Futuh Ruum [Episode 5]


Dmitri Medvedev, Presiden Rusia gemetar. Apa yang dia rasakan dirasakan pula oleh perdana menterinya, Vladimir Putin. Mereka berdua sedang tegak berdiri di dalam sebuah aula yang megah, di Istana Kremlin, Moscow.

Dinding-dinding aula di istana Kremlin itu penuh dengan lukisan-lukisan. Berbagai lukisan itu tidak tergambar di atas bingkai, tetapi memang tergambar di atas dinding aula. Sebuah lampu kristal yang besar dan indah sekali menggelantung di tengah-tengah ruangan. Seutas rantai yang kuat terjulur dari langit-langit dan mencengkeram lampu hias itu. cahaya yang benderang berpijar dari sana, menerangi seluruh ruangan. Pada dindingnya tertempel pula lampu dinding dengan desain yang menawan. Di lantai, karpet warna merah terhampar luas menutupi seluruh ruangan. Di tengah-tengah aula itu, sofa-sofa telah berjajar. Sofa-sofa itu disusun membentuk huruf “U”.

Di depan jajaran sofa yang indah-indah itu, Dmitri Medvedev dan Vladimir Putin telah berdiri menunggu. Beberapa pejabat teras pemerintah Rusia pun turut hadir. Mereka semua menatap ke ambang pintu aula.

Tak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu itu datanglah. Di ambang pintu aula muncul tiga orang laki-laki gagah. Mereka melangkah bersisian. Yang di tengah, Khalifah Muhammad Hasanuddin. Seperti biasa, ia mengenakan jas hitamnya yang sederhana, tak ketinggalan surban putihnya. Sepatunya yang hitam mengilap menjejak karpet merah dengan agung dan penuh wibawa. Dialah pemimpin besar dari sebuah negara besar, Khilafah Islamiyah. Sebuah negara besar yang telah mempersatukan seluruh negeri kaum muslim di dunia di bawah satu kepemimpinan seorang Khalifah. Sebuah negara yang diwariskan Rasulullah saw. sendiri kepada umatnya. Sebuah negera yang dijalankan berdasarkan hukum dari langit.

Melangkah di sebelah kanan Khalifah adalah Panglima Tinggi Khilafah Islamiyah, Jenderal Sayf Ali Khan. Dialah pemimpin militer Khilafah Islamiyah yang telah berhasil menahan serangan besar-besaran Amerika Serikat ketika Khilafah pertama kali berdiri. Dia pulalah yang telah merebut kembali tanah suci Palestina ke tangan kaum muslim dan menghilangkan negara Israel Yahudi dari peta dunia. Dia seorang pria yang tangguh dan kuat, tak ubahnya Salahuddin al Ayubi.

Di sebelah kiri Khalifah melangkahlah Duta Besar Khilafah untuk Rusia, Tayyip Effendi. Dubes Tayyip mengenakan kopiah tinggi khas turki, sebab dia memang orang turki. Dubes Tayyip sangat fasih berbahasa Rusia, sehingga dialah yang dipilih Khalifah untuk mengelola hubungan Khilafah dengan Rusia. Selain itu dia juga seorang akademisi yang telah sekian lama malang melintang di kancah hubungan internasional, khususnya dengan Rusia.

Khalifah Hasanuddin, Jenderal Ali Khan, dan Dubes Tayyip sedang mengadakan kunjungan bilateral dengan Rusia. Mereka akan mengikat sebuah perjanjian damai dan perjanjian ekonomi selama sepuluh tahun. Namun selain itu, ada manuver tersembunyi dari persetujuan Khilafah dengan Rusia. Kunjungan kerja keluar negeri haruslah murni untuk kemaslahatan kaum muslimin, bukan untuk plesiran.

Ketika Medvedev dan Putin menatap para pejabat tinggi Khilafah Islamiyah itu melangkah, ada sehelai kegentaran yang nyata terpampang di depan mata mereka. Medvedev saling menggenggam tangannya di belakang tubuhnya, berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa dia gemetaran. Putin menelan ludah. Dan setiap kali dia ulangi lagi perbuatan itu, semakin sulit saja dia menelan ludah.

Dengan senyuman yang ramah Medvedev dan Putin mempersilakan para pejabat teras Khilafah itu duduk di sofa. Mereka duduk saling berhadap-hadapan. Para pejabat pemerintahan Rusia duduk di sofa barisan belakang, tepat di belakang Medvedev dan Putin.

“Senang sekali bisa menerima kunjungan Khalifah dan koleganya di negeri kami,” Medvedev membuka percakapan.

“Kami yang sangat tersanjung dengan sambutan dan keramahtamahan Tuan Presiden, Tuan Perdana Menteri, serta seluruh jajaran pemerintahan Rusia,” kata Khalifah Hasanuddin dalam bahasa Rusia yang fasih. “Dan saya harap, persetujuan kita kali ini bisa menguntungkan kedua belah pihak.”

“Hal itu jugalah yang kami harapkan,” kata Putin.

Beberapa detik berlalu, kesunyian mengudara, tidak ada satupun dari mereka yang bicara. Seakan-akan ada kecanggungan yang aneh yang dirasakan oleh para petinggi pemerintahan Rusia itu ketika berhadapan dengan Khalifah. Ada pancaran wibawa yang agung yang keluar dari Khalifah Hasanuddin. Wajahnya yang tampan dan kedalaman ilmunya membuat siapapun menghormatinya, walaupun dia masih muda.

“Setelah jangka waktu sepuluh tahun berlalu, kira-kira bagaimana kelanjutan persetujuan kita?” Senyum merekah di wajah Medvedev. Dia membuka topik pembicaraan baru untuk menetralkan setitik kegundahan hatinya.

“Yang Mahatahu hanyalah Allah,” sahut Khalifah. “Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Yang akan kami lakukan saat ini adalah menepati seluruh isi persetujuan ini dan menjaganya baik-baik. Itu jugalah yang kami himbau kepada tuan-tuan tentunya. Semoga dengan sikap saling menghormati ini, kerjasama yang saling menguntungkan di antara kita bisa terus berlanjut.”

 

000

It’s an honour for me to see you, Prime Minister of England, Mr. David Cameron,”  Khalifah Hasanuddin menatap tajam pria berambut pirang yang duduk di hadapannya.

Oh, it’s also a pleasure for me to meet the Caliph of the Khilafah State,” jawab David Cameron.

Pertemuan antara Khilafah Islamiyah dengan Kerajaan inggris sedang berlangsung di kantor Perdana Menteri Inggris, di Downing Street nomor sepuluh. Khalifah duduk di sofa ruang tamu berhadap-hadapan dengan Perdana Menteri Inggris, David Cameron.

I believe, the bilateral agreement of peace and trade will provide us many benefits,” Khalifah menggerakkan tangannya saat sedang bicara. “I hope we can hold this agreement carefully.”

Obviously,” sahut Cameron singkat saja.

“Kami dengan amat sungguh-sungguh ingin sekali menekankan himbauan ini, Tuan Perdana Menteri.” Senyum tipis membayang di wajah Khalifah, namun sorot matanya memancarkan sorot ketegasan yang gagah. Sebelum itu tak pernah ada seorang muslim pun yang mampu melakukannya. Inggris telah lama memegang kendali atas negeri-negeri kaum mulsim. Telah lama menginjak-injak tanah kaum muslim. Dan kaum muslim tak ubahnya budak di bawah jejak lars Inggris. Kini keadaan berubah setelah keberadaan Khilafah Islamiyah.

“Maksud anda?” Tanya Cameron. Ada tanda tanya terlukis di wajah Perdana Menteri Inggris itu.

Khalifah bicara dengan halus dan lembut. Suaranya penuh wibawa, dengan tempo yang tertata. Dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua belah pahanya. Punggungnya bersandar dengan nyaman di sofa. Dan apa yang akan dia katakan akan membuat gentar seluruh Inggris Raya.

“Sejarah mengungkapkan bahwa dahulu Inggrislah yang turut campur tangan dalam konspirasi meruntuhkan Khilafah Islamiyah. Inggris menyuplai dana, senjata, bantuan logistik, dan banyak hal lagi kepada pemberontak. Inggris menghembuskan paham nasionalisme sehingga kaum muslim terpecah-belah dan Khilafah Islamiyah berantakan. Anda tahu, Tuan Perdana Menteri, seberapa jahatnya apa yang telah dilakukan Inggris bagi Khilafah Islamiyah dan kaum muslim?”

Cameron terpaku menatap Khalifah. Ekspresinya datar, ia sudah kebingungan mencari kata-kata.

“Karena perbuatan Inggris,” lanjut Khalifah, “ribuan bahkan jutaan anak-anak kami tewas menjadi korban. Ribuan bahkan jutaan wanita kami diperkosa. Ribuan bahkan jutaan umat kami kehilangan rumah dan harta bendanya.”

“Mengapa anda menyalahkan Inggris atas apa yang terjadi pada muslim, Khalifah,” gumam Cameron. Sebelah alisnya terangkat, jantungnya berdegup kencang.

Sudah tidak ada lagi senyum di wajah Khalifah. Tatapan mata Khalifah setajam pedang yang siap menusuk sanubari. “Saya bukan menyalahkan Inggris. Saya hanya mengingatkan Inggris tentang seberapa besar dosa yang telah dilakukan Inggris kepada kaum muslim. Dan siapapun yang berdosa, pasti akan mendapatkan balasan atas dosa-dosanya. Sekali lagi saya tekankan kepada anda, Tuan Perdana Menteri, pegang teguh perjanjian yang sudah kita sepakati ini. Kesalahan-kesalahan yang dahulu jangan diulangi lagi. Jika saya temukan gelagat yang kurang baik dari Inggris…”

Khalifah Hasanuddin duduk tegak, kemudian ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Cameron, “… akan saya serukan seluruh kaum muslim untuk melaksanakan jihad akbar melawan Inggris, hingga bendera Union Jack tidak akan pernah berkibar lagi sampai hari kiamat. Do I make myself clear, Mr. Prime Minister?”

Cameron gemetar, keringat dingin tiba-tiba bercucuran dari keningnya. Dia tak bisa menjawab apa-apa. Hanya anggukan pelan saja yang bisa dia lakukan.

“Good!” Gumam Khalifah. [Bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s