Indonesia Mirip Hindia-Belanda [2]


Eksekusi hukuman gantung di Batavia.

Semakin ditelusuri, ternyata makin banyak saja kemiripan antara Indonesia dengan Hindia-Belanda. Dan semua ini menandakan bahwa kita belumlah merdeka. Berbagai slogan kemerdekaan yang selama ini kita gembar-gemborkan ternyata hanyalah slogan-slogan yang menipu, sebab pada hakikatnya kita belumlah merdeka. Penjajahan yang kita derita pada periode inipun ternyata lebih parah daripada penjajahan yang lalu.

Kalau pada penjajahan yang lalu, bangsa-bangsa asing penjajah itu harus datang ke negeri ini kemudian menodongkan moncong senjata mereka kepada kita. Mereka harus berperang bertaruh nyawa dengan kita barulah mereka bisa mengeruk semua sumberdaya alam kita. Tapi pada penjajahan di masa sekarang ini, orang-orang asing penjajah tidak perlu lagi berperang dengan kita untuk mengeruk semua kekayaan alam kita. Mereka tinggal menanamkan anak-anak negeri kita sebagai antek-antek mereka, untuk kemudian mereka bebas datang ke negeri kita dan mengeruk semua kekayaan alam kita. Lihat saja berbagai sumber daya alam kita dikeruk oleh berbagai perusahaan multinasional seperti Freeport, Newmont, Exxon, dan banyak lagi. Mereka beroperasi di negeri kita secara legal karena mendapat izin dari pemerintah dan diizinkan juga oleh undang-undang yang mereka buat. Dan yang lebih parahnya lagi adalah, dengan semua kondisi itu kita tidak merasa dijajah.

Kemiripan Indonesia dan Hindia-Belanda

Kalau kita bertanya kepada mahasiswa-mahasiswa dari fakultas hukum “apakah benar hukum kita masih merujuk kepada hukum Belanda?”, maka pastilah mereka akan membenarkan hal itu. Sudah rahasia umum bahwa hukum yang kita pakai sekarang ini adalah warisan Belanda.

Salah satu kemiripan antara jaman Indonesia dengan jaman Hindia-Belanda adalah dalam hal pajak. Pada jaman Hindia-Belanda ada banyak sekali pajak yang menggelikan yang diberlakukan oleh pemerintah penjajah itu. Ada pajak gula, yang dikenakan pada petani gula. Ada pajak tanah (landrent). Dan bahkan ada pajak jendela, yang diberlakukan berdasarkan berapa banyak jendela yang dimiliki sebuah rumah. Semakin banyak jendela yang dimiliki, akan semakin banyak pula pajak yang dikenakan. Dan banyak lagi pajak-pajak yang menggelikan yang lain. Pajak-pajak yang menggelikan inilah salah satu pemicu pecahnya Perang Jawa yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro terhadap Belanda pada tahun 1825.

Pada jaman Indonesia bagaimana? Ternyata sama saja. Walaupun sudah puluhan tahun kita merdeka, ternyata rakyat belum bisa bebas dari berbagai pajak yang menggelikan. Lihat saja, hampir dari ujung rambut sampai ujung kaki kita kena pajak. Kalau kita beli motor, maka setiap tahun kita berkewajiban untuk membayar pajak kendaraan bermotor. Padahal motor dibeli pake duit sendiri, kalau rusak diservis pakai duit sendiri, lantas kenapa kita harus membayar sejumlah uang hanya karena kita ‘memiliki sebuah motor’? Begitu juga dengan Pajak Bumi dan Bangunan. Kita kan lahir di sini, besar di sini, tinggal di sini, dan bahkan mungkin nanti mati di sini, tapi kenapa kita mesti membayar sejumlah uang hanya karena semua kondisi itu? Tandanya kita tinggal di negeri ini ngontrak karena setiap periode kita harus membayar. Merana sekali.

Advertisements

2 responses to “Indonesia Mirip Hindia-Belanda [2]

    • sumber daya alam kita kan banyak. negeri kita kan gemah ripah loh jinawi. kalau sumber daya alam itu dikelola dengan benar, pajak itu nggak ditagih dari rakyat. pajak itu kan bikin rakyat menderita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s