Tips dan Trik Menulis Fiksi-Sejarah (Part 2)


Ada begitu banyak hal menarik yang terjadi di masa lalu, dan cara kita mengetahuinya adalah lewat sejarah. Sayangnya ada cukup banyak orang yang tidak menyukai sejarah (ngaku aja deh, hehe). Mereka berpandangan bahwa sejarah tidak ada lagi hubungannya dengan zaman sekarang. Cuma mengungkit-ungkit kejadian masa lalu, apa gunanya? Padahal sebenarnya sejarah adalah salah satu subjek penting yang harus dipelajari setiap muslim.

Menurut Ust. Felix Siauw, seorang inspirator muslim TOP, penulis, sekaligus sejarawan, pemahaman paling dasar yang biasanya harus dikuasai seorang Khalifah selain ilmu-ilmu syariah adalah bahasa dan sejarah. Sebab sejarah bukan hanya mengungkit-ungkit kejadian masa lalu, tapi juga mengambil pelajaran dari apa yang pernah terjadi itu untuk mempersiapkan batu tapal dalam mengambil langkah selanjutnya. Di sisi lain, Al Quran pun sangat memerhatikan sejarah, terbukti dengan banyaknya ayat Al Quran yang memuat kisah-kisah sejarah.

Fiksi-sejarah adalah salah satu genre fiksi yang sangat menarik. Melelui fiksi-sejarah ini kita akan diajak menyelemi sejarah dengan cara yang berbeda, melalui khayalan (fiksi). Sebab fiksi-sejarah adalah sebuah karya fiksi yang diilhami dari sejarah (inspired by a true story). Fiksi-sejarah bisa merangsang pembacanya untuk mencari tahu tentang kisah sebenarnya dalam cuplikan fiksi-sejarah tadi.

Dalam tulisan ini saya ingin sedikit berbagi tentang bagaimana menulis sebuah fiksi-sejarah (baik berbentuk cerpen maupun novel). Namun sebelumnya saya ingin sekali lagi menekankan bahwa saya tidak pernah mendapatkan pendidikan atau training formal tentang tulis-menulis. Semua langkah ini saya dasarkan hanya kepada pengalaman saya saja dalam menggarap berbagai karya fiksi-sejarah. Jadi, jika mungkin ditemukan kontradiksi atau hal-hal lain yang menyalahi kaidah-kaidah baku yang sudah ada, harap dimaklumi (namanya juga nggak sekolah, hehe). Berikut langkah-langkahnya.

1. Berburu Data

Hal yang akan paling pertama muncul di dalam kepala seorang penulis sebelum menggarap sebuah karya fiksi-sejarah adalah ide cerita. Saya akan memberikan sebuah contoh tentang pengalaman saya menggarap saya yang berjudul AN NABHANY. Ketika saya membaca sebuah artikel yang menceritakan tentang kegagahan sultan Abdul Hamid II yang menolak tawaran Theodore Hertzl dengan gagah perkasa, muncul sebuah ide cerita di benak saya. Saya ingin sekali menulis fiksi-sejarah tentang peristiwa yang mengagumkan itu. Saya ingin menggambarkan kegagahan sultan Abdul Hamid II dan Syekh Yusuf An Nabhany yang mempertahankan tegaknya Khilafah Islamiyah habis-habisan.

Setelah kemunculan ide itu, mulailah saya mencari  berbagai data yang berkaitan dengan peristiwa sejarah, yakni peristiwa penolakan sultan Abdul Hamid terhadap tawaran Hertzl. Saya berburu pula data-data tentang siapa itu sultan Abdul Hamid, dan Syekh Yusuf an Nabhany. Penyeleksian data amatlah penting. Dengan data yang cukup, akan semakin mempermudah kita menggarap karya fiksi-sejarah kita. Pahami data-data tersebut, hayati dan pahami bagaimana peristiwa yang terjadi, rasakan bagaimana gejolak emosi yang dirasakan para pelaku sejarah itu.

2. Menyusun Kerangka

Langkah selanjutnya setelah kita mengumpulkan berbagai data, sekaligus telah memilih dan memahaminya, adalah menyusun kerangka. Kerangka ini berisi poin-poin yang garis besar cerita yang nantinya akan memudahkan kita dalam melakukan penggarapan naskah.

3. Melakukan Penggarapan

Melakukan penggarapan naskah fiksi-sejarah harus dilakukan dengan penuh minat dan kesabaran yang tinggi (begitu juga dengan bentuk-bentuk naskah yang lain). Poin-poin kerangka ini kemudian dikembangkan menjadi adegan-adegan dan dialog-dialog yang memukau, sampai selesai (tergantung penulis ingin membuat ending seperti apa).

Dengan poin-poin ini saya rasa tidak terlalu jauh beda langkah-langkah menggarap fiksi-sejarah dengan langkah-langkah genre fiksi yang lainnya. Jadi tunggu apa lagi? Let’s write. [the end]

Advertisements

5 responses to “Tips dan Trik Menulis Fiksi-Sejarah (Part 2)

  1. Assalamualaikum,ustad
    Bagaimana jika kita menulis fiksi sejarah ttg peristiwa tertentu,tapi tokoh utama cerita sendiri adalah fiktif belaka?
    Jadi sang tokoh inilah yg mengamati bagaimana jalannya sebuah sejarah itu?
    Terus,boleh gak kita nulis adegan fiktif berkaitan sang tokoh utama(misalnya tokoh utama membakar benteng musuh secara diam2 padahal dalam sejarah asli tidak ada adegan demikian)?
    Atau kita memang harus menulisnya sama persis seperti sejarah?
    Jazakallah jawabannya

    • Waalaikumussalam warahmatullah.
      Dalam fiksi sejarah kita bisa saja menggunakan tokoh sejarah asli sebagai karakter dalam karya fiksi kita, tetapi kita bisa juga menggunakan karakter lain yang mengamati jalannya peristiwa sejarah. Yang penting plot nya harus sesuai dengan jalannya sejarah. Misalnya, kalau dalam konstantinopel takluk, maka dalam fiksi harus juga dibuat bahwa konstantinopel itu takluk, tidak boleh dibuat konstantinopel tidak takluk. Hanya saja detil-detil adegannya bisa kita masukkan unsur-unsur adegan yang berasal dari imajinasi kita, dan di sinilah sisi fiksinya. wallahu’alam.

  2. Syukron sudah berbagi Mas. Saya mau tanya, kalau dalam sebuah tulisan, kita menggunakan percakapan dari salah satu adegan dalam sejarah. Apakah boleh percakapan atau perkataan itu ditulisan tidak seperti redaksi yang ada dalam buku? Ini konteksnya tulisan non-fiksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s