Hajatan Besar Umat Islam: Muktamar Khilafah 2013

banner muktamar khilafah

banner muktamar khilafah

MUKTAMAR KHILAFAH 2013 adalah sebuah hajatan besar kaum Muslim yang digagas oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Pertemuan ini akan memberikan gambaran tentang perjuangan penegakan Syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah yang seharusnya menjadi agenda utama umat ini. Penerapan syariah dalam naungan Khilafah itulah yang akan membawa barokah dan kebaikan yang banyak bagi kaum Muslim dan bagi peradaban umat manusia di seluruh dunia. Tanpanya, umat Islam akan terus ditindas dan diberangus. Marilah kita dukung bersama.

Popularitas dan Demokrasi

Pemilu

Pemilu

Menarik sekali untuk memerhatikan apa yang disampaikan oleh Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat (PD), Ahmad Mubarok, seperti yang dikutip dari republika.co.id (24/5). Dia mengatakan bahwa sedikitnya dana yang dibutuhkan oleh caleg untuk menjalani kampanye adalah Rp. 100 juta.

“Dana yang dibutuhkan sebenarnya sangat relatif, tapi saya kira dana minimal Rp 100 juta cukup,” katanya. Saya jadi ingat apa yang pernah dikatakan oleh seorang guru semasa saya SMA dulu (guru mata pelajaran Tata Negara), “Kalau ingin berkecimpung di dalam demokrasi, kita harus punya kekuatan finansial dulu.” Waktu itu saya masih lugu dan tidak mengerti apa maksud dari penjelasan dari guru saya tadi. Baru sekaranglah saya mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Para caleg di dalam kancah persaingan politik demokrasi haruslah popular di tengah-tengah masyarakat. Karena popular nanti akan banyak yang mencoblos fotonya yang tercetak di surat suara ketika pemilu digelar. Semakin popular seseorang caleg, biasanya akan semakin memperbesar peluangnya untuk memenangkan pemilu. Untuk meraih popularitas itu diperlukan uang dalam jumlah banyak untuk keperluan kampanye, biasanya untuk cetak atribut, cetak spanduk yang bergambar wajah si caleg, bikin pagelaran kampanye, dll. Semuanya bertujuan agar mendongkrak popularitas si caleg, kalau sudah popular peluang menangnya biasanya akan meningkat. Apa yang dikatakan Ahmad Mubarok semakin memperjelas hal ini.

Dia bercerita bahwa di Jombang ada seorang caleg bernama Kiai Safii yang tidak memerlukan dana besar untuk menang pemilu karena dari awal Kiai Safii sudah popular di daerah pemilihannya. Akhirnya setiap pemilu dia menang terus.

Memang benar kata guru saya dulu, kalau mau bermain di dalam demokrasi harus punya kekuatan finansial dulu. Kalau tidak begitu pasti tidakan akan tahan. Di mana pun demokrasid diterapkan pasti akan begitu, karena secara sistemik demokrasi memang begitu. Ujung-ujungnya, yang banyak dihasilkan oleh demokrasi adalah para politisi yang gemar korupsi untuk mengembalikan dana besar kampanye yang dulu mereka keluarkan. Sudah banyak fakta berbicara bahwa sangat banyak pejabat publik yang terjerat kasus korupsi di negeri ini, bahkan jumlahnya sampai ratusan orang (http://www.fajar.co.id/read-20121004162750-2012-sudah-ada-597-tersangka-korupsi). Miris sekali. Sudah semestinya umat Islam membuang demokrasi dan menggantinya dengan syariah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Apa Maunya Partai Islam??

Partai Islam Gak Jelas.

Partai Islam Gak Jelas.

Ada tanda tanya besar di benak saya tentang apa sebenarnya yang diinginkan partai-partai Islam yang berkecimpung di dalam sistem demokrasi di negeri ini. Namun saya ingin mengawali dulu tanda tanya ini dengan sebuah cerita yang juga akan membuat tanda tanya ini menjadi amat penting. Jadi begini ceritanya.

Dahulu kala, sekitar tahun 2004, Indonesia ramai dengan berbagai peristiwa politik. Ada pemilu legislatif, dan yang untuk pertama kali dilakukan oleh bangsa ini adalah pemilu presiden secara langsung. Ketika itu euforia negeri ini begitu besar karena adanya pemilihan presiden secara langsung ini.

Berbagai pasangan calon kemudian diusung oleh berbagai parpol. Banyak juga parpol berkoalisi. Salah satu capres yang waktu itu diusung adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang sekarang sudah sukses membawa negeri ini pada berbagai penderitaan yang baru (nampaknya saya apatis sekali).

Waktu itu beredar sms yang kemudian menjadi opini di tengah-tengah masyarakat, bahwa sebaiknya umat Islam jangan sampai golput. Nanti kalau golput yang terpilih menjadi pemimpin adalah orang-orang dari kalangan kafir (Kristen). Beredar pula berbagai isu yang mengatakan bahwa Vatikan telah memberikan restu kepada salah satu partai Kristen yang ikut pemilu untuk memenangkan pemilu di negeri ini. Tidak ketinggalan, katanya, George W. Bush juga memberikan dukungan. Semakin kuatlah dorongan agar umat Islam memilih partai Islam dan jangan golput, karena nanti khawatir yang terpilih adalah orang-orang non muslim.

Saat itu saya berpikir cukup logis juga argumentasi yang mendorong umat Islam agar jangan golput seperti di atas. Kalau nanti yang terpilih orang kafir kan kita sendiri yang nanti akan susah. Jadi umat Islam lebih baik memilih partai Islam. Saya percaya isu itu pasti dihembuskan oleh kader-kader dari partai Islam yang ikut di dalam demokrasi. Waktu pun berlalu, yang terpilih kemudian adalah pemimpin yang beragama Islam (yang ternyata malah semakin menambahkan kesengsaraan kepada rakyat).

Sampai hari ini, saya masih mendengar orang-orang dari partai Islam yang berkecimpung dalam demokrasi memakai argumentasi itu, jangan sampai orang Islam golput ketika pemilu, nanti yang terpilih adalah orang-orang kafir. Parlemen itu jangan sampai ditinggalkan semua oleh umat Islam, sebab nanti yang akan terpilih adalah orang kafir. Dan banyak lagi argumentasi yang senada. Dari argumentasi ini kita bisa mengetahui bahwa partai-partai Islam itu ‘berjuang’ di dalam parlemen agar jangan sampai parlemen itu dikuasai orang kafir, dan agar jangan sampai yang naik itu para pemimpin kafir. Ternyata fakta yang kemudian bisa sama-sama kita lihat membuat hati menjadi miris, dan muncullah tanda tanya, apa yang sebenarnya diinginkan partai-partai Islam?

Seperti dikutip dari suaranews.com, ternyata PPP membuka peluang bagi orang kafir untuk menjadi caleg di partai berlambang Ka’bah ini. Target untuk meraih suara antara 12 sampai 15 persen pada pemilu tahun depan telah membuat PPP melakukan segala cara, termasuk mengizinkan orang kafir menjadi calegnya. “Kami membuka peluang caleg non muslim, asalkan yang calon bersangkutan mematuhi AD/ART Partai Persatuan Pembangunan,” kata Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali (SDA), usai melakukan panen raya dalam rangka Harlah PPP di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek, Jombang, Senin (8/4/2013).

PKS yang selama ini kita kenal sebagai partai dakwah ternyata tidak jauh berbeda. Seperti dikutip dari news.fimadani.com, Ketua Umum DPW PKS NTT, Suharito, mengatakan kepada wartawan bahwa diakomodirnya sekitar 20 caleg nonkader, bahkan dari kalangan nonmuslim, adalah karena adanya aspirasi dari masyarakat. “Kami juga harus menerima mereka, karena sebagian dari mereka datang dengan dukungan yang  cukup besar. Belum lagi mereka juga termasuk tokoh masyarakat,” katanya.

Partai-partai seperti PBB, PAN, dan PKB pun tidak jauh berbeda. Dari sini muncullah tanda tanya besar itu, apa yang sebenarnya diinginkan partai-partai Islam? Dahulu mereka mengatakan agar umat Islam jangan sampai golput, karena nanti yang terpilih adalah orang-orang kafir, dan perjuangan mereka adalah untuk tetap mempertahankan keberadaan mayoritas umat Islam di parlemen. Sekarang malah mereka sendiri yang mengusung caleg-caleg dari orang kafir. Apa maksudnya ini?

Jelaslah sudah, bahwa demokrasi telah membuat partai-partai Islam membuang ideologi Islam yang seharusnya mereka bela. Yang muncul kemudian adalah kompromi dan pragmatisme, asalkan banyak yang nyoblos cara apapun akan dilakukan, termasuk dengan memasukkan orang kafir ke dalam tubuh partai yang sebenarnya haram dilakukan sebuah partai Islam. Sudah saatnya umat Islam membuang jauh-jauh demokrasi, dan menggantinya dengan menerapkan syariah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Cowok Gatel

Saya nggak ngerti kisah saya ini termasuk kisah yang lucu, atau aneh, atau bahkan mungkin “jorok”. Tapi yang pasti saya sudah tidak sabar untuk membagi cerita ini, dan tentunya akan ada hikmah yang akan saya sodorkan di akhir nanti. Jadi begini ceritanya.

Pada suatu hari (entri yang sangat biasa untuk memulai sebuah cerita), saya berboncengan naik motor dengan istri saya sehabis kuliah (yang kuliah istri saya, saya sendiri cuma ngojek [maksudnya antar-jemput istri saya kuliah]). Ketika lagi enak-enaknnya ngegas motor tiba-tiba istri saya nyolek saya. Dia bilang minggir dulu, karena ada apotek di pinggir jalan. Dia mau mampir dulu ke apotek, ada benda “rahasia” yang harus dia beli di apotek itu (ehm). Masuklah dia ke dalam apotek untuk membeli benda rahasianya, sementara saya menunggu saja di pinggir jalan, tepat di depan apotek itu.

Sambil menikmati udara Medan yang gersang, karena harus menunggu, saya jadi mengamati keadaan di sekitar saya, tepatnya di depan apotek itu. Persis di depan apotek itu ada seorang bapak-bapak, sudah agak tua, pakai topi, lusuh, pakai celana pendek, pakai sandal jepit, dan sepertinya dia tukang becak, tapi saya tidak melihat ada becak diparkir di dekat situ. Dia berjongkok saja di depan apotek itu, mungkin sedang mengaso atau berteduh. Saya sendiri tidak terlalu memedulikannya. Saya pun terus menunggu istri saya.

Detik demi detik berlalu, kok lama-lama saya melihat keanehan pada diri bapak itu. Dengan santainya bapak itu memasukkan tangannya ke lubang celana pendeknya (lubang celana di bagian paha). Karena saya pakai helm yang kaca depannya gelap, jadi saya bebas memerhatikan gerak-gerik bapak itu. Ternyata dengan gerakan-gerakan tertentu, si bapak kelihatannya sedang ‘menggaruk sesuatu’ di dalam celananya. Saya meringis melihat tingkah bapak itu. Gatel ya Pak, ekstrim amat ngegaruknya, bisik hati saya. Istri saya pun keluar, dan langsung duduk di jok belakang. Karena saya tidak ingin istri saya melihat ‘perbuatan yang tidak senonoh’ itu saya buru-buru menyalakan mesin motor dan tancap gas.

Tapi tiba-tiba pundak saya ditepuk oleh istri saya. “Bang, lihat nggak tadi bapak-bapak di depan apotek?” Kata dia. Saya nyengir lebar, “ngegaruk-garuk ‘sesuatu’ kan?” Dia langsung ketawa karena tidak menyangka saya juga melihat hal itu. Tapi kemudian yang ketawa malah saya ketika mendengar ceritanya. “Bang, masa abis dia garuk-garuk ‘itu’ terus diabuin!!!”

“Hah…” oh my God. Saya melongo sambil nyetir. Sepanjang perjalanan kami membicarakan tingkah polah bapak itu yang terus mengundang tawa. Apa bapak itu nggak malu menggaruk-garuk ‘sesuatu’ di tempat umum, nggak pakai risih lagi, kaya’nya dunia milik sendiri. Memang nggak salah kalau rasa gatal datang adalah hak kita untuk menggaruknya, dan rasa gatal pun bisa datang di bagian tubuh mana saja. Hanya saja kalau memang rasa gatal itu timbul di tempat-tempat yang agak ‘pribadi’, ada baiknya kita mencari tempat yang agak tertutup dulu baru kemudian menggaruknya. Atau bisa juga langsung digaruk, tapi upayakan jangan sampai ketahuan orang lain. Jangan di depan umum menggaruk-garuk bagian ‘situ’. Di sinilah rasa malu berperan, dan Rasulullah bersabda di dalam sebuah hadisnya bahwa rasa malu itu adalah sebagian dari iman.

Dipasung Demokrasi

Ajang Kemaksiatan

Ajang Kemaksiatan

Memang ada sesuatu yang aneh dengan akan diselenggarakannya ajang akbar Miss World 2013 pada 28 September 2013 mendatang. Kabarnya Indonesia yang akan menjadi tuan rumah penyelenggaraannya dan acara ini akan digelar di Bogor. Tepatnya di Sentul, di stadion besar tempat dahulu Justin Bibir eh Bieber pernah manggung. Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah, kenapa Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), membolehkan hal ini? Padahal semua orang pasti tahu kegiatan seperti apakah Miss World itu.

Ketika saya buka facebook ternyata banyak juga orang yang buka lapak tentang urusan ini. Saya membaca salah satu comment dari seseorang yang mungkin adalah salah satu pendukung atau anggota dari partai Islam yang mengusung Aher. Di dalam comment itu dia mengatakan bahwa penyelenggara Miss World telah datang kepada Aher dan menyatakan bahwa ajang Miss World di Bogor ini akan lebih sopan dengan tidak mengadakan sesi bikini. Hal ini dilakukan oleh penyelenggara, katanya untuk menghormati Aher yang berasal dari partai Islam. Ketiadaan bikini inilah yang kemudian dijadikan argumentasi kuat yang disodorkan Aher kepada publik. “Ini lebih sopan dan bertatakrama, sehingga jauh dari kesan-kesan negatif,” katanya, seperti dikutip dari MediaUmat Edisi 103. Padahal walau pun tidak ada bikini tetap saja ajang Miss World akan mengumbar aurat para wanita yang menjadi pesertanya, dan hal itu diharamkan Islam, Aher pun pasti tahu itu.

Saya cukup bisa memahami kerangka berpikir Aher dan kawan-kawan dari partai Islam yang tergabung di dalam demokrasi itu, kalau tidak bisa didapatkan seluruhnya, maka sedikit-sedikit juga tidak apa-apa. Daripada kontes itu memakai bikini, kan lebih baik kalau tidak memakai bikini. Jelas sekali sikap pragmatis dan kompromistis di sini, yang sangat jauh bertentangan dengan Islam. Kontes Miss World baik memakai bikini atau tidak memakai bikini tetaplah sebuah kemaksiatan yang harus dihilangkan. Rasul saaw bersabda dalam sebuah hadis beliau yang amat populer, kalau kita melihat kemungkaran maka ubahlah dengan ‘tangan’, kalau tidak mampu maka ubahlah dengan ‘lisan’, dan kalau tidak mampu maka ingkarilah dengan ‘hati’, yang terakhir ini adalah selemah-lemahnya iman. Tidakkah seorang Gubernur Jawa Barat memiliki ‘tangan’ (kekuatan dan kewenangan) yang memadai untuk menghentikan penyelenggaraan Miss World itu sepenuhnya? Bukannya bersikap kompromistis dengan merestui Miss World hanya karena tidak memakai bikini.

Belakangan Aher menyatakan bahwa izin pelaksanaan kontes itu tidak berkaitan langsung dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. “Semua urusan administrasi ditangani oleh tingkat pusat,” katanya seperti dikutip dari MediaUmat edisi 103. Dari pernyataan Aher ini timbul lagi tanda tanya besar, apakah sebagai seorang muslim tidak ada dorongan di dalam diri Pak Aher untuk mengatakan sesuatu guna menolak kontes kemaksiatan ini kepada tingkat pusat? Kalau memang benar Pak Aher sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi atas semua ini, berarti demokrasi sudah memasung Pak Aher, alangkah lebih baik untuk menyegerakan diri keluar dari demokrasi agar kita bisa menyerukan kebenaran dengan bebas. Sebab di dalam demokrasi kita hanya bisa bersikap kompromistis terhadap sesuatu yang sudah jelas status hukumnya di dalam Islam. Lebih dari itu, kalau kita ada di dalam demokrasi, mulut kita akan berat menyuarakan kebenaran Islam, sebab kita sudah menikmati uang dari demokrasi. Yang sudah jelas adalah, gantikan demokrasi dengan syariat Islam. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk mengatakan kebenaran sebagai kebenaran. Wallahu a’lam.

Cuma Iseng??

Yang bisa saya lakukan cuma mengembuskan napas kecewa, hati saya merasa miris sekali ketika saya melihat beberapa orang siswi sebuah SMA melakukan sebuah tindakan yang menurut saya amat menjijikan dan tidak pantas. Sekelompok siswi SMAN 2 Toli Toli meng-upload sebuah video di Youtube. Video itu memperlihatkan mereka sedang memperagakan solat, yang aneh adalah, mereka solat pakai baju olah raga, tidak menutup aurat, dan ketika memeragakan ruku’, tiba-tiba masuklah lagu Maroon 5 yang judulnya One More Time, kemudian mereka joged-joged erotis kaya penyanyi dangdut. Saya geleng-geleng kepala, dan tidak sampai selesai, video itu langsung saya close (durasi video itu sekitar 5 menit).

Waktu sedang buka-buka fecabook, saya dapatkan berita bahwa semua siswi yang ada di dalam video itu sudah di-DO dari sekolah. Mereka dikucilkan di masyarakat dan bahkan ada yang depresi sampai masuk rumah sakit. Yang lebih parah lagi, tidak ada satu sekolah pun yang mau menerima mereka, padahal mereka sudah kelas XII SMA. Ujian Nasional yang sudah di depan mata pun tidak bisa mereka ikuti, alamat madesu (masa depan suram).

Ada beberapa kalangan yang mengatakan bahwa mereka tidak serius dan tidak bermaksud menghina Islam dengan apa yang telah mereka lakukan. Mereka semua cuma iseng saja. Kalau memang benar begitu, kenapa tidak hal lain yang mereka jadikan bahan isengan? Kenapa harus solat (yang notabene ibadah umat Islam) yang mereka begitukan? Kan banyak bahan keisengan yang lain, kenapa mesti solat?

Saya merasa sedih sekali! Jaman sekarang ini, ketika Khilafah Islamiyah yang bertugas melindungi kehormatan Islam tidak ada, bahkan anak SMA bau kencur sekali pun bisa dengan bebasnya menghina Islam. Padahal Rasulullah bersabda, al Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alayh (Islam tinggi, dan tidak sesuatu pun yang lebih tinggi dari Islam). Semakin jelaslah bahwa kebutuhan kita akan Khilafah Islamiyah telah sedemikian mendesak, demi kemuliaan Islam dan kaum muslim.

Dari Partai Islam, Tapi Menikam Umat Islam

Suatu kali saya pernah share sebuah link berita di facebook yang mengabarkan tentang seorang presiden yang berasal dari sebuah partai Islam besar di Timur Tengah. Link tadi mengabarkan tentang ditutupnya sebuah terowongan oleh rezim presiden dari partai Islam tersebut, padahal terowongan itu merupakan penghubung yang amat penting bagi kaum muslim untuk mendapatkan bahan makanan dan pengobatan guna bertahan hidup dari blokade zionis Israel.

Presiden dari partai Islam ini punya akhlak yang mulia. Dia gemar puasa sunnah senin-kamis, dan bahkan hafal Quran. Subhanallah sekali. Kenyataan ini kemudian mengundang komentar yang cukup beragam pada link yang saya share tadi. Ada yang berkomentar, “Kita harus husnuzhon kepada sesama muslim, jangan sampai kita menyangka sesuatu yang belum tentu benar. Siapa tahu presiden itu sedang bekerja keras untuk menegakkan Islam.” Dan banyak lagi komentar yang senada.

Salah seorang rekan saya, Ustadz Agus Trisa, memberikan komentar yang cukup inspiratif tentang hal ini. Ia menjelaskan bahwa hukum husnuzhon (berbaik sangka) dan su’uzhon (berburuk sangka) itu hanya ada pada sesuatu yang statusnya masih zhon (dugaan). Untuk sesuatu yang bukan zhon, tentunya yang harus kita lakukan adalah mengambil keputusan hukum yang tepat tentangnya sesuai dengan pandangan syara’.  Seseorang tentunya dinilai dari hal zhorir (yang tampak) dari dirinya, yaitu tindakan-tindakannya, dan bukan apa-apa yang ada di dalam hatinya. Sebab syariat Islam menilai amal perbuatan manusia (yang tampak).

Kalau sang presiden dari partai Islam itu gemar puasa sunnah dan hafidz Quran, pertanyaan selanjutnya adalah kenapa dia melakukan itu kepada umat Islam? Bukankah tindakan itu amatlah zhalim? Apa gunanaya hafalan Quran-nya selama ini kalau dia melakukan tindakan seperti itu? Ada lagi yang berkomentar, bahwa bisa jadi semua itu bukanlah keinginannya, bisa jadi dia sendiri sebenarnya ingin menyelamatkan sesama muslim. Oke, kalau memang benar begitu, kenapa presiden dari partai Islam ini tidak melakukannya (menyelamatkan sesama muslim), tapi kenapa malah dia melakukan yang lain (menutup terowongan itu)? Bukankah dia punya kuasa? Lalu ngapain aja dia duduk di kursi kepresidenan yang terhormat itu kalau ternyata dia tidak bisa mengambil kebijakan apa-apa. Kebijakan presiden dari partai Islam ini jelas adalah sebuah kemaksiatan dan kezaliman yang nyata.

Kadang-kadang kita silau dengan hal-hal yang bersifat kulit, sehingga lupa dengan hal-hal yang bersifat inti. Mungkin kita ingat dengan apa yang dilakukan negeri ini ketika Obama datang. Hanya karena dia pernah sebentar tinggal di Indonesia, bisa menyebut nasi goreng, pernah makan bakso dan sate, kemudian kita semua duduk manis di hadapannya dan mendengarnya berceramah, kita mempersembahkan senyum kepadanya dan rela berjabatan tangan dengannya. Kita semua lupa bahwa dia adalah musuh kaum muslim yang tidak henti membunuhi dan menganiaya kaum muslim, tangannya masih basah oleh darah kaum muslim.

Kasus Obama di atas dengan kasus presiden dari partai Islam tadi bisa kita pandang sebagai kemiripan jika dilihat dari bagaimana sikap kaum muslim terhadapnya. Hanya karena hal-hal kecil yang dilakukan kedua presiden tadi, kaum muslim melupakan hal-hal besar. Kenyataan bahwa presiden dari partai Islam tadi suka puasa sunnah dan hafizh Quran sebenarnya hanyalah hal kecil jika dibandingkan dengan tindakannya menutup terowongan jalur suplai bagi kaum muslim. Menutup terowongan itu jelas sebuah tindakan yang berdampak besar bagi kaum muslim. Rasulullah saw sendiri menyatakan dalam hadisnya bahwa tidak akan pernah masuk surga seorang pemimpin yang menyusahkan kaum muslim. Wallahu a’lam.