Sastra Perang


Saya pernah mendengar ada orang yang meremehkan fiksi dan sastra. Katanya bentuk tulisan seperti ini tidak efektif untuk menyampaikan ide-ide Islam ideologis. Hanya bentuk-bentuk tulisan artikel, esai, dan berbagai bentuk tulisan ilmiah dan politik sajalah yang mampu menyerukan pesan-pesan dan seruan-seruan Islam ideologis. Pandangannya ini kemudian membuatnya mencibir fiksi dan sastra.

Dengan pandangan seperti ini terus terang saya kurang setuju. Sebab setiap bentuk tulisan memiliki keunggulan dan kekhasannya masing-masing. Begitu juga setiap bentuk tulisan memiliki penggemarnya sendiri-sendiri. Kita tidak bisa memungkiri bahwa di luar sana ada banyak sekali orang yang sangat memerhatikan fiksi dan sastra. Jika tulisan-tulisan dalam bentuk artikel, esai, ilmiah, dan politik itu bisa menyerang pemikiran dan argumentasi pembaca, maka fiksi dan sastra akan menyasar hati dan emosi pembaca. Dua-duanya memiliki pasarnya masing-masing, dan para pejuang pena ideologis mesti bisa menguasai opini di dalam dua ranah itu.

Pendapat bahwa fiksi dan sastra tidak bisa dijadikan sebagai media penyampai pesan-pesan Islam ideologis juga sepenuhnya keliru. Sebab dalam sejarah, banyak sekali peristiwa besar yang melibatkan fiksi dan sastra dalam upaya pembelaan terhadap ideologi Islam. Karena dorongan fiksi dan sastra banyak orang yang tergerak untuk mengorbankan dirinya demi mempertahankan ideologi Islam. Salah satu contoh yang terbaik adalah apa yang terjadi pada peristiwa Perang Sabil di Aceh. Pada masa itu beredarlah karya-karya sastra perang yang berhasil mengobarkan semangat rela berkorban dan semangat jihad muslim Aceh untuk melawan Belanda. Salah satunya yang paling masyhur adalah Hikayat Perang Sabil karya Teungku Cik Pante Kulu. Hikayat ini ditulis dalam bahasa Aceh beraksara Arab (saya pernah melihat naskah aslinya yang beberapa bagiannya tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta). Di dalam hikayat ini Teungku Cik Pante Kulu menceritakan berbagai kisah fiksi dengan runutan bahasa yang indah. Ada empat kisah di dalam Hikayat Perang Sabil yang kesemuanya fiksi: kisah Ainon Mardhiyah, kisah Said Salmy, kisah Pasukan Gajah, dan kisah Anak Mati Hidup Kembali. Semua kisah itu bernapaskan ideologi Islam, yaitu keyakinan dan semangat untuk mempertahankan negeri dari penjajahan.

Pada masanya Hikayat Perang Sabil menjadi karya sastra yang paling ditakuti oleh Belanda. Siapapun yang kedapatan menyimpannya akan ditangkap dan mendapatkan hukuman setimpal. Bahkan dikisahkan bahwa pada suatu hari Teungku Husein az Zahir, seorang ulama pemimpin perlawanan yang berasal dari nanggroe Bambi, terpaksa harus melarikan diri dengan menyeberangi lautan. Karena gelombang lautan yang cukup besar, tanpa sengaja kitab hikayat perang sabillnya terlempar ke laut. Beliau sampai menangis tersedu-sedu karena peristiwa itu. Hikayat Perang Sabil telah dijadikan bacaan wajib setelah Al Quran.

Jika kita memandang keluar kaum muslim, kita akan melihat bahwa novel Max Havelaar karya Multatuli telah berhasil membuka mata banyak orang tentang betapa sadis dan bengisnya penjajahan Belanda di kawasan nusantara. Novel itulah yang telah meninspirasi Politik Etis yang dalam beberapa aspek telah mengubah kebijakan pemerintah Belanda terhadap warga pribumi.

Jelas sekali bahwa setiap bentuk tulisan memiliki efektifitasnya masing-masing, dan sama-sama bisa kita gunakan untuk menyuarakan ideologi Islam. Dengan demikian jangan sampai sesama pejuang pena Islam ideologis saling mencibir satu sama lain hanya karena perbedaan genre. Seharusnya yang dibangun adalah kerjasama yang sinergis untuk bersama menyuarakan ideologi Islam di tengah-tengah medan perang literasi di negeri ini. Sebab jika di tengah-tengah ranah nonfiksi terjadi perang opini, itu jugalah yang terjadi di tengah-tengah ranah fiksi dan sastra. Maju terus penulis Islam ideologis… [sayf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s