Menginjakkan Kaki di Tanah Aceh


Berbagi inspirasi.

Tanggal 15 November 2012 adalah hari yang tidak akan pernah saya lupakan dalam hidup saya. Sebab pada hari itulah saya –untuk yang pertama kali- berhasil menginjakkan kaki di tanah jihad yang bersejarah, Aceh. Hadirnya saya di Aceh pun bukan untuk sekadar main-main atau tamasya, melainkan untuk berbagi semangat dan kisah tentang Islam, Aceh, dan perjuangan para pejuang Islam Aceh pada masa lalu.

Saya berkesempatan untuk berbagi inspirasi bersama kawan-kawan mahasiswa dari Universitas Samudera Langsa (Unsam). Kegiatan yang bertajuk Training Motivasi Mahasiswa SUPER (Sukses dan Prestatif) ini terselenggara atas kerjasama Kajian Islam Az Zahra Unsam dengan Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Kota Langsa.

Ratusan mahasiswa dan mahasiswi Unsam memadati aula Fakultas Teknik Unsam, membuat saya jadi semakin berdebar-debar. Saya berangkat dari Medan sehari sebelumnya (tanggal 14) jam 8 malam naik bus. Kawan-kawan becerita pada saya bahwa Langsa tidak terlalu jauh dari Medan. Perjalanannya hanya makan waktu 4 jam saja. Saya ditemani oleh istri saya tercinta yang punya nickname Alga Biru. Bus yang nyaman itu menemani kami menembus malam, melintasi Medan yang ramai dan penat, memasuki Binjai, kemudian Stabat, terus ke Tamiang, hingga kemudian ke Langsa. Lalulintas cukup ramai di luar. Kilatan-kilatan cahaya lampu kendaraan menemani perjalanan. Berhamburanlah doa-doa menguap ditelan malam.

Baru beberapa saat saja menikmati perjalanan, istri saya langsung tertidur dengan bersandar ke bahu saya. Sementara saya masih asyik menikmati pemandangan malam. Setelah kira-kira melewati Stabat, barulah mata saya terasa berat, hingga tanpa sadar saya terbenam di kursi bis yang empuk. Saya terlelap. Entah berapa lama saya memejamkan mata, ketika terbangun, bis yang kami tumpangi sudah berjalan sampai Aceh Tamiang. Saya menatap keluar jendela kaca bis, yang ada hanya kegelapan. Terkadang saya menyadari bahwa kami baru saja melewati sebuah bukit batu yang cukup tinggi, rindang dan misterius, kemudian melintasi kebun-kebun sawit yang berderet-deret. Zikir kepada Allah saja yang menenangkan hati.

Menjelang tengah malam, saya mendapat sms dari bang Iqbal, salah seorang pengurus HTI Langsa. Ada instruksi di dalam sms itu bahwa saya harus bilang kepada kernet bis nanti minta turun di Simpang Tugu kota Langsa, jangan terus sampai ke terminal Langsa. Saya pun manut kepada instruksi itu. Kira-kira tepat tengah malam saya dan istri saya diturunkan di Simpang Tugu kota Langsa.

Jalan raya sudah sepi. Di sisi jalan tempat kami berada hanya ada gedung Jasa Raharja. Saya sendiri tidak mengerti, kalau kawasan itu dinamakan Simpang Tugu mestinya ada tugu terletak di situ, tapi saya tidak melihatnya, mungkin karena sudah gelap. Akhirnya saya memutuskan untuk mengontak bang Iqbal via sms. Beberapa menit menunggu, datanglah sebuah mobil jip hitam menghampiri kami. Keluarlah seorang lelaki gagah dengan perawakan tinggi menghampiri kami. Itulah bang Iqbal.

Bukan bang Iqbal yang mengemudikan mobil, namun seorang temannya yang baik sekali. Kami dibawa sampai sebuah penginapan yang amat nyaman yang bernama Wisma Mutiara. Belakangan kami tahu bahwa Wisma Mutiara adalah milik seorang syabab dari Langsa, Pak Gunawan al Ghifari.

Sesampainya di Wisma Mutiara istri saya langsung istirahat di kamar, sementara saya asyik mengobrol berdua dengan bang Iqbal. Yang terjadi selalu saja fenomena yang saya, ketika orang-orang yang aktif di dalam dakwah bertemu pastilah mereka akan langsung tenggelam dalam obrolan-obrolan tentang dakwah. Begitu jugalah yang terjadi antara saya dengan bang Iqbal malam itu. Bang Iqbal bercerita panjang lebar tentang latarbelakang aksi menolak lontaran para aktivis HAM dan feminis bahwa syariat Islam mengekang kebebasan perempuan. Tak terasa kami mengobrol sampai jam satu pagi. Saya pun pamit untuk istirahat sebab keesokan paginya harus fit untuk sharing dengan kawan-kawan dari Unsam.

Nyaman sekali menginap di Wisma Mutiara, apa yang terpikir di kepala saya ketika naik ke atas ranjang adalah berapa banyak saya harus membayar sewanya (hehe). Alhamdulillah Allah memberikan kebaikan yang banyak.

Hari baru telah menyingsing. Saya cek lagi slide yang akan saya presentasikan nanti. Dan saya bersyukur saya cek ulang slide saya sebab ternyata ada gangguan di sana. Beberapa klip yang akan saya putar ternyata tidak bisa jalan entah apa sebabnya. Saya coba berbagai cara tetap tidak bisa. Namun saya tetap tidak menyerah, hingga saya menemukan suatu cara yang cukup rumit barulah klip-klip itu mau menurut kepada saya.

Kami dijemput di Wisma Mutiara oleh seorang syabab yang saya lupa menanyakan namanya. Yang pasti ikhwan kita ini ganteng (saya jujur). Dengan mobil sedannya kami diantarkan ke Unsam yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Wisma Mutiara.

Acara pun dimulai. Saya ingatkan kita semua apa yang pernah dilakukan oleh para pahlawan kita dahulu, mereka semua teguh dengan Islam, mereka semua berkorban. Saya uraikan juga bagaimana perkasa dan gagahnya kaum muslim Aceh ketika melawan sebuan Belanda. Saya nyanyikan syair-syair Aceh yang begitu masyhur di masa-masa yang lampau. Saya sampaikan Hikayat Perang Sabil, dododaidi, dan senandung-senandung Aceh yang menggentarkan singgasana penjajahan. Dan semua itu karena mereka semua teguh terhadap Islam. Sayangnya apa yang dilakukan oleh generasi kita? Kebanyakannya adalah perbuatan-perbuatan yang memalukan dan rendahan. Kemudian saya pandu seluruh peserta untuk menemukan tujuan hidup dan akidah kita semua, akidah Islam.

Saya bersyukur kepada Allah bahwa para peserta cukup antusias dengan semua uraian saya, terbukti dengan cukup banyaknya peserta yang mengacungkan tangannya dalam sesi tanya jawab yang tidak semua bisa saya layani. Sesi tanya jawab itu bahkan masih berlangsung secara informal setelah acara usai.

Saya ngobrol-ngobrol dengan para peserta dan panitia dengan hangat dan akrab. Saya tanyakan banyak hal tentang Aceh juga kepada mereka (saya tertarik sekali untuk berkunjung ke rumah Cut Meutia dan Cut Nyak Dien). Setelah acara selesai saya dan istri saya kembali lagi ke Wisma Mutiara. Di sana saya mengobrol lagi panjang lebar. Kali ini dengan Pak Gunawan sang pemilik wisma.

Ketika saya ngobrol dengan beliau barulah terungkap bahwa wisma yang nyaman itu bukan milik beliau, melainkan milik salah seorang kerabat beliau. Saya ngobrol banyak hal tentang Aceh, tentang kehidupan Aceh, tentang bahasanya, budayanya, konfliknya, dan tentang dakwah di sana. Ternyata Pak Gunawan masih keturunan sultan Aceh dari pihak ibu. Beliau juga memberi saya harta berharga berupa referensi tentang tokoh-tokoh ulama Aceh. Salah seorang ulama Aceh yang cukup menarik perhatian saya adalah Teungku Ahmad Dewi. Beliau adalah salah seorang ulama Aceh yang gigih menentang tirani Soeharto hingga akhirnya beliau menghilang tanpa jejak, dan tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang. Subhanallah, Aceh memang tanah jihad dan tanah para pahlawan. Ada banyak hal yang bisa kita gali dari sana.

Ketika saya dan istri saya naik mobil kijang carteran (biasanya disebut taksi) untuk kembali ke Medan pada sore harinya, barulah terjawab apakah gerangan Simpang Tugu itu. Ternyata ada sebuah tugu yang unik sekali bentuknya yang tegak di tengah-tengah sebuah persimpangan jalan. Ketika kami melewati tugu itu ada satu hal yang menarik perhatian saya. Pada bagian sisi puncak tugu itu ada sebuah tulisan yang sangat menakjubkan saya, tulisan itu adalah “Udep Saree, Mate Syahid.” Subhanallah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s