Pemuda Bersarung Kondom


Ketika gedung WTC meledak pada tahun 2001, tudingan terorisme langsung diarahkan ke hidung kaum muslim. Osama bin Laden langsung dijadikan kambing hitam, dan langkah selanjutnya adalah menyerang Afganistan hanya dengan berbekal dugaan bahwa di sana ada teroris al Qaeda yanng dipimpin oleh bin Laden. Pesawat-pesawat tempur Amerika beterbangan di udara Afganistan dan menjatuhkan bom-bom curah yang dalam sekejap meledakkan rumah-rumah penduduk dan menjatuhkan ratusan korban jiwa. Semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan satu orang, Osama bin Laden.

Kita bisa melihat bahwa Amerika selalu saja memakai cara-cara praktis dan instan untuk menyelesaikan suatu masalah, tanpa mempertimbangkan lebih jauh apa akibat dari tindakan itu. Bayangkan saja, mencari seorang bin Laden, tapi mengebom begitu banyak desa di Afganistan. Dengan kata lain kita bisa menyebut bahwa tindakan ini seperti membunuh nyamuk menggunakan senapan. Nyamuknya belum tentu mati, tapi orang-orang di sekitar kita yang akan lebih dulu jadi korban.

Cara-cara seperti ini bisa kita temukan juga dalam ‘gebrakan’ yang akan dilakukan oleh Menkes yang baru, Nafisah Mboi. Dia berencana untuk mempermudah akses remaja dalam mendapatkan kondom guna menekan angka aborsi dan kehamilan yang tidak diinginkan di tengah-tengah remaja. “Kita berharap bisa meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi untuk remaja. Dalam Undang-Undang, yang belum menikah tidak boleh diberi kontrasepsi. Namun kami menganalisis data dan itu ternyata berbahaya jika tidak melihat kenyataan. Sebanyak 2,3 juta remaja melakukan aborsi setiap tahunnya menurut data dari BKKBN,” kata Menkes. Menkes melihat, angka sebanyak itu menunjukkan bahwa banyak remaja mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Ia menegaskan, Undang-Undang perlindungan anak menyatakan bahwa setiap anak yang dikandung sampai dilahirkan harus diberikan haknya sesuai UU Perlindungan Anak. Maka, mempermudah akses remaja untuk mendapatkan kondom diharapkan dapat menekan angka aborsi dan kehamilan yang tak diinginkan (detik.com 15/5/2012).

Cara-cara Menkes ini mirip dengan tindakan-tindakan yang diambil Amerika ketika akan menyelesaikan suatu masalah, maunya cepat, serba instan, dan simplistik. Sekaligus tidak memikirkan apa dampak dari tindakan tersebut. Terlebih lagi tindakan-tindakan tersebut tidak menyentuh akar permasalahan sama sekali. Malah kemungkinan besar akan menciptakan masalah baru.

Jika masalah aborsi dan tingginya angka kehamilan yang tidak diinginkan itu diselesaikan dengan memudahkan akses remaja untuk mendapatkan kondom, kira-kira apa yang akan terjadi? Tentu saja peluang remaja untuk melakukan seks bebas akan semakin tinggi. Mereka akan merasa lebih aman untuk melakukan seks bebas tanpa perlu takut hamil. Dengan demikian seks bebas akan jadi semakin marak, dan moral remaja kita akan jadi semakin bejat.

Padahal akar permasalahan dari aborsi dan kehamilan yang tidak diinginkan itu adalah seks bebas, maka seharusnya seks bebas itulah yang mesti dimusnahkan. Semua peluang yang bisa menjurus kepada seks bebas harus dimusnahkan juga. Semua situs porno harus diblokir pemerintah, semua tayangan TV yang menjurus pada pacaran dan percintaan remaja harus dilarang, aktivitas kencan dan berdua-duaan mesti dilarang, dll. Sebab itu semua bisa mengarah kepada seks bebas. Sayangnya, tentu saja semua hal itu sulit sekali dilakukan karena negeri ini menerapkan paham liberalisme, hidup seenaknya dan semaunya sendiri. Sudah saatnya paham sesat itu disingkirkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s