Tirani ‘Tuhan’


Paus Benediktus IX, salah satu Paus paling bejat.

Paus Benediktus IX, salah satu Paus paling bejat.

Kerusakan Dalam Tahta Suci Kepausan

Bagian 2

by Sayf Muhammad Isa

Peradaban Barat menjadi sekular (memisahkan agama dari kehidupan), karena mereka memiliki pengalaman yang amat buruk terhadap agama mereka, yakni Kristen. Mereka juga memiliki pengalaman buruk terhadap pemerintahan yang berdiri di atas landasan agama Kristen. Pemerintahan ini berbentuk teokrasi, sebuah pemerintahan yang dipimpin dan dikendalikan oleh seorang pemuka agama, yang mengklaim mendapat mandat dari ‘tuhan’.

Sejak jaman dahulu kala, Tahta Suci Kepausan adalah jabatan yang paling bergengsi di dunia Kristen (Peradaban Barat). Pemimpin Kristen tertinggi, yakni Paus, memiliki kekuasaan yang amat besar atas berbagai hal. Dia bukan hanya mengatur hal-hal yang bersifat kerohanian saja, tetapi juga hal-hal yang bersifat duniawi. Dia bukan hanya mengatur ritual keagamaan saja, tetapi juga politik. Pada titik inilah kemudian bencana besar menimpa rakyat karena Paus (dan para raja) memerintah dengan seenak perutnya sendiri. Agama Kristen memang sudah bermasalah dari awal dari sisi teologis, sehingga tidak bisa dijadikan sumber hukum yang memadai untuk menjalankan sebuah pemerintahan. Yang berlaku kemudian adalah tirani dan kesewenang-wenangan hawa nafsu Tahta Suci Kepausan. Hal ini bisa kita lihat dari rentang sejarah perjalanan Kepausan. Mari kita telaah.

Catatan Hitam Tahta Suci Kepausan

Kehidupan para Paus ternyata tidak sesuci kelihatannya. Banyak terjadi pula hal-hal yang mengerikan, memalukan, dan menjijikkan pada perjalanan kepemimpinan para Paus. Pada awal abad ke-10 Masehi, misalnya, disebut sebagai periode ‘Pornokrasi Kepausan’, karena pada masa itu para Paus telah dimanipulasi dan dieksploitasi oleh para pelacur yang menjadi kekasih gelap para Paus itu demi kesenangan dan hawa nafsu para pelacur tadi. Para Paus telah dijadikan pion-pion yang menaati perintah para pelacur. Secara tidak langsung, Tahta Suci Kepausan dipimpin oleh para pelacur.

Pada era Pornokrasi Kepausan ini pun telah terjadi banyak pembunuhan para Paus dengan cara yang amat keji. Pada tahun 882 Masehi, misalnya, Paus Yohanes VIII walau pun sudah diracun tetapi masih bisa bertahan hidup, akhirnya para pembunuhnya kehilangan kesabaran hingga kemudian menghancurkan kepalanya dengan palu untuk mempercepat kematiannya. Paus Stefanus IX yang hidup pada abad ke-10, walau pun matanya sudah dicungkil, lidah, bibir, dan tangannya sudah dipotong, dia tetap masih bisa bertahan hidup. Dia menghilang begitu saja dan tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya di depan publik (kalau masih berani nongol di depan publik berarti dia pemberani dan tangguh). Paus Benediktus V terpaksa harus melarikan diri ke Konstantinopel karena dia ‘ngegodain’ seorang cewek. Dia juga membawa lari harta Kepausan. Sayangnya karena dia terlalu boros, belum juga tiba di Konstantinopel harta curiannya sudah ludes. Akhirnya dia kembali lagi ke Roma. Hanya saja kegemaran dia menggoda cewek tidak hilang juga, hingga kemudian dia dibunuh oleh seorang suami yang tidak suka si Paus menggoda istrinya. Tidak tanggung-tanggung, ada tidak kurang dari 100 tikaman di tubuh Paus ini dan mayatnya dibuang ke lubang jamban (hati-hati dengan orang yang cemburu).

Paus Benediktus IX juga tidak kalah parahnya. Dia adalah salah seorang Paus termuda yang naik tahta pada usia sekitar 20-an. Bapaknya, Alberic III yang bergelar Count Tusculum, telah mengamankan jalan baginya untuk menduduki singgasana Kepausan. Karena kebejatannya, dia mendapat gelar “yang berpesta dalam kehancuran moral”. Julukan yang lebih tidak sedap lagi baginya adalah “iblis dari neraka dalam samaran pendeta”. Paus selanjutnya setelah Benediktus, Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang amat keji. Paus Viktor berkomentar, “kehidupan Benediktus begitu keji, curang, dan buruk, sehingga memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus pernah menjual tahta Kepausannya seharga 680 kg emas kepada Bapak Baptisnya, John Gratian, yang kemudian menjadi Paus Gregorius VI.

Synodus Horrenda, Sidang Jenazah

Tersebutlah seorang wanita bangsawan cantik yang dikenal sebagai Duchess Agiltrude. Kecantikannya memang bukan main, rambutnya pirang panjang, tubuhnya semlohai, yang pasti cantik bukan main. Sayangnya tidak semua orang cantik itu cantik juga hatinya, dia adalah seorang wanita yang keji dan jahat. Agiltrude adalah istri dari Guy Spoleto, seorang bangsawan dari keluarga Spoleto yang tinggal di Italia bagian tengah.

Agiltrude memiliki obsesi! Dia ingin agar anak lelakinya, Lambert, menjadi Kaisar Romawi Suci. Pada tahun 894 Masehi, Agiltrude membawa Lambert untuk menghadap Paus Formosus. Tujuannya adalah meminta restu dari sri Paus agar Lambert mendapat jabatan Kaisar Romawi Suci. Namun Paus Formosus yang terkenal bijaksana itu memiliki pertimbangan lain. Dia lebih memilih Arnulf dari Korintia, anak dari Charlemagne, untuk menjadi Kaisar Romawi Suci. Formosus pun menolak Lambert. Karena penolakan ini Agiltrude kecewa berat dan sakit hati. Kekecewaan dan rasa sakit hati ini melahirkan dendam mencekam dalam diam (^.^)

Formosus tahu betul kebrutalan keluarga Spoleto apalagi Agiltrude. Dia segera berangkat menemui Arnulf untuk meminta perlindungan kepadanya. Arnulf memimpin pasukannya untuk menghadang pasukan Agiltrude dan Lambert dan dia berhasil memukul mundur pasukan ibu dan anak itu ke Spoleto. Pada tanggal 22 Februari 896 Masehi, Formosus menobatkan Lambert sebagai Kaisar Romawi Suci. Kaisar yang baru ini hendak mengejar Agiltrude dan menghancurkannya secara menyeluruh. Sayangnya, sebelum mencapai Spoleto,  Arnulf tiba-tiba menderita sakit lumpuh, kemungkinan karena stroke. Paus Formosus wafat 6 minggu kemudian, pada tanggal 4 April 896 Masehi, konon karena diracun oleh Agiltrude. Pengganti Formosus adalah Paus Bonifasius VI, yang tidak terlalu lama memimpin.

Pada bulan juli 896 Masehi, naiklah Paus Stefanus VII. Stefanus ini adalah orang yang kadang-kadang bisa kumat penyakit gilanya dan semua orang di Roma sudah tahu itu. Namun dengan dukungan penuh dari keluarga Spoleto, Stefanus tetap dinaikkan menjadi seorang sri Paus. Agiltrude bahagia sekali dengan naiknya Stefanus, sebab Paus yang setengah gila ini telah menjanjikan sedikit kekuasaan Kepausan bagi keluarga Spoleto. Agiltrude menjadikan Stefanus sebagai bidaknya.

Pada bulan Januari 897 Masehi, Stefanus mengumumkan bahwa sebuah sidang akan digelar di Gereja Santo Yohanes Lateran. Terdakwanya adalah, tak lain dan tak bukan, Paus Formosus. Padahal Formosus sudah di dalam liang lahat lebih dari 9 bulan.

Kuburan Formosus kemudian digali lagi, mayatnya yang sudah membusuk dan sudah sulit disatukan itu kemudian dipakaikan jubah Kepausan dan didudukkan di sebuah singgasana. Stefanus duduk di singgasana yang bersisian dengan Formosus dan langsung saja membuka ‘sidang pengadilan’ kepada mayat yang sudah membusuk itu. Hakimnya dia pilih dari para pendeta yang sebelumnya telah ditekan dan diteror, agar para hakim itu tidak sanggup menjalankan fungsinya yang sebagaimana mestinya. Dalam persidangan itu Stefanus menuduhkan bahwa Formosus tidak layak menjadi Paus dan telah melakukan sumpah palsu. Stefanus menjerit-jerit, dan menumpahkan sumpah-serapah yang keji nggak ketulungan kepada Formosus yang membuat para pendeta dan orang-orang yang hadir di dalam persidangan itu bergidig ngeri. Mungkin saat itu penyakit gilanya sedang kumat.

Formosus mendapatkan kesempatan untuk membela diri dengan diwakili oleh seorang anak muda berusia 18 tahun. Sayangnya, anak muda itu tidak bisa bicara apa-apa karena terlalu takut dengan raungan-raungan Stefanus. Anak muda itu cuma bisa manggut-manggut saja sambil gemetar.

Pada akhirnya Formosus didakwa bersalah dan hukuman langsung dijatuhkan. Seluruh tindakan dan pentahbisan Formosus telah dibatalkan oleh Stefanus. Jubah Kepausan yang tadi dikenakan mayat Formosus itu kemudian dilucuti dan diganti dengan pakaian orang biasa. Tiga jari tangan kanan Formosus yang biasa digunakan untuk memberi berkat Kepausan turut dipotong. Tiga jari itu kemudian diserahkan kepada Agiltrude yang telah menonton Sidang Jenazah itu dengan amat puas (bakal jadi jimat kali tu jari mayat). Mayat Formosus kemudian dikuburkan lagi di pemakaman rakyat jelata atas perintah Stefanus. Sayangnya, kemalangan Formosus tidak berakhir sampai di situ. Mayatnya kemudian digali kembali, diseret di jalan-jalan kota Roma, diikat dengan pemberat kemudian dibuang ke sungai Tiber. Sungguh memiriskan (Dark History of The Popes, Brenda Ralph Lewis).

Bersambung

(follow @sayfmuhammadisa)

 

2 responses to “Tirani ‘Tuhan’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s