Cowok Gatel


Saya nggak ngerti kisah saya ini termasuk kisah yang lucu, atau aneh, atau bahkan mungkin “jorok”. Tapi yang pasti saya sudah tidak sabar untuk membagi cerita ini, dan tentunya akan ada hikmah yang akan saya sodorkan di akhir nanti. Jadi begini ceritanya.

Pada suatu hari (entri yang sangat biasa untuk memulai sebuah cerita), saya berboncengan naik motor dengan istri saya sehabis kuliah (yang kuliah istri saya, saya sendiri cuma ngojek [maksudnya antar-jemput istri saya kuliah]). Ketika lagi enak-enaknnya ngegas motor tiba-tiba istri saya nyolek saya. Dia bilang minggir dulu, karena ada apotek di pinggir jalan. Dia mau mampir dulu ke apotek, ada benda “rahasia” yang harus dia beli di apotek itu (ehm). Masuklah dia ke dalam apotek untuk membeli benda rahasianya, sementara saya menunggu saja di pinggir jalan, tepat di depan apotek itu.

Sambil menikmati udara Medan yang gersang, karena harus menunggu, saya jadi mengamati keadaan di sekitar saya, tepatnya di depan apotek itu. Persis di depan apotek itu ada seorang bapak-bapak, sudah agak tua, pakai topi, lusuh, pakai celana pendek, pakai sandal jepit, dan sepertinya dia tukang becak, tapi saya tidak melihat ada becak diparkir di dekat situ. Dia berjongkok saja di depan apotek itu, mungkin sedang mengaso atau berteduh. Saya sendiri tidak terlalu memedulikannya. Saya pun terus menunggu istri saya.

Detik demi detik berlalu, kok lama-lama saya melihat keanehan pada diri bapak itu. Dengan santainya bapak itu memasukkan tangannya ke lubang celana pendeknya (lubang celana di bagian paha). Karena saya pakai helm yang kaca depannya gelap, jadi saya bebas memerhatikan gerak-gerik bapak itu. Ternyata dengan gerakan-gerakan tertentu, si bapak kelihatannya sedang ‘menggaruk sesuatu’ di dalam celananya. Saya meringis melihat tingkah bapak itu. Gatel ya Pak, ekstrim amat ngegaruknya, bisik hati saya. Istri saya pun keluar, dan langsung duduk di jok belakang. Karena saya tidak ingin istri saya melihat ‘perbuatan yang tidak senonoh’ itu saya buru-buru menyalakan mesin motor dan tancap gas.

Tapi tiba-tiba pundak saya ditepuk oleh istri saya. “Bang, lihat nggak tadi bapak-bapak di depan apotek?” Kata dia. Saya nyengir lebar, “ngegaruk-garuk ‘sesuatu’ kan?” Dia langsung ketawa karena tidak menyangka saya juga melihat hal itu. Tapi kemudian yang ketawa malah saya ketika mendengar ceritanya. “Bang, masa abis dia garuk-garuk ‘itu’ terus diabuin!!!”

“Hah…” oh my God. Saya melongo sambil nyetir. Sepanjang perjalanan kami membicarakan tingkah polah bapak itu yang terus mengundang tawa. Apa bapak itu nggak malu menggaruk-garuk ‘sesuatu’ di tempat umum, nggak pakai risih lagi, kaya’nya dunia milik sendiri. Memang nggak salah kalau rasa gatal datang adalah hak kita untuk menggaruknya, dan rasa gatal pun bisa datang di bagian tubuh mana saja. Hanya saja kalau memang rasa gatal itu timbul di tempat-tempat yang agak ‘pribadi’, ada baiknya kita mencari tempat yang agak tertutup dulu baru kemudian menggaruknya. Atau bisa juga langsung digaruk, tapi upayakan jangan sampai ketahuan orang lain. Jangan di depan umum menggaruk-garuk bagian ‘situ’. Di sinilah rasa malu berperan, dan Rasulullah bersabda di dalam sebuah hadisnya bahwa rasa malu itu adalah sebagian dari iman.

Advertisements

One thought on “Cowok Gatel”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s