Derita Anak Alay


Sebuah pertanyaan.

Anak alay seolah-olah sedang merajalela di mana-mana. Mereka terlihat di berbagai sudut kota dan nampak di berbagai komunitas. Ada banyak definisi dan ciri yang beredar berkaitan dengan siapa sebenarnya anak alay ini. sebagian menyatakan bahwa anak alay awalnya adalah singkatan dari anak layangan. Ciri mereka adalah kulit cokelat, rambut cokelat, dan bau mereka khas, bau matahari. Mereka jadi begitu karena sering main layangan di bawah sinar matahari. Kalangan lain mengatakan bahwa anak alay bisa kita kenali dari dandanannya yang norak. Warna yang mencolok, tidak serasi, dan terkesan seenaknya. Pakai kacamata super besar, potongan rambut yang miring (istilahnya ramirez, rada miring nggak berez), dan gemar sekali bergaya sok imut dengan kamera ponsel. Ada juga yang mengidentikkan bahwa anak alay adalah anak-anak miskin yang ingin mengikuti tren tapi tidak punya modal yang cukup. Sehingga mereka bergaya dengan norak dengan ala kadarnya, berharap benar-benar mengikuti tren. Anak-anak alay model begini biasanya terlihat di acara-acara musik yang biasa digelar di televisi. Mereka akan bertingkah heboh dan bersorak sesuka-suka dengan mode dan gaya yang amat kampungan.

Fenomena anak alay yang sedang merebak ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan berbagai fenomena mode yang lain. Remajalah yang akan selalu menjadi pemeran utamanya. Sayangnya, para remaja mengikuti pada berbagai fenomena mode itu hampir tanpa berpikir sama sekali. Apapun yang menurut mereka keren dan funky akan segera mereka tiru, tanpa memperhitungkan lagi kepantasannya, kebaikannya, apalagi halal atau haramnya. Padahal kita akan merasakan betapa hidup ini begitu sempit dan mahal jika mengikuti setiap tren mode yang berkembang. Saat gaya rambut miring seperti Kangen Band sedang ngetren kita mengikutinya. Saat gaya poni khatulistiwa milik Syahrini sedang ngetren, kita mengikutinya. Saat gaya busana milik artis yang lain sedang ngetren kita segera mengikutinya. Tidakkah merasakan bahwa semua itu butuh biaya, padahal belum tentu semua itu penting bagi kita. Tentunya kita tidak akan mati kelaparan kalau gaya rambut kita tidak miring seperti Kangen Band. Dengan mengikuti tren maka hidup kita akan sepenuhnya dikendalikan oleh tren. Kita tidak akan lagi memiliki kebebasan untuk memakai apa yang kita mau. Dan bahkan bisa jadi karena tren itulah kita banyak melanggar aturan Allah dan RasulNya.

Lihat saja, karena mengikuti tren, ada banyak remaja putri yang membuka auratnya. Padahal jelas-jelas menampakkan aurat adalah sebuah dosa besar yang akan menjatuhkan harga diri kita di hadapan Allah azza wa jalla. Namun semua itu dengan entengnya diabaikan.

Berbagai tren yang sedang merebak saat ini tidaklah berdiri sendiri dan ada dengan sendirinya. Gejolak tren itu telah diatur dan dikendalikan oleh para kapitalis yang dari sanalah nantinya mereka akan meraup keuntungan sebesar-besarnya. Karena itulah, ketika membebek pada tren, sebenarnya kita sedang menyerahkan diri kita bulat-bulat untuk dikendalikan oleh para kapitalis dengan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Terlebih lagi anak alay yang katanya banyak berasal dari kalangan orang susah. Kalau sudah susah, jangan memaksakan diri untuk mengikuti tren, apalagi mengikuti tren itu tidak ada gunanya sama sekali. Lebih baik menyibukkan diri dengan hal-hal yang berguna dan berpahala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s