MAESTRO IACOPO


“Sebelum semuanya terlambat lebih baik kita pergi dari sini! Kota ini akan segera jatuh. Apa kau tidak mendengar meriam-meriam berdentum sedari tadi?” Lelaki itu bicara dengan menggebu-gebu. Kegusaran merajai seluruh bagian hatinya. Kekhawatiran memuncak.

“Kita tidak akan pergi,” sahut seorang perempuan tak kalah gusarnya. “Ini negeri kita. Bertahun-tahun kita hidup dan tinggal di sini, sekarang ketika musuh hendak merampasnya kita tinggalkan dia begitu saja? Kaisar Konstantin tidak akan meninggalkan kota ini, dia bilang begitu semalam di Istana Blachernae, kita pun harus begitu! Kita harus menyertainya berjuang sampai akhir!”

Pasangan suami-istri berusia paruh baya itu tenggelam dalam sebuah perdebatan yang sengit. Sang suami bernama Maestro Iacopo. Dia seorang dokter berkebangsaan Italia, dan telah lama tinggal di Konstantinopel hingga hari ketika kota itu dikepung oleh orang-orang muslim Turki di bawah pimpinan Fetih Sultan Mehmet. Istrinya bernama Yvone Clara. Mereka telah menikah bertahun-tahun lamanya, namun sampai setua itu, mereka belum juga dikaruniai anak.

“Aku hanya mengkhawatirkan keselamatanmu, Yvone, tak ada yang lain. Kalau memang untuk berbuat hal itu aku mesti mengkhianati kota ini, aku akan melakukannya. Aku sudah tak peduli pada apapun asalkan kita berdua bisa selamat! Karena itu sebelum semuanya terlambat mari kita segera melarikan diri dari sini!”

Yvone menggeleng pelan. Matanya yang telah keruh oleh usia menatap lelaki tua di hadapannya dengan tatapan penuh tanda tanya. “Terima kasih banyak atas cintamu, Sayang, tapi tidakkah ada setitik rasa iba di hatimu atas kota ini?”

“Demi tuhan aku iba! Aku tidak ingin semua ini terjadi. Aku benci orang-orang Turki itu sampai dadaku sesak. Aku juga sangat mencintai kota ini.” Mestro mengacung-acungkan kedua belah tangannya ketika bicara. “Tapi bukan begini caranya. Sudah kubilang dari tadi, kota ini akan segera jatuh ke tangan orang-orang Turki. Kau tahu apa yang akan mereka lakukan kalau itu terjadi? Mereka akan membantai kita, menjarah kota ini. Apakah mencintai kota ini maknanya adalah membiarkanmu berdiam di sini kemudian mendiamkanmu terbunuh? Aku tidak setuju semua itu. Aku minta kau jangan bersikap keras kepala lagi. Ikut aku keluar dari kota ini sekarang juga. Kita menyeberang sampai ke Pera dengan kapal orang Genoa!”

BRAAKKK!!!

Tiba-tiba pintu terbanting membuka. Gemuruh huru-hara menyeruak dari ambang pintu dan memenuhi ruangan itu, mendahului seorang lelaki kekar yang berdiri tegak di sana. Seorang lelaki berpakaian merah, dengan topi tinggi yang kainnya menjuntai hingga ke bagian belakang kepalanya. Tangannya terkepal di samping tubuhnya, napasnya menderu. Matanya menatap tajam kepada sepasang suami-istri tua yang terkejut itu. Lelaki berbaju merah itu adalah seorang tentara Janisari, tentara elit Fetih Sultan Mehmet.

“Kalian tak usah khawatir,” kata lelaki itu. Ekspresi wajahnya berusaha meyakinkan. “Kota ini telah ditaklukkan, aku ditugaskan untuk melindungi rumah ini dan penghuninya. Kalian aman.”

Suami-istri tua itu gemetar. Saking gemetarnya, mereka tak kuasa bergerak. Mata mereka tetap terarah pada prajurit Turki berbaju merah itu. Hiruk-pikuk penaklukan ramai terdengar dari luar. Prajurit Turki itu kemudian berbalik dan berdiri di ambang pintu sambil mengamati keadaan di luar. Dia benar-benar mengawal rumah itu.

Tapi tiba-tiba ada kilatan aneh di mata Yvone. Tangan perempuan tua itu mencabut belati yang tersembunyi di pinggangnya lalu dengan cepat mengacungkan belatinya, dia berlari hendak menikam prajurit Turki itu dari belakang.

“MATI KAU TURKI JAHANAM,” pekiknya.

“YVONE…” Mestro berusaha menghentikan istrinya, namun sudah tak sempat.

Prajurit Turki itu berbalik dan terperangah, sayangnya Yvone tinggal selangkah lagi darinya, belati Yvone telah siap menyambar perutnya. Perempuan tua itu menabrakkan tubuhnya ke tubuh prajurit Turki itu. Mereka jatuh terjengkang bersama-sama, tubuh mereka berdebam di  bawah. Prajurit Janisari itu terbaring telentang dengan belati Yvone tertancap di perutnya. Sementara Yvone sendiri terbaring menyamping di tak jauh dari prajurit Turki itu. Dia tak bergerak.

Dengan kekhawatiran yang mencekam, Maestro berlari menghampiri tubuh istrinya. Dia segera berlutut dan memeriksa tubuh istrinya. Dia membalikkan tubuh Yvone hingga telentang, dan apa yang kemudian dilihatnya membuat airmata membanjiri pipinya. Dia menangis tersedu-sedu, kepedihan menikam jiwanya seperti sebilah belati menikam perut Yvone. Ternyata prajurit Turki itu sempat menikam perut Yvone beberapa detik sebelum Yvone menusuk perutnya. Tinggallah Maestro berlutut di sisi mayat istrinya, meratap betapa dia kini hidup hanya seorang diri di dunia ini. Tak punya siapa-siapa lagi. Wajahnya menunduk dalam-dalam, tangisannya memilukan. Tak perlu menunggu lama, tiga orang prajurit Janisari segera mengepungnya dengan pedang terhunus.

000

Dendam kesumat bersemayam di hati Maestro Iacopo, walaupun dia seorang dokter, dia tidak akan sanggup mengobati hatinya yang terluka demikian dalam. Dia sebatang kara kini, tak punya siapa-siapa lagi. Dia digiring bersama tawanan-tawanan lainnya di bawah kilatan pedang, menuju suatu tempat yang belum dia ketahui. Tangannya terkepal, keringat dingin bercucuran dari keningnya. Dan dendam itu semakin membara seolah-olah akan membakar tubuhnya sendiri.

Ternyata Mestro dan tawanan-tawanan lainnya dikumpulkan di depan Gereja Aya Sofya. Di hadapan gerbang gereja itu pasukan Janisari telah berjajar rapi. Orang-orang yang bersorban dan berjubah berkeliaran di sekitarnya, mengatur segala urusan. Maestro melihat ada seorang pria yang menunggang kuda putih di depan gereja yang megah itu. Dia duduk tegak di atas punggung kuda itu menghadap kepada tawanan. Maestro tidak tahu siapa lelaki itu, namun hatinya telah menduga bahwa dialah pemimpin orang-orang Turki, Fetih Sultan Mehmet. Dan dugaan Maestro tidaklah salah.

Fetih Sultan Mehmet menunggang kuda dengan gagah. Kumis dan janggutnya yang kokoh menghiasi wajahnya. Sorot matanya yang setajam mata elang menyapu seluruh tawanan yang berkerumun di hadapannya. Kecamuk perang penaklukan telah hampir mereda. Saat itu semua orang menunggu-nunggu apa yang akan dilakukan sultan Mehmet terhadap tawanan-tawanan itu. Namun, tak seorang pun tahu, ada tatapan penuh dendam yang menikam tubuh Sultan Mehmet. Tatapan itu milik Maestro Iacopo. Dia sultan Turki, dialah penyebab semua ini, dialah penyebab kematian Yvone. Bunuh dia! Jangan lepaskan dia! Bisik satu suara halus di telinga Maestro.

“Islam adalah rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam,” suara sultan Mehmet bergaung ke seluruh penjuru kota. “Kecuali bagi orang-orang yang zalim yang menghalangi sampainya Islam ke tengah-tengah umat manusia. Pada hari ini kalian semua bebas. Kembalilah ke rumah kalian masing-masing. Uang tebusan bagi diri kalian telah aku bayarkan dari kantung pribadiku. Mulai sekarang, aku yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada diri kalian. Atas keamanan dan kesejahteraan kalian. Jika saat ini ada sesuatu yang kalian butuhkan, datanglah kepada prajurit-prajuritku. Aku telah memerintahkan mereka untuk memenuhi apapun keperluan kalian. Sekarang pulanglah! Kalian bebas.”

Tiba-tiba senyum terbit dari kerumunan tawanan itu. Suara-suara kebahagiaan menyeruak dari tembok-tembok yang telah berasap dan berlubang. Para tawanan itu menunduk dan membungkuk kepada sultan Mehmet, memberikan penghormatan paling takzim kepadanya. Sebab mereka tidak pernah menyangka apa yang telah mereka dengar saat itu. Bayang-bayang penindasan yang ada di pelupuk mata mereka kini telah sirna, sebab Islam memang tidak akan pernah menindas. Berangsur-angsur para tawanan itu pergi, kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Tinggallah satu orang yang masih berdiri tegak di hadapan sultan Mehmet, dia Maestro Iacopo.

Perhatian sultan Mehmet kini tertuju kepada pria paruh baya yang ada di hadapannya. Hatinya bertanya-tanya mengapa pria itu tidak segera pulang seperti yang lainnya. Maestro menunduk saja di hadapan sultan Mehmet yang menunggang kuda. Seorang prajurit berjalan cepat menghampiri Maestro. Tangannya menggandeng tangan maestro, hendak menyingkirkan Maestro dari hadapan sultan Mehmet.

“Tunggu,” perintah sultan Mehmet. “Lepaskan dia.”

Prajurit itu menunduk kepada sultan Mehmet, lalu pergi begitu saja meninggalkan Maestro.

“Kau sudah mendapatkan kebebasanmu. Apalagi yang kau inginkan?” Tanya sultan Mehmet. Dia menunduk menatap lelaki di hadapannya.

“Ampuni aku, Yang Mulia Paduka Sultan,” sahut Maestro, dia tetap menunduk. “Namaku Maestro Iacopo. Aku seorang dokter, asalku dari Italia. Hidupku sebatang kara. Jika Yang Mulia Paduka Sultan berkenan, aku akan mengabdikan hidupku kepada Yang Mulia sebagai wujud rasa terimakasihku.”

Ada sehelai rasa yang aneh di dalam hati Maestro. Satu sisi hatinya merasa kagum kepada kebijaksanaan dan kedermawanan sultan Mehmet. Namun sisi hatinya yang lain tenggelam dalam dendam. Senyum kecil terbit di bibir sultan Mehmet saat menatap Maestro.

000

Napas Maestro memburu. Dia sedang berada di ruangan pengobatan Topkapi Sarayi. Rak-rak tertempel di dinding, memenuhi ruangan itu, isinya berbagai bahan obat-obatan. Berbagai peralatan medis pun tersusun rapi di meja-meja dan laci-laci di ruangan itu. Kamar pengobatan itulah tempat yang diberikan oleh sultan Mehmet khusus untuk Maestro, dari ruangan itulah dia meracik obat-obatan yang diperlukan sultan dan seluruh penghuni istana itu.

Namun lagi-lagi, hari itu, udara berkejaran cepat di tenggorokan Maestro, sebab jantungnya berdebar-debar. Dia sedang berdiri di hadapan meja yang jadi tempat biasa dia meracik obat. Berbagai daun dan akar-akaran tergeletak di sana, telah siap diramu menjadi minuman yang menyehatkan. Namun ada sesuatu di dalam hatinya yang membuat jantungnya berdebar-debar, dendamnya.

Di atas meja itu telah tersedia segelas obat untuk sultan Mehmet yang telah diracik oleh Maestro. Matanya menatap tajam ke segelas obat itu. Sementara kedua belah tangannya terkepal erat. Ada sesuatu di dalam genggamannya, racun.

Hari itu sultan Mehmet merasa tak enak badan, maka dia memesan obat kepada Maestro. Dan momen itulah yang akan digunakan oleh Maestro untuk menuntaskan segala dendamnya, momen itulah yang telah dia tunggu hampir seumur hidupnya. Namun, entah mengapa, ada sehelai keraguan di hatinya, yang membuatnya terpaku menatap gelas minuman obat untuk sultan Mehmet, sementara sekantung racun tergeletak di genggaman tangan kirinya.

Keringat dingin sebesar bulir-bulir jagung merembes keluar dari pori-pori di kening Maestro. Tunggu apalagi, tuangkan racun itu sekarang juga ke dalam gelas, jangan disia-siakan kesempatan agung ini, nyawa Mehmet ada di tanganmu. Bisik suara halus di telingannya. Tangan Maestro bergerak pelan, dia membuka kantung racun itu, akan dia tuangkan saja racun itu ke dalam gelas yang akan diminum sultan Mehmet. Tapi tangannya terhenti, gerakannya terhambat. Ada sesuatu yang entah apa, menghentikannya.

Tiba-tiba airmata berlinang di pipinya. Kantung racun itu terlepas dari tangannya, terjatuh ke lantai dan berhamburan. Keningnya berkerut menahan segala perasaan yang menyesaki jiwanya. Dia tutup wajahnya dengan kedua belah tangannya, menangis sejadi-jadinya. Entah mengapa, dia tak bisa, sementara suara-suara halus yang jahat itu berdesakan dalam sunyi di telinganya. Dan sepasang mata memerhatikannya.

000

Nandorfehervar berkecamuk. Pasukan Utsmani di bawah pimpinan Fetih Sultan Mehmet dan pasukan Hongaria di bawah pimpinan Jonas Hunyadi berbenturan. Bahkan sultan Mehmet pun turun langsung berperang. Maestro Iacopo menatap peperangan itu dari kejauhan. Dia harus siaga di tenda sultan agar keahliannya segera bisa digunakan ketika dibutuhkan.

Hampir setiap hari kegundahan menikam hati Maestro. Di balik jubahnya dia selalu menyembunyikan sebilah belati, untuk bersiaga jika datang kesempatan baik untuk membunuh sultan Mehmet. Namun setiap kali kesempatan itu datang, dia selalu tak sanggup melakukan hal itu. Entah mengapa begitu berat hatinya membunuh sultan Mehmet. Ketika dendam bangkit merajai hatinya, bara dendam itu segera mereda, karena melihat pribadi sultan Mehmet.

Sebagai dokter pribadi sultan Mehmet, Maestro sebenarnya telah berhasil menjadi salah satu orang yang terdekat dengan sultan Mehmet. Beberapa kali Maestro berada berdua saja dengan sultan Mehmet di dalam sebuah ruangan, dan momen itu seharusnya menjadi momen berharga untuk membunuh sultan Mehmet, namun dia selalu gagal melakukannya. Maestro sering kali menyaksikan betapa adilnya sultan Mehmet memimpin, betapa baik perangainya, betapa dermawannya dia kepada seluruh rakyatnya. Keadilan itu bukan hanya untuk rakyatnya yang muslim, tapi juga untuk mereka yang non-muslim. Dia juga kerap kali melihat betapa hebat ibadah yang dilakukan sultan Mehmet. Apakah Maestro sampai hati membunuh pemimpin yang baik seperti ini? Seorang pemimpin yang membawakan sebuah sistem yang agung dan mulia bagi umat manusia, sistem Islam.

Tiba-tiba Maestro menatap ke kejauhan, kepada para prajurit yang berbaris berderet-deret. Para prajurit itu melangkah cepat mendekatinya, menuju tenda sultan. Semakin mendekat para prajurit itu kepadanya, semakin terlihat oleh Maestro ada seseorang yang sedang ditandu oleh para prajurit itu. Orang yang terbaring di atas tandu itu adalah Fetih Sultan Mehmet.

Ketika mengetahui semua itu, Maestro segera bersiap. Dia membukakan tirai tenda lebar-lebar, agar sultan Mehmet bisa dimasukkan ke dalam tenda dengan baik. Dia melihat mata sultan Mehmet mengedip lemah, sebatang anak panah menancap di paha kirinya.

“Baringkan di sini,” perintah Maestro kepada para prajurit.

Sultan Mehmet telentang di atas sebuah dipan empuk berwarna merah. Darah segera menggenang dari luka sultan Mehmet ke dipan itu. Dari mulut sultan Mehmet keluarlah desahan-desahan dan bisikan-bisikan halus yang menggumamkan asma Allah. Dia terus berzikir kepada Allah.

“Kalian tolong segera keluar,” kata Maestro kepada para prajurit. “Aku akan menangani luka Yang Mulia Sultan.”

Tanpa banyak bicara, para prajurit segera keluar dari tenda sultan. Tinggallah Maestro berdua saja dengan sultan Mehmet di dalam tenda itu. Maestro menatap tajam kepada sultan Mehmet. Mata sultan Mehmet telah terpejam sekarang, namun bibirnya masih bergerak-gerak, tak henti membisikkan asma Allah. Anak panah di paha kirinya menancap dalam, mencuat dari onggokan-onggokan daging.

Inilah saatnya, hunuskan belatimu, balaskan dendam Yvone. Sebuah suara halus berembus di telinga Maestro. Jangan gagal lagi, kesempatan sebaik ini belum tentu akan datang untuk yang kedua kali.

Mata Maestro menatap tajam ke wajah sultan Mehmet yang basah oleh keringat. Apa yang akan dia lakukan, belati telah siap di tangannya, tinggal dia tikamkan saja ke jantung sultan Mehmet. Agar sultan tidak meronta tinggal bekap saja wajahnya dengan bantal. Untuk melarikan diri cukup katakan saja kepada prajurit bahwa sultan sedang beristirahat dan tidak bisa diganggu, setelah itu ambil kuda dan lari sejauh-jauhnya. Momen ini begitu sempurna, tunggu apalagi?

Maestro berdiri di tepi ranjang sultan Mehmet, menatapnya tajam-tajam. Napasnya berubah menjadi cepat, dadanya naik-turun. Bibir Maestro bergetar, tangannya bergerak pelan menuju lipatan kain di pinggangnya, mengambil sebilah belati yang terselip di sana. Jangan sia-siakan kesempatan. Tikam jantungnya! Belati itu telah ada di tangan Maestro, dia mengacungkannya. Sultan Mehmet masih terbaring lemah, matanya terpejam, hanya saja bibirnya masih bergerak.

Namun badai lagi-lagi menerjang hatinya. Dalam kesunyian dia menangis, sementara belati masih ada di tangannya. Dia hempaskan belati itu di tanah, dia jatuh berlutut di tepi ranjang sultan Mehmet. Airmata berhamburan di pipinya dalam sepi. Duka meradang pada batinnya, dia tak sanggup.

Beberapa detik kemudian tersadarlah Maestro. Dia cepat-cepat menghapus airmatanya lalu bangkit dengan bergegas. Dia keluarkan seluruh peralatan medisnya, obat-obatan yang dibawanya, dan dikerahkannya pula seluruh kemampuan yang dimilikinya. Dengan cekatan dia rawat luka sultan Mehmet. Dicabutnya anak panah itu, diobatinya, lalu ditutupnya luka itu. Mata sultan Mehmet masih terpejam, tenggelam dalam zikir-zikir yang panjang. Maestro telah menyelesaikan tugasnya, luka di paha sultan telah dibalut dengan kain. Maestro Iacopo memang seorang dokter yang andal.

Diraihnya sebuah kursi, dia menghempaskan dirinya hingga terbenam di kursi itu, lelah. Namun tiba-tiba dia terlonjak kaget dengan sebuah suara.

“Tidak jadi menikamku?” Kata suara itu.

Lagi-lagi jantung Maestro berderap kencang, perlahan dia menatap sultan Mehmet yang sedang berbaring telentang itu menoleh kepadanya dengan alis berkerut dan tatapan tajam.

“Tak jadi menikamku, Maestro???”

Dokter Italia itu terjerembab dari kursinya saking takutnya. Dia berlutut dan bersujud di sisi ranjang sultan Mehmet, sekujur tubuhnya gemetaran, dia ketakutan setengah mati.

“Ampuni aku, Yang Mulia,” ratapnya. “Mohon ampuni aku.”

Airmata Maestro berlinang lagi, dia menunduk dalam-dalam, tangannya terkepal, menggenggam butir-butir pasir dan rumput-rumput yang meranggas. Dia tidak mengerti sama sekali dari mana sultan mengetahui bahwa dia akan menikamnya tadi, padahal sultan jelas-jelas memejamkan matanya dan menahan sakit karena luka panah di pahanya. Dia tidak mengerti sama sekali.

Perlahan sultan Mehmet bangkit dan duduk di atas ranjangnya. Dia menunduk menatap Maestro yang berlutut di hadapannya.

“Bangun,” perintah sultan Mehmet tegas. “Bangun, Maestro!”

Dengan lemah Maestro menegakkan tubuhnya, berdiri pelan-pelan. Lututnya gemetar. Dia terus menunduk, tak berani menatap wajah sultan. Airmatanya berlinang. Sekujur tubuhnya diguyur tatapan tajam sultan Mehmet.

“Aku percaya padamu, dan kau hendak menikamku dari belakang? Aku tahu, bukan hanya hari ini kau mencoba membunuhku. Hari ini pun telah aku siapkan yatagan ini di bawah ranjangku,” sultan Mehmet memperlihatkan sebilah belati tajam yang mengkilap kepada Maestro. “Untuk mengantisipasi perbuatanmu. Kau tahu, Maestro, tidaklah mudah membunuhku. Kau tahu betapa bodoh dan gegabahnya perbuatanmu ini? Sekali aku berteriak, tak sampai lima detik, kau akan segera dikepung oleh prajuritku dan nyawamu akan lepas. Sudah dari dulu aku menyadari bahwa kau sedang berusaha untuk membunuhku, tapi aku membiarkanmu, dan terus mengawasimu. Kau tidak sadar bahwa sebenarnya selama ini akulah yang terus mengawasimu. Kau seorang dokter yang andal, kemampuanmu luar biasa, sayangnya ada sesuatu yang gelap di dalam hatimu. Ya, sesuatu yang gelap. Namun kau selalu tak sanggup membunuhku.”

Maestro menghapus airmatanya. Dia seka cairan hangat yang bergelimang di pipinya. Dia berusaha menguatkan jiwanya yang dihantam lara.

“Diriku ada di tangan Yang Mulia,” kata Maestro terbata-bata. “Hanya saja, mohon izinkan aku menyampaikan sesuatu…”

Sultan Mehmet mengangguk saja, sinar matanya yang tegas tak teralihkan dari wajah dokter Italia itu.

“Aku sendirian, Yang Mulia, sebab istriku mati saat Yang Mulia menaklukkan Konstantinopel. Seorang prajurit Yang Mulia membunuh istriku. Tak seorang pun tahu apa yang aku  rasakan, semua sakit telah aku telan. Namun kerap kali rasa sakit itu bangkit, menjelma menjadi dendam.” Maestro tetap menunduk, sementara airmatanya tumpah untuk yang kesekian kali. “Aku memang seorang dokter, tapi apa gunanya semua keahlianku jika tak dapat mengobati sakit hatiku sendiri. Apa yang mesti kulakukan, Yang Mulia, untuk mengobati semua sakit ini? Membunuh Yang Mulia pun aku tak sanggup! Kupikir itulah obat hatiku.”

Sunyi sepi mengambang beberapa detik lamanya. Sultan Mehmet tak mengalihkan pandangannya sekejap pun. Matanya tetap terarah kepada Maestro.

“Hidup, mati, semuanya rahasia Allah, Maestro,” kata sultan Mehmet. “Kita tidak pernah memiliki apa-apa, tidak pernah memiliki siapa-siapa. Semuanya adalah titipan dari Allah, yang kelak akan dimintai pertanggungjawabanNya. Yang diwajibkan kepada kita adalah menjaga segala titipan itu dan merawatnya sesuai dengan aturan Allah.”

Sultan Mehmet menghirup udara pelan-pelan, udara yang disesaki oleh hawa duka. Rasa nyeri masih memeluk lukanya, namun dia menahannya.

“Aku sudah perintahkan semua prajuritku untuk tidak membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Aku juga sudah perintahkan prajurit-prajuritku untuk menjaga rumah-rumah, para wanita, anak-anak, dan orangtua, juga siapapun yang tidak terlibat di dalam perang. Namun tetaplah kematian menjadi rahasia Allah. Dia akan datang pada setiap kita, bagaimana pun caranya. Dan kita tidak akan pernah bisa menolaknya. Apakah kita berlindung di balik benteng yang kokoh, atau tembok yang tebal, kematian akan datang menjemput kita.”

Maestro terisak-isak, dia menunduk dalam banjir airmata. Lututnya sudah tidak kuat menopang tubuhnya lagi, badannya gemetar. Dia jatuh berlutut di hadapan sultan Mehmet, terkenang istrinya.

“Pada akhirnya kita semua akan sendirian, Maestro. Ya, sendirian.” Sultan Mehmet turun dari ranjang dengan menjejak sebelah kakinya ke tanah. Kakinya yang sebelah lagi tertekuk sedikit karena lukanya masih terasa nyeri. Dia berlutut di dekat Maestro dan menyentuh bahunya dengan lembut. Dokter Italia itu terbenam dalam kepedihannya. “Dan jika memang kau pandang aku bersalah, aku mohon maaf kepadamu. Cuma itu yang aku bisa!”

Maestro menangis tersedu-sedu di bawah tangan sultan Mehmet yang lembut mengusap bahunya. Ada sesuatu yang naik dari batinnya, menguap, pergi, dendamnya.

000

“Maestro Iacopo?” Tanya seorang pria.

“Benar.” Sahut Maestro.

Maestro Iacopo sedang berdiri di sisi kapal yang sedang masuk ke selat Bosphorus. Tak jauh dari kapal itu terlihatlah Rumeli Hisari tegak dengan gagah mengawal selat yang legendaris itu.

“Namaku Pietro Piacenza, akulah utusan Doge Venesia Yang Mulia Martino Andronico. Ada sebuah tawaran menarik dari Doge Venesia untuk anda.”

“Tawaran apa itu?” Tanya Maestro.

Pietro merapatkan dirinya kepada Maestro, dia memelankan suaranya.

“Anda akan diberi hadiah 1000 ducat, dan diberikan kewarganegaraan seumur hidup sebagai warga negara Venesia berikut seluruh keturunan anda selama-lamanya.”

Maestro tersenyum tipis, dia menoleh ke samping, menatap lelaki venesia itu.

“Syaratnya?”

“Racuni sultan Mehmet!”

Maestro mengembuskan napasnya, dia menunduk menatap air biru  turquaz selat Bosphorus, lalu kembali menatap Pietro.

“Biarkan Tuhan sendiri yang menjemput sultan Mehmet ke akhirat. Dan jika Tuhan benar-benar menjemputnya, umat manusia akan benar-benar kehilangan pemimpin seperti dia.”

000

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s