Islam, Modernitas, dan Demokrasi


sampahSiang ini sepulang ngojek (kerjaan saya ngojek nganterin istri saya ke kampus), saya nonton berita di TV One. Di sela-sela berita, seperti biasa, akan diselingi dengan berbagai iklan. Bisa iklan komersial, iklan layanan masyarakat, dan iklan kampanye untuk mendongkrak pencitraan seorang tokoh. Nah, siang ini saya melihat iklan Aburizal Bakrie (ARB) di TV One.

Di dalam iklan itu terlihat ARB sedang berpidato di atas mimbar, ada juga istrinya, Tattie Bakrie, yang terlihat sedang beramah-tamah dengan rakyat Indonesia. Di dalam pidatonya yang cukup singkat di iklan itu, ARB menyatakan bahwa Islam itu sejalan dengan modernitas dan demokrasi. Kemudian di akhir iklan itu, dia menyatakan bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam, seperti yang tercantum dalam surat al-Anbiya’ ayat 107), sebagai kesimpulan dari seluruh pidatonya yang singkat tadi.

Karena ada sesuatu yang harus diluruskan dari kata-kata ARB tersebut, saya membuat celoteh singkat ini. Allah dan RasulNya memerintahkan kepada kita, jika kita mengetahui ada sesuatu yang salah, maka kita wajib meluruskannya. Semoga Allah swt. selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk melakukan hal itu. Amin.

Di dalam iklan tersebut ARB menyatakan bahwa Islam kompatibel dengan modernitas dan demokrasi, dengan demikian Islam adalah sebuah agama yang rahmatan lil ‘alamin karena bisa mengakomodasi modernitas dan demokrasi. Apakah benar demikian? Kalau selintas saja, mungkin pendangan seperti itu benar. Namun jika kita gali lebih dalam lagi (dan memang seharusnya itulah yang harus kita lakukan), maka akan kita temukan bahwa Islam tidak akan pernah mau berjalan beriringan dengan modernitas dan demokrasi. saya ingin mencoba membicarakan hal ini lebih lanjut.

Islam adalah sebuah mabda’ (pandangan hidup atau ideologi) yang menyeluruh dan mengatur segala aspek kehidupan. Hal inilah yang kurang dipahami oleh umat Islam jaman sekarang. Islam bukan hanya mengatur masalah ritual seperti solat, puasa, dan haji. Islam pun bukan hanya mengatur masalah moral dan akhlak saja seperti murah senyum, tidak boleh sombong, harus rapi, dan harus rajin. Islam juga bukan hanya mengatur masalah pernikahan dan perceraian. Islam juga bukan hanya mengatur cara memandikan dan menyolatkan mayat. Islam mengatur lebih dari semua itu.

Islam mengatur sistem pemerintahan secara detil dan rinci. Islam juga mengatur sistem perekonomian dengan amat gamblang. Begitu juga sistem sanksi, sistem pergaulan, sistem pendidikan, dan seluruh sistem yang pernah dikenal umat manusia pasti juga diatur oleh Islam.

Sementara itu modernitas dan demokrasi juga memiliki maknanya sendiri. Modernitas jika kita maknai sebagai sebuah kondisi yang mengacu kepada kekinian, maka tentu saja Islam tidak bisa diselaraskan dengan modernitas. Kalau modern itu dimaknai harus berpakaian yang gaul dan sexy, dan pastinya akan mengumbar aurat, maka tentu saja Islam amat tidak bisa diselaraskan dengan modernitas. Jika kondisi modern itu harus dimaknai sebagai tindakan gonta-ganti pasangan dalam pacaran, maka Islam tentu saja tidak sesuai dengan modernitas sebab Islam mengharamkan semua itu.

Begitu juga dengan demokrasi. Banyak orang yang memaknai bahwa demokrasi itu hanya sekadar musyawarah, dan dengan demikian musyawarah itu juga dilaksanakan dalam Islam, maka demokrasi selaras dengan Islam. Padahal persoalannya bukan di situ.

Demokrasi telah menempatkan suara rakyat sebagai suara tuhan (vox populi vox dei). Di dalam demokrasi, al Quran hanya jadi salah satu pilihan saja untuk menentukan keputusan hukum terhadap sesuatu. Padahal di dalam Islam, al Quran adalah segala-galanya dalam menentukan hukum terhadap sesuatu sebab ia adalah firman Allah swt. Karena kondisi demokrasi yang seperti inilah, maka Islam mengharamkan demokrasi, dan Islam tidak mungkin berjalan beriringan dengan demokrasi.

Islam memang rahmatan lil ‘alamin, ia rahmat bagi seluruh alam, bagi seluruh umat manusia. Hanya saja, kenyataan bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin itu bukan berarti menjadikan Islam selaras dengan modernitas dan demokrasi. kedua hal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian jangan sampai umat Islam tersesatkan dengan pandangan ARB ini. Islam adalah Islam, sampai kapan pun ia akan tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sementara demokrasi dan modernitas adalah budaya kufur yang harus dimusnahkan dari muka bumi ini. Wallahu a’lam. (follow @sayfmuhammadisa

Advertisements

3 thoughts on “Islam, Modernitas, dan Demokrasi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s