Natal Yang Membingungkan!


Santa Claus versi berbeda.
Santa Claus versi berbeda.

Wara-wiri Natal sedang merebak di mana-mana akhir-akhir ini. Nuansa pohon Natal dengan berbagai riasannya yang meriah juga orang tua gendut berbaju merah serta berjanggut tebal berkeliaran di mana-mana. Hari raya umat Kristiani akan segera datang tak lama lagi, tanggal 25 Desember.

Setiap umat beragama berhak untuk merayakan hari besar keagamaannya. Yang tidak etis adalah mengajak-ajak umat agama lain untuk merayakan hari besarnya. Toleransi adalah ‘membiarkan’ penganut agama lain dengan perayaan agamanya dan ‘tidak turut campur’ sama sekali di dalamnya. Toleransi bukanlah ikut-ikutan merayakan hari besar agama lain. Dengan demikian bukan toleransi namanya, kalau ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan Natal. Bukan toleransi pula kalau ada orang Islam yang mengucapkan selamat Natal.

Ada juga ungkapan di tengah-tengah masyarakat yang menyatakan bahwa umat Kristiani sering kali turut menyampaikan selamat ketika umat Islam merayakan hari besar Islam, jadi sudah seharusnya kita bertoleransi dengan melakukan hal yang sama, ikut mengucapkan selamat Natal kalau mereka sedang merayakannya. Ada juga pandangan yang terlalu menyederhanakan masalah, ada yang mengatakan “ah itu kan cuma sekedar mengucapkan selamat aja jadi nggak apa-apa.”

Pandangan-pandangan seperti tadi jelas pandangan yang keliru, karena sikap umat Kristiani yang mengucapkan selamat ketika umat Islam merayakan hari besarnya tidak boleh menjadi dasar umat Islam untuk ikut mengucapkan selamat kepada mereka. Di dalam aturan agama Kristen mungkin tidak dijelaskan bagaimana seharusnya umat Kristen bersikap terhadap hari besar agama lain. Sementara Islam sebagai agama yang mengatur segala aspek kehidupan sangat mengatur urusan ini. Banyak dalil yang melarang umat Islam ikut-ikutan dalam perayaan hari besar agama lain, termasuk mengucapkan ‘selamat’ kepadanya. Karena mengucapkan ‘selamat’ bisa berarti pengakuan bahwa apa yang sedang dirayakan umat Kristiani itu adalah benar. Padahal sudah banyak orang Kristen sendiri yang menggugat keabsahan perayaan Natal sebagai hari lahir Jesus Christ.

Peristiwa yang baru-baru ini terjadi dan cukup menggegerkan adalah pengakuan pemimpin tertinggi umat Kristen sedunia, Paus Benedictus XVI, bahwa Jesus tidak lahir tanggal 25 Desember. Dikutip dari situs hizbut-tahrir.or.id, di dalam bukunya yang berjudul Jesus of Nazareth: The Infancy Narrative, Paus mengungkapkan beberapa fakta yang cukup mengejutkan di seputar hari kelahiran Jesus. Dan Paus menyimpulkan bahwa Jesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember seperti yang selama ini dirayakan. Lha jadi yang selama ini dirayakan itu kelahiran siapa dong? Pastinya kelahiran orang lain, bukan Jesus.

Dikutip dari situs hizbut-tahrir.or.id, dalam encyclopedis brittanica edisi 1946 disebutkan bahwa Natal bukanlah upacara gereja abad pertama. Jesus Christ atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bibel juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala. Mirip dengan apa yang disebutkan oleh Encyclopedia Americana edisi 1944. Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut … Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus mulai diresmikan pada abad ke-4 Masehi. Pada abad ke-5 Masehi Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari”. Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus.

Satu hal yang aneh adalah, kenapa hari besar yang tidak jelas landasannya itu masih saja dirayakan sampai sekarang? Padahal dari dulu sudah banyak cendekiawan Kristen sendiri yang mengungkapkan kekeliruan perayaan Natal. Jawabannya sederhananya, mungkin karena sudah terlanjur seru dan mengasyikkan, makanya dirayakan terus. Perkara benar atau tidak hari Natal itu untuk merayakan hari lahir Jesus itu sudah nomor tiga belas, yang penting asyik dan seru. Lantas mengapa kita, kaum muslim, harus turut mengucapkan selamat dan turut merayakan hari besar yang tidak jelas dan membingungkan seperti ini? Kan lucu sekali!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s