Apesnya Operasi Plastik

Sebelum dan sesudah.
Sebelum dan sesudah.

Kita sebagai umat Islam sudah selayaknya bersyukur karena Allah yang Mahabijaksana mengatakan seperti ini di dalam Alquran: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” Dalam Alquran surat Alhujurat ayat 13.

Dengan adanya pernyataan seperti ini dari Allah, maka orang yang paling dihormati dan dikagumi di tengah-tengah umat Islam adalah orang yang paling bertakwa; yang paling getol ibadahnya; yang paling taat kepada Allah; yang paling paham agama; dan yang paling mulia akhlaknya. Orang-orang seperti itulah yang akan dihormati dan dikagumi walau pun, maaf, mukanya demek amburadul nggak karuan (ups).

Standar kemuliaan dalam Islam bukannya tampang dan harta, tapi ketakwaan. Kita tahu betul bahwa seseorang ketika dilahirkan tidak akan bisa memilih sama sekali mau bermuka ganteng atau tidak ganteng. Tapi ketakwaan bisa diraih oleh siapa saja asalkan mau bekerja keras, baik dia bermuka ganteng atau pun tidak.

Kerusakanlah yang kemudian akan terjadi jika standar ini kemudian diubah. Pada jaman sekarang ini seolah-olah bunyi ayat di atas sudah berubah jadi begini: “Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling ganteng dan paling cantik.” Dan hal ini menjadi bencana besar bagi umat manusia, seperti yang terlihat pada arus gelombang merebaknya operasi plastik. Mari sama-sama kita bicarakan hal ini.

Tren Operasi Plastik

Korea Selatan (Korsel) adalah salah satu kiblat operasi plastik yang ada di dunia. Masyarakat di negara ini benar-benar menempatkan orang-orang ganteng dan cantik begitu terhormat dan dihargai. Ada sebuah anekdot yang berkembang di sana, “lebih baik miskin daripada jelek.” Saya tercengang ketika mengetahui ada anekdot itu. Dengan kata lain punya muka jelek lebih menakutkan daripada hidup miskin.

Warga Korsel tercatat paling banyak melakukan operasi plastik dibanding dengan warga di negara lain, hal ini terjadi seiring dengan boomingnya budaya pop Korea yang terlihat dari banyak munculnya boyband dan girlband serta drama-drama Korea. Data dari Dinas Kesehatan Korsel menyebutkan bahwa hampir 99% artis di Korsel telah melakukan operasi plastik, dan 65% wanita di sana melakukan hal yang sama. Dengan demikian lebih dari setengah warga Korsel (khususnya perempuan) telah melakukan operasi plastik.

Biasanya warga Korsel mengoperasi kelopak mata (agar tidak terlalu sipit), kemudian hidung (agar mancung), seterusnya bibir dan rahang. Yang sekarang ini sedang digemari adalah bentuk wajah “V” line seperti boneka barbie atau film-film kartun Jepang. Dengan meningkatnya tren operasi plastik di Korsel, merebaklah klinik-klinik kecantikan yang memberikan pelayanan operasi plastik. Dengan harga terjangkau dan dengan kecanggihan serta keamanan yang terus diupdate, operasi plastik di Korsel jadi semakin populer. Bahkan sampai membuat orang-orang dari luar negeri berdatangan hanya sekadar ingin melakukan operasi plastik. Tercatat setiap tahun sekitar 2000 orang datang dari luar negeri hanya untuk operasi plastik di Korsel.

Karena pandangan seperti ini, orang yang bertampang pas-pasan jadi termarjinalkan. Orang yang cantik dan ganteng memiliki peluang lebih besar di dunia kerja daripada orang yang bertampang pas-pasan. Sebuah survei yang dilakukan JobKorea memerlihatkan bahwa sebagian besar pelamar kerja di Korea lebih mengkhawatirkan penampilan mereka daripada kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Mungkin kalau mukanya ganteng kerjanya jadi lebih gesit gitu, hehe.

Pengalaman buruk juga menimpa seorang guru bahasa Inggris bernama Ashley Perez. Wanita berusia 20 tahun keturunan Korea-Filipina-Kuda-Amerika ini sering kali dihina karena orang-orang Korea menganggapnya terlalu jangkung; terlalu gemuk; dan terlalu gelap. Karena tidak tahan dia pulang lagi ke Amerika.

Apesnya Operasi Plastik

Seaman-amannya operasi plastik, tindakan ini tetaplah mengandung sejumlah risiko. Sudah banyak kasus yang terjadi yang menggambarkan kegagalan operasi plastik dan akibat mengerikan yang harus ditanggung pelakunya.

Salah satu jenis operasi plastik yang saat ini sedang digemari adalah operasi rahang ganda. Prosedur ini awalnya dilakukan untuk orang-orang yang mengalami kesulitan mengunyah tapi perkembangan selanjutnya malah digunakan untuk mempercantik diri. Dengan metode inilah akan didapat bentuk wajah “V” line dan garis wajah yang cantik. Orang-orang yang berwajah ‘kotak’ dan berdagu besar bisa dipermak dengan metode ini.

Hanya saja metode ini sebenarnya amat berbahaya. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Choi Jin Young, seorang profesor kedokteran gigi di Seoul National University. “Operasi ini mengubah tampilan anda jauh lebih dramatis dibandingkan katakanlah botoks atau pekerjaan di hidung karena mengubah seluruh struktur tulang di wajah anda,” katanya. “Tapi, ini sangat kompleks, operasi berbahaya.”

Operasi  ini membutuhkan waktu  pemulihan hingga berbulan-bulan. Berisiko terjadinya mati rasa permanen pada seluruh wajah yang mengakibatkan kita tidak akan merasa jika kita sedang ngiler, sekaligus mengakibatan kelumpuhan. Sekitar 52% orang yang menjalani operasi ini mengalami masalah sensorik seperti mati rasa pada wajah.

Operasi jenis lain pun tidak kalah berbahayanya. Ada yang hidungnya bengkak setelah operasi. Ada yang bibirnya bengkak. Ada yang payudaranya bengkak dan jadi menyatu. Dan seabrek-abrek kasus menyedihkan lainnya. Padahal kecantikan atau kegantengan itu fana’. Dari sini kita bisa melihat, betapa bijak dan adilnya Allah dalam menentukan standar kemuliaan umat manusia, yaitu dari ketakwaannya. Subhanallah…

dari berbagai sumber

follow @sayfmuhammadisa

Advertisements

Tirani ‘Tuhan’

Bagian 4

Islam Kaffah

Peradaban Barat memiliki sejarah kebencian yang amat panjang dan mendalam kepada agama, terutama Kristen. Pengalaman buruk mereka kerena ditindas oleh kekuasaan agama membuat mereka memisahkan agama dari kehidupan. Mereka menyisihkan agama dari kehidupan politik dan pemerintahan menjadi hanya mengatur urusan ritual, moral, spiritual, dan seremonial saja. Parahnya, setelah melakukan semua itu, mereka menggeneralisir seluruh agama sama saja seperti agama mereka, yakni Kristen. Mereka juga menyerukan agar umat Islam melakukan hal yang sama dengan mereka, memisahkan agama dari kehidupan. Padahal Islam tidak sama dengan agama mereka. Islam adalah sebuah agama yang lengkap, sempurna, dan paripurna.

Islam tidak bisa diterapkan sepotong-sepotong. Islam tidak bisa dibatasi hanya mengatur masalah ritual, moral, spiritual, dan seremonial saja sebab hukum-hukum Islam mencakup segala aspek kehidupan, bukan hanya hal-hal yang sudah disebutkan tadi. Karena itulah setiap upaya untuk membatasi Islam dari pengaturan terhadap kehidupan adalah sebuah upaya yang keji yang hendak mereduksi syariat Islam.

Islam bukan Cuma mengatur masalah solat, puasa, zakat, dan haji saja. Islam juga mengatur masalah bisnis, ekonomi, dan pemerintahan. Islam juga mengatur sanksi pidana, sosial, pendidikan, politik, dan hubungan luar negeri. Seluruh hukum Islam ini hanya bisa diterapkan secara menyeluruh dengan cara menegakkan Khilafah Islamiyah di tengah-tengah negeri kaum muslim. Khilafah Islamiyah itulah yang akan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dan akan menebarkan dakwah ke seluruh dunia. Semoga Allah memberikan pertolongan kepada umat Islam untuk menegakkan Khilafah Islamiyah yang dengannya Islam bisa diterapkan dengan sempurna. Amin

[habis]

Follow @sayfmuhammadisa

Tirani ‘Tuhan’

Paus Alexander VI alias Rodrigo Borgia. Salah satu Paus paling bejat dalam sejarah Vatikan.
Paus Alexander VI alias Rodrigo Borgia. Salah satu Paus paling bejat dalam sejarah Vatikan.

Paus Alexander VI dan Kebejatannya

Bagian 3

by Sayf Muhammad Isa

Artikel bagian ini akan mengisahkan tentang kebejatan Paus Alexander VI, yang nama aslinya Rodrigo Borgia. Dia adalah Paus yang kontroversial dalam sejarah Vatikan dan reputasi buruknya masih terus terasa hingga hari ini.

Pada abad ke-15 Masehi, banyak keluarga kaya yang berkuasa di sekitar kawasan Italia sekarang. Ada keluarga Visconti dan Sforza dari Milan; keluarga Medici dari Florence; keluarga d’Este dari Ferrara; keluarga Boccanegra dari Genoa; juga keluarga Barberini, Orsini, dan Della Rovere. Keluarga-keluarga itulah yang berkuasa atas wilayah-wilayah dan tanah-tanah, juga berbagai pajak dan harta. Dan kekuasaan terbesar dari semua itu terletak di tangan Tahta Kepausan. Beberapa keluarga seperti Medici, Orsini, dan della Rovere, menyuplai Paus-Paus dari saudara-saudara mereka sendiri, tetapi yang terkenal dari semuanya adalah yang berasal dari keluarga Borgia. Ada dua Paus yang berasal dari keluarga Borgia, yaitu Alonso Borgia, yang bergelar Paus Kallistus III, yang diangkat pada tahun 1455; dan Rodrigo Borgia, yang bergelar Paus Alexander VI, yang akan kita bicarakan.

Sejak awal Kallistus III sudah cakap dalam nepotisme. Dia menempatkan sanak saudaranya dalam berbagai jabatan ‘basah’ di dalam birokrasi Kepausan. Dia juga menempatkan dua orang keponakannya, yang salah satunya adalah Rodrigo, menjadi Kardinal pada tahun 1456. Padahal seharusnya jabatan ini diberikan kepada orang yang berusia lebih dewasa atau sudah tua, sementara kedua keponakannya itu bahkan masih berusia 20an.

Paus Kallistis III kemudian menyerukan Perang Salib (Crusade) pasca Fetih Sultan Mehmet merebut Konstantinopel pada tahun 1453. Dia menjual segala harta bendanya dan menjual apapun yang bisa dijual untuk menggalang kekuatan guna membentuk pasukan salib untuk merebut kembali Konstantinopel. Sayangnya, para raja dan penguasa di daratan Eropa sudah ogah dengan perang salib dan mereka enggan mengirimkan pasukannya. Kondisi ini amat menekan, sehingga Paus Kallistis III amat tidak populer.

‘Pesta Kebun’ Rodrigo Borgia

Rodrigo Borgia harus menunggu 34 tahun untuk menjadi Paus. Pada usianya yang ke-61 barulah dia berhasil menduduki tahta suci Santo Petrus. Semenjak masa mudanya, Rodrigo gemar sekali menggelar pesta-pesta orgi yang biasa disebut ‘Pesta Kebun’. Parahnya, setelah menjadi Paus, kegemaran itu tidaklah hilang. Dia telah menjadi ayah dari 8 orang anak dari 3 atau 4 orang kekasih gelap. Dia kaya raya, dan semuanya itu diraihnya dengan mengeksploitasi jabatannya sebagai Paus. Bagi dia, jabatan Kepausan adalah bisnis yang akan menghasilkan uang yang banyak. Sejarawan Francesco Giucciardini menggambarkan Rodrigo sebagai berikut: Ada sesuatu di dalam dirinya dan dalam ukuran yang penuh, semua kejahatan baik daging dan jiwa… Tidak ada di dalam dirinya agama, tidak perlu baginya untuk memegang kata-katanya. Ia menjanjikan apa pun secara bebas, tetapi tidak mengikat dirinya dengan apapun yang tidak berguna baginya. Ia tidak peduli pada keadilan, karena pada jamannya, Roma adalah sarang pencuri dan pembunuh. Selain itu, segala dosanya tidak mendapat hukuman di dunia ini dan ia berada di dunia ini dalam keadaan makmur hingga akhir hayatnya. Dengan satu kata, ia itu lebih iblis dan mememiliki keberuntungan yang lebih banyak daripada Paus-Paus lain dari abad-abad sebelumnya.

Penobatannya menjadi Paus terjadi pada tanggal 26 Agustus 1492. Prosesinya berjalan sepanjang 3 kilometer dan melibatkan 10 ribu penunggang kuda. Seluruh duta besar negara tetangga dan seluruh pegawai rumah tangga Kepausan pun dikerahkan. Di kiri-kanan jalan dipasang spanduk-spanduk puja-puji bagi Rodrigo, di antaranya berbunyi: ‘Alexander yang tidak kasat mata’, ‘Alexander yang paling hebat’, dan ‘penobatan Alexander dewa yang besar’. Lebay banget.

Cesare Borgia, salah satu anak haram dari Paus Alexander VI, mengadakan sebuah jamuan makan malam pada akhir bulan Oktober 1501 Masehi. Pada pesta itu, 50 orang pelacur menari telanjang bersama 50 orang pelayan. Pesta itu kemudian diteruskan dengan orgi (maaf, pesta seks). Di sana juga digelar penganugerahan penghargaan kepada siapa saja yang bisa berzina dengan paling banyak pelacur, atau bisa memperlihatkan ‘aksi terbaik’. Dewan jurinya adalah Cesare Borgia, Rodrigo Borgia, dan Lucrezia Borgia (salah satu anak haram Paus).

Para diplomat asing pung mengetahui bahwa setiap malam ada sedikitnya 25 wanita yang masuk ke apartemen-apartemen Kepausan untuk melayani nafsu bejat sang Paus dan para kardinal. Emang udah pada setres.

Matinya Sang Paus

Pada tanggal 18 Agustus 1503, matilah Paus yang bejat itu, Paus Alexander VI. Berita kematiannya dirahasiakan selama beberapa hari. Hal ini dilakukan untuk memberi waktu kepada anak-anak haramnya untuk menyelamatkan segala harta benda mereka, karena mereka tahu persis sepeninggal Paus, tak akan ada lagi orang yang melindungi mereka. Jenazah Paus Alexander VI kemudian berubah menjadi buruk dengan cepat, mungkin karena cuaca bulan Agustus yang panas, atau mungkin juga karena sebab lain (kuasa Ilahi misalnya). Orang-orang tidak berani untuk melihat atau mendekati jenazahnya. Tentang hal ini John Burchard menulis, seperti dikutip dari Brenda Ralph Lewis, “mata jenazah itu telah berubah menjadi berwarna seperti buah mulberry atau kain yang peling gelap dan ditutupi oleh noda-noda berwarna biru-hitam. Hidungnya bengkak, mulutnya menggelembung karena lidahnya membesar dua kali lipat dan bibirnya tampak memenuhi semua bagian itu.”

Mayatnya benar-benar membengkak dan menjadi sulit dimasukkan ke dalam peti mati. Ketika itu hampir tidak ada lagi orang yang sudi menyentuh atau mendekat. Berbagai rumor beredar, bahwa Rodrigo Borgia telah bersekutu dengan iblis sendiri untuk menjadikannya Paus pada tahun 1492, dan setan-setan telah menampakkan diri tepat di saat kematiannya. Para pendeta tidak mau mengurus jenazah Borgia, dan mereka harus diancam dulu agar mau turun tangan mengurus jenazahnya. Mengerikan.

Bersambung

follow @sayfmuhammadisa

Pak Misdi Yang Mulia!

Kalau Nabi Muhammad sallahu ‘alayhi wa sallam hari ini masih hidup, mungkin beliau akan mencium tangan Pak Misdi. Dahulu beliau pernah mencium tangan seorang sahabat miskin yang tangannya keras dan kapalan karena sedemikian kerasnya bekerja menghidupi keluarganya. Beliau begitu memuliakan kedua belah tangan itu hingga beliau menciumnya, sambil bersabda “ini kedua tangan yang dicintai Allah.” Subhanallah, begitu mulianya kedua belah tangan itu, sama seperti tangan Pak Misdi. Lantas, siapa itu Pak Misdi?

Pak Misdi adalah seorang lelaki lanjut usia yang miskin dan sebatang kara, yang tinggal di Desa Sumberejo, Kecamatan Balong, di sudut kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tempatnya bernaung dari panas dan hujan hanyalah sebuah gubug yang dulunya adalah kandang kambing. Dia tinggal di gubug itu sudah sejak 13 tahun yang lalu, dan usianya yang telah lanjut, 80 tahun, tidak menghentikannya untuk terus mencari nafkah sebagai buruh tani. Dia menggarap lahan milik warga lainnya di sekitar tempat tinggalnya, kemudian menerima upah yang tak seberapa dari hasil kerjanya itu. Hasil perasan keringatnya itulah yang dia gunakan untuk terus bertahan hidup dari himpitan zaman yang sudah tidak mau bersahabat lagi kepada orang susah itu.

Pak Misdi orang susah, dan sebetulnya amat memerlukan bantuan, dia juga sebenarnya berhak menerima BLSM, namun dengan penuh rasa syukur dan kebanggaan, semua itu dia tolak.

“Enggak usah saja. Saya tidak perlu. Saya pilih bekerja, saya tidak mau. Kalau diberikan orang lain, enggak apa-apa,” ungkapnya, Minggu (30/6/2013), seperti dikutip dari okezone.com.

InsyaAllah kedua belah tangan Pak Misdi adalah tangan yang dicintai Allah. Dia tak sudi bermalas-malasan walau usianya telah lanjut. Dalam kesunyian, dia berdiri tegak kepala di hadapan dunia yang tidak adil, dengan sikapnya itu, dia telah menyempurnakan kemuliaannya di dunia dan akhirat. Dia lebih mulia daripada pejabat-pejabat brengsek berdasi yang kerjanya menyengsarakan rakyat di gedung DPR.

follow @sayfmuhammadisa

Tirani ‘Tuhan’

Paus Benediktus IX, salah satu Paus paling bejat.
Paus Benediktus IX, salah satu Paus paling bejat.

Kerusakan Dalam Tahta Suci Kepausan

Bagian 2

by Sayf Muhammad Isa

Peradaban Barat menjadi sekular (memisahkan agama dari kehidupan), karena mereka memiliki pengalaman yang amat buruk terhadap agama mereka, yakni Kristen. Mereka juga memiliki pengalaman buruk terhadap pemerintahan yang berdiri di atas landasan agama Kristen. Pemerintahan ini berbentuk teokrasi, sebuah pemerintahan yang dipimpin dan dikendalikan oleh seorang pemuka agama, yang mengklaim mendapat mandat dari ‘tuhan’.

Sejak jaman dahulu kala, Tahta Suci Kepausan adalah jabatan yang paling bergengsi di dunia Kristen (Peradaban Barat). Pemimpin Kristen tertinggi, yakni Paus, memiliki kekuasaan yang amat besar atas berbagai hal. Dia bukan hanya mengatur hal-hal yang bersifat kerohanian saja, tetapi juga hal-hal yang bersifat duniawi. Dia bukan hanya mengatur ritual keagamaan saja, tetapi juga politik. Pada titik inilah kemudian bencana besar menimpa rakyat karena Paus (dan para raja) memerintah dengan seenak perutnya sendiri. Agama Kristen memang sudah bermasalah dari awal dari sisi teologis, sehingga tidak bisa dijadikan sumber hukum yang memadai untuk menjalankan sebuah pemerintahan. Yang berlaku kemudian adalah tirani dan kesewenang-wenangan hawa nafsu Tahta Suci Kepausan. Hal ini bisa kita lihat dari rentang sejarah perjalanan Kepausan. Mari kita telaah.

Catatan Hitam Tahta Suci Kepausan

Kehidupan para Paus ternyata tidak sesuci kelihatannya. Banyak terjadi pula hal-hal yang mengerikan, memalukan, dan menjijikkan pada perjalanan kepemimpinan para Paus. Pada awal abad ke-10 Masehi, misalnya, disebut sebagai periode ‘Pornokrasi Kepausan’, karena pada masa itu para Paus telah dimanipulasi dan dieksploitasi oleh para pelacur yang menjadi kekasih gelap para Paus itu demi kesenangan dan hawa nafsu para pelacur tadi. Para Paus telah dijadikan pion-pion yang menaati perintah para pelacur. Secara tidak langsung, Tahta Suci Kepausan dipimpin oleh para pelacur.

Pada era Pornokrasi Kepausan ini pun telah terjadi banyak pembunuhan para Paus dengan cara yang amat keji. Pada tahun 882 Masehi, misalnya, Paus Yohanes VIII walau pun sudah diracun tetapi masih bisa bertahan hidup, akhirnya para pembunuhnya kehilangan kesabaran hingga kemudian menghancurkan kepalanya dengan palu untuk mempercepat kematiannya. Paus Stefanus IX yang hidup pada abad ke-10, walau pun matanya sudah dicungkil, lidah, bibir, dan tangannya sudah dipotong, dia tetap masih bisa bertahan hidup. Dia menghilang begitu saja dan tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya di depan publik (kalau masih berani nongol di depan publik berarti dia pemberani dan tangguh). Paus Benediktus V terpaksa harus melarikan diri ke Konstantinopel karena dia ‘ngegodain’ seorang cewek. Dia juga membawa lari harta Kepausan. Sayangnya karena dia terlalu boros, belum juga tiba di Konstantinopel harta curiannya sudah ludes. Akhirnya dia kembali lagi ke Roma. Hanya saja kegemaran dia menggoda cewek tidak hilang juga, hingga kemudian dia dibunuh oleh seorang suami yang tidak suka si Paus menggoda istrinya. Tidak tanggung-tanggung, ada tidak kurang dari 100 tikaman di tubuh Paus ini dan mayatnya dibuang ke lubang jamban (hati-hati dengan orang yang cemburu).

Paus Benediktus IX juga tidak kalah parahnya. Dia adalah salah seorang Paus termuda yang naik tahta pada usia sekitar 20-an. Bapaknya, Alberic III yang bergelar Count Tusculum, telah mengamankan jalan baginya untuk menduduki singgasana Kepausan. Karena kebejatannya, dia mendapat gelar “yang berpesta dalam kehancuran moral”. Julukan yang lebih tidak sedap lagi baginya adalah “iblis dari neraka dalam samaran pendeta”. Paus selanjutnya setelah Benediktus, Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang amat keji. Paus Viktor berkomentar, “kehidupan Benediktus begitu keji, curang, dan buruk, sehingga memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus pernah menjual tahta Kepausannya seharga 680 kg emas kepada Bapak Baptisnya, John Gratian, yang kemudian menjadi Paus Gregorius VI.

Synodus Horrenda, Sidang Jenazah

Tersebutlah seorang wanita bangsawan cantik yang dikenal sebagai Duchess Agiltrude. Kecantikannya memang bukan main, rambutnya pirang panjang, tubuhnya semlohai, yang pasti cantik bukan main. Sayangnya tidak semua orang cantik itu cantik juga hatinya, dia adalah seorang wanita yang keji dan jahat. Agiltrude adalah istri dari Guy Spoleto, seorang bangsawan dari keluarga Spoleto yang tinggal di Italia bagian tengah.

Agiltrude memiliki obsesi! Dia ingin agar anak lelakinya, Lambert, menjadi Kaisar Romawi Suci. Pada tahun 894 Masehi, Agiltrude membawa Lambert untuk menghadap Paus Formosus. Tujuannya adalah meminta restu dari sri Paus agar Lambert mendapat jabatan Kaisar Romawi Suci. Namun Paus Formosus yang terkenal bijaksana itu memiliki pertimbangan lain. Dia lebih memilih Arnulf dari Korintia, anak dari Charlemagne, untuk menjadi Kaisar Romawi Suci. Formosus pun menolak Lambert. Karena penolakan ini Agiltrude kecewa berat dan sakit hati. Kekecewaan dan rasa sakit hati ini melahirkan dendam mencekam dalam diam (^.^)

Formosus tahu betul kebrutalan keluarga Spoleto apalagi Agiltrude. Dia segera berangkat menemui Arnulf untuk meminta perlindungan kepadanya. Arnulf memimpin pasukannya untuk menghadang pasukan Agiltrude dan Lambert dan dia berhasil memukul mundur pasukan ibu dan anak itu ke Spoleto. Pada tanggal 22 Februari 896 Masehi, Formosus menobatkan Lambert sebagai Kaisar Romawi Suci. Kaisar yang baru ini hendak mengejar Agiltrude dan menghancurkannya secara menyeluruh. Sayangnya, sebelum mencapai Spoleto,  Arnulf tiba-tiba menderita sakit lumpuh, kemungkinan karena stroke. Paus Formosus wafat 6 minggu kemudian, pada tanggal 4 April 896 Masehi, konon karena diracun oleh Agiltrude. Pengganti Formosus adalah Paus Bonifasius VI, yang tidak terlalu lama memimpin.

Pada bulan juli 896 Masehi, naiklah Paus Stefanus VII. Stefanus ini adalah orang yang kadang-kadang bisa kumat penyakit gilanya dan semua orang di Roma sudah tahu itu. Namun dengan dukungan penuh dari keluarga Spoleto, Stefanus tetap dinaikkan menjadi seorang sri Paus. Agiltrude bahagia sekali dengan naiknya Stefanus, sebab Paus yang setengah gila ini telah menjanjikan sedikit kekuasaan Kepausan bagi keluarga Spoleto. Agiltrude menjadikan Stefanus sebagai bidaknya.

Pada bulan Januari 897 Masehi, Stefanus mengumumkan bahwa sebuah sidang akan digelar di Gereja Santo Yohanes Lateran. Terdakwanya adalah, tak lain dan tak bukan, Paus Formosus. Padahal Formosus sudah di dalam liang lahat lebih dari 9 bulan.

Kuburan Formosus kemudian digali lagi, mayatnya yang sudah membusuk dan sudah sulit disatukan itu kemudian dipakaikan jubah Kepausan dan didudukkan di sebuah singgasana. Stefanus duduk di singgasana yang bersisian dengan Formosus dan langsung saja membuka ‘sidang pengadilan’ kepada mayat yang sudah membusuk itu. Hakimnya dia pilih dari para pendeta yang sebelumnya telah ditekan dan diteror, agar para hakim itu tidak sanggup menjalankan fungsinya yang sebagaimana mestinya. Dalam persidangan itu Stefanus menuduhkan bahwa Formosus tidak layak menjadi Paus dan telah melakukan sumpah palsu. Stefanus menjerit-jerit, dan menumpahkan sumpah-serapah yang keji nggak ketulungan kepada Formosus yang membuat para pendeta dan orang-orang yang hadir di dalam persidangan itu bergidig ngeri. Mungkin saat itu penyakit gilanya sedang kumat.

Formosus mendapatkan kesempatan untuk membela diri dengan diwakili oleh seorang anak muda berusia 18 tahun. Sayangnya, anak muda itu tidak bisa bicara apa-apa karena terlalu takut dengan raungan-raungan Stefanus. Anak muda itu cuma bisa manggut-manggut saja sambil gemetar.

Pada akhirnya Formosus didakwa bersalah dan hukuman langsung dijatuhkan. Seluruh tindakan dan pentahbisan Formosus telah dibatalkan oleh Stefanus. Jubah Kepausan yang tadi dikenakan mayat Formosus itu kemudian dilucuti dan diganti dengan pakaian orang biasa. Tiga jari tangan kanan Formosus yang biasa digunakan untuk memberi berkat Kepausan turut dipotong. Tiga jari itu kemudian diserahkan kepada Agiltrude yang telah menonton Sidang Jenazah itu dengan amat puas (bakal jadi jimat kali tu jari mayat). Mayat Formosus kemudian dikuburkan lagi di pemakaman rakyat jelata atas perintah Stefanus. Sayangnya, kemalangan Formosus tidak berakhir sampai di situ. Mayatnya kemudian digali kembali, diseret di jalan-jalan kota Roma, diikat dengan pemberat kemudian dibuang ke sungai Tiber. Sungguh memiriskan (Dark History of The Popes, Brenda Ralph Lewis).

Bersambung

(follow @sayfmuhammadisa)