Derap Rantai [Episode 1]


Peta Perang Khandak
Peta Perang Khandak

Sebuah fiksi-sejarah

Matahari terik memanggang Semenanjung Arabia. Pada masa itu, ada sebuah negara yang baru saja  berkembang di sana, Khilafah Islamiyah. Dia yang pertama kali mendirikan negara itu adalah seorang nabi, Muhammad saw. Ketika dia wafat dengan berkalang kemuliaan, para sahabatnya melanjutkan kepemimpinan negara itu dengan penuh kemuliaan. Zaman dan sejarah kelak akan mencatat semua jejak yang telah mereka buat. Milyaran umat manusia di dunia akan mengikuti langkah yang mereka ambil. Penerus kepemimpinan sang Nabi di dalam negara yang diberkahi itu adalah sahabatnya sendiri, Abu Bakar.

Hari itu Abu Bakar sedang memimpin sebuah sidang yang dihadiri oleh para penasihatnya, para sahabat Nabi. Siang itu hadir pula Umar bin Khathab, orang yang selalu berseberangan dengan setan; Abdurrahmah bin Auf, saudagar tawadhu dengan sentuhan tangan emas; Usman bin Affan, lelaki pemilik dua cahaya mata; dan Ali bin Abi Thalib, gerbang ilmu sang Nabi. Mereka semua berkumpul di Saqifah bani Saidah.

Sidang berjalan agak alot hari itu, sebab banyak masalah yang harus mereka bicarakan.

“Orang-orang murtad ini memang merepotkan,” kata Abu Bakar, kegundahan menyelubungi hatinya, “belum lagi semua ini selesai, sudah muncul nabi-nabi palsu.”

“Insyaallah Khalid akan mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik,” Umar menatap wajah Abu Bakar, “Khalifah jangan khawatir, Allah akan menolong, insyaallah.”

“Insyaallah,” sahut Abu Bakar.

“Kecepatan dan kesigapan Khalid dalam memimpin angkatan perang sudah sama-sama kita lihat, dengan modal itu aku rasa Khalid akan mampu menyelesaikan semuanya dengan baik.”

Tak aneh jika munculnya kalangan orang-orang murtad dan makin menggilanya orang-orang yang mengaku nabi sangat menggusarkan hati Khalifah Abu Bakar. Sebab dialah yang paling bertanggungjawab terhadap apapun yang terjadi pada umat ini. Khalifah laksana penggembala bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai petanggungjawaban oleh Allah atas gembalaannya itu. Dan Abu Bakar paham betul semua itu.

Di tengah-tengah sidang yang hangat di Saqifah bani Saidah itu datanglah seorang lelaki yang menunggang seekor kuda yang gagah, dia adalah Mutsana bin Harits. Mutsana dikawal oleh prajurit berkuda sebanyak dua puluh orang. Debu padang pasir beterbangan karena derap langkah kedatangan rombongan berkuda itu. Di hadapan gerbang Saqifah bani Saidah Mutsana menarik kuat-kuat tali kekang kudanya untuk menghentikan langkah kuda yang terpacu cepat itu. Dengan pedang masih tersemat di pinggang dia melompat turun dari punggung kudanya dan bergegas masuk.

“Assalamualaikum,” kata Mutsana, tangannya terangkat ketika dia mengucapkan salam.

Seluruh orang penting yang sedang duduk di dalam menyahut salam Mutsana. Dengan hampir bersamaan mereka bangkit dan menghampiri kedatangan lelaki gagah itu.

“Mutsana saudaraku,” Khalifah Abu Bakar merentangkan tangannya dan segera memeluk erat tubuh Mutsana. Seluruh sahabat pun tersenyum dan memeluk Mutsana bergiliran. Sebuah ikatan persaudaraan yang indah yang hanya ada di dalam Islam.

“Duduklah, duduk,” Abu Bakar memersilakan, “perintahkan juga seluruh prajuritmu masuk agar dihidangkan minuman untuk kalian semua.”

Mereka semua duduk dalam perasaan hati yang sedikit terobati karena kehadiran Mutsana bin Harits. Mereka telah mengetahui, kedatangan Mutsana adalah juga kedatangan sebuah kabar gembira.

“Alhamdulillah aku bisa kembali ke Madinah dengan selamat dan tidak kurang suatu apa,” kata Mutsana. “Ini semua berkat pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan juga karena kebijaksanaan Khalifah serta para sahabat semua.”

“Alhamdulillah wallahu akbar,” Umar memuji sambil mengangkat tangannya lalu mengusapkannya ke wajahnya.

Senyum menghiasi seluruh wajah sahabat nabi yang teduh itu. Hati mereka berzikir kepada Allah dan lidah mereka selalu basah dengan kalimat-kalimat tayyibah. Merekalah generasi yang diridhoi dan meridhoi Allah.

“Bagaimana kabar yang kau bawa, wahai saudaraku Mutsana?” Abu Bakar sudah tidak sabar.

“Alhamdulillah, Khalifah,” jawab Mutsana, “pasukan kaum muslim telah berhasil merebut kota-kota di daratan Iraq, di sekitar perbatasan Khilafah Islam dengan Persia. Kota-kota itu kini telah berada di bawah kekuasaan Islam dan seluruh penduduknya telah berada di bawah perlindungan Islam.”

“Kota-kota apa saja yang telah berhasil kita rebut itu?” Tanya Usman.

“Seluruh kota yang terletak di selatan al Hirah telah berhasil kita taklukkan, Khalifah. Pasukan Persia tidak sanggup menghadapi gempuran kami yang cepat dan mematikan.”

“Alhamdulillah, semoga Allah merahmati dan memberikan kebaikan yang banyak kepadamu dan seluruh pasukan kaum muslim.” Doa Abu Bakar. Raut wajahnya yang semula keruh kemudian berubah menjadi bening dan segar, senyuman menghiasinya.

“Bagaimana pendapat sahabat sekalian dengan kabar yang dibawa Mutsana ini? Semoga Allah memudahkan semua urusan kita.” Abu Bakar melayangkan pandangannya kepada para sahabat yang hadir di Saqifah bani Saidah.

“Allah telah memudahkan kita untuk meluaskan kekuasaan Islam, dan Allah pasti akan memenangkan kita,” kata Ali bin Abi Thalib. “Kurasa saat inilah waktu yang tepat untuk menghantam Persia. Persia adalah salah satu penghalang utama dakwah Islam di dunia ini. Insyaallah kita akan meraih kemenangan karena Rasulullah telah menjanjikan bahwa Persia akan tercabik-cabik karena dahulu Kisra pernah mencabik-cabik surat Rasulullah.”

“Insyaallah,” Usman menimpali, “kabar dari Rasulullah adalah kabar kemenangan bagi kita. Khilafah Islam akan menguasai apa yang dahulu pernah dikuasai oleh Kisra.”

“Walaupun begitu tetaplah kita tidak boleh meremehkan kekuatan musuh,” pendapat Abdurrahman bin Auf, “Persia tetaplah sebuah negara besar, jika kita salah melangkah nanti merekalah yang mengambil keuntungan dari itu semua. Aku ingin menyampaikan agar kita mempersiapkan penaklukan ini dengan matang. Tahap persiapan amatlah penting, wahai Khalifah.”

“Aku sependapat dengan sahabat sekalian,” terkandung semangat yang menggebu di dalam suara Abu Bakar. “Insyaallah kemenangan kita sudah disabdakan oleh Rasulullah dahulu, hanya saja untuk meraih semua itu persiapan kita mestilah matang. Baiklah, kita semua sepakat untuk memfutuhat Iraq dan menghadapi Persia. Semoga Allah memudahkan kemenangan kita, insyaallah. Sebagai langkah pertama, aku tugaskan kepadamu Mutsana, untuk menyusup ke wilayah Persia yang terdekat dengan pebatasan kita, terutama ke al Hirah. Perintah detil untuk misimu ini akan kau dapatkan dalam bentuk surat yang akan kau terima nanti sore.”

“Siap!” Mutsana mengangguk dengan penuh semangat. Adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan menerima misi dari Khalifah kaum muslim. [sayf]

Bersambung…

Follow @sayfmuhammadisa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s