awan yang berlipat-lipat, lantas mengembara lagi pada riak samudra. Makin pahamlah ia bahwa ia hanyalah makhluk Allah yang tak berdaya jika tanpa perlindungan dan petunjuk-Nya.

Kapal yang ditumpangi Teungku Kulu berlayar menuju Penang. Dari penang ia akan menumpang kapal lagi, terus berlayar ke Aceh. Tak sabar ia untuk menginjakkan kaki lagi di kampung halamannya. Di tanah suci memang menyenangkan. Namun tetap saja tak bisa mengalahkan gembiranya tiba di kampung halaman.

Rasa rindu yang nikmat di dada Teungku Kulu ternyata bercampur dengan rasa cemas yang menyiksa ketika ia membayangkan bagaimanakah kondisi Aceh ketika ia sampai nanti. Apakah Aceh telah berperang dengan Belanda? Ah, ia sungguh-sungguh tak bisa memastikannya. Hanya kecemasan itu sajalah yang ada di dadanya.

Tiba-tiba dari mulutnya keluarlah ayat-ayat Allah. Ayat-ayat tentang laut, langit, kapal, dan hidup manusia. Begitu indah Al-Quran menggambarkan semuanya. Ketika angan-angannya sampai ke Aceh, ia baca ayat-ayat tentang keteguhan, pengorbanan, surga, dan perang. Seketika air matanya menitik ke samudra, bercampur dengan geloranya. Ia bertobat kepada Allah berkali-kali. Cepat-cepat dihapusnya air matanya itu sebab awak-awak kapal dan penumpang yang lain ramai di sekitarnya.

Datanglah seseorang menghampirinya. Seorang lelaki berbaju putih dan berkopiah hitam. Kulitnya gelap dengan tekuk wajah yang keras. “Assalamualaikaum,” sapanya.

“Wa alaikumussalam,” sahut Teungku Kulu, ia tersenyum.

“Teungku sedang menikmati lautan?” tanya orang itu. Ia berdiri di samping Teungku Kulu, tangannya memegang pagar tepian kapal.

“Menikmati ciptaan Allah.”

“Perkenalkan namaku Iman Majo. Saudara pasti Teungku Cik Panté Kulu.”

“Senang sekali berkenalan denganmu. Tapi bagaimana kau tahu siapa aku?” Teungku Kulu penasaran pada orang yang baru dikenalnya itu.

“Ah, siapa yang tidak tahu pimpinan rombongon haji dari Aceh?” Iman Majo tersenyum.

“Kau orang Aceh pula?”

“Bukan, aku orang Padang,” sahut Iman Majo.

“Pulang dari ibadah haji juga?”

“Tidak, aku telah berhaji tahun lalu. Aku pulang dari tanah suci karena ada urusan dagang. Aku akan turun di Penang nanti.”

“Aku akan turun di Penang pula dan setelah itu terus ke Aceh.”

“Mendengar nama Aceh aku membayangkan keadaannya yang cukup genting saat ini, Teungku,” Air muka Iman Majo mendadak berubah.

“Apakah yang kau tahu tentang Aceh?” Mendengar Iman Majo bicara begitu antusiasme Teungku Kulu bangkit tiba-tiba. “Sebenarnya ketika aku akan berangkat haji pun berbagai macam desas-desus tak enak telah tersebar bahwa ada kemungkinan Belanda akan menyerang Aceh.”

“Hal itu pun sebenarnya telah banyak tersebar di penang. Ada banyak pedagang yang tidak menyukai apa yang kemungkinan akan dilakukan Belanda atas Aceh itu. Malah dari kabar-kabar yang aku dengar ternyata keadaannya lebih buruk lagi.”

“Bagaimanakah rupanya? Tolong ceritakan padaku,” Teungku Kulu menghadapkan seluruh badannya kepada Iman Majo, terbakar rasa ingin tahu. “Bagaimanakah kabar-kabar itu?”

“Pedagang-pedagang Inggris yang berhubungan denganku banyak yang menceritakan bahwa Inggris dan Belanda sedang menyusun sebuah perjanjian baru untuk memperbaharui perjanjian yang lama. Di perjanjian yang lama, dua negara itu masih memperhitungkan Aceh sebagai sebuah negara berdaulat dan keberadaannya tak boleh diganggu gugat sama sekali,” Iman Majo memandang sekilas kepada lautan, menunduk sedih. “Pada perjanjian yang baru ini, kabarnya mereka sudah tidak memperhitungkan keberadaan Aceh lagi sebagai Kesultanan yang berdaulat. Mereka menganggap Aceh sebagai sebuah wilayah bebas yang bisa ditaklukkan siapa pun!”

Teungku Kulu serius memperhatikan Iman Majo. Alisnya melengkung, sorot matanya tajam. Ia mendengarkan kata-katanya dengan saksama.

“Dengan kondisi ini, kemungkinannya Belanda menyerang Aceh akan makin besar, apalagi niatan-niatan itu sebelumnya memang sudah terlihat jelas,” Iman Majo menggenggam pagar kapal karena goyangan kapal cukup kuat dipermainkan gelombang.

“Belanda ingin sekali mengambil alih kendali atas wilayah-wilayah strategis di Sumatra, terlebih-lebih atas Aceh. Aku sendiri tidak tahu apakah perjanjian itu sudah ditandatangani atau belum. Kalau sudah, berarti perang memang sudah di ambang mata.”

Teungku Kulu mengangguk pelan. “Oh, begitu rupanya.”

“Kami pun, para pedagang, sebenarnya tidak setuju kalau memang Belanda menyerang Aceh. Sebab, kemungkinannya Belanda akan memblokade perairan dan pelabuhan sehingga perdagangan akan terhambat.”

Teungku Kulu mengarahkan lagi pandangannya ke lautan. Mengetahui apa yang seseungguhnya terjadi dari Iman Majo membuatnya merasa sedih. Ia membayangkan sesampainya ia di kampungnya nanti ternyata kampungnya itu telah musnah dibombardir tentara Belanda. Ia membayangkan orang-orang yang dicintainya telah tewas menjadi korban perang. Bayangan-bayangan menyedihkan itu terus berseliweran di dalam benaknya.

“Maafkan aku, Teungku! Bukan maksudku membuatmu khawatir seperti ini,” Iman Majo menyesal karena telah menceritakan apa yang diketahuinya kepada Teungku Kulu.

“Ah, jangan begitu! Lagi pula, tadi akulah yang memintamu menceritakan semuanya. Kalau memang Aceh ditakdirkan Allah harus berperang dengan Belanda, artinya Allah telah memberikan kehormatan kepada kaum muslim di Aceh untuk meraih surga! Kita harus menyambutnya dengan gembira.”

Iman Majo pun tersenyum. “Semoga Allah melindungi kita semua.”

“Mohon maaf, aku tak bisa menemanimu, ada yang harus aku lakukan,” Teungku Kulu pamit.

“Oh, silakan, Teungku! Tak apa-apa,” sahut Iman Majo. Setelah berbalas salam, mereka berpisah. Teungku Kulu masuk ke kapal, menuju kabinnya.

Ruangan kabin yang disediakan untuk Teungku Kulu di kapal itu tak terlalu besar, tapi rapi. Hanya ada sebuah ranjang kecil dan lemari pendek dengan dua laci di dalamnya. Teungku Kulu masuk ke kabinnya, menggelar sajadah mengikuti ke mana arah laju kapal dan melaksanakan shalat dua rakaat. Ia harus berdiri dengan kuat untuk menahan goyangan perlahan kapal. Setelah menyempurnakan shalatnya, Teungku Kulu membaca lagi ayat-ayat Al-Quran. Ia tak perlu mushaf lagi sebab ia telah menghafal seluruh isi Al-Quran di dalam kepalanya.

“Dan tidaklah orang-orang yang berperang di jalan Allah itu mati, melainkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki,” ketika bacaannya tiba kepada ayat Allah itu meneteslah air mata sucinya. Ia teringat Aceh. Ia teringat orang-orang di sana. Ia teringat dengan apa yang kemungkinan akan terjadi.

Allah Maha Memberi Petunjuk. Dia ilhamkan kepada Teungku Kulu sesuatu yang sangat berarti dan akan membuat segalanya berbeda. Teungku Kulu menarik laci yang ada di dekatnya, mengambil pena dan kertas, lantas menulis. Terus menulis….

Di atas kapal itu ia menulis Hikayat Prang Sabil dengan tinta dan penanya. Kelak ia akan menulis sejarah Perang Sabil dengan peluru dan darahnya.

Teungku Cik Pante Kulu memang menulis Hikayat Prang Sabil dalam perjalanan pulang dari Makkah ke Aceh. Tapi bagaimana cara dia menulis, di mana dia menulis, dan bagaimana gejolak emosinya saat dia menulis, itu hanya khayalan saya. Dengan demikian, fiksi sejarah adalah tulisan-tulisan fiksi yang diinspirasi oleh peristiwa-peristiwa sejarah. (bersambung)

Advertisements

One response to “Tips dan Trik Menulis Fiksi-Sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s