Nyanyian Sang Pembunuh


Pengepungan benteng Alamut tahun 1256 (Wikipedia).
Pengepungan benteng Alamut tahun 1256 (Wikipedia).

Saya jadi ingat dengan sebuah game terkenal yang sudah dimainkan jutaan orang di dunia, Assassin’s Creed. Game ini berkisah tentang seorang pembunuh rahasia yang profesional, yang harus menjalankan misi membunuh orang-orang penting. Di dalam game ini juga digambarkan bahwa sang pembunuh punya latar belakang spiritual tertentu. Dan game ini mengingatkan saya kepada kelompok pembunuh profesional yang pada abad pertengahan dikenal sebagai “Assassin” di dunia barat. Dan Assassin ini memang benar-benar ada.

Pada suatu ketika di tahun 1332, Raja Philip VI dari Prancis  sedang merencanakan untuk mengirimkan pasukan salib guna merebut kembali tempat-tempat suci umat Kristen yang ketika itu dikuasai kaum Muslim. Ketika mengetahui rencana raja, seorang pendeta asal Jerman bernama Brocardus menulis sebuah naskah yang berisi berbagai masukan untuk sang raja dalam menjalankan misinya. Brocardus menulis nasihat itu berdasarkan pengalaman-pengalamannya. Salah satu hal penting yang ditulis Brocardus adalah tentang bahaya apa saja yang akan mengancam sang raja dalam perjalanan sucinya ke timur. Pada bagian inilah Brocardus menulis tentang Assassin.

Saya menyebutnya sebagai Assassin, yang terkutuk dan suka melarikan diri. Mereka menjual diri mereka, haus darah, dan tega membunuh orang-orang yang tak bersalah demi uang, dan tidak memedulikan kehidupan dan keselamatan mereka sendiri. Serupa hantu, mereka sanggup mengubah diri mereka menjadi segala sesuatu, meniru sikap, pakaian, bahasa, kebiasaan, dan tingkah laku bermacam-macam bangsa dan rakyat. Sembari sembunyi di balik penyamaran, mereka menebar kematian kapan pun mereka mau.

Saya belum pernah melihat mereka, saya mengetahui mereka hanya dari nama mereka dan aneka macam tulisan. Saya tidak mengetahui lebih banyak. Saya juga tak dapat menunjukkan bagaimana kebiasaan-kebiasaan atau ciri khas mereka yang lain. Saya, atau orang lain, sungguh tidak mengetahui mereka. Saya juga tidak menunjukkan cara memanggil nama mereka. Mereka menyembunyikan nama mereka rapat-rapat karena melakukan pekerjaan yang buruk dan sangat dibenci banyak orang.

Satu hal yang saya ketahui, untuk menjaga dan melindungi raja, jangan izinkan seorang pun dalam rumah tangga kerajaan yang melayani keperluan raja, betapa pun sepele pekerjaannya, menyembunyikan asal-usul, tempat, keturunan, dan orang-orang yang benar-benar diketahui (Bernard Lewis, hal 11. 2009)”

Para raja dan pengeran di abad pertengahan ngeri setengah mati dengan kelompok pembunuh profesional ini. Korban-korban mereka adalah para pejabat Khilafah Islamiyah dan para pengeran Kristen. Raja Kristen pertama yang mati di ujung belati Assassin adalah Conrad Montferrat. Konon sultan Salahuddin al Ayubi  pun pernah hampir menjadi korban Assassin.

Pemimpin gerakan rahasia ini adalah Hasan bin Sabah. Dia banyak dikenal orang dengan gelar Orang Tua Dari Gunung. Dia adalah pengikut Syiah Ismailiyah yang telah jatuh kepada kesesatan. Kegemarannya mabuk dan menghisap ganja. Sebagai markas besar komando gerakan pembunuh yang dipimpinnya ini dia membangun sebuah kastil dengan benteng yang kokoh di sebuah tempat terpencil, Lembah Alamut, di kawasan Iran sekarang. Alamut sendiri berarti Sarang Elang. Di dalam kastil itulah dia membangun sebuah taman yang amat indah yang meniru taman-taman surga. Marco Polo yang pernah berkunjung ke sana pada tahun 1273 berkomentar: “Adalah sang Orang Tua yang memerintahkan untuk menutup lembah-lembah di antara dua pegunungan ini dan mengubahnya menjadi taman. Sebuah taman yang amat besar dan indah sejauh yang pernah dilihat dan dipenuhi dengan bermacam jenis buah. Di taman itu berdiri berbagai paviliun dan istana paling elok sejauh yang bisa dibayangkan… Di situ juga terdapat terowongan-terowongan yang dialiri anggur dan susu, serta madu dan air. Juga terdapat sejumlah gadis paling cantik di dunia yang bisa memainkan aneka macam alat musik dan menyanyi dengan amat merdu, serta menari dengan gaya yang sangat mengesankan hati.”

Hasan bin Sabah merekrut anak-anak kecil di sekitar benteng untuk dilatih menjadi pembunuh-pembunuh profesional yang hanya patuh kepada dirinya. Jika pernah menonton film Ninja Assassin, mungkin gambarannya adalah seperti tempat training ninja di tempat terpencil yang dijalani dengan kejam dan berdarah-darah. Untuk mendapatkan ketaatan total dari anak buahnya, Hasan bin Sabar mencekoki mereka dengan ganja dan minuman memabukkan. Bahkan kaum Assassin ini telah menganggap Hasan sebagai nabi yang bisa memberikan surga kalau mereka rela mati demi menjalankan misi yang dia berikan.

Suatu kali Hasan memberikan segelas minuman kepada seorang pemuda. Ada ‘sesuatu’ di dalam minuman itu yang membuat sang pemuda tak sadarkan diri setelah meneguknya. Ketika sang pemuda tak sadarkan diri, Hasan membawa pemuda itu ke dalam tamannya yang indah seperti surga. Ketika sang pemuda siuman, dia merasa tercengang karena telah dikelilingi oleh keindahan tiada tara. Dia meresa dirinya sedang berada di surga. Ketika itulah Hasan datang sambil mengaku-aku sebagai orang suci dan bahkan sebagai nabi. Kemudian dia memberikan janji-janji manis kepada sang pemuda untuk mendapatkan ketaatan total dari pemuda itu. Seperti itulah salah satu modus yang dipakainya.

Pada bulan Mei dan Juni 1271, pasukan Sultan Baibars mengepung benteng-benteng kaum Assassin di Ulaiqa dan Rusafa. Pada bulan Oktober tahun itu juga, Syamsuddin, pimpinan kaum Assassin menyerah kepada sultan Baibars. Setelah penyerahan Syamsuddin, pengepungan benteng-benteng Assassin yang lain terus berlanjut. Itulah akhir dari sepak terjang kelompok pembunuh rahasia berdarah dingin yang begitu ditakuti pada abad pertengahan itu.

Sejak pertengahan abad ke-19 M, keturunan kaum Assassin penganut Syiah Ismailiyah ini hidup dengan damai sebagai penduduk desa, dengan pusat kegiatan di Salamiyah, di hamparan gurun yang mereka garap menjadi permukiman baru. [sayf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s