Aceh dan Exhorbitante Rechten


Cut Nyak Dien saat penangkapan.

Cut Nyak Dien saat penangkapan.

Cut Nyak Dien merasakan gundah-gulana yang tiada taranya. Sebab kaum kaphe penjajah semakin dalam mencengkeramkan kuku penjajahannya di tengah-tengah tanoh Aceh. Namun apapun yang terjadi, perjuangan tidak akan pernah berhenti. Bagi Cut Nyak Dien sendiri pun perjuangan adalah harga mati. Bertahun-tahun lamanya beliau mengembara di hutan-hutan liar Aceh, menyergap patroli-patroli pasukan Belanda, kemudian menyerbu pos-pos mereka. Bertahun-tahun pula beliau harus makan umbut pisang liar. Mata beliau menjadi rabun dan kemudian buta, encok di pinggang pun menyerang. Perjuangan semakin berat dan keras. Namun apapun yang terjadi, menyerah kepada kaphe Belanda adalah pantang.

Sayangnya, seorang anak buah Cut Nyak Dien, Pang Laot Ali, karena didorong oleh rasa kasihan, melaporkan tempat persembunyian Cut Nyak Dien kepada Belanda. Kapten Veltman kemudian melakukan pengerjaran hingga tertangkaplah Cut Nyak Dien.

Pang Laot Ali membocorkan tempat persembunyian Cut Nyak Dien kepada Belanda dengan syarat, bahwa jika Cut Nyak Dien benar-benar tertangkap, Belanda akan memperlakukannya dengan baik dan mulia sebagaimana derajatnya di tengah-tengah rakyatnya, dan jangan sampai Belanda membuang Cut Nyak Dien ke luar Aceh. Belanda menyepakati persyaratan itu.

Apa yang terjadi, ternyata Belanda mengingkari janjinya. Belanda memang memperlakukan Cut Nyak Dien dengan baik, namun Belanda tidak bisa membiarkan Cut Nyak Dien tetap berada di Aceh. Belanda khawatir jika tetap membiarkan Cut Nyak Dien berada di Aceh, nanti perlawanan yang baru akan tersulut lagi. Akhirnya Cut Nyak Dien menjadi korban Exhorbitante Rechten.

Exhorbintante Rechten adalah hak istimewa pemerintah Hindia Belanda (yang dieksekusi oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda) untuk menentukan tempat tinggal dari golongan-golongan penduduk Hindia-Belanda atau pribadi-pribadi tertentu. Hak ini dikatakan ‘exhorbitante’, artinya ‘khusus-istimewa’, karena menurut konsep hukum barat memang luar biasa dan tidak lazim. Hak istimewa ini memang dimanfaatkan dengan amat efektif oleh Belanda untuk membuang orang-orang yang dianggapnya berbahaya keluar daerah asalnya. Cut Nyak Dien menjadi salah satu korban hak istimewa ini. Beliau dibuang ke Sumedang, dipisahkan dari tanah kelahiran dan rakyatnya hingga wafat di sana. Sultan Aceh terakhir, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah dan Teuku Muda Baet Uleebalang VII Mukim pun harus menjalani nasib yang sama di pembuangan. Belanda memang mendapatkan pelajaran pahit ketika berperang di Aceh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s