Futuh Ruum [Episode 6]


Roma Palazzo Quirinale

Istana Quirinal yang megah berdiri kokoh di bukit Quirinal, salah satu dari tujuh bukit tertinggi di Italia. Istana itu dibangun oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1573, dan telah bertahun-tahun lamanya menjadi tempat tinggal para Paus dan raja-raja Italia. Dan kini, istana itu menjadi Istana Kepresidenan Italia.

Hari masih pagi ketika Khalifah kaum muslim, Muhammad Hasanuddin, diterima dengan hormat oleh Presiden Italia, Giorgio Napolitano, dan Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, di dalam sebuah ruangan yang megah. Seperti biasa, Khalifah tetap tampil dengan jas hitamnya yang sederhana dan sorban putih dengan selendang sorban menjuntai di bahu kanannya. Ketampanan dan pancaran ketakwaan menguar dari dirinya. Membuatnya menjadi lelaki yang disegani walau usianya masih relatif muda. Kedatangannya ke Italia bukan untuk pelesiran seperti kebiasaan pejabat-pejabat sebuah negara di kawasan Asia Tenggara yang dahulu bernama Indonesia, namun untuk menjalin sebuah perjanjian bertetangga baik dengan Italia. Dan perjanjian ini bukan sekadar perjanjian, ada manuver politik yang sangat menawan di belakangnya.

“Senang sekali bisa menjalin kerjasama yang baik dengan negara Khilafah,” kata Napolitano. Kepala botaknya berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi. Kulitnya yang pucat berbintik-bintik hitam. Sebuah kacamata berbingkai perak bertengger di wajahnya. Sofa yang empuk berwarna merah menjadi alas duduknya yang nyaman.

Di sisi Napolitano, Silvio Berlusconi duduk manis sambil menyilangkan kakinya. Tatapan matanya menyirat sesuatu yang tidak menyenangkan terhadap Khalifah Hasanuddin. Wajahnya masam saja. Sebenarnya sikap seperti itu tidak pantas jika diperlihatkan oleh seorang pejabat negara yang sedang menerima tamu negara. Tak ada yang tahu, ada sesuatu yang besar yang mengganggu hati Berlusconi dengan kedatangan Khalifah ke Italia.

“Kami juga merasa senang sekali bisa menjalin hubungan yang saling menguntungkan ini dengan Italia,” kata Khalifah. Senyumnya penuh wibawa. Suaranya yang berat menambah kebesarannya.

“Tapi kenapa perjanjian ini hanya berlaku efektif selama lima tahun saja, Khalifah?” Tanya Napolitano.

“Itulah yang diajarkan Allah swt. Dan RasulNya. Aku hanya seorang hamba Allah, dengan demikian aku mesti menaati aturanNya.”

Napolitano mengangguk-anggukkan kepalanya yang telah keriput. “Mohon maaf jika aku terlalu banyak bertanya, aku hanya seorang lelaki tua yang punya rasa ingin tahu yang tinggi. Tidakkah sistem teokrasi ini akan menimbulkan kediktatoran yang mengerikan, Khalifah?”

Khalifah Hasanuddin tersenyum tipis, “Sistem Khilafah bukanlah teokrasi atau kediktatoran, Tuan Presiden, sistem Khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang unik dan khas, yang diajarkan langsung oleh utusan Allah, dan diamalkan oleh kaum muslimin selama ribuan tahun. Aku bukanlah raja yang setiap perkataannya adalah hukum yang wajib ditaati. Aku juga seorang hamba yang wajib hanya menaati aturan Allah dan RasulNya, juga harus memerintah seluruh rakyatku dengan aturan itu.”

Napolitano memerhatikan Khalifah dengan saksama. Berlusconi diam saja.

“Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad adalah sumber hukum yang wajib aku terapkan di tengah-tengah rakyatku. Quran dan Sunnah itulah yang telah menyelamatkan umat Islam dari petaka demokrasi pada masa-masa kelam kaum muslimin dahulu. Demokrasi-lah salah satu sebab kaum muslim menderita dan porak-poranda. Mereka yang objektif dan bersedia membuka mata hatinya pasti akan segera meninggalkan demokrasi yang ketinggalan jaman itu.

Orang ini seenaknya saja bicara, batin Berlusconi, apa dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa Italia menganut demokrasi? Wajah Berlusconi semakin masam.

“Ohh begitu,” gumam Napolitano.

“Apa yang sebenarnya anda inginkan dengan perjanjian ini?” Tiba-tiba Berlusconi buka suara, padahal dari tadi dia diam saja.

Mendapat pertanyaan yang tendensius dari Berlusconi, Khalifah tersenyum kecil. Dengan elegan dia mengubah posisi duduknya, dan kembali menatap mata Berlusconi dalam-dalam.

“Aku menginginkan kebaikan, kemakmuran, dan kemenangan, bagi Islam, negaraku, dan rakyatku,” katanya.

“Apakah hanya itu?” Tuntut Berlusconi.

“Seluruh maksud lain yang mungkin sekarang ada di pikiran anda sudah termasuk di dalam jawabanku tadi, Tuan Perdana Menteri.”

“Aku tahu,” ekspresi wajah Berlusconi semakin tidak mengenakkan, “bahwa anda ingin mengadakan pernyerbuan ke Vatikan. Anda ingin menyerang Vatikan dan menguasainya. Aku tahu itu. Karena itulah anda mengirimkan banyak diplomat ke berbagai negara di Eropa untuk menjalin gencatan senjata agar anda bisa dengan aman mengerahkan pasukan ke Vatikan.”

“Kalau pun memang benar begitu, semua yang anda katakan tadi sudah tercakup dalam jawabanku. Apakah harus aku ulangi? Tujuanku adalah kebaikan, kemakmuran, dan kemenangan bagi Islam, negaraku, dan rakyatku!” Khalifah tetap berada dalam ketenangannya semula. Bahkan dia menghadapi seluruh serangan kata-kata Perdana Menteri Italia itu dengan wajah tersenyum. “Lagipula kalau memang apa yang anda katakan itu benar, semua itu urusanku. Bukan urusan anda.”

“Anda egois,” Berlusconi sudah mengacungkan telunjuknya kepada Khalifah. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. “Demi kepentingan anda sendiri, anda akan menyerang wilayah lain yang merupakan kota suci dan simbol persatuan umat Kristen di dunia. Apakah kami orang Kristen pernah menyerang kota suci anda? Kami tidak pernah mengusik tanah orang Arab itu.”

“Tolong tenangkan diri anda, Perdana Menteri,” kata Napolitano. Dia mulai gugup. Keringat dingin bercucuran di dahinya.

Khalifah masih tetap dengan senyum tipisnya. “Biarkan saja, Tuan Presiden. Biarkan Tuan Perdana Menteri mencurahkan semua yang ada di dalam hatinya, selagi aku masih ada di sini. Apakah anda sudah selesai, Tuan Berlusconi?”

“Keegoisan anda akan menyebabkan kehancuran dan pembunuhan, serta perang besar. Aku tahu anda akan melakukan ini semua.”

“Berlusconi, dari mana anda tahu semua ini? Jangan menuduh sembarangan. Jangan membuat malu Italia di depan tamu negara. Kuasai dirimu.” Napotalitano membelalak kepada bawahannya itu. “Apa buktinya Khilafah akan menyerang Vatikan? Jangan bicara seenaknya.”

“Walaupun belum ada bukti kuatnya tapi saya yakin dia akan melakukan itu semua, Tuan Presiden. Indikasinya jelas, dia membuat banyak perjanjian damai dengan berbagai negara di Eropa dan yang tertinggal hanya Italia dan Vatikan saja. Dia bermaksud mengamankan posisinya dari negara-negara yang lain lebih dulu, baru dia akan menyerbu Vatikan. Aku yakin itu!!!”

“JANGAN BICARA SEMBARANG!!!” Napolitano telah kehilangan kesabaran. Dia menggebrak meja yang ada di depannya dan membelalak kepada Perdana Menterinya. “Anda tidak pantas menjadi Perdana Menteri Italia, anda tidak punya sopan santun. Membuat malu negara di depan tamu negara yang terhormat.”

Khalifah Hasanuddin masih memampang senyum tipis di wajahnya tatkala melihat percekcokan antarpejabat tinggi Italia itu. Sayangnya Berlusconi termasuk orang yang keras kepala.

“Semua yang saya katakan adalah untuk melindungi negara kita, untuk melindungi kota suci Vatikan dan untuk melindungi agama kita. Orang di depan kita ini pasti akan menghancurkan kita suatu saat. DAN AKU TIDAK INGIN SEMUA ITU TERJADI.”

“DIAM!!!” Napolitano menyalak. “DIAM KUBILANG!!!”

“Sabar, tuan-tuan, sabar. Jangan terbawa emosi,” Khalifah angkat bicara dan ekspresinya tetap tenang. “Kita bicarakan semuanya baik-baik. Aku berharap anda jangan bersikap seperti itu lagi, tuan perdana Menteri. Jika anda bicara baik-baik pun aku bisa mendengarnya. Tolong tenangkan diri anda, kita bicarakan semuanya baik-baik.”

“Bagaimana aku bisa bicara dengan santainya jika di hadapanku ada orang yang akan menghancurkan semua peradaban Kristen?”

“Apakah Yesus mengajarkan semua ini kepada anda? Tidak menghargai orang lain? Berkata kasar? Malulah pada diri anda sendiri!” Semua senyum di wajah Khalifah telah hilang. Matanya yang terang dan tajam menatap lurus kepada Berlusconi. Perdana Menteri Rusia itu ciut, dia membuang muka.

“Anda sudah cukup bicara, sekarang dengarkan kata-kata saya!” Suara Khalifah tegas. “Bila anda mengatakan bahwa saya akan menyerang Vatikan, itu terserah anda. Jika saya mau, sekali saya melambaikan tangan, seluruh kaum muslim akan bergerak serentak untuk menaklukkan Vatikan. Jika anda berkata bahwa orang Kristen tidak pernah berusaha menyerang Makkah, berarti nilai sejarah anda sangat buruk. Raja Kristen Abrahah dari Yaman pernah berusaha menyerang Mekkah. Cuma itu? Tidak, pada abad pertengahan seorang bangsawan bangsa Franks bernama Reynald de Chatillon juga pernah mencoba menyerang Mekkah. Tapi mereka semua gagal. Jika anda berkata bahwa saya akan jadi ancaman dan pengobar perang, akan menyababkan pembunuhan dan pembantaian, apakah anda ingat apa yang pernah dilakukan Italia pada abad lalu terhadap kami, kaum muslim? Di Libya, Italia membantai kaum muslim. Italia membantai orangtua dan anak-anak kami, memerkosa wanita-wanita kami, menghancurkan rumah-rumah kami. Tapi coba lihat apa yang kami lakukan terhadap orang-orang Kristen, sudah banyak negeri yang kami taklukan, tapi kami tidak pernah membantai orang Kristen yang tidak bersalah. Justru kami melindungi dan mengayomi mereka semua. Anda tahu, sudah ratusan tahun kami kuasai Konstantinopel, tapi mengapa sampai hari ini masih banyak orang Kristen yang tinggal di sana? Itu semua karena kami melindungi dan mengayomi mereka. Jika apa  yang anda katakan itu benar, jika kami adalah penyebab pembantaian, pasti orang-orang Kristen sudah lama punah dari Konstantinopel.”

Beberapa detik lamanya Khalifah terdiam, namun tatapan matanya tidak teralihkan sedikit pun dari wajah Berlusconi. Perdana Menteri Italia itu salah tingkah. “Ketahuilah sesuatu, Tuan Perdana Menteri, ditaklukkannya Tahta Vatikan, dan kota Roma, sudah dijanjikan Rasul kami ribuan tahun yang lalu. Silakan anda duduk manis, dan memerhatikan apa yang akan terjadi nanti. Jika anda memasang badan untuk menghalangi kami mewujudkan janji Rasul kami itu, saya akan kerahkan tentara Islam untuk menghancurkan anda. Silakan anda camkan itu, sebab saya tidak pernah main-main dengan kata-kata saya.” [bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s