Apa Maunya Partai Islam??


Partai Islam Gak Jelas.

Partai Islam Gak Jelas.

Ada tanda tanya besar di benak saya tentang apa sebenarnya yang diinginkan partai-partai Islam yang berkecimpung di dalam sistem demokrasi di negeri ini. Namun saya ingin mengawali dulu tanda tanya ini dengan sebuah cerita yang juga akan membuat tanda tanya ini menjadi amat penting. Jadi begini ceritanya.

Dahulu kala, sekitar tahun 2004, Indonesia ramai dengan berbagai peristiwa politik. Ada pemilu legislatif, dan yang untuk pertama kali dilakukan oleh bangsa ini adalah pemilu presiden secara langsung. Ketika itu euforia negeri ini begitu besar karena adanya pemilihan presiden secara langsung ini.

Berbagai pasangan calon kemudian diusung oleh berbagai parpol. Banyak juga parpol berkoalisi. Salah satu capres yang waktu itu diusung adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang sekarang sudah sukses membawa negeri ini pada berbagai penderitaan yang baru (nampaknya saya apatis sekali).

Waktu itu beredar sms yang kemudian menjadi opini di tengah-tengah masyarakat, bahwa sebaiknya umat Islam jangan sampai golput. Nanti kalau golput yang terpilih menjadi pemimpin adalah orang-orang dari kalangan kafir (Kristen). Beredar pula berbagai isu yang mengatakan bahwa Vatikan telah memberikan restu kepada salah satu partai Kristen yang ikut pemilu untuk memenangkan pemilu di negeri ini. Tidak ketinggalan, katanya, George W. Bush juga memberikan dukungan. Semakin kuatlah dorongan agar umat Islam memilih partai Islam dan jangan golput, karena nanti khawatir yang terpilih adalah orang-orang non muslim.

Saat itu saya berpikir cukup logis juga argumentasi yang mendorong umat Islam agar jangan golput seperti di atas. Kalau nanti yang terpilih orang kafir kan kita sendiri yang nanti akan susah. Jadi umat Islam lebih baik memilih partai Islam. Saya percaya isu itu pasti dihembuskan oleh kader-kader dari partai Islam yang ikut di dalam demokrasi. Waktu pun berlalu, yang terpilih kemudian adalah pemimpin yang beragama Islam (yang ternyata malah semakin menambahkan kesengsaraan kepada rakyat).

Sampai hari ini, saya masih mendengar orang-orang dari partai Islam yang berkecimpung dalam demokrasi memakai argumentasi itu, jangan sampai orang Islam golput ketika pemilu, nanti yang terpilih adalah orang-orang kafir. Parlemen itu jangan sampai ditinggalkan semua oleh umat Islam, sebab nanti yang akan terpilih adalah orang kafir. Dan banyak lagi argumentasi yang senada. Dari argumentasi ini kita bisa mengetahui bahwa partai-partai Islam itu ‘berjuang’ di dalam parlemen agar jangan sampai parlemen itu dikuasai orang kafir, dan agar jangan sampai yang naik itu para pemimpin kafir. Ternyata fakta yang kemudian bisa sama-sama kita lihat membuat hati menjadi miris, dan muncullah tanda tanya, apa yang sebenarnya diinginkan partai-partai Islam?

Seperti dikutip dari suaranews.com, ternyata PPP membuka peluang bagi orang kafir untuk menjadi caleg di partai berlambang Ka’bah ini. Target untuk meraih suara antara 12 sampai 15 persen pada pemilu tahun depan telah membuat PPP melakukan segala cara, termasuk mengizinkan orang kafir menjadi calegnya. “Kami membuka peluang caleg non muslim, asalkan yang calon bersangkutan mematuhi AD/ART Partai Persatuan Pembangunan,” kata Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali (SDA), usai melakukan panen raya dalam rangka Harlah PPP di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek, Jombang, Senin (8/4/2013).

PKS yang selama ini kita kenal sebagai partai dakwah ternyata tidak jauh berbeda. Seperti dikutip dari news.fimadani.com, Ketua Umum DPW PKS NTT, Suharito, mengatakan kepada wartawan bahwa diakomodirnya sekitar 20 caleg nonkader, bahkan dari kalangan nonmuslim, adalah karena adanya aspirasi dari masyarakat. “Kami juga harus menerima mereka, karena sebagian dari mereka datang dengan dukungan yang  cukup besar. Belum lagi mereka juga termasuk tokoh masyarakat,” katanya.

Partai-partai seperti PBB, PAN, dan PKB pun tidak jauh berbeda. Dari sini muncullah tanda tanya besar itu, apa yang sebenarnya diinginkan partai-partai Islam? Dahulu mereka mengatakan agar umat Islam jangan sampai golput, karena nanti yang terpilih adalah orang-orang kafir, dan perjuangan mereka adalah untuk tetap mempertahankan keberadaan mayoritas umat Islam di parlemen. Sekarang malah mereka sendiri yang mengusung caleg-caleg dari orang kafir. Apa maksudnya ini?

Jelaslah sudah, bahwa demokrasi telah membuat partai-partai Islam membuang ideologi Islam yang seharusnya mereka bela. Yang muncul kemudian adalah kompromi dan pragmatisme, asalkan banyak yang nyoblos cara apapun akan dilakukan, termasuk dengan memasukkan orang kafir ke dalam tubuh partai yang sebenarnya haram dilakukan sebuah partai Islam. Sudah saatnya umat Islam membuang jauh-jauh demokrasi, dan menggantinya dengan menerapkan syariah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Advertisements

One response to “Apa Maunya Partai Islam??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s