Nasib “Beruang”


Kerja Paksa

Pada zaman kolonial Belanda, orang-orang yang dihukum kerja paksa biasanya disebut “beruang”. Para beruang ini adalah orang-orang yang melakukan berbagai tindak kriminal seperti perampokan, pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, dll. Bentuk hukuman yang mesti mereka tanggung adalah kerja rodi, membuat bangunan, jalan, mengangkut berbagai keperluan logistik militer, dan banyak lagi. Dalam tulisan ini saya akan bercerita tentang nasib beruang yang harus menjalani hidupnya dalam kerja paksa di Aceh, turut serta dalam berbagai ekspredisi korps Marsose ketika memburu para pejuang muslim Aceh.

Para beruang memang bernasib malang. Mereka harus menguntit rombongan Marsose yang melintasi belantara Aceh dalam misi mengejar para pejuang muslim Aceh. Tak jarang nyawa mereka turut terancam oleh serangan para pejuang Aceh, dan mereka turut berjatuhan menjadi korban. Di tengah-tengah kemiliteran Belanda terdapat 18 batalyon infanteri. Kelompok beruang ini sering kali disebut “batalyon 19” atau “batalyon merah”, karena para beruang diberi seragam berwarna merah. Tidak ada catatan statistik yang pasti tentang berapa banyak jumlah beruang yang telah tewas karena serangan pejuang Aceh.

Para beruang harus mengangkut berbagai barang yang amat berat melintasi bukit dan gunung, juga hutan belantara dan lereng-lereng. Pundak mereka wajib menjunjung beban puluhan kilogram, terbayang sekali betapa berat penderitaan mereka.

Pada ekspedisi Marsose yang pimpin oleh seorang komandan Belanda bernama Jenae yang dilaksanakan pada tahun 1905, bergabunglah sebanyak 400 orang beruang di dalamnya. Ekspedisi itu harus menempuh perjalanan dari Kuala Simpang ke Blang Kejeren, melintasi bukit-bukit dan belantara, serta sungai-sungai. Apa yang harus diangkut oleh para beruang itu adalah bertong-tong minuman jenewer (semacam minuman keras, dan seorang mendapat minuman keras setiap hari), berkaleng-kaleng minyak tanah, dan minyak kelapa untuk menggoreng. Zentgraff mengisahkan, “ketika itu tidak ada dapur tentara yang tidak menggunakan banyak minyak kelapa untuk masak atau menggoreng masakan, sehingga setiap anggota pasukan akhirnya bergelimang dalam minyak kelapa dan hanya diperlukan secarik sumbu lampu saja untuk membuat mereka bisa menyala.”

Biasanya para beruang itu mengerjai beban-beban yang mereka pikul agar menjadi lebih ringan. Mereka pura-pura jatuh kemudian menabrakkan kaleng-kaleng minyak itu ke batu-batu yang tajam hingga berlubang. Sepanjang jalan beban mereka menjadi semakin ringan karena minyak-minyak itu terbuang sebab kalengnya bocor. Itu pulalah yang terjadi dengan tong-tong minuman jenewer. Beruang-beruang yang mesti memanggul tenda (tenda adalah salah satu barang pikulan yang tidak digemari karena amat berat) biasanya akan menghanyutkan tenda-tenda itu ke dalam sungai ketika rombongan melewati sungai.

Malangnya nasib para beruang juga bisa kita lihat dari ekspedisi yang dipimpin oleh Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz ketika menyerbu Tangse. Mayor van Loenen, komandan angkutan, pada hari ketiga, terpaksa meninggalkan para beruang yang sakit di tengah hutan. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib para beruang itu.

Masih di dalam pasukan van Heutsz yang akan menaklukkan Tangse, kolone Marsose itu berjalan sampai larut malam di tengah hutan, karena itulah bivak (perkemahan prajurit) tidak bisa dibuat karena hari sudah malam sekali. Karena itulah setiap anggota merebahkan badan tepat di atas tempat mereka berdiri. Para beruang pun begitu, mereka menaruh barang-barang bawaan mereka yang amat berat dan langsung tertidur di situ karena tubuh mereka sudah kelelahan. Ketika pagi telah datang, ditemukanlah 11 mayat yang telah kaku di tanah. Ternyata malamnya malaikat maut berkeliaran merenggut nyawa mereka. Mayat-mayat para prajurit ditutupi dengan dedaunan, sementara mayat para beruang digeletakkan begitu saja di atas tanah. Kemudian mereka hanya akan menjadi umpan babi hutan.

Kondisi para beruang itu memang amat memprihatinkan, terutama kondisi makanan mereka. Para beruang itu kerap kali diberi makanan sisa yang sangat tidak memadai, dan bahkan mereka sering kali melewati satu waktu makan. Jika normalnya makan itu tiga kali sehari, maka para beruang hanya makan dua atau satu kali sehari. Karena kondisi inilah banyak sekali beruang yang benar-benar keletihan memikul beban hingga mereka tewas begitu saja.

Para komandan brigade lebih menyukai beruang yang latarbelakangnya seorang pembunuh atau penikam, daripada yang latarbelakangnya perampok, pencuri, atau penipu. Untuk beruang-beruang yang disebut terakhir ini biasanya mereka akan mencuri senapan, mesiu, atau barang apapun yang amat penting, kemudian menjualnya kepada pihak pejuang Aceh. Padahal apa bedanya pencuri atau pembunuh? Sama-sama kriminal.

Para beruang ini pun sering kali menjadi pion yang sengaja dikorbankan dan mendapatkan tugas-tugas yang membahayakan nyawa mereka. Pada masa lini konsentrasi (de concentrerde linie), ketika hari masih subuh, mereka sering disuruh memeriksa baut-baut rel kereta api, khawatir ada sabotase yang dilakukan oleh para pejuang Aceh terhadap rel-rel tersebut. Pada masa itu pun kerap kali ditemukan granat-granat yang terpasang di rel kereta, dan jika ada kereta yang lewat granat-granat itu akan meledak. Sementara rel kereta tersebut letaknya di luar lini konsentrasi yang dikuasai oleh para pejuang Aceh.

Salah satu tugas berbahaya yang dibebankan kepada para beruang ini adalah menjadi pengantar pesan. Pada tahun 1899, sebuah pos Belanda di Meureudu sudah seluruhnya dikepung para pejuang Aceh. Di dalam pos itu ada 150 prajurit yang sayangnya mengalami demoralisasi. Mereka menjadi apatis dan memble, padahal mereka mesti menghadapi serangan gencar dari para pejuang Aceh. Tersiarlah kabar bahwa ada 8 brigade Marsose yang sedang bergerak dari Pidie ke Pante Raja. Karena itu dikirimlah seorang beruang untuk mengantarkan pesan SOS kepada brigade Marsose itu.

Di Pante Raja, para anggota Marsose membuat bivak dan kerap kali mandi-mandi di sungai dekat kedai. Ketika mereka sedang mandi-mandi itulah menyembul sebuah kepala dari dalam sungai persis seperti kepala buaya yang menyembul dari dalam sungai ketika mengawasi mangsanya. Pesan pun telah disampaikan. Terbayang betapa berbahayanya misi seorang beruang itu, dia mesti merangkak di rawa-rawa, melintasi daerah-daerah yang dikuasai pihak pejuang Aceh, naik-turun gunung dan lembah, dan sewaktu-waktu maut mengintainya. [sayf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s