Pajak Yang Menggelikan


Si Ucok geleng-geleng kepala. Pasalnya, ia tak habis pikir ketika iseng-iseng membaca struk belanjaan. Ternyata hampir semua barang yang dibelinya terdapat pajak pertambahan nilai sekian persen. Ucok lagi-lagi geleng kepala ketika kepala dusun mengumumkan lewat pengeras suara masjid bahwa semua warga dusun wajib membayar Pajak Bumi dan Bangunan atas tanah dan bangunan yang mereka tempati. Ucok juga tercengang ketika kereta butut yang dibelinya dengan peras keringat dan banting tulang siang malam harus kena pajak kendaraan setiap tahunnya. Ucok semakin merana ketika dia tahu bahwa gajinya yang sudah kecil lagi-lagi harus disunat oleh Pajak Penghasilan. Ucok hanya bisa mencibir dan mengelus dada ketika dia melihat iklan pajak di televisi, “apa kata dunia?” Sekarang hampir semua sisi kehidupan Ucok sudah kena pajak. Apalagi yang tertinggal? Mungkin ketika dia mati, dia harus membayar untuk liang lahatnya. Mungkin hanya di akhirat saja dia akan terbebas dari pajak.

Apa yang terjadi pada si ucok terjadi juga pada kita semua. Pajak sudah mencekik hampir seluruh kehidupan kita, dan dia begitu menggelikan. Menggelikan? Ya, menggelikan! Kita lahir di negeri ini, tumbuh di negeri ini, dan mungkin kita akan mati di negeri ini, tapi mengapa kita mesti membayar sejumlah uang untuk tinggal di tanah kelahiran sendiri? Kita membangun rumah dengan hasil jerih payah kita sendiri, tapi mengapa kita harus membayar sejumlah uang karena rumah yang kita miliki? Kita membeli kendaraan dengan uang kita sendiri, lantas kenapa kita harus terus menerus membayar sejumlah uang setiap tahun hanya karena kita memiliki kendaraan? Kita peras keringat, banting-tulang, bekerja siang malam, lalu kita digaji, lantas mengapa kita mesti membayar sejumlah uang karena kita dapat gaji? Dengan demikian betapa menggelikannya pajak itu, sebab dia diberlakukan hanya untuk sebab-sebab yang tidak masuk akal. Kalau kita renungkan segala sesuatu tentang pajak, kita akan merasakan betapa menyesakkannya hidup di negeri ini. Padahal negeri ini negeri kita sendiri.

Kalau begini apa bedanya jaman sekarang dengan jaman Belanda dulu? Pada masa itu Belanda juga memberlakukan pajak-pajak yang tidak masuk akal pada pribumi. Ada pajak jendela, yang diberlakukan berdasarkan berapa banyak jendela yang dimiliki sebuah rumah. Semakin banyak jendelanya, semakin besar pajaknya. Ada juga pajak tebu, yang didasarkan pada berapa banyak tebu yang dipanen seorang petani tebu.

Membayar pajak jadi semakin menyakitkan ketika kita tahu ternyata pajak hanya jadi objek korupsi para pejabat. Hasil dari membayar pajak juga belum maksimal kita rasakan sekarang ini. Buktinya pelayanan publik masih amburadul, berbagai fasilitas publik juga masih sangat memprihatinkan. Pendidikan dan kesehatan mahal. Lantas dikemanakan dana pajak yang sebegitu besar? Mengapa dikerahkan berbagai macam cara untuk menarik pajak dari rakyat, sampai-sampai memberlakukan pajak-pajak yang menggelikan itu. Padahal tanah kita kaya raya. Jika kekayaan alam negeri ini diserahkan untuk kepentingan rakyat niscaya tidak perlu ada pajak yang membebani rakyat di negeri ini.

Semua hal menggelikan tentang pajak ini tidak asing lagi di dalam sistem kapitalisme. Sistem ini memang tidak akan pernah berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Sudah saatnya kita membuang sistem ini dari kehidupan kita, dan kembali kepada sistem yang lahir dari akidah sendiri, yaitu sistem Islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s