Tulisan Kecil Kita


Tulisan
Tulisan

Suatu kali saya membaca tulisan Soe Hok Gie dalam catatan hariannya yang berjudul Catatan Seorang Demonstran. Di dalam buku itu tertuang beberapa pandangan tentang Gie dari orang-orang di sekitarnya, dan tentu saja curahan hati Gie sendiri terhadap berbagai hal. Dari sana saya mendapat gambaran bahwa ada sebuah jiwa idealis di dalam diri Gie. Dia punya cita-cita untuk membuat nasib rakyat Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Masa muda Gie dijalaninya ketika sebuah pergolakan politik besar terjadi di Indonesia, tahun 1965-an. Di dalam buku hariannya, Gie mengungkapkan isi hatinya ketika melihat seorang lelaki yang berpakaian tidak terlalu lusuh, hanya saja lelaki itu terlihat mengorek-ngorek tempat sampah mencari makanan. Ketika lelaki itu menemukan kulit mangga, kemudian kulit mangga itu dimakannya. Tanpa pikir panjang, Gie memberikan uang jajan yang ada di kantongnya kepada lelaki itu. Dia juga menyatakan bahwa para pemimpin negara saat itu adalah para pemimpin hasil didikan Belanda yang sudah seharusnya ditembak mati di Lapangan Banteng. Dia juga mengkritik apa yang dia sebut “kehidupan perkelaminan di istana” (maksudnya istana Negara). Sebab seorang menteri pada masa itu diam-diam pernah datang ke UI (tempat Gie kuliah) kemudian mencari gadis-gadis mahasiswa yang mau ‘menemani’ presiden semalam suntuk (saya pikir na’uzubillah banget).

Hari-hari Gie diisi dengan demonstrasi dan menulis. Aksi-aksi yang dipimpinnya menghasilkan keruntuhan rezim Soekarno yang kemudian digantikan oleh rezim Soeharto. Tulisan-tulisannya yang tajam dan pedas (bahkan kadang sampai menyebut nama) tersebar di berbagai media yang  beredar pada masa itu. Namun terlepas dari apa yang telah dia lakukan, ada sebuah kegundahan di dalam hatinya. Entah mengapa, dia telah berjuang, telah banyak menulis, telah banyak mengkritik orang, tapi keadaan tidak juga berubah menjadi lebih baik. Pergantian rezim orde lama menjadi orde baru tidak serta-merta menjadikan keadaan rakyat menjadi lebih baik. Dia merasa semua yang telah dia lakukan tidak ada gunanya, dan akhirnya dia menginsafi bahwa dirinya adalah seorang pejuang yang sendirian. Saya berpikir, kasihan sekali nasib  Gie, karena dia tidak ikut halaqoh jadi tidak tahu bagaimana perubahan yang hakiki itu (hehe), yang nantinya akan membawa perubahan total bagi rakyat.

Terkait dengan tulis-menulis, apa yang saya ingin garisbawahi dari kisah Gie di atas adalah bahwa kita sebagai penulis Islam ideologis tidak layak dihinggapi pikiran serupa itu. Sekecil dan sesederhana apapun tulisan kita, jika itu diarahkan untuk menyerukan perubahan kepada Islam, maka ia pasti tidak akan sia-sia. Sebuah benteng yang kokoh terdiri dari butiran-butiran pasir yang kecil dan halus. Seperti itu jugalah dinding peradaban Islam, terdiri dari sumbangsih seluruh pejuang ideologi Islam di seluruh dunia, walau pun sumbangsih itu kecil dan sederhana. Salah satu bentuknya adalah lewat tulisan, misalnya. Dan lebih dari itu, Allah tidak pernah tidur. Sesederhana apapun tulisan yang kita ukir, arahkan ia untuk kebangkitan umat dengan Islam, kelak tulisan kita itulah yang akan menjadi butir-butir pasir yang membentuk benteng kokoh peradaban Islam. Benteng itulah yang akan melindungi umat Islam di seluruh dunia. [sayf]

Visit djenderal4arwah.wordpress.com; Follow @sayfmuhammadisa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s