Angpao Yang Memprihatinkan


https://i2.wp.com/teddy-o-ted.com/images/Life/Festivals/angpao1.jpgMasyarakat Tionghoa sedang merayakan Tahun Baru Imlek. Kemeriahannya terasa di mana-mana. Satu hal yang paling ditunggu dari hari raya ini adalah bertaburnya amplop-amplop merah berisi uang yang bernama angpao. Di mana-mana orang Tionghoa membagikan angpao. Aktifitas ini dipecaya bisa membuang sial dan mendatangkan rejeki.

Dari angpao ini kita bisa melihat betapa memprihatinkannya kehidupan kaum muslimin saat ini. Di berbagai daerah di mana angpao akan dibagikan, di sana pasti sudah dipenuhi kaum muslim yang berebut untuk meminta jatah angpao, bahkan sampai berdesak-desakan. Miris benar melihatnya. Fenomena ini memperlihatkan betapa rendahnya tingkat kesejahteraan kaum muslimin, dengan kata lain, mereka banyak yang miskin. Pada sebuah tayangan berita di salah satu televisi swasta ditayangkan bagaimana suasana pembagian angpao itu. Ada seorang pengusaha cina di Jakarta yang membagikan angpao sampai 4000 amplop. Pengemis dan gelandangan musiman memenuhi sekitar rumahnya menunggu jatah angpao. Orang-orang yang datang itu ternyata tidak hanya dari wilayah sekitar tempat tinggal si pengusaha cina tadi, tetapi juga dari berbagai daerah di Jakarta, dan bahkan ada juga yang datang dari Jawa Tengah. Tidak bisa kita pungkiri bahwa mereka itu mayoritas pastilah kaum muslimin. Umat yang mulia ini begitu mudahnya menengadahkan tangan, meminta-minta, kemuliaan telah hilang dari diri mereka.

Kondisi kaum muslimin sekarang ini memang kontras sekali dengan kondisi kaum muslimin pada masa lalu. Jika kita buka catatan-catatan sejarah para pendahulu kaum muslimin, kita akan mengetahui bahwa mereka hidup dalam kesejahteraan yang amat tinggi. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak ada orang muslim yang mau lagi menerima zakat, kerena mereka semua sudah menikmati kesejahteraan, padahal masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz tidaklah lama, hanya sekitar 2,5 tahun. Hanya dalam waktu sesingkat itu, beliau mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Sementara negeri ini sudah lebih dari setengah abad merdeka, setengah dari total jumlah penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan mayoritas dari mereka adalah muslim, miris sekali.

Apa yang membedakan nasib kaum muslimin sekarang dengan nasib kaum muslimin dahulu sebenarnya hanya satu: yaitu keberadaan Khilafah Islamiyah. Dulu, kaum muslimin bisa menikmati kesejahteraan yang sedemikian besar, karena mereka hidup di dalam naungan Khilafah Islamiyah yang dengan teguh menerapkan syariat Islam secara kaffah. Sementara kaum muslimin pada masa sekarang ini tidak lagi hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyah, melainkan hidup di bawah naungan negara-bangsa (nation state) yang sekular (memisahkan Islam dari kehidupan kita). Tidak ada cara lain, jika kaum muslimin secara mayoritas ingin menikmati kembali kesejahteraan yang layak, mau tidak mau, mereka harus kembali menerapkan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s