Perang Sabil dan Senjata Biologis


Kapal-kapal Belanda.

Kapal-kapal Belanda.

Belanda mengalami kegagalan dalam invasinya yang pertama ke Aceh yang mereka lancarkan pada bulan April 1873. Jenderal Johan Harmenn Rudolf Kohler tewas dalam perang itu, kena tembak seorang sniper pejuang Aceh di bawah sebuah pohon gelumpang besar yang tumbuh di hadapan Masjid Raya Baiturrahman. Kemudian pasukan Belanda lari ke pantai dan terus pulang ke Batavia setelah mampir di pulau Penang.

Hanya saja kekalahan itu tidak menghentikan mereka sampai di situ. Mereka segera merencanakan sebuah pernyerbuan baru. Pada tanggal 16 November 1873 (selisih sekitar 7 bulan dari invasi pertama), Belanda memberangkatkan ekspedisi militer yang tiga kali lipat lebih besar daripada apa yang mereka kirim pada ekspedisi pertama. Sekitar 10.000 prajurit dikirim ke Aceh. Sebelum ini Belanda tidak pernah mengerahkan angkatan perang sebesar ini.

Ekspredisi militer ini berada di bawah komando Jenderal Jan van Swieten. Padahal Jenderal ini sebelumnya pernah mengikat perjanjian damai dengan sultan Ibrahim Mansyur Syah (tahun 1857), tapi kini dia sendiri yang menginjak-injak perjanjian damai yang ditandatanganinya.

Sebanyak 60 buah kapal mengangkut prajurit Belanda untuk menyerang Aceh, dan tiba di pantai Aceh menjelang akhir November 1873. Ternyata sebelum keberangkatan ekspedisi militer itu, ketika masih di Batavia, di salah satu kapal Belanda itu sudah mewabah kuman penyakit kolera. Karena itulah seluruh kapal  harus mengibarkan bendera kuning agar bisa diidentifikasi oleh dunia internasional bahwa di sana sedang berjangkit wabah penyakit. Tidak diketahui secara pasti apakah memang disengaja dikembangbiakkan kuman kolera di kapal itu untuk ditularkan kepada orang Aceh atau tidak. Yang mengetahui secara pasti kemungkinan besar hanyalah van Swieten sendiri dan orang-orang yang dia percayai untuk urusan itu. Hanya saja dari berbagai peristiwa yang terjadi menjelang keberangkatan ekspedisi itu, kita bisa menyimpulkan bahwa ada kemungkinan kuat kuman kolera itu sengaja dibawa untuk ditularkan kepada muslim Aceh. Ada beberapa peristiwa yang mengindikasikan ke arah sana.

Sebenarnya sejak awal sudah diketahui bahwa ada wabah kolera berjangkit di kapal itu sejak kapal masih merapat di pelabuhan Tanjung Priok. Beberapa awak kapal sudah terkena penyakit itu. Hanya saja kapal tidak diamankan, tetapi terus diberangkatkan saja ke Aceh. Dalam perjalanan ke Aceh, wabah kolera menjalar semakin ganas. Namun kapal tidak dikarantina, tetapi diteruskan saja ke Aceh. Kabar pertama yang disampaikan van Swieten dari Penang ke Batavia adalah sebuah laporan bahwa telah tewas 77 orang di dalam rombongan itu karena wabah kolera.

Selain itu, hal yang lebih menguatkan lagi dugaan ini adalah tewasnya seorang bekas nahkoda berkebangsaan Italia bernama Nino Bixio. Ceritanya, setelah pensiun, Nino menjual kapalnya yang bernama Maddaloni kepada Belanda karena harganya bagus. Kemudian Belanda memerintahkan agar Nino sendiri yang menjadi nahkoda kapal itu. Pada ekspedisi militer Belanda ke Aceh, Nino dan Maddaloni pun diikutsertakan. Di antara semua orang yang ada di atas kapal Maddalino, hanya Nino seorang saja yang terkena kolera. Akhirnya dia tewas karena penyakit itu. Beberapa pihak dari Belanda menyatakan bahwa Nino memang dikorbankan untuk jadi mangsa kuman kolera agar uang Belanda yang telah diterima Nino dari hasil menjual kapal dapat diambil kembali oleh Belanda (licik banget).

Mayat Nino yang telah penuh dengan kuman kolera itu kemudian dibuang begitu saja oleh tentara Belanda ke salah satu pantai Aceh. Selama beberapa waktu, mayat Nino teronggok saja di situ hingga orang-orang Aceh menemukannya dan menguburkannya. Sayangnya, kuman kolera itu sudah terlanjur tersebar di tengah-tengah muslim Aceh. Salah satu korban dari penyakit ini adalah sultan Alaiddin Mahmud Syah. Begitulah kaum penjajah, apapun akan mereka lakukan untuk memuaskan hasrat penjajahan mereka. Tidak peduli orang lain sengsara dan menderita, yang penting mereka bisa mengeruk segala kekayaan alam negeri jajahan mereka. Sudah kewajiban kita untuk melawan penjajahan.[]  (sayf)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s