Menelusuri Kebangkitan Kita


Dr. Soetomo, pendiri Boedi Oetomo.

Tanggal 20 Mei sudah terlanjur dinobatkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di negeri ini. Kebangkitan Nasional kita didasari oleh lahirnya Boedi Oetomo (BO), sebuah gerakan para priyayi Jawa yang dipimpin oleh Dr. Soetomo. Menurut Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, yang pertama kali menetapkan Harkitnas berdasarkan lahirnya Boedi Oetomo adalah Kabinet Hatta (1948-1949). Padahal BO tidak pernah sama sekali bergerak untuk memerdekakan Indonesia dari kungkungan penjajah.

BO adalah sebuah gerakan eksklusif yang hanya mengizinkan bangsa Jawa dan Madura menjadi anggotanya. Ia juga sebenarnya hanya perkumpulan bagi para ambtenaar (pegawai) Belanda yang menentang pergerakan nasional. Selain BO juga menjadikan ajaran Kejawen sebagai falsafah geraknya. Keputusan Kabinet Hatta ini dipengaruhi oleh tulisan H. Colijn yang terbit pada tahun 1928 yang berjudul Koloniale Vraagstukken van Heden en Morgen (Pertanyaan Kolonial Hari ini dan Esok).

Pada tahun 1908 ketika BO didirikan, Dr. Soetomo masih belajar di STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen). Sekolah ini adalah perubahan dari Sekolah Dokter Djawa yang lama studinya 5 tahun. Ketika belajar di STOVIA inilah Dr. Soetomo dikenal sebagai siswa yang malas, suka menyontek, nakal, dan suka berkelahi, sehingga studinya sangatlah mundur. Selain itu, BO juga merupakan lembaga yang mendukung kebijakan penjajahan Belanda terhadap negeri ini, sebab banyak pimpinannya yang menjadi pangreh praja (pegawai pemerintahan Belanda. Yang menurut istilah Prof. Mansur adalah pelaksana Indirect Rule System (sistem pemerintahan tidak langsung).

Sikap Jawa-sentris BO terlihat ketika kongres kedua BO di Jogakarta pada tanggal 11 – 12 Oktober 1909. Pada kongres itu Dr. Cipto Mangunkusumo mengusulkan agar BO tidak terbatas untuk orang Jawa saja tetap membuka keanggotaan bagi seluruh suku-bangsa. Sayangnya usul tersebut ditolak. Dalam kongres BO di Bandung tahun 1915, sikap Jawa-sentris itu semakin terlihat dengan diteriakkannya yel-yel leve (hidup) pulau Djawa, leve bangsa Djawa, leve Boedi Oetomo.

Kalau begini, sebenarnya tidaklah layak kehaliran BO dijadikan sebagai momen kebangkitan nasional negeri ini. Sebab BO tidak pernah memberikan sumbangsih apa-apa terhadap kebangkitan itu sendiri. Justru sebaliknya, BO malah menghalang-halangi kebangkitan itu.

Sebaliknya, kita harus mengetahui bagaimana sebenarnya kiprah para ulama kaum muslim terhadap upaya memerdekakan negeri ini dari penjajahan. Sejarah telah mencatat bahwa para ulamalah yang telah banyak berjasa dan berkorban untuk melawan penjajahan di negeri ini. Dengan demikian, Islamlah yang telah menjadi inspirasi utama dalam perjuangan kemerdekaan. Namun sayangnya, peran besar Islam dan para ulama itu telah disingkirkan sedemikian rupa dari kisah-kisah sejarah negeri ini.  Yang kemudian dimunculkan adalah kiprah kalangan nasionalis-sekular yang justru mempertahankan penjajahan di negeri ini.

Mengapa yang jadi Bapak pendidikan adalah Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Perguruan Taman Siswa? Padahal ia adalah seorang penganut aliran kebatinan Seloso Kliwon. Dan mengapa bukan KH. Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah yang dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan? Nampaknya Islam telah sengaja dipinggirkan. [sayf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s