Bertemu Dengan Orang Soleh


Memang benar sekali apa yang beribu tahun yang lalu disampaikan oleh panutan kita Rasulullah Muhammad Saw., bahwa silaturahmi dan saling mengunjungi itu memang memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mengelola hubungan kita dengan orang lain. Apalagi jika saling mengunjunginya dengan orang-orang yang saleh, pastilah kita akan menangguk banyak ilmu dan kebijaksanaan dari mereka. Hal itulah yang terjadi pada saya baru-baru ini, dan bahkan saya mengunjungi orang-orang yang bukan hanya saleh tetapi juga sukses dalam bidangnya masing-masing. Saya banyak belajar dari mereka dan seluruh jempol yang ada di tubuh saya akan saya acungkan kepada mereka.

Obrolan Penuh Hikmah Lebih Nikmat Dari Sate Kelinci

Seminggu setelah idul fitri yang lalu saya dikontak via sms oleh bos saya di D’rise, Pak Adhi Maretnas Harapan. Kata beliau ust. Fatih Karim lagi ada di Medan. Beliau memberi saya nomor kontak ust Fatih. Mendapat informasi seperti ini saya jadi bergairah. Saya pikir rejeki nomplok bisa ngobrol lebih dekat dengan ust Fatih. Selama ini saya baru mengenal nama besarnya saja, belum pernah bertemu sama sekali. Beliau adalah guru dari mas Felix Siauw, sekaligus bos dari sebuah perusahaan event organizer taraf nasional, Mastermind event organizer. Beliau juga pionir penyelenggara paket training Cinta Quran. Beliau adalah juga owner dari label Sate Kabayan. Selain itu beliau juga seorang yang faqih fiddin sekaligus seorang pejuang Islam. Kesempatan seperti ini sama sekali tidak boleh saya lewatkan.

Saya kontak ust Fatih via sms, tak lama kemudian sms saya pun dibalas. Kami berjanji bertemu di kediaman ust Fatih di Medan. Saya datang mengunjungi ust Fatih bersama dengan seorang sahabat saya, Bang Nain. Ketika pertama kali bertemu dengan ust Fatih, saya sama sekali tidak menyangka usia beliau sudah “setua” itu, sebab wajah beliau memang imut dan baby face (saya sungguh-sungguh, hehe). Obrolan hangat langsung tercipta. Dari obrolan itulah saya banyak menyerap berbagai nasihat.

Dari kiri ke kanan: Koko Johan, Koko Yudi, Mas Felix Siauw, Ruston, Adit, Ishak, Firman, Rizki, Isa, Firdaus. Seusai acara akad nikah Dicky.

Beliau bercerita bahwa kebanyakan orang sekarang sudah tidak lagi bergerak berdasarkan logika, melainkan berdasarkan emosi. Salah satu contoh yang harus kita lihat adalah dari sebuah label kripik super pedas yang saat ini sedang booming lewat twitter, yang asalnya dari Bandung (kawan saya yang tinggal di Bandung bilang bahwa label kripik itu di Bandung sendiri sekarang sudah tidak booming lagi). Tingkat kepedasan dari kripik itu memiliki level-nya masing-masing. Kata beliau, level 7 sampai level 10 itu pedasnya sudah tidak masuk akal dan bisa merusak lambung, tapi masih banyak saja orang yang mengonsumsi label kripik itu.

“Karena itulah kita coba uslub-uslub dakwah yang bisa meraih emosi dan umat, untuk nantinya akan kita arahkan kepada pemikiran-pemikiran Islam idelogis,” ujar beliau.

Ust Fatih juga mendorong aktifitas menulis saya. Beliau mengakui saat ini memang masih sangat jarang pejuang ideologi Islam yang mau sungguh-sungguh bergelut dengan dunia fiksi khususnya novel, padahal di dalamnya ada pasar dan yang sangat besar. Dan beliau mendorong saya untuk bisa tetap fokus dengan bidang yang telah saya sasar sejak awal.

“Kalau antum sudah bisa dikenal sebagai penulis, sampe orang-orang pada bilang, ‘oh Sayf yang nulis novel Khilafah itu ya’, nah itu bagus sekali,” saya jadi terpacu karena dorongan beliau.

Sehari sebelum kepulangan ust Fatih ke Bogor, saya dan bang Nain, juga bang Julianda (kali ini bertiga) diundang lagi ke kediaman beliau. Makan malam yang hangat yang juga dengan obrolan penuh hikmah. Habis makan beliau menghidangkan sate kelinci yang mantap sekali. Baru kali itu saya mencoba sate kelinci, dan saya kesulitan mendeskripsikan rasanya. Tapi tetap saja, obrolan yang penuh hikmah dan ilmu dari beliau lebih mantap daripada sate kelinci yang mantap itu.

Tausyiah Nikah Penuh Barokah

Tanggal 9 september yang lalu saya berkesempatan untuk hadir pada pernikahan adik saya, Dicky, di Sukabumi. Alhamdulillah pada penikahan yang penuh barokah itu mas Felix Siauw hadir pula untuk memberikan tausyiah nikah. Saya jadi agak iri pada adik saya, sebab pernikahannya dihadiri dan diisi oleh seorang pejuang dakwah yang luar biasa seperti mas Felix (beruntung banget tuh anak).

Saat itu pun terjadilah obrolan yang seru dan penuh hikmah dengan Mas Felix. Ternyata beliau sedang menyelesaikan buku beliau selanjutnya yang membahas tentang hijab dan rencananya akan diterbitkan oleh Gramedia. Mas Felix juga memberitahu tentang beberapa tips tembus ke penerbit besar yang menurut beliau saat ini tidak terlalu sulit. Wah, tentunya ini jadi peluang besar bagi penulis-penulis Islam ideologis.

Saya sampaikan kepada mas Felix bahwa hari Senin saya akan ke Bandung, berkunjung ke rumah Pak Salman Iskandar. Tujuan saya ke sana adalah untuk silaturahim sekaligus mengambil beberapa pesanan buku terbitan lama yang akan saya jadikan referensi novel saya selanjutnya. Mas Felix cerita tentang kaum ya’juj dan ma’juj yang dikabarkan dalam hadis-hadis Rasul akan keluar lagi dari tempatnya dan akan berbuat kerusakan di muka bumi ini.

“Hal-hal kaya gitu tanyain aja ke Kang Salman, beliau banyak tahu tentang hal itu,” katanya. Dan apa yang disampaikan mas Felix merangsang rasa ingin tahu saya.

Takjub Kepada Buku

Keesokan harinya, senin tanggal 10 September 2012, saya bersama dengan dua orang sahabat saya yang dulu pernah merintis D’rise mini berangkat ke Bandung. Dua orang sahabat saya ini bernama Ishak dan Ruston. Keduanya termasuk ke dalam jajaran orang-orang yang diam-diam saya kagumi dan teladani karena pada usia lebih muda dari saya mereka telah menorehkan berbagai karya yang luar biasa. Ishak adalah seorang desainer grafis yang karyanya telah bertebaran di seluruh cover D’rise baik saat d’rise masih mini maupun sudah besar. Karyanya telah digunakan di berbagai penerbit. Sementara Ruston adalah seorang mahasiswa yang juga seorang entrepreneur. Ia adalah founder sekaligus owner dari industri kaos ideologis Khilafah Fighter. Pada usia semuda itu ia telah mengelola bisnis beromzet puluhan juta Rupiah dan tidak lagi bergantung pada kiriman orang tua setiap bulannya. Seluruh biaya pendidikan dan biaya hidupnya telah ia tanggung sendiri. Saya percaya orangtuanya pasti sangat bangga memiliki putra sepertinya.

Nah, bersama mereka berdua saya berkunjung ke kediaman Pak Salman Iskandar di Bandung. Pak Salman bukan orang baru dalam dunia tulis-menulis dan penerbitan. Beliau telah memulai karirnya dalam bidang ini bertahun-tahun yang lalu. Ketika mengobrol dengan mas Felix, ia pernah bilang, “waktu saya masih ngedot, kang Salman sudah menulis.” Kalimat itu adalah ungkapan yang sangat cocok untuk menunjukkan seperti apa kiprah Pak Salman. Selain sebagai seorang penulis, beliau juga seorang sejarawan dan ulama. Perjalanan kami bertiga untuk menemui Pak Salman akan menjadi perjalanan yang penuh dengan ilmu dan kebijaksanaan.

Kami sengaja berangkat jam 6 pagi dari Sukabumi, agar bisa sampai di Bandung agak pagian, sehingga bisa menikmati lebih banyak waktu di sana. Ternyata baru menjelang tengah hari kami tiba di rumah Pak Salman (setelah turun dari angkotnya kelewatan), begitu kami menginjakkan kaki di dalam rumah beliau, aroma ilmu dan intelektualitas langsung menguar. Sebuah rak di ruang tamu penuh dengan buku. Bahkan seolah-olah rak buku tersebut sudah kelelahan untuk menampung buku-buku yang sudah hamper overload. Dan komentar Pak Salman semakin membuat kami tercengang.

“Ini baru setengah,” katanya.

Buku-buku yang kami temui di rak buku tersebut hampir semuanya buku tua, ada yang terbitan zaman Soekarno (orde lama), ada juga yang terbitan zaman Soeharto (orde baru). Bahkan Pak Salman menunjukkan koleksi buku langkanya yang menjadi bukti sebuah pembelokkan sejarah oleh rezim Soeharto terhadap Soekarno. Beliau menunjukkan pada kami buku tua tentang biografi Soekarno yang ditulis oleh Cindy Adams terbitan tahun 1965, bukunya berbahasa Inggris. Dalam sebuah halaman tertulis bahwa Soekarno tidak mau membacakan proklamasi sebelum kedatangan Hatta. Kemudian Pak Salman menunjukkan buku yang sama namun diterbitkan kira-kira setahun kemudian setelah kepemimpinan beralih ke tangan Soeharto. Buku yang terakhir ini terjemahan, dan di dalam terjemahan itulah terjadi pembelokan sejarah yang disengaja. Pada bagian yang sama dengan terbitan sebelumnya terdapat paragraf tambahan yang sama sekali berbeda dengan edisi bahasa Inggris yang terbit tahun sebelumnya. Dalam terbitan yang baru itu disebutkan bahwa Soekarno tidak perlu menunggu Hatta dan Sjahrir untuk membaca teks proklamasi, bahkan Soekarno sama sekali tidak membutuhkan mereka berdua. Konon karena hal ini terjadilah konflik yang berat antara Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Parah, kan.

Obrolan kami juga sampai pada tanda-tanda kiamat berupa keluarnya ya’juj dan ma’juj dari tempat-tempat mereka dan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Lagi-lagi Pak Salman menunjukkan berbagai koleksi bukunya tentang tema ini.

Kaum ya’juj dan ma’juj disebut di dalam Al Quran surah al Kahfi, seiring dengan kisah Zulqarnain yang membuat tembok untuk menutup jalan mereka agar tidak bisa keluar dari tempatnya untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Namun Al Quran tidak memberikan keterangan lebih lanjut tentang siapa itu ya’juj dan ma’juj dan siapa itu Zulqarnain. Dari berbagai referensi yang telah dibacanya, Pak Salman mendapatkan gambaran bahwa ya’juj dan ma’juj adalah kaum nomad dari belahan bumi utara yang gemar berbuat kerusakan di muka bumi ini. Mereka buas dan suka membunuh karena hidup mereka keras. Tidak seperti orang-orang di belahan bumi selatan yang telah memiliki kehidupan yang lebih beradab. Bangsa Mongol dan Tartar yang pernah menghabisi peradaban Islam di Baghdad adalah termasuk ke dalam golongan ya’juj dan ma’juj ini. Kami ternganga dengan berbagai penjelasan yang mengalir indah dari lisan Pak Salman. Selepas ashar barulah kami minta diri.

Karena macet (menyebalkan sekali) kami kemalaman di Bandung, sehingga tidak bisa pulang ke Sukabumi. Akhirnya kami menginap di kosan Ruston, di kawasan Dipati Ukur. Di sana kembali kami berbagi ilmu dan kebersamaan. Subhanallah, Islam memang luar biasa. [sayf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s