Sabil Aceh


Dulu, di akhir tahun 2004, ketika Aceh diterjang tsunami yang dahsyat, di berbagai media diputar sebuah lagu Aceh yang terdengar sendu sekali di telinga saya. Seolah-olah di dalamnya ada kepedihan, namun di sisi lain ada sebuah ketegaran yang tangguh, padahal saya sama sekali tidak tahu artinya. Waktu pun berjalan, hidup terus bergulir. Ternyata di kemudian hari lagu Aceh itulah yang mengantarkan khayal saya mengembara ke rimba-rimba Aceh; ke istana Sultan Aceh, istana Darud Dunya; turut merasakan gejolak hati Cut Nyak Dien; turut terbakar dalam tekad Teungku Cik di Tiro; dan ikut berazzam untuk melindungi Nanggroe Aceh seperti Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah.

Para pejuang mujahidin Aceh semasa Perang Sabil melawan Belanda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekitar bulan Maret 2009, saya bertemu kembali dengan syair Aceh misterius itu. Masa itu, kondisi saya sedang berada dalam keterpurukan. Sudah sejak lama saya azzamkan cita-cita untuk terus menulis, walaupun hidup berat sekali rasanya. Kepayahan hidup itulah yang terus-menerus memaksa saya untuk berhenti menulis, dan kemudian mencari penghidupan yang lain. Namun saya keras kepala, saya ingin membela cita-cita saya itu, apapun yang terjadi. Hingga kemudian Allah membayar mahal tekad saya itu, dengan mempertemukan saya kembali dengan syair Aceh yang misterius tadi.

Pada suatu hari di bulan Maret 2009, habis solat subuh, saya membaca sebuah majalah Islam yang namanya Eramuslim Digest (pinjam dari teman, sebab majalah itu lumayan mahal). Di dalam majalah itu ada sebuah artikel yang menceritakan tentang Perang Sabil, sebuah perang besar muslim Aceh untuk menahan invasi kaphe beulanda. Di sana saya membaca sebuah syair, dan syair itulah yang langsung mengingatkan saya pada syair tsunami tahun 2004 yang lalu. Syair itu adalah dododaidi. Ada sesuatu di dalamnya, yang menusuk ke dalam jiwa saya. Saya sampai menangis membaca syair itu (benar-benar menangis), sebab tergambar di benak saya, betapa tangguhnya perempuan-perempuan Aceh, dan betapa gigihnya muslim Aceh dalam Perang Sabil. Akan saya kutipkan sedikit syairnya:

… Allah hai dododaidang
Seulayang blang ka putoh talo
Beurijang reyeuk muda seudang
Tajak bantu prang tabela nanggroe

Wahe’ aneuk be’k taduek le’
Beudoh sare’ tabela bangsa
Be’k tatakot keu darah ile’
Adakpih mate’ po mak ka rela …

Syair dododaidi mennggambarkan banyak hal kepada kita, bahwa dulu, ketika kaum kaphe datang menjajah, jangan hanya duduk berdiam diri lagi, tegak berdirilah untuk membela bangsa. Hanya satu harapan mereka jika anak-anak mereka tumbuh besar: pergi berperang membela negeri. Jangan takut berdarah, jangan takut mati, bahkan kalau itu terjadi, sang ibu telah rela. Itulah lagu timang-timang para pejuang muslim Aceh. Siapa orangnya yang tidak menangis membaca keteguhan ini! Dan kemudian, seolah-olah spirit itu masuk ke dalam dada saya.

Setelah membaca dododaidi tiba-tiba Allah menanamkan sebuah ide ke dalam kepala saya: saya mesti menulis tentang kisah Perang Sabil Aceh yang menggetarkan ini. Setiap langkah untuk mewujudkan semua novel ini dari awal sampai akhir tergambar jelas di depan mata saya, padahal saya tidak pernah belajar menulis novel kepada siapapun. Mulai dari pengumpulan kisah-kisah sejarahnya, pembentukan kerangkanya, penggarapan cerita, sampai endingnya. Saya berpikir, saya sedang menuliskan sebuah kisah perang yang mungkin belum pernah ada. Perang Sabil di Aceh adalah perang yang panjang, perang besar antara keimanan melawan kekufuran.

Saya pun mulai membenamkan diri dalam sejarah perang sabil, dan semakin saya mendalaminya, saya kian tenggelam dalam samudera tekad yang menggelora. Baru kali itu, saya merasa begitu terpesona pada Aceh, kelak saya akan menjuduli novel saya ini: SABIL.

Kerangka SABIL pun terbentuk, saya mengembangkannya dengan minat dan semangat. Saya menulis seperti orang gila, saya mulai menulis dari habis subuh, dan baru selesai habis isya, hampir nonstop selama 7 bulan. Dan seluruh naskah SABIL saya garap dengan tulisan tangan, naskah asli SABIL dalam bentuk tulisan tangan saya masih saya simpan sampai sekarang. Saya menulis sampai jari saya bengkak, namun saya tidak menyerah. Karena seringnya saya menulis, jari saya pun akhirnya terbiasa. Setelah rampung, saya langsung mengirimkannya ke Mizan, dan langsung tembus. Mizan mengemasnya dalam bentuk dwilogi (dua seri). Buku pertamanya telah beredar sejak September tahun lalu di berbagai toko buku di Indonesia. Buku keduanya sedang dipersiapkan untuk terbit Insyaallah bulan April 2012 mendatang.

Saya ingin mengingatkan kembali generasi kaum muslim, bahwa kita punya nenek moyang yang tangguh, pemberani, dan teguh menggenggam Islam. Mereka mengerti, bahwa ketika mereka hidup dengan menggenggam Islam kuat-kuat, mereka akan meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Dengan Islam pulalah, mereka berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan negeri ini dari penjajahan. Apabila kita terpuruk saat ini, maka sebabnya hanya satu: kita tidak lagi menggenggam Islam kuat-kuat sebagaimana dahulu para pendahulu kita menggenggam Islam kuat-kuat.

Dan SABIL saya persembahkan untuk Aceh, untuk Islam, dan untuk seluruh generasi yang tidak sudi menyerah kepada penjajahan.

Advertisements

2 thoughts on “Sabil Aceh”

  1. Boleh koreksi? Ini penulisan yang benarnya:

    Allah hai dô dôda idang
    Seulayang blang ka putôh taloë
    Beu rijang rayek muda seudang
    Tajak bantu prang tabèla nanggroë

    Wahé aneuk bèk taduëk lé
    Beudoh saré tabèla bangsa
    Bèk tatakôt keu darah ilé
    Adak pih maté po ma ka rèla

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s